Part 4 ( Menahan Rasa )

1044 Words
“Falling in love is great. It colors your whole world and makes your days inspiring. But for some reason, some people find it too scary. They decided it’s better to hold that part of their feelings.” — Ces Peta (Wordsmile.com)                                                                                                 ~~~ Perjalanan pulang, Lucy manfaatkan untuk tidur di dalam angkutan umum sambil memakai earphone di kedua telinganya. Ia sengaja mengambil duduk di kursi paling ujung agar bisa memejamkan mata dengan berpangku tangan dan mengedepankan sebagian rambutnya supaya wajah tidurnya tidak diperhatikan oleh penumpang angkot yang saat itu sedang padat. Benar-benar, hari pertama yang sangat melelahkan bagi Lucy. Seorang penumpang pria yang baru saja menaiki angkot, memukul pelan pundak Lucy beberapa kali untuk membangunkan gadis itu. "Dek, geser sedikit." Dan sekarang tidak hanya tepukan pelan, suara baritonnya juga ikut membangunkan Lucy agar memberinya tempat duduk, melihat Lucy yang tidur miring memakan cukup banyak tempat di sudut itu. Menyadari teguran, Lucy bergeser sedikit tanpa melihat sosok pria yang membangunkannya. Karena wajah bangun tidurnya pasti sangat memalukan saat ini. Seperkian menit, Lucy mengangkat kepalanya perlahan. Setelah merasa dirinya jauh lebih baik. Ia coba mencuri pandang untuk melihat wajah seseorang yang duduk di sebelahnya dan betapa terkejutnya ia, mengetahui bahwa pria itu adalah Kristian Maxwill, guru BK favorit semua umat di sekolahnya. Seorang pria yang cukup tampan, kurang lebih berumur 25 tahun, dan mungkin saja pintar, karena ia mampu menjadi seorang guru BK di umurnya yang tergolong masih muda. Sejujurnya, Lucy sangat gugup duduk bersebelahan dengannya, itu sangat jelas terlihat dari Lucy yang salah tingkah, karena jujur saja. Kristian juga menjadi favorit untuknya, setiap dirinya bertemu atau berpapasan dengan pria bertubuh tinggi itu, sudah pasti ia akan membayangkan bagaimana jika dirinya dan pria itu berpacaran. Lucy gila! Lucy b**o! Berbagai u*****n Lucy persembahkan untuk dirinya. Saat, pria itu menangkap basah Lucy sedang menatapnya terang-terangan dengan wajah bangun tidur. Niat awal yang hanya ingin mencuri pandang sudah gagal karena wajah tampan sang Guru BK tidak mampu membuat tatapan mata Lucy berpaling. “Kenapa bisa ketahuan, Lucy,” gerutunya dalam hati. “Kenapa lo b**o banget, Lu!!” Lucy kembali mengumpat dalam hati untuk dirinya sendiri. Saat berperang dengan isi kepalanya. Lucy tidak sengaja menangkap sebuah perumahan yang diyakini letaknya sudah jauh dari rumahnya. Hal itu, menyadarkan Lucy bahwa rumahnya sudah cukup jauh terlewati. Itu sukses membuat Lucy panik, saat mengingat uang yang tersedia di sakunya hanya sepuluh ribu. Lucy mulai berpikir, jika dirinya memilih berhenti di sini, itu artinya dia harus siap merelakan kaki cantiknya berjalan sejauh tiga kilometer untuk sampai ke rumah. Kalau ia tidak berhenti di sini jarak dirinya berjalan kaki akan semakin jauh untuk mendapatkan rumahnya. Tanpa sadar gadis itu menghela napas. Memikirkan saja sudah membuatnya meringis, bagaimana kalau itu terjadi. Sesaat, terlintas di benak Lucy untuk meminjam uang pada guru BK yang tadi sempat mampir ke pikirannya. Namun, pikiran-pikiran yang lebih mengerikan muncul secara bersamaan di benaknya. Seperti, bagaimana nanti jika pria itu meminta dirinya menjadi teman ranjangnya? atau bagaimana nanti jika dirinya diikuti lalu diperkosa? atau bagaimana jika pria itu menolak menolong dirinya? Jelas saja, itu akan membuat dirinya merasa sangat malu. Pikiran-pikiran seperti itulah yang sempat membuat Lucy membatalkan niat untuk meminta bantuan pria itu. Namun, pemikiran itu kembali goyah, ketika ia berpikir, jika rumahnya kelewatan lebih jauh mungkin ongkos angkutannya akan semakin mahal. Selain itu, fakta kalau pria itu adalah guru BK-nya semakin membuat Lucy yakin untuk meminta pertolongan padanya, berpikir tidak mungkin dia mau melakukan kejahatan saat identitasnya saja diketahui oleh banyak orang di sekolahnya. Akhirnya, Lucy memutuskan untuk meminjam uang pria itu setelah berperang dengan pikirannya. Saat ini harapan Lucy hanya satu, yaitu, semoga ada malaikat yang merasuki dirinya, sehingga pria itu tidak tega menolak seorang Lucy. “Semoga,” batin Lucy. Lucy menoel-noel lengan pria itu dengan jari telunjuknya dan berhasil. Ia melirik ke arah Lucy dengan tatapan bingung. "G-gini, Pak. Saya mau minta tolon. Boleh enggak, saya pinjam uang bapak sepuluh ribu? Rumah saya udah kelewatan jauh. Saat ini, saya cuma punya uang pas-pasan. Tolongin saya, Pak." Lucy memohon dengan wajah yang dibuat sesedih sambil meminta dalam hati lagi, semoga Pria di hadapannya ini mau menolongnya. Pikiran Lucy berbeda dengan pria yang dia mintai tolong. Pria itu menatap Lucy dengan tatapan bingung. Banyak sekali pertanyaan muncul di benaknya. Apa gadis ini memang tidak punya uang? Atau dia hanya modus? Atau dia mau menghipnotis? Semua pertanyaan negatif di pikirannya, membuat Kristian menghembuskan napas kasar. Matanya menangkap simbol sekolah pada seragam yang dikenakan anak di sebelahnya. Dalam hati pria itu ber-oh ria ketika mengetahui kalau gadis itu adalah salah satu muridnya di sekolah. Seketika, berbagai pertanyaan negatif yang tadi hadir di benaknya hilang, ntah ke mana. Dia dengan mudahnya memberikan uang pecahan dua puluh ribuan pada Lucy. Lalu, menyuruh supir untuk menepikan angkutan, karena tujuannya sudah sampai. Lucy yang menyadari hal itu juga ikut turun bersama Kristian, pertama karena dia belum sempat berterima kasih dan kedua karena dia memang harus turun jika tidak ingin ongkosnya bertambah mahal. Setelah Kristian memberikan ongkosnya, dia berjalan pergi meninggalkan Lucy yang sedang membayar ongkos. "Pak, tunggu sebentar,"  panggil Lucy pada Kristian. Kristian yang merasa terpanggil, berhenti dan membalikkan tubuh menghadap gadis yang menurutnya memiliki tubuh sesuai keinginannya. “Sekali lagi terima kas-" belum sempat Lucy menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong duluan oleh Kristian. "Iya, sama-sama." Selesai mengatakan itu, ia berjalan meninggalkan Lucy yang masih menatapnya, hingga Kristian masuk ke dalam rumah cukup besar yang memiliki dua lantai. Hilangnya Kristian dari pandangan Lucy, membuat gadis itu kembali menyebrang jalan untuk menunggu angkutan yang akan membawanya pulang ke rumah. Di wajahnya tercetak senyuman manis yang menandakan bahwa ia bahagia mendapat petolongan dari seseorang yang ia kagumi. “Mungkin enggak sih? Dia suka sama gue?” Lucy bertanya dalam hati masih dengan senyum yang terpantri manis di wajahnya. Tapi sedetik kemudian, Lucy kembali menggelengkan kepala tanpa sadar. “Enggak mungkin. Aku enggak mungkin berhubungan sama dia. Jangan mudah baper, Lulu. Tahan dirimu,” batin gadis itu menguatkan hatinya menahan perasaan yang seharusnya tidak hadir hanya karena sebuah pertolongan kecil. “Itu terlalu mudah,” sambungnya lagi dalam hati.                                                                                                 ~~~ Jatuh cinta itu hebat. Itu mewarnai seluruh duniamu dan membuat hari-harimu berkobar. Tapi untuk beberapa alasan, beberapa orang merasa itu terlalu menyeramkan. Mereka memutuskan untuk lebih baik menahan perasaan mereka itu. – Ces Peta ( Wordsmile.com )
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD