Author pov
Di balik jendela rumah Nakula, kini tengah berdiri sang istri yang tengah mengintip rumah yang tepat berada di sebelahnya. Ia amat penasaran pada apa yang sedang di lakukan oleh tetangganya itu. Dan orang yang membuatnya sampai jadi di penuhi rasa penasaran itu tak lain adalah adik ipa sekaligus dosennya sendiri, yang sudah berani mempermalukannya sore tadi di media social.
“Mas Nakula beneran marahin Dewa gak yah?”
Gumam Putri, sedikit cemas. Ia sangat tahu kalau Dewa bukanlah orang yang mau di marahi karena hal sepele seperti itu. Dan jauh dalam hatinya, ia cukup sadar kalau semua itu adalah murni karena kesalahannya, typo itu terjadi pure karena jari tangannya yang salah ketik.
Tapi kemudian dengan sangat tak di sangka-sangka olehnya, mata Putri jelas baru saja menemukan sosok suaminya yang tengah memarahi Dewa dari jendela rumahnya itu.
‘Itu Dewa yang di marahin kan? Hhh kenapa muka mereka sama sih, bikin aku ragu gini kan jadinya...’
Batin Putri. Karena ia sangat tahu sifat Nakula. Sekesal apapun atau semarah apapun suaminya, ia bukan tipikal orang yang akan memarahi orang lain. Apalagi dengan wajah yang di buat sangar, juga jari tangan yang sampai menunjuk-nunjuk wajah seperti yang tengah Putri saksikan saat ini.
“Itu yang di pakenya piyama pasangan sama aku kok, jadi itu pasti Mas Nakula”
Sampai di rasanya sudah yakin kalau yang sedang memarahi itu adalah suaminya, kemudian senyum pun akhirnya terbentuk dengan lebarnya.
Apalagi saat di lihatnya Dewa yang kini sedikit menundukan wajah kesalnya, beserta bibir yang tengah di rapatkannya karena apa yang sudah di lakukan suaminya itu padanya. Putri bahkan mengepalkan kedua tangannya, melompat-lompat kecil kegirangan, dengan wajah yang tampak sangat bahagia karena bisa melihat Dewa yang sudah berhasil di taklukkan oleh Nakula.
Sampai kemudian Dewa yang sadar kalau Putri sedang menonton dari rumah sebelah, langsung ia melambaikan handphonenya, ingin menunjukan kepada mahasiswanya itu bahwa instastory yang di tujukan padanya itu sudah di hapuskan olehnya.
“Yes!”
Tapi Putri masih menunggu satu hal lagi yang sangat di inginkannya.
“Kok postingan permintaan maafnya belum di post sih?”
Karena Putri tak akan puas hanya dengan di hapusnya postingan intsastory memalukan itu. Ia benar-benar menginginkan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya dari Dewa.
“Oh? dia baru aja posting”
Putri terlihat begitu exited saat melihat notifikasi postingan baru dari i********: Dewa yang menandai akunnya. Tapi saat di lihatnya, ternyata itu hanya satu kata saja.
‘SORRY!’
“Itu aja? Waah... pelit banget dia itu, nama aku gak di cantumin lagi”
“Tapi gak papa deh, kapan lagi aku bisa dapet maaf dari Dewa setelah selaluuu aja minta maaf sampe bungkuk-bungkuk di kelas dia”
Ucap Putri sumbringah sekali setelah mendapat apa yang di inginkannya. Ia bahkan berjalan ke kamarnya dengan langkah yang terlihat ceria sekali karenanya.
Sementara itu di rumah Dewa, kini dua wajah yang sama itu tengah sama-sama memecah tawanya karena tingkah lucu istri Nakula itu.
“Hahahh... Putri itu lucu banget sumpah HAHAHA”
Ucap Dewa di tengah gelak tawanya setelah memastikan kalau Putri sudah tak lagi melihat ke arahnya dan Nakula saat ini.
“Fauzan, hahahah...”
Nakula juga masih tak bisa berhenti tertawa setiap mengingat nama itu. Ia sudah menahan tawanya sedari tadi, tapi karena Putri selalu ada di sampingnya, jadi ia coba untuk menahannya.
Begitupun dengan Dewa, ia bahkan berniat ingin menyimpan laporan typo Putri itu, untuk di lihatnya di kala ia sedang sedih atau butuh komedi receh setelah penat mengajar di kampus.
“Tapi, thank you ya, kalo gak gini nanti Putri murung semaleman”
“Akting gue bayarannya dolar loh”
Balas Dewa dengan canda pada Kakaknya itu.
Jadi yang sebenarnya terjadi adalah Nakula dan Dewa sepakat untuk berakting dengan scenario kalau Dewa itu tengah di marahi oleh Nakula sesuai pinta Putri sedari tadi sore.
Sebelumnya ada banyak keraguan pada diri Nakula, ia pikir Dewa mungkin akan marah karena di mintai hal kekanak-kanakan seperti itu. Tapi ternyata Dewa malah tertawa lapas saat mendengar pinta Nakula itu. Sampai ia membuat kesimpulan kalau Putri itu rupanya tak berbeda jauh dengan anak remaja labil yang masih belum dewasa. Masih sangat naif, begitu pikirnya.
Tapi kemudian Dewa setuju, meski harus melewati beberapa kali latihan dulu. Karena ia tak bisa menahan tawanya. Terutama saat kata ‘Fauzan’ itu di sebutkan oleh Nakula. Tawa selalu pecah saat memikirkan typo Flora dan Fauzan itu.
Hingga akhirnya mereka bisa mengelabuhi Putri, bahkan bisa membuat senyum di wajahnya terlihat sudah kembali lagi tadi.
“Dokter Nakula yang ganteng, istrinya jangan lupa di ajarin ngetik yang baik yaa...”
“Gue udah ke teteran banget sama keputusan ayah kemaren, sampe jarang banget bantuin Putri”
Yang di maksudkan Nakula adalah soal penunjukan jabatan sebagai direktur di rumah sakit cabang.
“Kalo emang udah fix, berarti Lo mau pindah ke kota cabang gitu?”
Tanya Dewa memastikan.
“Itu dia yang gue pikirin, Putri masa gue tinggal sendiri sih? mana dia nanti lagi skirpsi... tapi kalo gue tolak, siapa lagi yang bisa jabatan ambil itu... kalo Lo mau-“
“NO! BIG NO! Gue gak mau terlibat urusan sebesar itu”
Tolak Dewa Tegas. Ia benar-benar menghindari semua yang berurusan tentang bisnis keluarnya. Bahkan sekarang pun ia jauh lebih memilih untuk mengajar saja menjadi Dosen, dari pada harus menjadi bagian dokter dan memegang jabatan di RS keluarganya.
“Kalo gitu, gue titip Putri ke Lo nanti, bantuin dia skripsi, jangan sering-sering di marahin, gak ada kasian-kasiannya Lo sama istri gue”
“Ya itukan buat kebaikan dia juga, kalo gak gue marahin gitu... dia pasti leha-leha sama kaya anak kampus yang lain”
Balas Dewa,
“Yaudah thanks ya, gue balik, mau liat Putri”
“Yoo, jangan Lupa bayaran acting gue di transfer”
Nakula terkehkeh saja mendengar itu dari Dewa. Ia kemudian kembali ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari rumah kembarannya itu.
Dan begitu pintu rumahnya terbuka, Putri telihat tengah berdiri menyambut suaminya dengan wajah exitednya.
“Gimana?”
“Udah, dia langsung titip maaf sama kamu sayang”
Balas Nakula, padahal maaf itu tak pernah terucap dari mulut Dewa, hanya gelak tawa saja tadi yang di dengarnya.
“YESSS!!!”
“Jadi gak akan mogok kuliah kan?”
Tanya Nakula pada istrinya yang memang sempat berkata akan mogok kuliah saja jika Dewa tak meminta maaf padanya.
“Engga deh, Tadi aku juga sempet vedio-in Mas yang lagi marahin Dewa, jadi kalo ada yang berani ejekin aku, tinggal aku liatin aja vedio ini”
Tadinya Putri pikir Video itu bisa di jadikannya bukti kalau Dewa telah melakukan kesalahan padanya sampai jadi di marahi oleh suaminya.
“Emang orang-orang bakal ngeh siapa yang lagi dimarahin sama siapa yang lagi marahin?”
“Aku edit aja, nanti aku kasih tanda, mana yang Mas Nakula dan mana yang Dewa”
Jelasnya, Nakula kini mengulum senyumnya, ia tak bisa berhenti di buat ngakak karena tingkah lucu dan kekanak-kanakan istrinya itu.
“Lah, yakin orang-orang mau percaya kalo yang lagi di marahin itu Dewa? Dewa kan terkenal banget sama sifat Killernya, yang ada nanti Mas lagi yang di kira lagi di marahin sama Dewa”
Putri jadi berpikir ulang, benar juga apa kata suaminya itu. Suaminya terkenal karena kelembutan hatinya, keramahannya, ia tak pernah bisa memarahi orang seperti Dewa.
“Yahh... Percuma dong...”
Putri yang kini sedang mengerutkan bibir mungilnya itu membuat Nakula jadi semakin gemas saja padanya. Sampai ia mengucupkan bibirnya pada bibir Putri yang menurutnya lebih lembut dari buah ceri sekalipun.
“Mas, aku lagi bad mood”
Cup
Cup
Cup
Putri mendapat banyak kiss attack dari suaminya, sampai senyumnya kini sudah mulai ingin kembali mengembang, tapi masih coba untuk di tahannya. Tak ingin dianggap mudah di rayu oleh suaminya itu.
“Mas ih! aku mau ngambek ya”
“Yakin??”
Tanya Nakula sambil mengangkat tubuh istrinya itu,
“Aaa!!”
Putri berteriak manja dalam pangkuan Dewa yang sedang membawanya berjalan menuju kamarnya. Sampai kemudian senyum tak bisa lagi di tahan untuk tak terpampang jelas pada wajah Putri saat ini.
“Mas...”
Panggilnya begitu di baringkannya tubuh yang terlihat sudah pasrah itu di atas ranjang tempat tidur mereka. Sementara itu Nakula yang sudah siap dengan senyum penuh artinya, kini mulai merangkak di atas tubuh istrinya itu.
“Sayang...”
Wajah keduanya kini jadi dekat, ingin merapat, terlihat semakin dekat, bahkan sudah hampir sampai pada pertemuan bibir yang sudah siap, inginkan cumbuan itu.
“Tunggu...”
“Ehm? Kenapa Mas?”
Tiba-tiba saja Nakula mengintrupsi tepat di saat bibir mereka sudah bersentuhan dan akan saling berpagutan.
“Pintu di kunci belum ya? nanti Dewa masuk terus ganggu kita lagi...”
Nakula tiba-tiba saja bangun, berjalan dengan cepat menuju pintu rumah mereka. Ia benar-benar tak ingin kalau kejadian kemarin, soal insiden Dewa yang mengganggunya bersama Putri itu sampai terulang kembali.
Klikk
*Suara pintu terkunci.
“Mumpung lagi free...”
Gumamnya, kemudian ia cepat berlari kembali ke kamarnya. Sepertinya Nakula benar-benar sudah berada di puncak gairahnya. Ia ingin segera menghabiskan malam panas bersama istrinya yang penuh dengan tingkah menggemaskannya itu.
“Sayaang I’m Coming...”
Teriaknya sambil langsung membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya selama perjalanan menuju kamarnya itu.
“Masss???!!”
....