Satu nampan penuh donat diberikan pada ibu Arya sebagai tanda pamit. Naina sudah menjelaskan semuanya jika pernikahan mereka bukanlah ikatan yang membuatnya tertekan. Naina dan Arya tetap dua orang yang berbeda. Mereka tidak bisa disatukan dengan berbagai cara termasuk tiket bulan madu. Sedih pun tidak terasa bagi ibunya Arya karena sikap Arya dan Naina yang bertentangan sejak kecil. Namun, hatinya merasa sedikit pedih karena mereka tidak mau menerima satu sama lain.
Bagi Naina, perasaannya terkorbankan. Bagi Arya, pernikahan mereka hanyalah perwujudan sebuah janji. Naina masih memikirkan perasaan ibunya Arya dengan bicara baik-baik, tetapi tidak menatap Arya sedetik pun meskipun mereka duduk bersampingan. Penjelasan Naina begitu dalam sampai dia berkaca-kaca dalam setiap ucapannya. Itu membuat Arya tetap diam. Tidak pernah Naina mengeluh dengan penuh penghayatan di hadapannya.
Saat Naina pulang, Arya merasa kehilangan seolah-olah dia ingin Naina tinggal. Seakan Naina membuat Arya di pojok kesalahan. Dia merasa menyakiti hati Naina, tetapi Arya tetap menyangkalnya. Seperti biasa dia tidak peduli apapun pada Naina. Satu hal lagi yang membuat Arya tidak mengerti. Ibunya juga tidak mau bicara dengannya setelah Naina pergi. Arya terus berpikir apa ada yang salah dengan dirinya?
Sedangkan Naina tanpa menyapa sang ibu yang masih memakan donat di ruang tamu, dia segera masuk ke kamarnya. Tidak tahu sejak kapan air mata itu luruh begitu saja. Dia tengkurap memeluk bantal dan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Naina meredam tangisnya yang menyisakan isakan yang sangat menyayat hatinya sendiri. Dia juga bingung kenapa dia menangis. Berpikir apakah dia keterlaluan atas kejujurannya? Padahal Naina hanya mengungkapkan isi hatinya yang jelas satu kompleks tau jika dia dan Arya tidak bisa bersama.
Dia khawatir jika kata-katanya menyakiti Bibi yang sangat baik itu. Di sudut hatinya, merasakan luka lain yang tidak bisa Naina jelaskan. Luka itu terus Naina rasakan sampai akhirnya menemukan istilahnya yaitu kecewa. Naina kecewa dengan Arya yang menyebutnya tidak menepati janji. Jangankan janji kecil, janji sehidup semati telah dia lakukan demi permintaan Arya dan juga almarhum ayahnya Arya. Begitu mudah dan teganya Arya memaki Naina dengan kata itu.
Sungguh Naina tidak bisa menahan tangis. Dia bertengkar dengan dirinya sendiri yang menyuruhnya tetap diam dan jangan menangis. Arya hanyalah laki-laki konyol dengan segudang kemampuan. Kalimat itu terus Naina katakan dalam hati, tetapi tidak berpengaruh. Satu-satunya obat untuk membuat Naina berhenti menangis adalah permintaan maaf dari Arya. Naina sangat yakin laki-laki itu sangat menjunjung tinggi rasa gengsi. Minta maaf bisa membuat harga dirinya dipertaruhkan.
Sampai tengah malam Naina masih belum berhenti menangis. Dadanya sampai sesak, dia memilih berbaring dengan benar dan mematikan lalu kamarnya. Tidak jadi memakan donat yang masih satu nampan dengan nikmatnya. Dia sudah kenyang dengan tangisan.
Hidungnya memerah, matanya bengkak dan kepala pusing. Seketika Naina tertidur dengan sedikit isakan yang tersisa.
Pagi harinya begitu mendung bahkan gelap dari waktu itu. Gemuruh kecil juga terdengar sebagai tanda-tanda hujan. Naina berdiri di teras bersiap berangkat kuliah. Senyumnya terukir memandang awan mendung. Dia sangat suka mendung apalagi hujan. Rambut yang dibiarkan tergerai itu sedikit berterbangan tertiup angin dingin. Naina menutup matanya merasakan sejuk yang berbeda. Hatinya sudah sedikit lega.
'Hujan, temani hati ini!' pinta Naina dalam hati.
Naina membuka matanya masih menatap mendung. "Sendiri dalam kepiluan menahan duka tiada jawaban. Pertanyaan yang tidak jelas akan membutuhkan jawaban yang sangat lama," racau Naina.
Jika ada yang mendengar racauannya pasti mudah mengira ada yang salah dengan Naina. Dia menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan. Begitu terus sampai tiga kali lalu mengucap doa dan berangkat ke kampus. Motornya sudah diperbaiki dengan sangat baik, sampai rasanya Naina tiba di kampus lebih cepat.
Di parkiran masih duduk di atas motor, dia merapikan rambutnya dengan jari. Tersenyum pada teman-teman mahasiswa yang menyapanya. Namun, senyum Naina hanya sebatas di bibir saja. Apakah perasaannya juga tersenyum? Tidak, dia hanya mencoba tersenyum ikhlas, tetapi tidak bisa. Tiba seseorang yang baru datang memarkirkan motornya tepat di samping Naina.
"Hari yang murung tidak boleh di sambut dengan murung. Seseorang akan sangat sedih jika senyum itu dipaksakan. Apa aku benar?" ujar orang itu.
Suara yang sangat familiar membuat Naina segera menoleh dan melebarkan senyumnya. "Kak Zaka? Kakak parkir di sini? Bukannya biasa di fakultas hukum?" Naina justru bertanya.
Zaka merapikan rambutnya sebentar lalu menatap Naina dengan senyuman. "Aku biasa parkir di mana saja asalkan itu tempat parkir, haha. Maaf, tidak lucu!" ujarnya.
Naina tertawa renyah. "Gagal ngelawak dong," balasnya.
Zaka menunjukkan deretan giginya. "Kenapa bisa sedih begini? Biasanya ceria dan suka marah-marah. Kamu jadi agak mirip sama mendung!" melirik awan gelap di langit.
Naina ikut mendongak. "Bahkan mendung lebih jelas daripada Naina sekarang," gumam Naina.
Zaka mengerutkan dahi, "Aku nggak ngerti maksud kamu." menggeleng pelan.
Naina kembali menatap Zaka meringis. "Cuma meracau, Kak!"
"Udah, jangan sedih! Kalau mau cerita boleh kok. Gratis buat kamu!" canda Zaka.
"Hahaha, apa yang mau diceritain? Naina nggak apa-apa kali!" elak Naina.
"Yah, siapa tau aja. Kalau gitu Kakak pergi dulu. Ada jam kuliah lebih awal. Jangan sedih, ya!" ujar Zaka sambil menggacak-acak rambut Naina pelan membuat Naina terdiam.
Menatap Zaka yang pergi dengan sedikit berlari menuju gedung kelasnya. Dia buru-buru pun juga terlihat mengagumkan sebagai pangeran kampus. Naina tetap diam dan kemudian mengulas senyum. Dia tidak terpesona dengan Zaka, hanya mengagumi kebaikan dan semua yang melekat pada Zaka. Cara Zaka memperlakukannya sangat aneh. Naina menganggap Zaka sebagai kakak sungguhan.
Pembicaraan singkat Naina dan Zaka tidak sengaja di lihat oleh Arya yang juga parkir tidak jauh dari mereka. Dia terus menatap Naina di setiap pergerakan sampai Naina pergi. Sedikit mengganjal melihat Zaka yang mengacak pelan rambut Naina. Namun, dia menggeleng dan ikut mengejar kelas pagi.
Tepat saat Naina tiba di kelasnya, hujan turun dengan begitu deras. Naina langsung berbalik menatap hujan dengan gembira. Dingin di koridor lantai dua justru membuatnya nyaman. Naina mencoba menangkap hujan dengan tangan. Sedikit air yang dia dapat berhasil membuatnya terkekeh. Beberapa mahasiswa yang baru datang ingin segera masuk ruangan, tetapi Naina berdiam diri di koridor dan asik menikmati hujan.
'Akhirnya hujan turun. Tuhan mengabulkan doaku untuk hujan menemaiku,' batin Naina.
Tiba-tiba ucapannya juga menjadi aneh. Naina terpengaruh oleh perasaannya sendiri. Hal itu membuat dua teman yang dianggap saudaranya itu mengintip di pintu kelas. Mereka saling pandang bingung bertanya tentang Naina. Memutuskan untuk mengagetkan Naina dan berhasil. Naina memukul pelan mereka berdua membuat mereka terkekeh.
"Ngapain sih main hujan di koridor? Nggak sekalian di lapangan sana biar hujan-hujan?" canda Sandi yang ikut menangkap hujan.
"Biar syahdu dong!" jawab Nurmala sambil merangkul pundak Naina.
"Hahaha, bener-bener syahdu kalau begini. Banget syahdunya," ujar Naina membuat Sandi dan Nurmala menatapnya.
"Kenapa, nih? Nggak kayak biasanya. Oh, gue tau, pasti gara-gara Arya, 'kan?" tebak Nurmala.
"Diapain lagi lo sama dia? Biar gue balas dua kali lipat!" Sandi menyingsingkan lengan bajunya.
"Nggak diapa-apain kok. Gue lagi nggak mau dengar nama dia. Jangan sebut si cowok k*****t itu seharian ini, ya!" pinta Naina dengan senyum yang masih melebar.
Nurmala menggaruk kepalanya. "Naina jadi kalem banget! Salah minum obat lo, ya?" tebak Nurmala lagi.
"Hmm, kalau gini butuh ketenangan batin kayaknya. Tetangga gue ada yang ngadain pengajian ntar malam. Lo mau ikut?" tawar Sandi.
Naina menoleh merasa tertarik. "Pengajian? Mau dong ikut!udah lama nggak dengerin pengajian. Nur, lo ikut juga, ya!" pinta Naina.
"Kalau lo ikut, gue juga ikut, ah!" Nurmala nyengir.
Sandi menoyor kepala Nurmala. "Huu, ikutan aja lo! Kalau sama gue mau ikut nggak?" tawar Sandi.
Nurmala berdecak. "Ikut kemana? Palingan beli oli!" jawab Nurmala melengos.
"Eh, sembarangan nih anak. Bukan buat bengkel, Nunur!" Sandi mengejek Nurmala.
"Nama gue Nurmala bukan Nunur! Terus kalau bukan apa dong?" kilah Nurmala.
"Hehe, lo beresin rumah gue selagi gue ada urusan di sekolah adik gue, hahaha! Tenang aja, pasti gue nggak bayar lo kok!" gurau Sandi menepuk pundak Nurmala.
"Hahaha, sayangnya nggak lucu, Bro!" Nurmala menepis tangan Sandi kasar.
Naina hanya terkekeh mendengar celotehan mereka. Tidak disangka Lily datang mengundang Naina dan teman-temannya menatapnya bingung. Gaya sombong ala Lily yang sangat menampilkan cerminan anak orang kaya begitu kentara. Bedak tebal dan perhiasan mewah selalu dia kenakan. Lily melipat tangan di d**a menatap Naina dari atas sampai bawah.
"Gue nggak nyangka kalau istri cowok fenomenal ke dua setelah pangeran kampus bentuknya kayak gini. Berani lo buat kesayangan gue hujan-hujanan di lapangan sambil latihan futsal sendirian!" ujar Lily.
Seketika Sandi meremas udara di depan wajah Lily. "Jaga mulut lo! Kalau orang lain tau, gue kasih bibir lo lipstik hitam alias oli! Mau lo?" desis Sandi.
"Ih, sok belain. Terus perhatiin aja dia, San! Sekelas juga tau kalau pertemanan lo sama Naina itu nggak murni. Kalian bilang apa? Saudara? Omong kosong! Akui aja kalau lo suka sama Naina dan lo Nurmala, lo diam-diam mencuri pandang terus ke Sandi, 'kan? Jangan kira gue nggak tau!" Lily menunjuk Sandi dan Nurmala bergantian.
Mereka tersentak kecuali Naina. Sandi menatap Nurmala meminta jawaban, tetapi Nurmala menatap Lily sengit. "Elo yang omong kosong, bedak berjalan! Mata lo udah rabun kali!" balas Nurmala.
Lily mencebikkan bibirnya sambil mengibaskan tangannya. "Udahlah balik ke topik awal! Gue nggak terima kalau kesayangan gue sakit habis ini. Gue nggak sengaja lihat dia dan nyamperin, tapi dicuekin. Biasalah, masih tahap usaha. Gue mau lo bujuk dia buat berhenti main hujan! Ngerti, 'kan?" menunjuk dahi Naina.
Naina menatap Lily dalam kemudian menggenggam telunjuk Lily dengan kuat sampai Lily tidak bisa menarik jarinya. Sandi dan Nurmala menatap Naina yang begitu serius dengan bingung.
"Dia kesayangan elo, bukan gue. Kenapa gue harus peduli?" jawab Naina tegas. Melepaskan telunjuk Lily dari genggaman dan Lily sedikit mundur.
"Lo musuh teraneh baginya. Mungkin sekarang emang dalam ikatan suci pernikahan, tetapi hati kalian tetep bertentangan, 'kan? Itu udah jelas, tapi pasti ada hal lain yang membuat kalian terhubung. Arya pasti mau dengerin ucapan lo." jawab Lily masih kekeh menyuruh Naina.
Naina menelengkan kepalanya seperti boneka kayu yang sangat kaku. "Ocehan nggak bermutu!" tandas Naina tajam tanpa bergerak sedikitpun.
Lily tidak terima. "Kok, lo nyolot, sih? Oh, gue tau. Habis berantem lagi sama Arya, 'kan? Makanya lo sebel gue singgung soal Arya. Gue nggak mau tau, pokoknya lo harus bujuk Arya buat berhenti sisa diri pakai hujan!" ujar Lily lalu masuk ke kelas.
Naina kembali menegakkan kepalanya. Gerakan kaku Naina membuat Nurmala menutup mulutnya. Sedangkan Sandi meneliti ekspresi Naina dengan menelisik. Dia berbisik pada Nurmala. "Nur, Naina aneh, ya? Dia kenapa?"
Nurmala menggeleng. "Nggak tau! Kayaknya si Arya kali ini nyinggung perasaannya," tebak Nurmala.
"Masa, sih? Sejak kapan Naina baperan?" bisik Sandi lagi.
"Ya, kali aja! Nyatanya dia bisa begitu!" Nurmala menunjuk Naina pakai dagunya.
Kemudian dia dan Sandi saling pandang. Ucapan Lily tentang mereka membuat keduanya saling menjaga jarak kembali sambil berdeham. Lanjut menatap Naina yang masih menatap lurus ke pintu kelas.
"Cowok k*****t itu ngundang penyakit! Nggak ada urusannya sama gue!" ujar Naina dan masuk kelas meninggalkan Nurmala dan Sandi.
"Eh? Dia sensi?" bingung Nurmala.
"Gue bingung sama perasaan cewek. Gampang banget berubah-ubah," ucap Sandi.
Mereka ikut masuk dan mulai mengikuti perkuliahan. Hujan semakin deras membuat suara dosen sedikit sulit di dengar dan Naina memasang senyum senang mendengarkan suara hujan bagaikan musik. Tiba-tiba Naina kebelet buang air kecil. Dia izin pergi ke kamar mandi. Di ujung koridor lantai dua ada kamar mandi yang cukup bersih. Airnya sangat dingin lebih dingin dari udara pagi ini. Membuat Naina terlintas bayangan Arya yang tengah bermain bola di lapangan kampus. Pasti sangat dingin dan menyakitkan.
Naina berdecak karena perasaannya yang tidak tega. Dia memilih mengirim pesan pada Arya agar berhenti bersikap bodoh di lapangan. Baru berjarak tiga detik pesan Naina sudah terbalas. Itu berarti Arya sudah berhenti bermain hujan. Namun, isi pesannya membuat Naina dilema. Arya mengatakan ingin minta maaf asalkan Naina menang berduel rebut bola dan memasukkannya ke gawang saat ini juga.
Kata maaf yang Arya tulis seakan sangat langka sampai Naina nekat pergi menerobos hujan menemui Arya di lapangan. Dia lupa jam kuliah masih berlangsung. Rambutnya berantakan karena air, Naina mengikatnya secara paksa tanpa tali rambut. Dia menemukan Arya duduk di tepi lapangan sambil memutar-mutar bola.
Melihat Naina datang dan menatapnya tanpa ekspresi, Arya sudah mengerti jika Naina menerima tantangannya. Arya berdiri menyambut Naina dengan bola di tengah-tengah mereka. Pandangan bertemu menyampaikan pesan tersirat yang sulit dibaca.
"Selamat datang di duel permintaan maaf Arya. Hujan, lapangan, dan bola akan jadi saksi!" ujar Arya merentangkan tangannya mempersembahkan lapangan yang luas.
Naina tersenyum miring. "Payah!"
Satu kata dari Naina membuat hati Arya serasa dicubit.
'Kenapa Naina begitu? Dia masih marah? Apa dia emang marah?' batin Arya.
Naina langsung merebut bola dengan kakinya dan menggiringnya menuju gawang. Arya merasa kecolongan dan segera mengejar Naina untuk merebut bola. Dalam sekali gerakan Arya berhasil menguasai bola. Naina tidak mau kalah, dia berusaha sekuat tenaga untuk mengimbangi permainan Arya yang tidak peduli jika Naina perempuan. Arya sangat lihai sampai tidak membiarkan kaki Naina mendekati bola.
'Sial! Kalau gue gagal nggak jadi dapat permintaan maaf dia!' batin Naina.
Sorot mata Naina terus fokus pada bola. Dia membaca pergerakan kaki Arya dan mencari celah. Satu menemukan titik tertentu, Naina segera menyerobot bola hingga berpindah ke kakinya. Arya tidak percaya, dia kembali ingin merebut bola, tetapi Naina menghadang Arya pakai tangannya. Mereka berputar-putar di lapangan licin dengan sangat seru. Banyak orang yang melintas melihat mereka di tiap koridor. Mereka jadi lupa jika ada jam kuliah dan memilih melihat pertandingan konyol Naina dan Arya.
Sekali lagi mereka membuat satu kampus heboh. Berita duel mereka tersebar begitu cepat dan mengundang penasaran mahasiswa lainnya. Berbagai alasan da bahkan ada yang keluar begitu saja dari kelas hanya untuk melihat ke lapangan. Yang membuat mereka semakin penasaran adalah Naina mencoba membuat Arya malu dengan minta maaf di tengah lapangan meskipun dia kesulitan karena hujan deras.
"Kali ini lo bakal rendahin diri, Arya! Nggak cuma lapangan kosong, tapi sekarang banyak orang yang jadi saksi," desis Naina masih mempertahankan bolanya.
"Mustahil! Itu nggak akan terjadi!" geram Arya sampai salah menendang salah satu kaki Naina membuat Naina kehilangan keseimbangan dan tergelincir. Arya refleks menahan punggung Naina agar tidak jatuh. Akhirnya Naina berada di posisi berbaring di udara dengan satu kaki menginjak tanah dan satunya lagi terangkat. Dia memandang jelas wajah Arya yang menunduk menatapnya menutupi air hujan yang jatuh di wajah Naina.
Semua orang memekik tidak percaya. Segera mengabadikan momen itu dengan mengambil gambar ataupun merekam. Serasa waktu berputar sangat lambat da pekikan orang-orang tidak terdengar. Naina terpaku begitu juga dengan Arya. Bola itu menggelinding dengan sendirinya sampai masuk gawang. Lalu, sorakan yang lebih keras terdengar di sela hujan mengembalikan kesadaran Naina dan Arya. Seketika Arya melepaskan tangannya yang menahan punggung Naina sampai Naina jatuh. Dia memasang wajah cuek sambil menatap sekeliling.
"Aww! Sakit, b**o! Jadi orang bisa halus dikit nggak, sih?!" Naina berdiri sambil mengelus punggungnya yang sedikit sakit. Menatap Arya tidak suka.
"Gitu aja sakit!" jawab Arya tak berperasaan.
Naina mendengus kesal. Lalu, melihat bolanya ada di dalam gawang, senyumnya terangkat. "Gooollll! Bolanya masuk gawang, gooolll!" seru Naina senang membuat semua penonton ikut bersorak senang.
Arya kelagapan mencari bola yang memang ada di dalam gawang. Dia melotot. "Kok bisa?!"
Naina berdecih sambil berkacak pinggang. "Apa? Kok bisa? Pertanyaan nggak jelas! Lo tadi nendang kali gue dan kaki gue nendang bola sampai nggak taunya masuk ke gawang, payah! Masih tanya kenapa bisa?" Naina membuat Arya melongo.
"Nggak! Ini pasti tipuan lo! Main curang, 'kan lo?" menunjuk Naina tidak santai.
Naina mendelik. "Itu kenyataan! Tanpa curang bahkan lo buat gue jatuh! Masih aja ngeles!" heran Naina.
Para mahasiswa di tiap koridor itu menyoraki setuju jika Naina memenangkan tantangan. Arya semakin tidak bisa menerima kenyataan jika dia teriakan tenatangannya sendiri. Menurutnya ini lebih parah daripada tantangan Naina waktu di kuburan yang tiada hasil. Arya mengusap rambutnya ke belakang sampai air berjatuhan dari rambutnya. Senyum Naina melebar sempurna menunggu Arya mengakui kekalahannya.