Part 2 ( Hati yang kecewa )

1113 Words
            Kebahagiaan dan keharmonisan dalam keluarga adalah nomor satu bagi setiap anak. – Sejo                                                                                                  ~ Bulan Januari, menjadi bulan yang selalu ditunggu-tunggu oleh setiap umat di dunia. Ditahun ini Lucy, Gadis sederhana yang biasanya sangat antusias menyambut Tahun Baru dengan segala jenis kembang api telah hilang, berganti menjadi Lucy yang hanya menatap kembang api melalui jendela kamar tidurnya, menatap ribuan kembang api yang berlomba-lomba hadir di langit untuk memperlihatkan keindahan mereka tanpa mata berbinar seperti biasanya. Di luar rumah beberapa teman Lucy yang tidak melihat keberadaan gadis itu juga ikut merasa bingung dan memutuskan untuk mendatangi rumah Lucy untuk menanyakan keberadaan gadis itu. Dari jarak yang tidak terlalu jauh mereka berempat melihat keadaan rumah Lucy yang terlihat sepi gelap. Hanya ada satu lampu teras yang menyala menerangi rumah di atas tanah seluas 500 meter persegi itu. Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda adanya orang di dalam rumah. Hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan di benak mereka. Selalu, setiap tahun, pintu rumah Lucy akan terbuka lebar karena banyak tamu berdatangan untuk merayakan tahun baru bersama dengan keluarga Lucy. Hal yang paling terlihat berbeda karena tidak ada berbagai jenis lampu yang menghiasi rumah dengan sangat terang, membuat suasana rumah terlihat seperti rumah warga bagian barat saat menyambut Natal dan Tahun Baru. Sesampainya di teras rumah, salah satu dari mereka mengintip melalui jendela di samping pintu untuk melihat keadaan di dalam rumah. "Ayo, Len ketuk pintunya," perintah teman Lucy yang lain pada salah satu teman di antara mereka. "Perasaan gue mulu yang disuruh," gerutu Lena, tapi tetap mengetuk pintu rumah Lucy beberapa kali. Tidak berapa lama suara seseorang terdengar menyahut dari dalam rumah membuat Lena berhenti mengetuk pintu sambil menunggu pintu dibukakan untuk mereka. Seorang wanita yang cukup familiar muncul setelah pintu terbuka, yaitu Sabet, asisten rumah tangga keluarga Lucy. "Iya, Nak? Ada yang bisa Ibu bantu?" tanya Sabet memperhatikan satu-satu remaja yang berdiri di hadapan nya. "Lucy nya ada, Bu? Kita mau ajak main." tanya Lena yang tadi mengetuk pintu. "Oh ... maaf ya, Nak. Tahun ini keluarga Lucy merayakan tahun baru di luar kota, karena itu rumah terlihat sepi," jelas Sabet sambil tersenyum. Tanpa Sabet sadari, Lucy yang berada di balik tembok pembatas antara tangga dan ruang tamu menangis mendengar alasan yang diberikan Sabet kepada teman-temannya. "Pantas aja rumah sepi." "Baiklah, Bu. Kalau gitu kami pamit dulu. Selamat Tahun Baru, Bu." Sabet  menganggu masih dengan senyuman yang terpatri di bibir nya. Sabet kembali menutup pintu setelah keempat teman rumah Lucy pergi. Lucy yang menyadari pintu telah tertutup langsung berlari pelan menaiki tangga, berusaha sebisa mungkin agar tidak terdengar oleh Sabet. Lucy langsung mengunci pintu dan kembali menumpahkan segala kesedihan di balik selimut tebal miliknya setelah memastikan pintu sudah terkunci. Kejadian malam itu kembali terputar seperti drama di kepala. Membuat suara tangisannya terdengar sangat pilu dan mungkin mampu membuat siapapun ikut merasakan kesedihan seorang Lucy. Malam Tahun Baru yang biasa meriah dengan berkumpul bersama keluarga, saudara dan teman-teman. Mendadak berubah menjadi malam yang paling buruk untuk Lucy karena menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Tamparan keras yang dilayangkan oleh Handro pada Della terasa menyakitkan bagi dirinya. Sabet yang bersama Lucy memeluknya erat dan mencoba menghentikan tangis Lucy. Sebisa mungkin Sabet berusaha mengajak Lucy untuk kembali ke kamarnya, tapi Lucy memilih tetap bertahan di tempat nya agar bisa menyaksikan kedua orang tuanya yang masih bertengkar. "Ayo, Lu kita ke kamar! Kamu nggak boleh di sini," ajak Sabet untuk yang kesekian kalinya. "Nggak mau, Bu. Lucy mau di sini," tolak Lucy sama untuk kesekian kalinya dengan mata yang tetap tertuju pada kedua orang tua nya yang masih berdebat. Sabet yang mendengar suara Lucy mulai berubah serak pun mengelus kepala Lucy dengan penuh kasih sayang. Menit berikutnya, Papa Lucy melayangkan kembali tamparan pada pipi kanan Della, membuat Lucy yang berada di pelukan Sabet pun tiba-tiba berdiri dan berteriak dengan sisa suaranya memanggil Handro dan Della. "Papa, Mama! Lucy mohon berhenti." Setelah mengatakan itu Lucy berlari menaikki tangga menuju kamar. Sesampai di kamar, Lucy mengunci pintu kamar dan menangis senggugukan di bawah selimutnya. Dan setelah malam itu, Lucy tidak pernah bertemu lagi dengan kedua orang tuanya, padahal sudah empat hari sejak kejadian itu. Dia juga tidak pernah keluar dari kamar walau hanya sebentar. Jika waktu makan sudah tiba, Sabet sendiri yang akan mengantarkan makanan ke kamar Lucy dan mengambilnya lagi setelah beberapa jam kemudian. Sabet juga merasakan akibat dari kejadian itu. Lucy yang dia kenal biasanya memiliki selera makan yang banyak, bahkan terkadang sampai menambah porsi. Berubah menjadi Lucy yang sangat malas makan. Sekarang, makanan yang diantar Sabet juga tidak pernah habis dimakan oleh nya. Tidak hanya itu, Lucy yang biasanya ceria jadi pemurung, Lucy yang biasanya punya seribu pembahasan mendadak kehilangan seribu kata-kata karena hal itu. Lucy mematikan lampu kamar agar lebih hikmat dan fokus untuk menonton Drama Korea yang akan ia pilih nanti. Saat b****g Lucy baru menyentuh tempat tidur sebuah ketukan pintu mencuri perhatian Lucy. “Siapa?” “Ibuk, Lu,” jawab Sabet. Lucy bangun dari posisinya, melangkah menuju pintu untuk melihat Sabet dan menanyakan tujuannya menghampiri Lucy. Padahal, dia sudah selesai makan malam yang artinya Sabet tidak memiliki keperluan lagi ke kamar Lucy. “Kenapa, Buk?” Lucy bertanya dengan membuka pintu kamarnya sedikit. “Itu ... mama nunggu di ruang keluarga.” “Lucy sibuk, Buk.” Setelah mengatakan itu, Lucy kembali menutup pintu dan tidak lupa menguncinya. Suara ketukan pintu kembali terdengar. “Lulu, Mama cariin kamu, Nak.” Sabet menggunakan nama panggilan Lucy untuk membujuk gadis itu kembali. “Bilang Lulu udah mati, Buk!” teriak Lucy dari dalam kamar yang sengaja ia kunci agar tidak bisa dimasuki oleh siapapun. “Aku benar-benar udah malas lihat muka mereka,” gumam Lucy menggerutu, sembari membuka laptop untuk melanjutkan tontonan-nya yang tertunda. Suara ketukan pintu kembali Lucy dengar, tapi kali ini bukan Sabet yang memanggilnya. “Lucy, keluar sayang. Mama mau pergi ke luar kota, Mama mau peluk kamu sebentar.” Lucy berdecih mendengar perkataan Della, Mamanya. Hatinya benar-benar masih sakit sampai saat ini. Itulah alasan yang membuatnya tidak ingin melihat wajah kedua orang tuanya. “Lucy!” suara Della sedikit meninggi memanggil nama Lucy, namun si empunya nama tetap tidak bergeming dan terus fokus pada Drama Goblin yang menjadi pilihannya untuk ditonton. "Kamu yakin nggak mau ketemu Mama?" Terdengar nada suara Della berubah lembut, tapi Lucy tetap pada pendiriannya untuk tidak luluh pada perkataan mama nya. Tidak ada lagi suara Della dan Sabet yang Lucy dengar. Membuat gadis itu menghela napas karena merasa lega. “Akhirnya, aku bisa nonton dengan tenang,” gumam Lucy merubah posisinya menjadi terngkurap dengan tangan yang memangku dagu, menghadap layar laptop.                                                                                                     ~~~     Beberapa orang yang susah dijahui adalah anggota keluarga. Tapi seringkali justru mereka yang paling ingin kita jauhi." – Brilio.Net  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD