Dua tahun sudah berlalu, sejak Handro dan Della merasakan kehilangan yang sangat mendalam setelah kehilangan dua sahabat dan putra tercinta mereka dalam kecelakaan. Hanya sebentar, Handro dan Della habiskan hanya untuk meratapi kebahagiaan mereka yang direnggut paksa oleh takdir, karena setelahnya, Della kembali dikabarkan mengandung dan melahirkan seorang putri kecil yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik berumur delapan belas tahun. Kehilangan yang dirasakan Handro dan Della membuat mereka sangat menjaga raga dan perasaan putrinya dengan sangat baik. Tidak pernah ada kekurangan dan kesedihan yang menyelimuti putrinya sejak lahir. Sepasang pasutri itu selalu berusaha untuk membahagiakan putrinya dalam keluarga harmonis hingga gadis itu tumbuh dengan pribadi yang baik.
Namun sekarang, semuanya tinggal memori indah yang hanya bisa dikenang tanpa dirasakan lagi olehnya. Saat diri nya sedang fokus pada laptop yang menampilkan salah satu drama dari negara ginseng yang sedang naik daun. Ia begitu terkejut saat mendengar teriakan Della, mamanya dalam kegelapan dan keheningan yang sebelumnya menguasai atmosfer dalam kamar seluas 7m persegi yang sejak dulu menjadi kamar nya.
Walau rasa takut untuk mengetahui apa yang terjadi hadir dalam dirinya, tetap saja Lucy keluar dari kamar ingin melihat alasan Della berteriak di malam tahun baru di mana jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam yang berarti tahun akan berganti beberapa jam lagi.
"Kenapa aku baru tahu kalau kamu sejahat itu?" Della berucap dengan wajah datar menatap Handro.
“Kamu salah paham, Ma,” sanggah Handro berusaha menenangkan istrinya.
“Salah paham dari mananya? Aku sudah tahu semuanya!! Di mana otak kamu, Han? Bisa-bisanya kamu selingkuh sama perempuan yang perbedaan umurnya tidak jauh dari anak kamu?! Kamu gila?!"
“Aku enggak selingkuh! Dia bukan selingkuhan ku, Della!”
“Diam! Kau sibuk aku juga sibuk, Han!! Tapi aku tetap berusaha jadi istri yang baik, lalu apa alasanmu selingkuh?! Kalau aku bisa kembali ke masa lalu. Aku nggak bakal mau menikah sama manusia sepertimu!!"
Handro menampar pipi istrinya. “Jaga mulut kamu. Aku ini suami kamu!”
Tatapan tajam Della terlihat mampu merobek hati siapa saja yang melihatnya. "Kamu bukan suami ku lagi setelah ini."
"Kalau yang kamu mau cerai, aku nggak bakal setuju sampai kapanpun!"
Della berdecak. "Mana bisa aku hidup sama manusia kayak kamu!"
"Selama ini aku udah berusaha jadi yang terbaik buat kamu dan Lucy. Apa masih kurang?"
Della menggeleng-gelengkan kepala menatap nanar Handro. “Jadi semua yang kamu lakuin selama ini cuma buat bayaran biar kamu bisa selingkuh, gitu?"
"Bukan gitu maksud aku, Della!"
"Oke. Aku akui untuk itu, tapi manusia macam apa kamu yang tega khianati istri dan anaknya?! Ingat umur, Handro! Kamu bahkan sudah pantas dipanggil Kakek! ”
Pertengkaran terus berlanjut dan semakin menegang, sampai keduanya tidak menyadari keberadaan Lucy yang sedang menyaksikan semua pertengkaran itu secara terang-terangan. Merasa pertengkaran semakin besar, Lucy memilih berteriak menyuruh kedua orang tuanya untuk berhenti dan berhasil membungkam keduanya beberapa saat sambil menatap dirinya tanpa ekspresi.
“Cepat atau lambat aku bakal temuin wanita itu ... dan jangan salahkan aku kalau sesuatu terjadi dengannya.” Della mengancam dengan nada pelan, tapi mampu membuat Handro merasa takut.
Saat, Della ingin pergi dirinya kembali ditahan oleh Handro.
“Maafkan aku, Della. Jangan seperti ini, kasihan Lucy. Kamu harus percaya kalau aku cuma cinta kamu dan Lucy!”
“Maaf, tadi aku nggak bermaksud kasar!” Tangan Handro terangkat ingin menyentuh pipi Della, tapi diri Della yang enggan disentuh oleh Handro langsung mundur.
Ia meludah di lantai dan mengeluarkan tatapan sinis yang saat ini sudah dipenuhi air mata. “Lupakan cinta yang kamu maksud! Aku nggak butuh lagi! Aku juga nggak akan balas kamu, tapi kamu harus percaya kalau aku bakal nemuin dan kasih kejutan buat selingkuhan kamu!!”
Setelah mengatakan itu Della pergi meninggalkan Handro dan Lucy yang sudah tidak terlihat lagi di antara mereka, memutuskan untuk kembali ke kamar karena tidak tahan duduk lebih lama menyaksikan pertengkaran Handro dan Della yang baru pertama kali ia saksikan sepanjang hidupnya.
Handro yang tidak tahu harus berbuat apa berjalan pelan mendekati sofa yang berada tidak jauh darinya. "Kenapa jadi begini?" Ia menyandarkan punggung ke sofa untuk menetralkan emosi yang sebelumnya tak bisa dikontrol.
Drttt..
Drtt..
Drttt…
Ponsel di tangan Handro bergetar lama. Ia melihat nama seseorang yang menjadi bahan perdebatannya dengan Bella terpampang di layar tipis miliknya.
Rasa tidak ingin mengangkat terbesit dalam hati nya, tapi mengingat beberapa hal kemungkinan yang bisa saja terjadi membuatnya memutuskan menerima panggilan itu.
"Kenapa sayang?"
"........."
"Kok bisa?"
"........."
"Sudah minum obat?"
"........."
"Ya udah tunggu. Saya ke rumah sekarang."
Handro dengan wajah khawatir bangkit dari sofa setelah mendengar kabar yang kurang baik. Ia keluar dari rumah tanpa berpikir seribu kali lagi.
_ _ _ _ _
Selamat membaca semuanya...
Jangan bosan-bosan, yahh...