Hari-hari libur Lucy mendadak hampa tahun ini, tidak ada yang spesial diliburan Lucy kali ini dan mungkin diliburan yang akan datang. Lucy yang biasanya keluar tahun baru-an bersama teman-teman dan saudara-saudaranya, kini hanya menyendiri di rumah dengan semua kegiatan yang bisa dia lakukan. Seperti, menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku favoritnya ‘kembali’ atau dengan mendengar musik satu harian sampai tertidur, bisa juga dengan kegiatan Lucy saat ini, yang sedang menonton film romance yang dia download dan belum sempat ia tonton. Kali ini, dengan mengandalkan proyektor infocus yang kedua orang tuanya beri untuk hadiah Lucy sewaktu Tahun Baru 2019. Lagi-lagi, mengingat setiap tahun orang tuanya memberi hadiah untuknya, di tahun ini Lucy juga mendapatkan hadiah yang tidak disangka, yaitu kedua orang tuanya bertengkar di malam Tahun Baru. Kejadian malam itu membuat Lucy kembali menitikkan air mata, tapi langsung ia hapus karena Sabet memanggilnya untuk makan siang.
Ya, ini sudah satu minggu setelah kejadian di mana kedua orang tua Lucy bertengkar, dan dihari kelima, Lucy memutuskan kembali keluar kamar sekedar untuk makan. Karena ia merasa tidak enak dengan Sabet yang setiap hari harus mengantarkan makanan untuknya. Tapi sesudah makan, Lucy akan kembali melanjutkan kegiatannya seperti biasa di dalam kamar.
Tepat seminggu juga, Lucy tidak melihat atau bertemu orang tuanya di rumah, bahkan saat makan di meja makan hanya ada Lucy seorang diri ditemani Sabet. Lagi pula Lucy tahu Mamanya sedang pergi ke luar kota dan Papanya? Lucy tidak penasaran dan tidak berniat menanyakannya pada Sabet.
~~~
Minggu ketiga setelah, Tahun Baru Lucy kembali sekolah. Seperti biasa, tidak ada yang berubah dari Lucy di sekolah. Ia tetap menjadi Lucy periang, menyenangkan, membuat orang lain tertawa dengan tingkahnya, Lucy yang baik dan ramah. Sifat itu juga dulu Lucy terapkan di rumah, hanya saja sekarang tidak lagi. Sekarang dia hanya menunjukkan sikapnya itu saat di sekolah, karena Lucy merasa dirinya masih bisa mandapatkan kebahagiaan dengan membuat orang lain tertawa.
“Liburan kemarin, lo kok susah banget dihubungin, kemana aja?” tanya Nina sahabat yang merangkap menjadi teman sebangku Lucy. Ia bertanya dengan bisik-bisik agar tidak di tegur oleh guru Matematika yang sedang duduk sambil memainkan ponsel di meja guru.
“Sibuklah, namanya juga tahun baru,” dusta Lucy masih fokus mengerjakan soal yang diberikan oleh guru Matematika.
“Iya, juga sih. Tapi enggak biasanya enggak ada kabar. Dulu lo tetap aktif walau tahun baru,” ucapnya lagi.
Lucy melirik Nina sejenak. Lalu, kembali fokus pada bukunya, lagi. “Tahun ini gue sibuk pake banget. Maaf enggak kabarin kalian.”
“Enggak papa. Kita cuma bingung aja, Lu.”
“Udah kerjain itu soalnya, nanti dia marah lagi.” Tunjuk Lucy ke arah meja guru dengan sudut matanya.
“Males, jamnya udah mau selesai. Bentar lagi bel pasti bunyi,” balas Nina menutup bukunya.
Tidak berapa lama tebakan Nina terwujud. Bel pulang sekolah berbunyi dan semua mata murid fokus pada meja guru untuk menunggu guru Matematika bergerak dari tempatnya dan mengucapkan sampai jumpa pada mereka semua.
“Baiklah, kelas hari ini sudah selesai. Soal yang Ibu berikan tadi silahkan dilanjut di rumah dan minggu depan di kumpul sebagai tugas,” terang Guru Matematika itu sambil membereskan barang-barangnya.
“Apa ada yang ingin ditanyakan?” tanya guru itu melirik ke arah murid-murid sejenak.
“Tidak ada, Buk,” jawab seluruh siswa dan siswi serempak.
“Baiklah, sampai ketemu minggu depan anak-anak.” Selesai mengatakan itu, kaki Guru Matematika itu melangkah keluar dari kelas dan meninggalkan kelas yang kembali ricuh karena merasa bahagia akhirnya jam sekolah sudah selesai.
"Lulu, gimana besok jadi enggak?" tanya Nina disaat Lucy sedang memasukkan buku-bukunya kedalam tas ransel.
Nina adalah salah satu teman baik Lucy yang paling cerewet, tapi dibalik kecerewetannya ada rasa peduli yang besar untuk setiap orang dan itu yang membuat Lucy sangat suka berteman dengan Nina.
"Jadi ke mana?" tanya Lucy tanpa melihat sahabatnya.
"Lucy, udah mulai pikun, ya, sekarang," timpal Sela teman baik Lucy yang lain.
"Sorry, tapi gue beneran lupa," jawab Lucy tersenyum.
"Nongkrong tempat biasa," balas Amel.
Lucy mengangguk-anggukkan kepala. "Oh, jadi." Nina, Sela dan Amel yang mendengar jawaban Lucy tersenyum manis dan mengangguk.
Sela, yang memiliki ide untuk mengajak Lucy pergi saat malam hari, mengutarakan pertanyaannya untuk menggoda Lucy yang ia yakini tidak mungkin bisa karena tidak diperbolehkan oleh orang tuanya. “Malam-malam bisa kan lo?”
“Bisa!”
Jawaban singkat dari Lucy membuat ketiga sahabatnya tercengang. “Lucy, lo serius?” Nina bertanya kembali karena merasa tidak percaya.
“Iyalah. Sekarang gue udah bebas,” jawab Lucy dengan senyuman lebar.
Amel menepuk tangannya sekali. “Oke! Kita bakal keluar malem untuk pertama kalinya.” Suara Amel sedikit mengeras karena begitu bahagia mendengar ucapan Lucy.
“Pertama kali, ye,” sahut Nina setuju dengan Amel.
Lucy menggaruk kepala yang tidak gatal karena dirinya sedang dilanda kebingungan. "Eh, gue pinjem duit sepuluh ribuan dong buat ongkos pulang. Kayaknya, gue lupa bawa dompet." Seketika Sela tercengang.
“Terus tadi lo naik apa ke sini?”
“Naik angkot. Tadi gue ada uang lima puluh ribuan di saku, jadi enggak sadar kalau enggak bawa dompet. Itu juga udah habis buat makan di kantin.”
Mereka bertiga mengeluarkan reaksi yang berbeda mendengar penjelasan Lucy. Sela yang menggelengkan kepalanya, Amel yang mendesah memaklumi Lucy yang mulai tua, dan Nina yang memberi nasihat pada Lucy untuk mengecek ulang semua barang-barang sebelum pergi.
"Dompet aja lupa, Lucy-Lucy." Sela mengambil duit sepuluh ribuan di saku seragam, lalu memberikannya pada Lucy.
"Nih, besok jangan lupa dikembaliin," hardik Sela mengintimidasi Lucy. Setelah itu, Lucy menyengir sekaligus mengangguk sebagai jawaban untuk Sela.
Lucy memilih tidak menceritakan keadaan keluarganya pada ketiga temannya, karena Lucy pikir itu adalah aib yang tidak perlu orang lain ketahui.
"Iya-iya. Aku pulang duluan, ya, bye." Lucy berjalan keluar pagar, menunggu angkutan umum yang akan membawanya pulang bersama rasa lelah dan sedih yang satu harian ini dia tahan.
Lelah, karena harus berpura-pura tidak terjadi apapun padanya dan kesal, karena harus sampai kapan dia bersikap baik-baik saja sementara hati dan pikirannya sudah hancur secara bersamaan di malam itu. Nina, Sela dan Amel pun menganggap biasa dengan perilaku Lucy, karena mereka berpikir mood-nya sedang kurang baik hari ini.
~~~
Menjaga privasi untuk diri sendiri memang tidak ada salahnya, tidak terlalu mempercayai seseorang dalam setiap isi hatimu juga tidak ada salahnya, memendam sendiri keluh kesah yang membuatmu sakit, juga tidak ada salahnya. Tapi akan jauh lebih baik, jika semua yang kau simpan seorang diri itu dibagi pada seseorang yang memang sangat dekat denganmu, bukan untuk membuatmu terlihat semakin menyedihkan, tapi untuk memberikan kelegaan bagi hatimu dan mungkin akan mendapat jalan keluar atau semangat dari orang terdekatmu itu.