Matahari hampir tenggelam. Naina dan Nurmala pamit pulang. Sandi kembali bekerja di bengkelnya. Nasib sial bagi Naina yang disuruh mencari Arya meskipun baru sampai di rumah. Naina menolak, tetapi orang tuanya tidak akan membukakan pintu sampai Naina membawa Arya pulang.
Sepanjang jalan dia menggerutu. Menyumpahi Arya agar tidak pulang selamanya dan pergi jauh. Namun, dia tetap mencari Arya demi bisa masuk rumah. Berkali-kali memeriksa pesannya untuk Arya yang juga belum dibalas. Membuat Naina semakin kesal. Mencoba mengingat tempat yang akan Arya datangi, tetapi tidak bisa. Arya selalu berkeliaran tanpa berhenti di satu tempat. Tidak mungkin baginya untuk mencari Arya di jalan raya.
Naina mendapat ide dan berhenti di pinggir jalan. Dia segera mengirim pesan pada kakak tingkat terfenomenal di kampusnya yaitu Zaka Fahri Ramadhan. Dia pangeran kampus, selain wajahnya yang rupawan banyak prestasi dan bakat yang dia punya. Teman terdekat Arya karena satu kelas dengan Arya.
Senyum Naina mengembang, pesannya terbalas. Naina segera pergi ke tempat yang diberitahu Zaka. Naina dengan cepat menuju kampus. Sampai di sana dia terkejut. Di gasebo fakultas hukum, Arya tengah tertidur dengan lengan menutup mata dan kaki menekuk satu. Di sampingnya ada Zaka yang tersenyum menyambut Naina.
'Gawat! Apa Kak Zaka tau gue nikah sama Arya, ya? Lagian Arya ngapain sih ke sini? Kayak nggak ada tempat lain selain kampus! Nggak ada teman lain selain Kak Zaka gitu? Rese banget!' batin Naina.
Menghampiri gasebo dan duduk bersandar tiang. Dia membalas senyuman Zaka. "Hai, Kak!" sapa Naina.
"Hai juga, Naina! Arya baru aja tidur. Emangnya kenapa nyari Arya? Nggak sekalian nyari Kakak?" goda Zaka menaikkan kedua alisnya.
Naina tersenyum kaku. "Hehe, ibunya Arya yang nyuruh. Eee, tolong bangunin dia dong, Kak!" pinta Naina menunjuk kaki Arya.
"Bangunin aja sendiri." Zaka melengos sambil sok sibuk dengan handphone.
"Huft, ntar dia ngamuk kayak macan kurang tidur!" keluh Naina.
"Hahaha, kalau gitu biarin aja dulu. Lagian ini udah hampir magrib. Ntar aja kalau udah magrib baru pulang," saran Zaka tanpa melunturkan senyumnya.
Naina memandang langit barat. "Wah, iya langitnya udah mau gelap. Cantik banget!" celetuk Naina.
"Lebih cantik lagi kalau dilihat dari atas gedung. Mau lihat?" tawar Zaka.
Naina menggeleng. "Nggak usah, hehe. Ntar kalau jatuh ngeri!"
"Kan ada aku!" Zaka terlihat memaksa.
Naina sangat kaku menanggapinya. "Kak, jadi grogi, nih! Naina cewek sendiri di sini. Mendingan pulang sekarang aja, tolong bangunin Arya, dong!" pinta Naina sekali lagi.
Zaka menggeleng. Dia bermain handphone tidak menjawab. Naina mendengus memandang Zaka dan Arya bergantian.
'Kayaknya Kak Zaka nggak tau pernikahan ini. Bagus kalau gitu, tapi kenapa mereka ada di sini?' batin Naina.
Melamun menatap wajah Arya yang sedikit terlihat penat. Kemudian memutar pandangan ke sekitar gedung fakultas hukum. Sangat sepi tidak ada satu pun orang, kecuali para mahasiswa yang akan kuliah malam nanti.
"Kak, kenapa kalian di sini?" tanya Naina penasaran.
Zaka menatap Naina sambil menghela napas panjang. Memasukkan handphone-nya ke dalam saku dan menatap Naina lekat membuat Naina salah tingkah. "Aku ada tugas dari dosen, tapi sekarang udah selesai. Lihat Arya sendirian di gasebo, jadi aku samperin. Dia sedih sama frustasi!" ujarnya mirip berbisik.
"Apa? Arya sedih? Frustasi? Apa dia gila?" tanya Naina sedikit mendekatkan diri dan ikut berbisik.
Zaka terkekeh. "Bukan gila lagi, tapi hilang akal!" bisik Zaka sambil mengangguk meyakinkan.
"Ha! Hilang akal gimana?" kaget Naina.
"Dia nggak mau ngomong! Aku dicuekin dari tadi!" keluh Zaka.
Naina melebarkan matanya sambil mengangkat kedua alisnya. "Arya diam? Si cerewet itu diam? Gawat! Ini benar-benar di luar dugaan! Emang kenapa dia diam?"
Zaka mengendikkan bahunya. "Mana aku tau? Dia nggak ngomong apapun!"
Naina mengangguk seolah mengerti. "Pasti ada alasannya di balik sikap Arya. Kak Zaka tau kenapa?" menatap Zaka penuh teka-teki. Zaka menggeleng polos. "Dia pasti lapar! Cuma gengsi mau bilang!" sambung Naina sangat yakin.
"Hahahaha, pemikiran macam apa itu? Mana ada orang lapar sampai berubah sikap? Ada-ada aja!" tawa Zaka meledak.
"Eh, dibilangin nggak percaya! Beneran, dia paling kelaparan. Orang ibunya nyuruh nyari dia tuh karena Arya belum makan dari kemarin. Dia diet ketat kali!" Naina melirik Arya.
"Ha? Hahaha, ngapain juga Arya diet? Kamu jangan ngelucu, deh!" Zaka menggeleng dalam tawanya.
'Duh, Kak Zaka ganteng banget ketawanya. Gue ngobrol sama dia begini momen langka! Untung aja si Arya tidur, nggak ganggu gue menikmati wajah tampan di depan gue, haha!' batin Naina.
Naina tersenyum lebar memandang Zaka yang masih tertawa. Sampai akhirnya terdengar akan magrib. Dia mengerjap bodoh.
"Udah adzan. Sholat bareng, yuk! Bentar aku bangunin Arya dulu!" kata Zaka.
"Aduh, manisnya! Suami idaman ini, mah!" gumam Naina meremas ujung bajunya sendiri.
"Apa? Kamu ngomong sesuatu?" Zaka tidak jadi menepuk kaki Arya.
Spontan Naina menggeleng. "Enggak! Nggak ngomong apa-apa!" cengirnya.
Zaka mengangguk dan menepuk kaki Arya keras sampai Naina meringis. "Kak, nggak kurang keras mukulnya? Kayak mukul nyamuk aja!" protes Naina.
"Dia aja nggak bangun, kok! Susah banget di bangunin!" Zaka kembali memukuli kaki Arya.
Naina meringis sakit, tetapi di dalam hati tertawa karena Arya di pukul tanpa sebab. Sampai akhirnya Arya bangun sambil berdecak. Menendang Zaka sampai Zaka jatuh dari gasebo.
"Gila lo, ya?! Lo kata gue maling pakai dipukuli segala?!" sewot Arya pada Zaka yang mengelus punggungnya sakit.
"Aduh, teganya!" kata Zaka memelas.
Naina menganga. Segera menghampiri Zaka dan membantunya berdiri. Zaka dengan senang hati menerima bantuan Naina. Membuat Arya melengos acuh.
"Makasih, ya!" ujar Zaka.
"Kak Zaka nggak apa-apa? Ada yang sakit, nggak?" tanya Naina khawatir.
"Hehe, p****t sama punggung yang sakit. Mau ngelusin?" tanya Zaka sedikit mendekatkan wajahnya dengan senyum manis.
"Ehm!" Arya berdeham sangat keras membuat Naina dan Zaka menatapnya.
"Akhirnya ngomong juga. Udah selesai puas ngomongnya?" tanya Zaka meledek.
Arya melirik Zaka. "Ck, ngapain bangunin gue?" sewot lagi.
Naina geram dengan sikap Arya. "Harusnya lo bersyukur udah dibangunin! Mau diajak sholat berjamaah, bukannya dibiarkan tidur lo! Malah nendang seenaknya! Gue tendang balik mau lo?"
"Kenapa jadi lo yang sewot? Yang gue tendang Zaka bukan elo!" balas Arya sambil bangun dari duduknya. Dia pergi duluan ke mushola kampus.
Naina memandang Arya kesal. "Ih, nyebelin banget jadi orang!" gerutunya sambil menghentakkan kaki.
Zaka terus memandang Naina dengan senyum simpul di wajahnya. Merasa di bela membuatnya semakin tertarik dengan Naina. Dari setiap banyak gadis di kampus, hanya Naina yang sedikit dekat dengan Zaka karena Naina selalu bermusuhan dengan Arya. Arya selalu bersama Zaka dalam setiap hal di kampus. Dua sahabat yang tak terpisahkan.
"Udah, yuk, Kak! Kita ke mushola! Nggak usah dipikirin tuh Arya!" ajak Naina dan mendahului ke mushola. Zaka terkekeh dan menyusulnya.
Di perbatasan tempat wudhu laki-laki dan perempuan, Naina tersentak karena rambut dan wajah Arya basah kuyup. Arya menatapnya nanar. Naina buru-buru pergi ke tempat wudhu, tetapi Arya menghalangi jalannya. Mereka saling pandang dengan mata melotot. Naina ke kiri, Arya juga ke kiri. Naina ke kanan, Arya juga ke kanan. Begitu terus sampai keduanya kesal.
"Lo bisa nggak sehari aja nggak usah buat gue marah? Jauh-jauh dari pandangan gue!" Arya mendorong lengan Naina dan pergi begitu saja.
Naina mengepalkan tangan. "Heh, pemarah! Lo yang harusnya pergi dari hadapan gue! Selalu aja bikin orang darah tinggi!" marah Naina.
Setelah ibadah magrib mereka bingung. Memakai sepatu dan diam seribu bahasa. Naina dan Arya menjaga jarak sangat jauh dan tidak mau melirik. Zaka menjadi heran.
"Naina, katanya mau ajak Arya pulang. Kalau kalian marahan gimana pulangnya?" bisik Zaka.
"Biarin aja! Biarin dia nggak usah pulang kalau perlu nggak punya rumah! Orang kayak dia nggak pantas dibujuk!" Naina menekan kata terakhirnya. Arya hanya diam sambil mengikat tali sepatu.
"Jangan gitu! Perintah orang tua, loh! Mendingan kita makan dulu aja!" saran Zaka.
Naina tersenyum selesai memakai sepatu. "Kak Zaka baiknya kelewatan! Pantes banget dapat gelar pangeran kampus!" ujarnya tanpa ragu.
Zaka tertawa renyah. "Bisa aja! Aku bujuk Arya sebentar!" pergi menghampiri Arya.
Zaka merangkul pundak Arya dan Naina hanya melirik mereka. Terlihat Arya juga melirik Naina sebentar kemudian menatap Zaka lagi. Entah apa yang aja katakan sampai Arya setuju untuk makan. Mereka kembali ke gasebo dan menunggu makanan yang di pesan datang.
Kikuk melanda. Nasib baik ada beberapa mahasiswa yang sudah datang persiapan kuliah. Setidaknya tidak membuat Naina merasa perempuan sendirian. Namun, dia jadi bahan pandangan karena duduk dengan dua orang yang paling disukai di kampus. Zaka memang pangeran kampus dan Arya mahasiswa biasa, tetapi pesona Arya tidak bisa di tolak.
Mereka membicarakan Naina, tapi Naina cuek. Dia justru percaya diri ada di antara Arya dan Zaka. Lalu, pesanan datang. Tiga porsi ayam geprek sudah ada di depan mata dibiarkan begitu saja.
"Udahlah, Ar, makan dulu. Nggak kasihan sama Naina yang rela nyari sampai nungguin sekarang?" kata Zaka bijak menyerahkan bungkus ayam geprek pada Arya.
Arya menatap Naina yang acuh. "Ck, lo bisa pergi nggak sih? Nggak usah ganggu gue! Jadi nggak nafsu makan gara-gara ada lo! Kalau ibu gue nyariin bilang aja Arya pulang besok pagi!"
Naina mengerutkan dahi. "Lo kebangetan jadi orang! Udah baik gue nurut malah lo ngajak ribut. Oke kalau itu mau lo gue pergi, tapi jangan harap gue pergi buat pulang karena gue nggak bakal dibukain pintu kalau nggak pulang sama lo!" desis Naina. Kemudian berganti menatap Zaka. "Kak, Naina pergi dulu. Kakak juga pergi aja nggak perlu ngurusin orang gila suka marah-marah kayak dia!" melirik Arya yang menatapnya tajam.
Naina melengos dan pergi dengan motornya. Zaka ingin menahan Naina, tetapi Naina keburu pergi dengan marah. Dia berdecak memandang Arya.
"Lo kenapa, sih? Dari nggak ngomong jadi marah-marah. Ada masalah apa emang?" tanya Zaka sabar.
Arya menunduk sambil menghela napas panjang, "Ayah gue meninggal kemarin."
Deg!
Zaka terkejut hebat. "Apa?!"
Arya mengangguk lemas, "Gue nggak tau harus ngapain sekarang." mengusap rambutnya ke belakang. Terlihat sangat stres dan murung, "Maaf kalau tadi gue bersikap kasar. Gue muak aja lihat Naina." membuka bungkus nasi ayam geprek miliknya.
Zaka mengerti situasi Arya. Dia menenangkan Arya dan ikut berduka cita. Keduanya makan setelah mengobrol dan Arya sedikit tenang. Semua itu tidak lepas dari pandangan Naina. Dia belum pergi dan sembunyi di balik gedung. Senyumnya sedikit terangkat karena Arya mau makan.
'Setidaknya perutnya udah keisi. Gue bisa pulang sekarang! Semoga aja dibukain pintu,' batin Naina.
Dia benar-benar pulang. Ternyata mendung tidak menjamin akan turun hujan. Naina tetap berharap hujan datang dan mengguyur dirinya saat dalam perjalanan. Naina suka sekali bermain dengan hujan. Setelah itu dia akan merasa jauh lebih baik jika hujan turun.
Sampai di rumah bukannya disambut justru dimarahi karena Arya tidak bersamanya. Naina pasrah mendengarkan ceramah orang tua yang membiarkannya di depan pintu. Benar-benar Naina di kunci dari dalam. Dia duduk di teras sendirian bahkan ibunya Arya juga tidak ingin membantu. Sampai akhirnya Naina ketiduran di kursi teras.
Sebenarnya orang tua Naina tidak tega Naina tidur di luar, tetapi mereka hanya ingin membuat Naina dan Arya tidak bertengkar lagi dan menjalin hubungan yang baru. Kemajuan orang tua tidak selalu bisa dituruti. Naina sudah cukup terjebak dalam ikatan pernikahan selamanya, tidak untuk hal lain termasuk akur dengan Arya.
Pukul delapan malam Arya pulang karena saran dari Zaka. Jika Zaka tidak menasehatinya, Arya tetap akan pulang besok pagi dan menambah kecemasan di hati ibunya. Tidak sengaja melihat Naina meringkik di kursi teras. Dia tersenyum smirk dan melenggang masuk begitu saja.
'Ternyata dia emang nggak boleh masuk,' batin Arya.
Melihat Naina sebentar dari jendela. Hinggap rasa kasihan, tetapi Arya membuangnya. Dia kembali acuh dan menengok ibunya di kamar.
~~~
Silau membuat Naina bangun. Badan rasanya pegal semua sampai merenggangkan tangan pun pegal. Pintu belum juga terbuka. Naina menggaruk pipinya menatap sekeliling. Teras rumah yang tidak dingin sama sekali. Naina tidur sangat nyenyak bahkan nyamuk tidak bisa menggigitnya. Lalu, dia mengetuk pintu meminta izin untuk masuk. Membuka pintu paksa juga tidak bisa.
"Mereka tega banget sama anak sendiri. Udah nggak pengen gue kali, ya?" gumam Naina kembali duduk.
Menguap malas dan memperbaiki ikatan rambutnya. Naina terjingkat saat pintu di buka oleh ibunya. Segera dia masuk rumah sebelum pintu itu tertutup lagi untuknya.
"Anak bandel! Jangan masuk sebelum ibu suruh!" teriak ibunya mengejar Naina yang sudah masuk kamar.
"Naina nggak peduli! Mau nyambung tidur lagi!" jawab Naina dengan penuh senyuman.
Sejak saat itu tidak ada yang berani mengusik rumah tangga Naina dengan Arya apalagi membahas kematian ayahnya Arya yang hanya membuat Arya semakin sedih. Orang-orang memberi semangat dan membiarkan Naina dan Arya tinggal terpisah. Orang tua Naina dan Arya harus sabar menghadapi anak mereka.
Setiap hari bertemu memasang wajah cuek dan kembali pada urusannya masing-masing. Tidak ada tegur sapa apalagi senyum. Semua orang di kompleks sudah hafal sifat mereka. Banyak yang berpikir jika Naina dan Arya akan mengakhiri pernikahan mereka, nyatanya tidak. Mereka bertahan seolah-olah pernikahan tidak terjadi.
Sekarang senyum ceria penuh harapan dan tujuan baru terukir jelas di wajah Naina. Rambut terikat jadi satu, membawa sebuah kertas bertuliskan audisi memasak. Menaiki tangga menuju kelasnya di lantai dua. Dia menyapa penuh semangat pada teman-temannya di kelas.
"Hai, hai, hai, selamat pagi semuanya!" cengir Naina di ambang pintu.
Semua orang melongo. Kemudian menggeleng dan kembali ke aktifitasnya.
"Hahaha, dicuekin!" tawa Sandi yang baru datang tepat di belakangnya. Mendorong Naina untuk masuk sampai duduk di samping Nurmala.
"Eh, gue dapat kabar gembira dong!" seru Naina pada dua temannya itu.
"Apaan?" tanya Sandi dan Nurmala kompak.
Naina bingung dengan mereka. "Kalian terus bareng kalau ngomong. Heran gue, jangan-jangan jodoh!" goda Naina.
"Sembarangan lo!" Sandi dan Nurmala kompak lagi sambil menatap Naina tidak terima.
Naina nyengir. "Tuh, 'kan? Cie-cie!" Naina semakin gencar menggoda.
Sandi menggebrak meja Naina. "Ah, nggak seru! Daripada jadian sama Nurmala, mending gue jadian sama tukang jamu dekat rumah gue. Udah cantik, seksi, muda lagi!" ujar Sandi membayangkan gadis penjual jamu.
"Ih, gue juga ogah sama lo! Mendingan gue jomblo sambil menikmati game daripada jadian sama lo!" balas Nurmala.
Naina menjentikkan jarinya membuyarkan lamunan Sandi. "Pagi-pagi jangan bayangin orang lo! Eh, gue dapat ini, nih!" menunjukkan selembaran kertas itu.
Nurmala membacanya sambil mengerutkan dahi sedangkan Sandi hanya meliriknya. "Lomba masak? Hadiahnya uang tunai jutaan rupiah? Wah, seru nih! Sayangnya cuma ada satu pemenang," kata Nurmala.
"Haha, lo mau ikut gitu? Yang ada orang sakit perut makan masakan lo!" Sandi tertawa puas.
Naina menyisingkan lengan bajunya. "Ngajak ribut nih orang. Ayo, gue ladenin! Satu kompleks juga tau kalau gue pinter masak! Itu lomba yang ngadain orang kaya. Lumayan kalau gue manang!" Naina mengepalkan tangan mengajak Sandi untuk aku tinju.
Sandi memegang kepalan tangan Naina. "Tangan sekecil ini mau ninju gue? Nih, ini baru namanya kepalan tangan! Mau gue tinju?" Sandi mengancam dengan kepalan tangannya yang jauh lebih besar dari Naina. Sebelum Naina menjawab Sandi meninju pelan pipi Naina sampai Naina risih.
"Iiihhh, nggak usah rese, deh, lo!" decak Naina menepiskan tangan Sandi membuat Sandi tertawa.
"Na, kalau saingan lo banyak gimana? Kalau mereka pinter masak gimana?" tanya Nurmala yang sedari tadi berpikir.
Naina menoleh. "Namanya juga lomba. Pasti banyak yang ikut. Mereka juga pada jago masaknya dan gue nggak boleh kalah! Kalau gue menang, kalian gue traktir makan! Gimana?" sangat antusias menatap dua temannya.
"Yakin amat! Gue suka gaya lo!" ujar Sandi.
"Kerenlah kalau gitu! Gue temenin lomba ntar!" Nurmala mengangguk cepat.
Naina semakin yakin untuk mengikuti lomba. Dia berpikir untuk mendaftar setelah ini. Salah satu teman sekelasnya menghampiri Sandi. Naina penasaran mendengarkan pembicaraan mereka.
"San, futsal yuk!" ajak orang itu sambil duduk di bangku.
"Siap! Kapan?" Sandi mengangguki.
"Minggu depan di tempat biasa!" jawab orang itu.
"Yah, masih lama. Lawanya siapa?" tanya Sandi.
"Emm, kakak tingkat, hehe!" cengir orang itu.
"Ya, yang mana? Malah cengengesan," ucap Sandi.
"Semester tujuh fakultas hukum," jawab orang itu sambil menggaruk tengkuknya.
"Apa? Kelasnya si songong Arya itu? Dia ikut main kagak? Kalau ikut, gue nggak mau ikut!" Sandi melengos.
"Yah, nggak seru kalau nggak ada lo, payah!"
"Gue sebel sama dia! Ngajak ribut Naina mulu!" gerutu Sandi mebuat Naina memasang wajah manis sampai orang itu bergidik ngeri.
"Dia ributnya sama Naina, bukan sama lo! Pokoknya lo harus ikut! Ini demi kelas kita!" kata orang itu mempengaruhi Sandi.
"Eh, gue sama Naina adalah saudara, iya nggak, Na? Gue nggak bisa terima kalau Arya terus ganggu dia!" Sandi melirik Naina. Naina menaik-turunkan alisnya.
"Terus gue kagak lo anggap begitu? Na, gue dibuang sama Sandi!" Nurmala lebay menarik-narik lengan Naina.
Sandi mendelik menatap Nurmala. "Ih, alay! Pokoknya kalau Arya main, gue nggak bakalan main!" putus Sandi tidak bisa dibantah lagi. Naina terus tersenyum seakan keberuntungan akan datang. Dia menggulung kertas itu dan mengingat tinggal lombanya yang bertepatan dengan futsal temannya yaitu minggu depan.