Dosen memberi tugas yang cukup menguras otak untuk mencari jawabannya. Naina memutar-mutar bolpoint sambil menatap jam dinding. Kamar bernuansa jingga dan putih dengan lukisan bunga cantik karya Naina sendiri menjadi pemandangan epik dalam berimajinasi. Bukan solusi yang dia dapat, justru bayangan masakan lezat yang hinggap di pikirannya. Tugasnya belum terjawab satu pun.
Rasanya Naina ingin segera memasak dan mewujudkan imajinasinya tentang hidangan. Lupakan tugas dan fokus pada lomba. Sejak tadi ungkapan itu yang Naina katakan dalam hati. Sayangnya waktu terus berlalu membuat Naina tidak bisa membiarkan tugasnya terbengkalai. Dia berdecak malas mengerjakan tugas hingga larut malam.
Saat matanya mulai mengantuk, pintu kamarnya diketuk seseorang. Naina membuka pintu sambil menguap. Ternyata ibunya yang datang. Membawakan teh hangat karena tahu Naina bergadang.
"Kamu masih belum tidur, Na?" kata ibunya Naina sambil meletakkan teh di meja.
Naina kembali ke ranjang yang penuh dengan buku, coretan tidak jelas di kertas dan laptop yang masih menyala. "Belum, Bu! Tinggal sedikit lagi selesai," jawab Naina.
Ibunya Naina duduk di tepi ranjang. "Kamu beneran mau ikut lomba masak? Saingannya banyak, loh!"
Naina mengangguk antusias. "Justru itu yang menantang, Bu! Kalau Naina menang, 'kan lumayan!" jawab Naina sambil mengetik sesuatu di laptop.
"Bagus, sih! Ibu dukung, kok! Eee, sebenarnya Ibu mau ngomong hal penting sama kamu," ujar ibunya Naina dengan senyum penuh arti.
Naina mendongak menatap ibunya dengan wajah mengantuk. "Ngomong apa, sih? Penting kayak apa coba?" lanjut fokus ke laptop.
"Emm, kamu pergi bulan madu sama Arya mau, ya!" pinta ibunya Naina penuh harap.
Naina terlonjak kaget. "Apa?! Yang benar aja, Bu! Masa sama Arya, sih? Daripada Naina bulan madu sama dia mending Naina pergi jauh dari rumah!" pekik Naina.
"Ssttt, kalau ngomong hati-hati! Nanti suatu saat pergi dari rumah beneran gimana? Kalau perginya ke rumah Arya, ibu nggak masalah." ibunya Naina mengendikkan bahu sengaja menggoda anaknya.
Naina frustasi menggacak-acak rambutnya. "Arya lagi, Arya terus! Bosen dengar namanya!"
"Kalau bukan Arya siapa lagi? Dia udah jadi suami kamu! Dia teman kamu dari kecil!" tutur ibunya Naina.
"Teman apanya? Musuh Iya!" decak Naina melengos.
Ibunya Naina mendesah pasrah. "Yaudah kalau nggak mau. Berarti tiket bulan madunya buat ibu sama ayah aja, hehe!" cengir ibunya Naina.
Naina menganga. "Ha? Udah beli tiket? Persiapannya cepat banget!" menggeleng tidak percaya.
"Iya, dong! Bulan madu di pulau Bali!" ibunya Naina menggiming-iming.
Naina tertawa. "Hahaha, maaf nggak minat! Emangnya kapan berangkatnya?"
"Katanya nggak minat, kok tanya?" ejek sang ibu. Naina mencebikkan bibirnya. "Minggu depan," jawab ibunya Naina.
Naina terbelalak. "Minggu depan, 'kan aku lomba masak!" pekiknya.
Ibunya mengangguk cepat. "Memang! Yaudah kalau gitu, selamat bergadang! Tiketnya buat ibu sama ayah!" ujarnya sambil melenggang pergi.
Naina tertawa renyah tidak habis pikir dengan orang tuanya. "Ada-ada aja ibu gue. Aduh, masih belum kelar lagi tugasnya!" kembali mengerjakan tugas yang tersisa.
Lampu kamarnya terlihat terang dari celah jendela. Arya bisa melihatnya dengan jelas. Dia sedang duduk di teras rumah sambil bermain handphone. Membalas pesan dari teman-temannya untuk ikut futsal minggu depan. Tentu saja dia setuju. Namun, pandangan Arya selalu tertuju ke kamar Naina. Dia bingung kenapa musuhnya itu belum tidur. Sengaja mengirim pesan sekedar bertanya. Dia sudah tidak marah seperti hari itu. Bukannya membalas Naina justru menelepon Arya. Dengan senyum miring Arya menerima panggilan Naina.
"Apa lo ngirim pesan ke gue? Kangen lo, ya?" ujar Naina yang melihat Arya di jendela rumahnya.
Arya juga menatap jendela kamar Naina. "Keluar, gih! Diem aja di kamar lagi beranak lo?"
"Ck, berani ngajak gue kemana emang?" tanya Naina.
"Ke kuburan!" jawab Arya santai.
Seketika Naina keluar rumah tanpa alas kaki dengan handphone masih di telinga. Dia langsung menghampiri Arya yang duduk manis di teras.
"Lo mau jadiin gue tumbal? Astaghfirullah, istighfar, Arya!" Naina mendorong dahi Arya kuat.
Arya menepis tangan Naina sambil berdecak. "Matiin teleponnya, b**o!" desis Arya.
Naina mematikan panggilannya dan kembali menuturi Arya. "Lo jangan ngada-ngada lo! Itu nggak baik! Mendingan lo ngaji sana!" Naina menunjuk jalan kompleks yang menuju masjid.
Arya menyentil dahi Naina sampai Naina memekik. "Udah ikut gue aja!" Arya menarik tangan Naina jalan-jalan di jalanan kompleks.
"Eh, eh, main tarik aja! Gue kagak pakek sendal!" Naina menyeimbangi langkah Arya.
"Mau lo telanjang juga gue nggak peduli!" ujar Arya seenaknya. Dia asik memandang indahnya malam.
Naina ternganga dan mencubit lengan Arya keras.
"Aaaa, sakit, Na! Gila lo, ya?!" pekik Arya menjauhkan tangan Naina.
"Ngomong apa barusan? Dengan santainya kagak ada rasa malu sedikit pun!" sewot Naina merasa malu.
Arya menaikkan sebelah alisnya. "Oh, yang gue nggak peduli meskipun lo telanjang itu?" ulang Arya.
Naina semakin kesal dan mencubit lengan Arya semakin keras sampai Naina yakin Bekas cubitannya akan gosong besok. Arya berusaha menahan teriakannya agar tidak mengganggu orang yang tengah tidur.
"Sakit, b**o! Lepasin gue!" desis Arya melototi Naina.
"Minta maaf dulu!" suruh Naina membalas pelototan Arya.
"Ogah! Ahh, sakit, Na!" Arya mencoba melepaskan cubitan Naina, tetapi tidak bisa.
"Gue juga ogah! Biarin kulit lo lepas sekalian!" Naina menambah cubitannya sampai hatinya puas melihat ekspresi Arya yang kesakitan baru dia melepaskan cubitannya.
Arya Mengelus lengannya yang membekas kuku-kuku Naina sampai merah parah. "Wah, nggak waras lo, ya? Sampai begini harus tanggung jawab!" Arya menginjak kaki Naina satu kali dengan sangat keras.
"Aaaaa, sakit! Lo kebangetan jadi orang!" Naina menunjuk wajah Arya sambil memegangi kakinya yang diinjak Arya.
"Rasain! Udah jalan!" suruh Arya menarik tangan Naina lagi.
Naina mencoba melepaskan dirinya dengan mengancam Arya dengan cubitan dan akhirnya Arya melepaskannya. Mereka berjalan berdampingan menahan sisa sakit yang diberikan. Namun, senyum merekah di hati mereka. Naina tidak tahu niat Arya membawanya jalan-jalan. Mereka sudah berjalan cukup jauh.
"Lo beneran mau ngajak gue ke kuburan?" tanya Naina menatap semua rumah.
"Kalau iya kenapa? Takut? Dasar cemen!" ejek Arya tanpa menatap Naina.
Naina menoleh. "Wah, nantangin! Kalau gitu kita buktiin siapa yang penakut, lo atau gue. Kita berdiri di depan gerbang pemakaman selama setengah jam. Siapa yang nggak kuat dia yang kalah dan hukumannya harus nurutin semua permintaan yang menang. Gimana, berani nggak?" tantangan Naina.
Arya berdecih dan menjentikkan jari. "Tantangan gitu doang, kecil bagi gue! Lo yang bakalan kalah dan gue bakal buat lo jadi pembantu, haha!" tawa Arya jahat.
"Haha, kita lihat aja ntar!" Naina ikut tertawa jahat.
Mereka sungguh-sungguh menuju pemakaman. Awalnya Naina khawatir kalau Arya kembali teringat pada almarhum ayahnya. Ternyata Arya justru sangat semangat pergi ke kuburan. Naina tau sebenarnya maksud Arya mengajaknya keluar. Pasti ingin membicarakan bulan madu yang sama. Dia justru melencengkan niatnya.
Gerbang pemakaman terlihat jelas dalam beberapa langkah. Mereka memaksakan kaki untuk terus mendekat. Hawa suram mulai menyeruak. Pandangan melongo tanpa berkedip. Mereka saling pandang, lalu kembali melihat gerbang pemakaman. Kompak menelan ludah susah payah.
"Ar, lo yakin?" tanya Naina pelan. Kakinya sudah gemetar.
"Kan elo yang nantangin," jawab Arya sambil mengatur napasnya.
"Tapi elo yang ngajak ke sini!" balas Naina mirip berbisik.
"Ah, penakut! Ayo!" Arya mendorong Naina sampai mau dua langkah. Naina langsung berbalik sambil menutup matanya rapat-rapat. "Ar, jangan kabur lo!"pekik Naina ingin menangis.
"Kagak, gue di samping lo ini!" gumam Arya mengerjapkan matanya berkali-kali.
Naina membuka matanya lebar menatap Arya yang diam kaku di sampingnya. "Eh, kita belakangin kuburan tau! Balik badan nggak?" tanya Naina.
"Dari tadi tanya mulu. Akui aja kalau takut!" Arya ingin membalik badan Naina, tetapi Naina menolak.
"Nggak usah pegang-pegang gue! Lo sendiri aja yang balik badan!" ucap Naina.
"Ck, yaudah mendingan gini aja. Seenggaknya lebih aman," kata Arya.
"Aman dari mana? Buruan atur waktu setengah jam!" suruh Naina gemas.
"Ini pukul sebelas pas di jam tangan gue!" balas Arya menunjukkan jam tangannya tepat di mata Naina.
Naina mendorong tangan Arya yang teramat dingin. "Oke, kita mulai dari sekarang!"
Mereka diam menahan merinding. Baru beberapa detik Naina mengejang kaku merasa ada bayangan melintas cepat di belakangnya. Sangat dingin membuat Naina tidak berani bergerak.
"Ar, itu apaan?" bisik Naina masih memandang ke depan.
"Apa? Palingan burung lagi lewat," jawab Arya memutar bola matanya perlahan.
"Oh," Naina bingung.
Seakan ada yang mengawasi mereka. Bayangan di otak hanya makhluk harus dengan penampilan buruk dan mengerikan. Naina dan Arya kompak memejamkan mata rapat. Mereka bertengkar dengan perasaannya sendiri. Antara ingin tetap bertahan atau lari dan akui kekalahan.
'Serem banget berasa banyak... Aaaaaaaa, gue mau kabur aja!' batin Naina.
'Ehm, kuatkanlah, Arya! Kuatkanlah!' batin Arya.
Beberapa detik kemudian...
"AAAAAAAA, GUE NGGAK KUAT LAGIIII!" teriak Naina dan Arya kompak sambil lari terbirit-b***t.
Mereka masih berteriak sampai di rasa sudah menjauh dari pemakaman. Mereka berhenti di antara rumah-rumah. Memegang lutut ngos-ngosan. Panas dingin menyebar ke seluruh tubuh. Kaki pun gemetar masih gemetar dan detak jantung berdegup sangat cepat.
Naina melambaikan tangan. "Gue... Gue nggak mau balik ke sana lagi! Gara-gara elo jantung gue rasanya mau copot!" mendorong Arya sampai Arya terhuyung ke samping.
"Gara-gara tantangan lo nggak masuk akal! Kenapa jantung lo nggak copot beneran terus gabung sama hantu di sana?" jawab Arya menoleh ke belakang dan langsung berbalik ke depan.
Naina menegakkan badannya. Masih mengatur napas. Menatap Arya yang sangat menahan takut. Seketika senyum jahilnya terbit. Naina melepas ikatan rambutnya dan menutupi wajah dengan rambut.
"Arya...," panggil Naina lirih sambil menepuk pundak Arya.
Arya menoleh melotot. "Aaaaaaaa, hantu jelek!" teriak Arya lari sangat kencang.
"Aaaa, jangan tinggalin gue!!" Naina jadi takut sendirian dan menyusul Arya.
Teras rumah Naina menjadi tempat istirahat yang paling nyaman karena banyak lampu terpasang di halaman. Sangat terang menghilangkan rasa takut yang tersisa. Mereka duduk selonjoran di lantai sambil menghirup oksigen dengan rakus.
"Kebangetan banget lo jadi orang. Gue potong rambut lo habis baru tau rasa!" desis Arya menatap Naina tajam.
Naina berdecih. "Takut bilang aja, Bos!" menjulurkan lidahnya mengejek.
Arya tersulut. "Sini, hantu jelek! Gue bikin muka lo jelek beneran!" Arya menjambak rambut Naina sangat kuat sampai beberapa helai patah.
"Aaaaaa, pengecut! Beraninya jambak rambut cewek! Lepasin nggak?!" Naina mencoba melepaskan tangan Arya.
Dia gemas ingin meninju wajah Arya yang sangat senang melihatnya tersiksa. Senyumnya sangat puas menjambak rambut panjang Naina. Sedangkan Naina teramat kesakitan.
"Sialan lo, Arya! Lepasin gue!" pekik Naina sambil meninju pipi Arya.
Arya sampai membentur tembok di sampingnya. Arya melotot pusing, dahinya mengeluarkan darah. Naina juga juga berteriak kesakitan karena rambutnya dijambak kuat saat Arya melepaskannya. Arya mengerjap dua kali memandang Naina dengan beberapa helai rambut Naina yang patah ada di genggamannya. Naina panik memeriksa rambutnya yang kusut dan berkurang sebelah.
"Rambut gue! Rambut gue ilang!" pekik Naina memilah rambutnya.
"Hahaha, rasain! Jadi jelek!" Arya menunjuk Naina dengan tangan yang menggenggam rambut.
Naina terbelalak. Merebut patahan rambutnya di tangan Arya, tetapi Arya tidak mau membuka genggamannya. "Lo kejam! Gue aduin ke Bibi biar lo dihukum berat! Balikin rambut gue!" Naina marah.
Arya justru sangat santai. Dia meringis aneh merasakan sesuatu di dahinya. Memegang pelipis kirinya yang terdapat darah. Arya melotot menatap darah di jarinya. "Cewek stres! Lo apain kepala gue?! Ganti rugi! Kadar kegantengan gue jadi berkurang gini!" marah Arya menunjukkan darahnya pada Naina.
Naina menatap Arya polos. Melirik dahi Arya yang mengalirkan darah. Sontak dia tertawa lepas. "Hahaha, balasan! Emang enak?!" Naina justru menekan luka Arya.
Arya mendesis, memelintir tangan Naina. "Beraninya lo buat gue luka! Gue patahin tangan lo!" desis Arya kejam.
"Penindasan! Kalau gue mati lo gue gentayangin!" Naina teriak lagi sampai membangunkan kedua orang tua Naina. Mereka membuka pintu sambil menutup telinganya.
"Berisik!" bentak ayah Naina.
Arya dan Naina terjingkat dan refleks menjauh.
"Kalian mau bangunin orang sekompleks?! Membosankan!" ujar ayahnya Naina sangat marah.
Arya memalingkan wajahnya sedangkan Naina memandang orang tuanya takut-takut.
"Udah besar, tapi tingkah seperti anak kecil! Kalau mau bertengkar mendingan pergi ke tempat yang jauh dan jangan kembali lagi!" ayahnya Naina masih marah sambil menunjuk jalan menuju gerbang kompleks.
Naina berdecak. "Ayah, Arya jambak Naina sampai banyak yang patah! Rambut Naina nggak rapi lagi!" adu Naina sambil menjinjing rambutnya.
Arya mendorong Naina. "Paman, lihat ulah anak Paman, nih! Sampai berdarah!" menunjuk pelipisnya. Ayahnya Naina justru tersenyum miring. Naina tidak mau kalah, dia kembali mengadu. "Kaki Naina diinjak, Yah!" mengangkat sebelah kakinya.
"Lengan Arya dicubit, Paman! Darahnya banyak banget! Kulitnya copot!" Arya mengada-ngada.
Naina memukul pundak Arya. "Nggak usah dilebih-lebihin!" kesalnya.
Mereka saling melotot. Ibunya Naina pusing memilih masuk lagi ke rumah. Ayahnya Naina melipat tangan bersandar pintu. "Sudah puas?" tanyanya datar. Naina dan Arya menoleh lalu mengangguk. "Kalau gitu... Masih mau berantem apa masuk?" tanya ayah Naina lagi.
Naina mendesah. "Berantem sama dia nggak ada gunanya, Yah! Bikin darah tinggi doang!" ujar Naina sambil berdiri dan masuk rumah begitu saja.
Arya mengusap darahnya sambil berdiri. "Paman, kurung aja dia!" kesal Arya.
"Ck, kamu yang nyuruh dia keluar, buat apa Paman kurung? Dasar!" ejek ayahnya Arya.
Arya sedikit berpikir. "Benar juga," gumam Arya.
Ayahnya Naina terkekeh. "Mau nginep di sini? Puasin berantemnya sama Naina di kamar? Eh, udah sah, 'kan ya?" sengaja menggoda.
Arya membelalakkan matanya. Dia berdeham kecil langsung melenggang pergi. Ayahnya Naina hanya terkekeh.
~~~
Pasca tantangan yang tidak tahu pemenangnya, Naina berniat balas dendam. Pagi ini sibuk merapikan rambut sambil mengomel. Tugas sudah selesai, buyar rencana hidangan lezat untuk lomba. Dia bersiap pergi ke kampus dengan wajah murung. Sesekali melirik rambutnya masih tidak puas dengan rapihannya sendiri. Nasib sial menghampiri. Roda motornya bocor. Ingin sekali Naina memakan motornya saat itu juga.
Terlihat Arya yang juga akan berangkat kuliah. Mereka hanya memandang tanpa minta. Arya tahu kalau motor Naina bermasalah, tetapi dia tidak peduli. Pergi dengan sangat cepat sampai deru motornya terdengar keras.
"Ck, cari perhatian! Nyebelin!" gerutu Naina.
Akhirnya Naina meminta tolong Nurmala untuk menjemputnya. Di kampus pun masih murung. Tidak bisa fokus pada perkuliahan.
Nurmala menyenggol lengan Naina. "Kenapa, sih?" tanyanya berbisik.
Naina menoleh malas. "Kenapa apa lagi kalau bukan Arya?" jawab Naina lesu.
Nurmala menganga. "Lo berantem lagi sama dia? Kapan?" menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Naina.
"Semalem jam sebelasan mungkin. Dia tuh kampretnya minta ampun!" Naina mendesis sambil memukul mejanya pelan.
Nurmala meringis. "Hampir tengah malam gitu berantem model gimana?" bingungnya.
"Ya, pokoknya berantem. Kalau udah selesai kuliah ntar gue jelasin. Sekalian kita recokin Arya! Gue mau balas dendam sama dia!" Naina memantabkan niatnya dengan mengangguk pasti.
"Ha? Emangnya masih belum puas?" heran Nurmala menggaruk kepalanya.
"Kagak ada puas kalau bersangkutan sama Arya!" jawab Naina menatap tajam Nurmala.
Nurmala jadi mendelik lalu menyilangkan tangannya. Dia kembali mendengarkan dosen daripada meladeni Naina yang marah.
Sedangkan Arya di kelasnya sedang duduk sok serius dalam kuliah. Pelipis kirinya di plester dengan kapas dan obat. Semua orang di kelasnya bertanya-tanya, tetapi hanya Zaka yang berani bertanya. Mereka sudah menduga jika itu perbuatan Naina. Gadis itu sangat berani sampai membuat Arya terluka, pikir mereka. Sampai rasanya bosan mendengar pertengkaran Naina dan Arya.
"Kali ini diapain lagi?" tanya Zaka meskipun pandangan tertuju pada dosen tanpa melunturkan senyuman.
"Ditinju kebentur dinding," jawab Arya cuek.
"Puft, gimana bisa?" Zaka menahan tawanya.
Arya melirik Zaka yang mengejeknya. "Gue jambak rambut dia sampai patah banyak!" senyum miring terbit.
Zaka menoleh. "Lo keterlaluan, sih!" tutur Zaka.
"Diem! Habis ini gue bakal beri perhitungan sama Naina! Lo ikut gue!" pinta Arya.
"Terserah," jawab Zaka santai.
Perkuliahan selesai, Arya teringat tujuannya kemarin menyuruh Naina datang untuk membicarakan tiket bulan madu. Menjadi buyar karena bermain di gerbang pemakaman. Dia menjadi berpikir dua kali untuk mengerjai Naina atau bicara tentang bulan madu. Arya sudah menolaknya, tetapi ibunya tetap memaksa. Jadwal tiket juga bersamaan dengan pertandingan futsal-nya. Arya sudah menjelaskan berbagai cara, tetapi ibunya tidak mau mengerti. Arya pikir jika Naina juga menolak dan bicara langsung dengan ibunya pasti akan mengerti. Arya hanya tidak ingin menyakiti hati ibunya. Dia sangat sayang terhadap orang tua.
"Zaka, kayaknya nggak jadi ngasih pelajaran buat Naina. Gue ada urusan mendadak," ujar Arya yang mencegah Zaka keluar kelas.
Zaka menoleh. "Mendadak banget? Yaudah, seenggaknya nggak jahilin Naina. Biar gue yang temuan dia!" katanya semangat.
Arya segera menghentikan Zaka lagi. "Eh, jangan!"
Zaka bingung. "Kenapa?"
Arya mencari alasan yang tepat. "Eee, karena dia pasti lagi latihan masak. Mau ikut lomba masak enam hari lagi. Ck, sok percaya diri dia!" kata Arya.
Zaka mengerutkan dahi. "Lomba masak? Lo tau dari mana?"
Arya mendekat dan berbisik. "Ibunya dia bergosip di rumah gue, jadi gue tau!"
Zaka mengangguk paham. "Pasti lo risih, ya? Jangan berantem mulu,kasihan dia cewek!"
"Lo kenapa belain dia mulu? Dia cewek, tapi kelakuannya kagak kayak cewek! Udah pelipis gue jadi korban, lengan gue sampai gosong mau keluar darah begini juga gara-gara dia, nih!" menunjukkan lengannya yang dicubit Naina.
Zaka melongo. "Kekerasan banget dia. Beda kayak cewek lainnya. Keren!" senyumnya semakin lebar.
Arya heran. "Apanya yang keren? Halu lo, ya? Dia kejam begini di bilang keren. Gue pergi dulu, deh!" pamit Arya menepuk pundak Zaka dua kali.
Zaka mengangguk. "Gue juga ada kerjaan sama dosen," ujar Zaka ikut pergi.
Jalan mereka berbeda. Saat Zaka sudah menghilang dengan motornya, Arya segera mencari Naina di gedung fakultas ekonomi.