Part 5 ( Memutuskan Pergi )

808 Words
Sepertinya, hari ini, hari tersial dalam hidup Lucy. Bagaimana tidak, baru beberapa menit yang lalu masalahnya selesai dan sekarang sudah ada masalah baru di hadapannya. Ia menggelengkan kepala sesampainya di rumah, karena langsung disuguhi pemandangan kedua orang tua-nya kembali bertengkar. Lagi-lagi Lucy tidak mengetahui apa penyebab pertengkaran Handro dan Della, sampai-sampai kembali membuat Lucy meneteskan air mata. Sudah sepuluh menit, sejak ia menapakan kaki di lantai ruang keluarga tempat kedua orang tuanya bertengkar. Namun, tetap saja Handro dan Della melanjutkan pertengkaran mereka tanpa menghiraukan kehadiran Lucy. Membuat gadis bernama lengkap Lucy Andita itu tidak tahan lagi untuk melihatnya dan memilih berlari menuju anak tangga yang menjadi jalan ke kamar. Tapi, tanpa Lucy sadari, ia melewati lantai yang basah dan berujung terpleset. Tangan kanannya mengeluarkan cukup banyak darah akibat pecahan gelas yang tidak ia ketahui keberadaannya di lantai mengenai tangannya. Ringisan kesakitan Lucy, menghentikan pertengkaran kedua orang tuanya dan dengan cepat menghampiri Lucy yang sedang berusaha bangkit berdiri karena kesusahan dengan sepatunya yang licin karena tumpahan air di lantai. Handro dan Della memegang tangan Lucy berniat menolong, tapi langsung ditepis oleh Lucy karena enggan disentuh oleh kedua orang tuanya. Gadis itu lebih memilih meminta bantuan Sabet untuk mengobati lukanya. Penolakan yang diberikan Lucy menghadirkan kesedihan di hati kedua orang tuanya. Tapi, tetap saja mereka lebih mementingkan ego dari pada Lucy yang sedang sakit terlihat dari keduanya saling memberi tatapan tajam. Lucy yang jengah dengan keduanya memutuskan pergi ke kamar dibantu oleh Sabet yang akan mengobati lukanya di kamar. “Sakit enggak, Lu?” “Enggak, Buk,” jawab Lucy dengan mata fokus pada lukanya. “Sebentar lagi, pasti sakitnya bakal terasa.” “Enggak papa, Buk. Lucy kan lagi belajar buat nerima banyak kesakitan.” Ucapan anak majikannya itu mengejutkan Sabet hingga berhenti melangkah. “Jangan ngomong kayak gitu, Lu. Pamali.” Lucy tertawa sembari membuka pintu kamarnya dengan tangan kiri yang tidak luka. “Itu faktanya, Buk.” “Enggak ada yang seperti itu, Nak.” Perdebatan di antara mereka berhenti setelah Lucy memilih mengalah dan menyetujui perkataan Sabet. Wanita tua itu mengambil kotak P3K yang tersimpan di lemari kecil dekat kamar mandinya. Lucy memilih duduk di pinggir Bed diikuti oleh Sabet di sebelahnya. “Kalau perih ditahan sedikit, ya.” “Iya, Ibuk baik,” balas Lucy menggodanya. Lucy meringis sakit saat Sabet menekan lukanya dengan alkohol, karena luka yang didapatkan Lucy cukup lebar membuat darahnya susah untuk berhenti, walau sudah dibersihkan terus-menerus. "Perban asal, aja, Buk. Bentar lagi, Lulu mau ke rumah sakit biar di sana dijahit, aja." Sabet pun mengangguk menuruti perkataan Lucy Dua puluh menit waktu yang Sabet butuhkan untuk mengobati luka Lucy “Selesai, Lu. Ibu balik ke dapur dulu, ya, masih banyak pekerjaan.” “Makasih, Buk.” Lulu terus memperhatikan langkah Sabet menuju pintu kamarnya. Setelah, memastikan Sabet sudah keluar kamar, Lucy langsung bergegas mengambil beberapa barang yang sudah biasa ia bawa saat bepergian untuk menyusunnya ke dalam tas. Semua itu tidak memakan waktu lama bagi Lucy, karena sekarang Lucy sudah siap dengan t-shirt navy sebagai atasannya dan celana jeans hitam sebagai bawahannya, sedangkan sepatu, Lucy akan memakai sneakers hitam  kesayangannya. Lucy adalah gadis yang cukup sulit ditebak, sikap dan tindakannya tergantung bagaimana mood-nya dan itu hanya orang terdekat yang mengetahuinya. Sebelum berangkat, Lucy kembali memeriksa tas ransel yang berisi segala perlengkapannya, seperti, bedak, lipp mate, skincare, dompet, handphone, earphone, laptop, sepasang baju dan celana ganti, jaket, topi, serta syal dan juga sandal jepit miliknya. Lucy, juga wajib membawa sebuah buku jenis apapun itu untuk dibaca, karena  semua itu penting baginya. Ya, Lucy, salah satu perempuan yang setiap pergi akan sangat repot dengan semua barang-barang-nya. Padahal barang sebanyak itu akan dia bawa bersama motor matic. Cara menyusunnya? Hanya Lucy yang tahu. Setelah, ia rasa tidak ada yang tertinggal, Lucy keluar dari kamar dengan menenteng tas ransel di punggung. Kakinya langsung melangkah menuju garasi untuk mengambil helm dan bersiap pergi tanpa memperdulikan Della yang terus memanggil tanpa dihiraukannya. Sebelum hilang dari balik pagar, sebentar Lucy melirik wajah Della dari kaca spion motornya, untuk melihat wajah sang mama, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Lucy mengendarai motor dengan kecepatan standar, membelah kemacetan cukup panjang yang sudah terbiasa Lucy lihat. Kemacetan itulah yang menjadi alasan utama Lucy memilih menggunakan motor dalam sehari-harinya. Karena jika dia bepergian menggunakan mobil dan terjebak di tengah kemacetan, itu akan sukses membuat mood Lucy hancur seketika tanpa tahu kapan kembali membaik. Lucy memilih sebuah jalan kecil untuk memasuki sebuah komplek umum yang hanya boleh dilalui saat siang hari sebagai jalan potong yang digunakan Lucy untuk menghindari kemacetan. Pupil mata Lucy melebar, ketika menyadari di depannya berdiri seorang balita laki-laki, yang ntah dari mana bisa ada di tengah jalan. Lucy dengan cepat menghindari balita itu yang mengakibatkan ia kehilangan keseimbangan dan berakhir dengan jatuh tertimpa motor. Lucy berusaha bangkit dan berjalan dengan kaki tertatih menghampiri balita yang masih berada di tengah jalan. Lucy mempercepat langkah, saat melihat mobil dari arah depan melaju tanpa menyadari ada balita di hadapannya. Lucy menggendong balita laki-laki dan memeluknya erat. Lalu, berusaha berjalan menghindari mobil, walau usahanya sia-sia karena tubuhnya tetap tersenggol.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD