5. Gula Halus

2590 Words
 Beberapa mahasiswa yang belum pulang heran memandang Arya terburu-buru menuju kelas Naina. Di sana hanya menjawab dengan senyum kaku, lalu kembali datar. Di kelas Naina tidak ada. Dia kembali turun dan mengira Naina ada di parkiran. Dugaannya benar. Naina sedang di boncengan Nurmala. Arya segera menarik tangan Naina dan mengajaknya pergi jauh dari parkiran. Naina menepuk dahinya lupa ingin balas dendam pada Arya. Dia seakan diseret membuatnya mengomel sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Arya.   "Cowok k*****t, apa sih mau lo? Lepasin gue!" pekik Naina.  "Sstt, gue mau ngomong!" gumam Arya.   "Ha? Gue nggak denger!" Naina berteriak tepat di belakang telinga Arya membuat Arya berdecak dan menoleh. Naina memandangnya menantang.   Arya membawa Naina pergi ke taman samping gerbang. Dia langsung melepaskan Naina dan membersihkan tangannya menggunakan baju.   Naina menganga. "Lo pikir gue kotoran sampek ngelap tangan segala habis megang gue?" melipat tangan di d**a.   Arya berdecak." Gue lupa mau ngasih tau semalem. Pasti lo udah tau tiket bulan madu itu, 'kan?" tanya Arya melirik Naina.  Naina mengangguk, matanya terbelalak melihat plester di pelipis Arya. "Hahaha, yang ini sakit, ya?" mencolek luka Arya.   Arya menjauh. "Ck, nggak usah mulai! Gue serius ini! Terus tiketnya lo apain?" tanya Arya kesal. "Gue nolak, malah tiketnya dipakek buat bulan madu ayah ibu gue," jawab Naina santai.   Arya terkekeh. "Kalau gitu bagus! Masalahnya ibu gue tetap maksa. Lo bilangin gih kalau lo juga nolak. Gue udah jelasin tetap nggak mempan," pinta Arya.  "Ngebujuk Bibi pun mesti gue yang ngelakuin? Lo, 'kan anaknya masa nggak bisa?" heran Naina.  "Kayak nggak tau ibu gue aja. Buruan pulang bujuk dia sekarang! Ntar dia kecewa!" Arya memaksa Naina sambil mendorong kecil pundak Naina.  Naina menghela napas kasar menepiskan tangan Arya. "Udah gue bilang jangan sentuh gue! Eh, ini yang terakhir kalinya lo minta tolong sama gue, ya! Inget waktu bujuk pas pernikahan?" menunjuk wajah Arya.   Arya mengingat seakan lupa segalanya. "Emang kita nikah? Kapan?" tanya Arya polos.  "Hhiiiiihhh, gue cakar juga wajah lo!" geram Naina.  "Hahaha, kucing kecil!" ejek Arya menoyor kepala Naina.  Naina ingin membalas, tetapi ada orang melintas dan keluar gerbang sambil menatapnya. "Gawat, jangan-jangan dia denger omongan gue lagi," gumam Naina menatap orang itu yang kemudian pergi jauh.  Arya ikut menatap gerbang. "Apanya yang gawat? Siapa yang denger?" tanya Arya.   Naina mengerjap. "Tadi ada yang lewat nggak kenal, apa dia denger, ya? Eh, duduk! Gue juga mau ngomongin ini tapi lupa," Naina menyuruh Arya duduk di kursi taman. Arya mengerutkan dahi menurut.  "Lo tau Lily, 'kan?" tanya Naina berbisik melebarkan matanya di hadapan Arya.   Arya mendelik. "Mata lo besar banget! Jadi pengen nyolok!" gumam Arya dengan wajah datar. Naina berdecak dan Arya tertawa ringan. "Tau, lah! Cewek yang tergila-gila sama gue itu, 'kan? Dia juga sekelas sama lo. Kenapa emangnya?" sambung Arya.   Naina menunduk lesu sebentar. "Dia tau pernikahan kita, b**o! Waktu itu ngelabrak gue di parkiran. Habis itu nangis lagi di kelas pakek bilang putus cinta!" bisik Naina sangat pelan.  Arya terbelalak. "Yang bener? Kok bisa?"   Naina menggaruk pipinya. "Katanya denger berita kematian ayah lo. Niatnya mau takziah, tapi malah lihat kita pakai baju pengantin. Jadinya dia tau," Naina sangat lesu.  Arya mengusap wajahnya. "Ha? Dia tau dari mana ayah gue meninggal? Sekelas kagak ada yang tahu kecuali Zaka. Itu pun gue kasih tau di gasebo setelah lo pergi," bingung Arya.  Naina menoleh. "Iya, ya? Aneh banget!" mengangguk-angguk.   Nurmala datang dengan begitu santainya sambil main game. Duduk di tengah-tengah Naina dan Arya tanpa persetujuan mereka. "Ehm, enaknya kalau begini tiap hari, 'kan adem. Nggak berantem mulu. Telinga yang denger juga nggak sakit. Eh, kalian akur cuma kalau ngobrol serius doang. Nggak asik, ah!" celetuk Nurmala.  Naina mengernyit. "Anda siapa, ya?" tanya Naina meneleng melihat wajah Nurmala yang menunduk karena game.  "Sstt, lagi seru!" jawab Nurmala. Naina mengelus dadanya sabar.   Arya mendelik. "Lo selalu aja ngikutin Naina. Sama yang satu lagi suka ikut campur siapa namanya?" Arya memutar jarinya berpikir.  "Sandi," jawab Naina cuek.  "Iya, si Sandi! Kalian bertiga kompak! Kompak nyebelinnya!" ujar Arya lalu pergi.   "Eh, cowok cerewet! Elo yang nyebelin!" balas Nurmala.   Naina menatap Arya tanpa mencegahnya. Ada sesuatu yang terlintas dalam otaknya.   'Siapa yang ngasih tau Lily soal kematian paman?' pikir Naina.  Nurmala menjentikkan jarinya sama Naina mengerjap sadar. Arya sudah tidak terlihat di hadapannya. Naina celingukan mencari Arya.  "Suami lo udah balik. Yuk, balik juga! Lagian kenapa nggak pulang sama Arya aja, sih?" gerutu Nurmala sambil memasukkan handphone-nya ke dalam saku.   Naina merangkul pundak Nurmala. "Nur, gue nggak mau bikin ribut pagi-pagi kalau nebeng sama dia!" jelas Naina.  "Heleh, kalau malam mau ribut? Kalian ribut tiap waktu!" jawab Nurmala menjauhkan tangan Naina dengan bercanda.   Naina hanya tertawa dan mengajak Nurmala pulang. Sampai di rumah tidak membujuk ibunya Arya, tetapi termenung di teras. Dia masih memikirkan pertanyaan yang sama. Handphone dalam genggaman, pandangan ke halaman dengan dahi berkerut.   'Siapa? Kalau orang itu tau kematian paman dan ngasih tau Lily, otomatis juga tau kalau gue sama Arya nikah. Arya nggak ngasih tau siapapun. Sandi sama Nurmala nggak mungkin bocorin beritanya. Jadi siapa?' pikir Naina.  Khawatir jika orang itu menyebarkan berita pernikahannya ke semua orang di kampus. Sangat jelas akan ada banyak cacian dan hinaan untuk mereka. Katanya saling benci, tetapi menikah. Itu tidak sesuai faktanya.   Naina memutar-mutar handphone pelan dengan kedua tangan. Hatinya merasa ada sesuatu yang menyorot pada dirinya dan Arya. Seakan mereka adalah hal unik untuk ditelusuri. Naina menduga jika ada yang menguntitinya. Namun, berpikir kembali jika itu tidak mungkin.   'Apa gunanya penasaran sama gue coba? Artis bukan, terkenal juga kagak. Mana ada orang yang nguntitin gue? Jelas nggak mungkin,' batin Naina.  Berganti posisi menjadi menyangga kepalanya. Siku bertumpu di kaki dan handphone di taruh di meja. Pandangan juga terarah ke rumah Arya. Sudah satu jam sejak Naina pulang, tetapi Arya tidak pulang. Pintu rumahnya selalu terbuka menunjukkan ibunya Arya sedang menunggu. Naina masih enggan pergi untuk menjelaskan.   Sore yang panas membuat mata sakit jika memandang langit barat. Naina tidak mengerti kenapa matanya ingin memandang awan jingga di barat sampai dia mengeryip silau.   'Tapi orang itu juga nggak nyebarin berita pernikahan gue sampai sekarang. Berarti aman-aman aja. Ck, jadi makin penasaran,' batin Naina lagi.   Mendesah pasrah. "Yang terjadi biarlah terjadi. Gue cuma nggak mau ada omongan buruk yang nyakitin hati gue. Gimanapun juga gue harus tetep lanjutin semangat gue. Bentar lagi udah malam. Hari akan berkurang lagi. Tinggal lima hari untuk lomba. Semoga aja bisa menang. Niat buat tabungan biar nanti pakai modal usaha sendiri. Huft, gue masak apa, ya?" gumam Naina.  Mengetuk-ngetuk dagunya berpikir sambil tersenyum. Wajahnya yang bulat seperti telur itu sangat manis dengan lesung pipi kiri saat tersenyum. Rambutnya digelung rapi dan memakai pakaian santai dan sendal rumahan. Terlintas untuk membuat kue donat yang sangat empuk, Naina langsung mengambil uang untuk membeli bahannya. Bukan untuk lomba, tetapi di makan nanti malam.   Dengan riang Naina pergi ke toko bahan kue dekat dengan gerbang kompleks. Dia hanya perlu jalan kaki sambil menikmati pemandangan di sore hari. Jalan raya sangat berisik. Orang-orang ingin kembali ke rumah masing-masing sekedar melepas penat. Beberapa pelajar dan mahasiswa seperti dirinya juga nampak berseliweran. Naina mengukir senyum. Menebak arah perginya para pelajar nakal itu. Mereka tidak akan pulang, tetapi singgah ke tempat lain.  Masa remaja memang menyenangkan. Senyum Naina menjadi luntur mengingatkannya. Dia sudah tidak bisa menggapai impian seperti dulu karena terikat pernikahan. Baiklah, Naina memang istri Arya sekarang, tapi bukan berarti kehilangan masa remajanya. Usia yang dibilang dewasa, belum cukup dewasa bagi Naina. Dia masih ingin bermain.   Sekali lagi menghela napas panjang dan senyum sabar Naina tampikan. Semuanya akan baik-baik saja. Kata itu yang membuat Naina semangat. Arya bukanlah halangan, tetapi orang lama dengan status baru yang mempengaruhinya.   Naina bisa membuat bahagianya sendiri. Kata cinta dan pujaan hati yang selalu keluar dari bibirnya hanyalah ungkapan belaka. Naina tidak mengerti apa maksudnya, karena tidak pernah merasakan cinta yang katanya bergejolak aneh di d**a. Sering berharap ada orang yang mengajarinya tentang cinta. Rasanya tidak mungkin karena Naina berteman dengan semua orang kecuali Arya. Bagaimana bisa mendapatkan cinta murni seorang kekasih?   Kaki jenjangnya sudah melangkah begitu lama karena Naina berjalan sangat lambat. Hingga sampailah ke toko penuh bahan kue. Harum kue manis menggelitik hidung Naina sejak membuka pintu. Dia semangat memilih dan melihat-lihat seisi toko.   Keranjang yang dia bawa sudah penuh, tetapi Naina masih asik menimbang harga dan kualitas bahan kue. Dia bingung ingin mengganti jenis toping. Semua toping warna-warni tersusun rapi di rak begitu menggoda.   "Pakai yang mana, nih?" gumam Naina dengan jarinya menunjuk-nunjuk.   Pusing tidak bisa memilih, dia kesal dan mengambil gula halus yang sangat banyak. Tiba-tiba seseorang menghentikan tangannya untuk mengambil gula halus lagi.   "Eh?" Naina terkejut.   Dia dan orang itu saling pandang. Senyum yang merekah sempurna terpampang jelas di mata Naina. Kulit cerah, rambut terpangkas rapi, dan semerbak harum parfum maskulin kentara habis mandi. Bisa Naina lihat betapa pintarnya otak yang tersembunyi dalam kepala orang itu. Sungguh tidak Naina duga akan bertemu pangeran kampus di toko bahan kue. Tangannya tiba-tiba hangat, tiba-tiba dingin masih dipegang Zaka.   "Hai, kebetulan banget, ya?" kata Zaka dengan senyum manisnya.   'Aduh, nggak kuat kalau begini! Senyumnya bikin lemas kaki! Duh Gusti, mimpi apa ini?!' pekik Naina dalam hati.   Dia melongo tanpa sadar ikut tersenyum manis. Zaka mengerutkan dahi. Melambaikan tangan di depan Naina, tetapi Naina tetap tidak sadar. Dia terkekeh geli, lalu menarik tangan Naina yang masih dia pegang sampai akhirnya Naina mengerjap. Dia nampak bodoh cengengesan tidak jelas.  "Ha? Eee, hehe. Ada Kak Zaka. Hai, Kak!" sapa Naina melambaikan tangan.   "Hahaha, kamu lucu! Kenapa bengong? Kaget aku di sini, ya?" tanya Zaka melepaskan tangan Naina.   Naina segera menarik tangannya sambil dielus pelan bekas dipegang Zaka. "Enggak, kok, nggak bengong. Cuma diam aja gitu," jawabnya sambil meringis.   "Aneh banget! Lagi belanja bahan kue, ya?" tanya Zaka menunjuk keranjang Naina.  Naina menunduk melihat keranjangnya dan menatap Zaka lagi. "Oh, iya ini mau bikin donat. Sengaja buat camilan nanti malam sambil nonton film, hehe," jawab Naina tanpa malu.  Zaka tertawa renyah, "Kamu bisa bikin kue? Aku baru tau."  Naina mengibaskan tangannya. "Jangankan kue, segala macam makanan aku bisa buat! Kalau ada resepnya," berbangga diri.  Zaka menaikkan kedua alisnya. "Wah, kamu jago masak ternyata. Nggak heran Arya bilang kamu mau ikut lomba masak. Kapan acaranya?" tanya Zaka antusias.   "Masih lima hari lagi. Aku masak sekedar hobi, Kak. Syukur kalau bisa menangin lomba, 'kan?" Naina mengerlingkan matanya.   Zaka jadi kikuk. Menggaruk tengkuknya ragu ingin mengatakan sesuatu. "Emm, aku boleh lihat kamu lomba nggak?" tanyanya ragu.  Naina mengangguk cepat. "Seneng banget kalau Kakak bisa nonton! Aku pasti bakal buat makanan yang paling enak nanti, haha! Selagi pangeran kampus gitu yang nyemangatin!" goda Naina.  Zaka kembali tertawa. "Kamu bisa aja! Berarti boleh dong kapan-kapan nyicipin masakan kamu?" tanya Zaka lagi.  "Jelas boleh dong, siapa yang nggak ngebolehin?" jawab Naina sangat akrab.   Zaka mengangguk. "Oke, aku tunggu masakan kamu! Eh, udah selesai belanjanya?"   Naina menjadi kembali melihat rak berisi toping. "Ini tinggal ngambil gula halus lagi. Kak Zaka mau beli apa biar Naina bantu?" tanya Naina sambil mengambil gula halusnya.   Zaka menghentikan Naina lagi. "Eh, udah jangan dihabiskan gula halusnya! Aku juga mau beli itu," kata Zaka dengan senyuman.   Tangan hangatnya kembali memegang tangan Naina. Naina menganga menatap gula halus di tangannya dan di keranjang. Meletakkan gula halusnya lagi ke rak dan menjunjung keranjangnya.   "Ya ampun, kenapa bisa sebanyak ini?" heran Naina sambil menggaruk kepalanya.   Zaka melipat tangan di perut. "Hmm, mau borong gula halusnya sampai aku nggak dibagi?   Naina mendongak." Hehehe, niatnya emang ambil banyak, tapi nggak sebanyak ini, Kak. Kenapa jadi banyak banget, ya? Aku balikin separuhnya!" buru-buru mengembalikan separuh gula halus yang di ambil ke rak.   Zaka terkekeh. "Makanya aku tahan tadi. Kirain kamu lagi kenapa," ujar Zaka sambil mengambil sebungkus gula halus.   Naina tersenyum lebar. "Makasih kalau gitu. Mau beli apa lagi? Naina bisa bantu, kok!" tawarnya.   "Emm, sayangnya cuma beli ini doang. Pesanan Mamanya Kakak." Zaka menunjukkan gula halus di tangannya.   "Gitu, ya? Yaudah, yuk bayar!" ajak Naina mempersilahkan.   Di kasir sangat ramai yang mengantri. Sampai tiba giliran Naina membayar, dia sangat tidak sabar untuk pulang. Di belakangnya Zaka tengah memperhatikan Naina yang memakai pakaian santai. Sangat sederhana dan tidak malu untuk keluar dengan tampilan apa adanya. Zaka terus tersenyum sampai tidak sadar sudah gilirannya untuk membayar.   Keluar dari toko, Zaka berniat mengantarkan Naina pulang, tetapi Naina menolak. Padahal Zaka masih ingin berlama-lama dengan Naina.  "Kak, Naina pulang dulu, ya! Keburu kemaleman. Kak Zaka hati-hati di jalan!" kata Naina sambil melambaikan tangan dan lari di tepian jalan.   Zaka juga melambaikan tangan tanpa menjawab. Dia pasrah pergi meninggalkan bayangan Naina yang seakan masih ada di sekitar toko kue.   Naina menenteng kantung keresek besar ke dapur. Ibunya sampai kaget menghampirinya.   "Na, tumben banget beli bahan kue banyak? Mau buat apa?" tanya ibunya heran.   Naina mengeluarkan semua barang belanjanya dengan senang. "Mau buat donat yang banyak terus makan sampai kenyang, haha!"   "Wah, ada apa, nih? Kamu udah lama nggak masak." goda sang ibu.  Naina melirik ibunya dengan senyum merekah. "Habisnya bentar lagi mau lomba masak. Mau nyoba bikin kue masih enak apa enggak," kata Naina sambil mengambil wadah untuk adonan.   "Kalau gitu ibu lihatin aja. Kalau udah jadi tinggal makan! Kamu buatnya yang enak, ya! Nanti kalau bisa buat donat enak, kita jual buat toko donat sendiri! Jadi bisnis!" seru ibunya.   "Hahaha, kenapa jadi ibu yang semangat? Tunggu aja sampai jadi, ini butuh waktu lama!" ujar Naina mulai mebuat adonan.   Ibunya mengangguk dan pergi. Naina membuat donat sepenuh hati. Dapur dia kuasai sampai malam. Pukul delapan malam Naina baru istirahat dan selesai mandi. Dia bisa menghela napas lega karena sudah selesai berkutat dengan dapur dan membersihkan semuanya. Dua nampan penuh donat dengan gula halus menjadi pelengkap. Sangat manis dan harum mengundang untuk dimakan. Naina membawanya ke ruang tamu dimana ibunya sedang menunggu.   "Hmm, aromanya mengundang lapar, nih!" ujar ibunya Naina. Dia terbelalak melihat donat yang begitu banyak. "Astaghfirullah, Naina! Kamu buat donat sebanyak itu? Siapa yang mau habisin?"   Naina nyengir meletakkan nampak donat di meja. "Ibu yang habisin, haha! Jelas Naina, lah!" menepuk dadanya bangga.   Duduk manis bersiap memakan donat. "Gula halus biar tambah manis semanis Naina, hehe!" ujarnya bangga.   Ibunya mendelik karena putrinya berbangga diri. Naina Memakan donat buatannya dengan nikmat. Namun, pintu terbuka lebar tanpa diketuk terlebih dahulu membuat Naina dan ibunya kaget.  "Naina!" seru Arya di ambang pintu. Dia ingin marah, tetapi tidak jadi karena ada ibu mertuanya alas ibunya Naina.   Naina menggebrak meja tidak jadi memakan donatnya. "Punya sopan santun nggak, sih? Masuk rumah orang kayak penjahat! Kalau pintu gue rusak lo ganti tiga pintu sekaligus!" Naina marah menunjuk pintu dan Arya.   "Assalamualaikum, Bibi! Na, ikut gue!" Arya memberi salam sopan pada ibunya Naina, lalu menarik tangan Naina keluar begitu saja.   Naina memekik tidak mau pergi dengan Arya. "Bu, tolongin Naina, Bu!" berteriak pada ibunya yang lebih memilih memakan donat.   Arya memaksa Naina ke rumahnya untuk bicara pada ibunya. Sejak Arya pulang ibunya selalu merecokinya dengan tiket bulan madu membuat Arya risih. Tiba di teras Naina menginjak kaki Arya kuat sampai melepaskan genggaman tangannya. Naina sudah menunjuk wajah Arya, tetapi Arya mendahului bicara.  "Udah gue bilang lo harus ngomong sama ibu gue, malah enak-enakan makan donat! Nggak nepatin janji, lo!" maki Arya.  Naina tidak terima. "Kurang nepatin janji gimana gue, ha?! Lo minta gue nikah sama lo gue turutin! Bibi nyuruh gue bujuk lo makan, gue ladenin! Gue berniat malam ini mau ngomong baik-baik sama Bibi sambil bawain donat, tapi lo marah-marah! Kurang baik gimana gue sama lo?! Lo sadar nggak sih, Arya?! Lo udah korbanin hati gue! Emang kejam lo jadi orang!" marah Naina membuat Arya terpaku.   Pintu rumah Arya terbuka menampakkan ibunya Arya yang memasang wajah panik mendengar keributan di depan rumahnya meskipun sudah menduga jika itu adalah anak-anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD