Serunya melihat Arya yang bingung bercampur gengsi. Pasti susah payah mengumpulkan niat untuk menyatakan kalah dan minta maaf. Naina sudah mengambil bolanya kembali dan menaruhnya di tengah-tengah mereka. Arya tetap saja enggan bicara.
"Katanya lapangan, hujan, dan bola jadi saksi. Sekarang gue tambah, semua mahasiswa di sini juga jadi saksi. Pernyataan mahasiswa favorit kita kalah di tantangannya sendiri!" teriak Naina keras membuat mereka berseru terhibur.
Arya tersulut amarah. Dia mengepalkan tangan menatap tajam Naina.
"Ucapan maaf yang dijanjikan dalam tantangan harus ditepati, benar?!" tanya Naina semangat pada semua orang. Mereka setuju dengan Naina. "Kalau begitu perhatikan baik-baik! Arya yang kita cintai akan mengucapkan maaf pada musuh bebuyutannya untuk pertama kalinya! Musuh, sekaligus status baru atas paksaan yang dia hina kemarin malam!" teriak Naina lalu mendesis di akhir ucapannya sambil melirik Arya. Hanya Arya yang bisa mendengarnya.
Naina yakin harga diri Arya turun derastis saat ini. Terlihat dari sorot matanya yang tidak mau berkedip menatapnya. Naina sedikit mendekat, hanya berjarak tiga jengkal Naina membalas tatapan murka Arya.
"Gimana rasanya? Sakit? Memalukan? Ah, sangat menyenangkan!" sengaja Naina menekan setiap kata-katanya.
Arya semakin geram sampai rahangnya bergetar. Tidak ada rasa kasihan sama sekali bagi Naina. Dia justru ingin menjatuhkan Arya sampai Arya benar-benar malu. Seakan Naina ingin melampiaskan kekesalannya kemarin malam. Obat untuk tangisnya akan segera dia dapatkan.
Arya menatap semua orang yang menunggunya bersuara. Berbagai ekspresi mereka tampikan. Ada yang senang, ada juga yang ketar-ketir.
'Sabar, Arya! Sabar! Ini hanya ucapan maaf. Sementara terima kekalahan, besok balas yang lebih parah!' batin Arya.
Dia menarik napas dalam-dalam mencoba menguasai kembali kesabarannya dan menghembuskan napas siap meminta maaf. Dia menunduk sebentar membuat Naina dan semua orang bingung. Arya kembali menatap Naina dengan sedikit senyum tipis.
"Naina, maaf!" ujar Arya datar.
Naina terkesiap. Dia mengerjap dua kali tidak percaya. Semua orang membicarakan Arya dengan kata maaf yang tidak terlihat ikhlas.
"Ha? Lo kumur apa ngomong?" Naina sengaja meremehkan Arya.
Arya kembali mengepalkan tangannya. "Naina, gue minta maaf!" sekali lagi Arya mengucap maaf dengan sedikit keras.
Senyum Naina terbit, tetapi di urungkan kembali. "Lo semua denger nggak? Dia ngomong juga gue nggak denger!" teriak Naina lantang mempermainkan Arya. Sebagian dari mereka menyetujui Naina jika mereka juga tidak mendengar ucapan maaf Arya, tetapi yang lainnya hanya diam melihat Arya dipermalukan.
Arya menutup matanya dalam mencoba mengendalikan emosi lagi. "Naina, maaf! Gue minta maaf!" membuka matanya sungguh-sungguh menatap Naina dan ucapannya terdengar sabar juga tulus.
Naina menaikkan kedua alisnya. 'Gue berasa mimpi dengar ini, tapi masih belum puas,' batin Naina.
"Apa? Lagi-lagi! Coba sekali lagi!" pinta Naina mengernyit memasang telinga baik-baik.
Arya mencebikkan bibirnya geram. "NAINA FARADA ARVY, GUE ARYA EKA LESMANA MINTA MAAF SAMA LO!!!" teriak Arya menggelegar menatap Naina tanpa berkedip.
Naina kaget melebarkan matanya. Mengerjap bodoh, lalu tersenyum puas dalam hati. Hilang sudah kesedihanya dalam sekejap. Gema suara Arya menggetarkan dinding pilu di hatinya. Dia terpaku mencerna permintaan maaf dari Arya. Semua orang juga kaget sekaligus tidak percaya.
"Apa lo bilang? Gue nggak salah denger, 'kan?" gumam Naina tidak bisa di dengan para mahasiswa.
Arya berdecak sambil berpaling sebentar. "Udah puas belum mainin gue? Harga diri gue turun gara-gara lo! Dimaafin nggak nih?" sebal Arya yang sayangnya terlihat manis di mata Naina.
"Minta maaf nggak buat harga diri turun, Arya. Justru lo nunjukin kehebatan lo yang berani minta maaf.
Itu rasanya sulit, 'kan? Puas kalau udah diungkapin terus dimaafin," terang Naina tanpa sadar senyumnya terukir.
Arya salah tingkah. "Lo kenapa jadi bijaksana gini? Dimaafin nggak, sih?" Arya gemas.
Naina menggeleng pelan untuk sadar. Dia kembali bersikap santai. "Atas dasar apa dulu lo minta maaf?" tanya Naina.
Arya memutar bola matanya. "Ck, buruan! Jangan mainin emosi gue!"
"Gue tanya, bukan main-main! Jawab biar gue juga bisa maafin lo!" balas Naina.
Arya mendesah panjang. "Karena semalem gue kayaknya nyubit hati lo dikit. Jadi, lo agak baper, 'kan? Ah, ngeselin emang! Lo baperan! Gue juga tau diri kali. Nggak bakal ngomong yang aneh-aneh! Biasanya juga lo santai aja kenapa semalem baper? Perasaan ucapan gue nggak ada yang salah," jujur Arya.
"Hah, nggak ada yang salah? Kalau gitu nggak mungkin lo ngerasa bersalah, peak! Lo pikirin aja sendiri kenapa gue bisa baper. Lo kasar main tangan aja gue diem," kilah Naina membuat Arya bungkam sejenak.
"Iya, deh! Nggak bakal lagi raguin ucapan lo apalagi janji yang lo buat! Gue minta maaf lagi, nih!" pasrah Arya menatap Naina kesal.
Naina tersenyum puas. "Oke, gue maafin!" mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Arya. Perlahan Arya juga menjabat tangan. Seketika senyumnya ikut terukir.
Sorakan seru seakan menghujani mereka dengan bunga. Ikut senang akhirnya Naina dan Arya berdamai walaupun sesaat. Namun, Arya menarik tangannya lagi dan menunjuk hidung Naina membuat Naina mendelik.
"Ini cuma buat masalah kemarin sama sekarang, ya, cewek gila! Awas aja, gue bakal tetep beri perhitungan sama lo!" ujar Arya.
Naina berdecak dan melengos. "Palingan juga hal konyol lagi! Gue nggak takut!"
"Oh, ya? Kedepannya lo yang bakal menderita dan dipermalukan!" desis Arya.
Naina menoleh tajam. "Gue yang bakal buat lo menderita duluan!"
"Kita liat aja!" balas Arya sambil mengambil bola dan melemparnya ke Naina. "Balikin lagi bolanya!" ujarnya lalu pergi untuk membersihkan diri.
Naina menganga. "Eh, nggak tau tanggung jawab, lo, ya? Yang ngambil elo juga yang balikin harus elo!" teriak Naina tidak dihiraukan Arya.
Semua orang mendesah karena Naina dan Arya bertengkar lagi. Mereka juga kembali ke kelas masing-masing. Rekaman video dan foto yang mereka ambil disebarkan sampai heboh bagi mereka yang tidak melihat secara langsung.
Kini Naina sendirian di lapangan, memegang bola bingung harus apa. Permintaan maaf dia dapatkan, tetapi dirinya basah kuyup.
"Waduh, gue harus apa kalau gini?" gumamnya menatap sekeliling.
Akhirnya membiarkan bola itu di lapangan dan pergi berteduh. Tidak ada baju ganti. Berpikir jika Arya juga sama dengannya. Akan kedinginan dan ketinggalan mata kuliah. Namun, helaan napas panjang terdengar jelas di samping Naina membuat Naina menoleh.
"Tadi itu menyenangkan. Kayaknya nggak ada yang bisa buat Arya minta maaf di depan banyak orang selain kamu," ujar Zaka yang menatap lapangan sambil melipat tangan.
Naina ikut mendesah panjang. "Itu udah seharusnya dia minta maaf. Bukannya bagus kalau dia ngakuin kesalahan?" balas Naina kembali menatap lapangan.
Zaka terkekeh. "Tapi sekarang kalian basah kuyup. Harus gimana?" tanya Zaka menunjuk Naina dari atas sampai bawah.
Naina juga menatap dirinya sendiri. "Hehe, biarin hujan reda, nanti pulang ganti baju sebentar," jawabnya santai.
"Nggak bisa gitu dong, nanti kedinginan. Kamu harus ganti sekarang!" kata Zaka.
Naina menoleh. "Terus pakai apa? Nggak bawa pakaian lain, 'kan niatnya nggak mau hujan-hujanan," kilahnya.
Zaka mengelus dagunya. "Eee, aku juga bingung. Kalau gitu aku tetap di sini nemenin kamu!" putusnya dengan senyuman.
Naina menganga. "Loh, mana bisa gitu! Kuliahnya gimana? Lagian kalau mahasiswa lain lihat aku bisa dikeroyok soalnya ditemenin sama pangeran kampus, hehe!" cengirnya.
"Hahaha, santai aja. Nggak tega lihat kamu begini. Ah, aku punya jaket di motor. Mau pakek? Biar hangat dikit," saran Zaka.
Naina menggeleng sambil menyilangkan tangannya. "Nggak usah, Kak! Ntar jaketnya basah!" tolak Naina.
Tiba-tiba ada sebuah jaket semampir di pundak Naina. Naina menoleh ke sisi lainnya. "Arya?!" pekiknya.
"Dasar gila! Lo pikir bakal kuat nahan dingin? Buruan pakek!" ujarnya kasar.
Naina mengambil jaket Arya. "Iyuh! Pasti udah nggak lo cuci sebulan, 'kan? Makanya lo kasih ke gue!" menjauhkan jaket Arya sambil mengernyit.
Arya menatap Naina dan Zaka bergantian. "Nggak gue cuci setahun!" jawab Arya.
Naina berdecak dan memakai jaket Arya. "Ck, bajunya lepas, bodoh! Kalau gitu bisa tambah dingin!" Arya berkomentar.
Naina melotot. "Lo... Ish, nyebelin banget, sih!" melepas jaket Arya lagi dan akan mencari tempat untuk memakai jaket, tetapi Zaka menahannya. "Mau kemana?" tanya Zaka.
Naina menoleh lalu tersenyum. "Mau ngotorin jaket buruknya Arya," jawabnya santai.
Zaka menatap Naina dan Arya bergantian. "Kenapa pakek jaket Kakak nggak mau?" tanya Zaka polos.
Naina mengerjap. "Emm, biarin aja lah, Kak, pakek jaketnya Arya. Lagian Naina udah biasa. Nih habis ini jaketnya Naina lempar ke tempat sampah. Lihat aja ntar, hehe, tapi kalau hujan udah reda!" ujarnya sedikit berbisik.
Zaka menahan tawa. "Jahil banget!" menyentil dahi Naina membuat Naina dan Arya kompak melotot.
"Aku permisi dulu, ya!" pamit Naina langsung pergi sebelum Zaka bertanya lagi.
Tinggal Zaka dan Arya bertatap muka dengan ekspresi penuh tanya. Arya sendiri juga masih basah. Dia tidak punya pakaian ganti.
"Kayaknya ada yang aneh! Pangeran kampus selalu belain Naina. Gue diacuhin apa gimana?" sindir Arya terang-terangan.
Zaka berdecih dan menepuk pundak Arya. "Lo yang buat gue belain dia. Kasihan tau dia cewek, Ar! Lo ajak main bola pas hujan deras begini. Gila lo, ya?" kata Zaka.
"Ck, siapa suruh dia mau? Akhirnya juga gue yang kalah, pasti dia seneng banget!" jawab Arya melipat tangannya menahan dingin.
Zaka meneliti Arya heran. "Lo nggak kedinginan?" tanyanya mulai khawatir.
Arya mendelik. "Aduh, manisnya gue diperhatiin! Sayangnya gue nggak lemah cuma gara-gara dingin!"
Zaka berdecak bergurau. "Sombong! Kalau besok sakit jangan ngeluh ke gue!"
Arya terkekeh. "Ngomong-ngomong, bolos kuliah begini nggak bikin lo kecewa?" tanya Arya menatap lapangan yang seolah memperlihatkan bayangannya.
Zaka mendesah ikut menatap lapangan. Netranya sangat terkesan dengan lapangan itu. "Nggak ada kecewa buat lihat pertandingan aneh lo itu!"
Arya tertawa. "Futsal nanti lawan kelasnya Naina," ujar Arya mengganti topik pembicaraan.
"Kali ini gue nggak bisa ikut. Udah janji mau lihat lomba masaknya Naina." senyum manis terukir.
Arya heran. "Lo lebih mentingin cewek gila itu daripada futsal? Yang bener aja, Zaka!" protes Arya.
"Kan udah ada lo pasti menang, lah! Biar gue kasih suport sama Naina. Dia unik! Lo jangan sering-sering ganggu dia!" tutur Zaka.
"Hah! Kalaupun gue nggak ganggu, dia duluan yang ganggu gue!" keluh Arya.
Zaka menoleh. "Menurut lo apa yang Naina sukai? Lo, 'kan tetangganya pasti tau," tanya Zaka penasaran.
"Naina suka buat rusuh, udah itu doang!" jawab Arya cuek.
"Ck, yang bener! Gue serius!" decak Zaka.
Arya memicingkan matanya ke Zaka. "Bau-bau kepo mulai tercium. Lo ada niat khusus sama Naina, 'kan?"
Zaka menyibak rambutnya. "Emm, gue pikir-pikir dulu!" matanya menyiratkan bayangan tentang Naina.
Arya sedikit tersentak. "Jangan-jangan lo suka sama dia? Astaghfirullah, istighfar, Zaka! Masih banyak cewek waras daripada Naina!" ujar Arya menuturi.
"Hahaha, gue aja masih bingung," senyum Zaka lebar.
Arya terus menatap kawannya. Saat Zaka menatapnya, Arya langsung mengerjap. "Hmm, Naina itu gampang banget orangnya. Dia sebenarnya baik cuma rese aja! Selama ini nggak pernah tuh gue tau dia dideketin apalagi disukai sama cowok. Baru elo doang!" Arya sangat cepat merubah ekspresinya.
'Kenapa gue ngasih tau soal Naina? Gimana ceritanya Zaka bisa suka sama dia? Ck, nggak masuk akal!' gerutu Arya dalam hati.
"Gitu, ya? Berarti dia masih murni dong?" tanya Zaka membuat Arya membelalakkan matanya. "Murni gimana maksud lo?" tanya Arya dengan pikiran yang melayang kemana-mana.
Zaka menjitak dahi Arya. "Gue tau yang lo pikirin! Bukan begitu, Bro! Maksudnya itu Naina belum pernah pacaran apalagi jatuh cinta! Masih murni!"jelas Zaka.
Arya mengangguk sambil terkekeh sebentar. 'Iya, dia masih murni. Sampai sekarang pun murni. Murni banget, orang dia udah nikah juga tetep murni!' sindir Arya dalam hati.
"Naina emang nggak pernah pacaran, tapi ada satu temen cowok sekelasnya yang deket banget sama dia, namanya Sandi. Kenal, 'kan lo? Biasanya juga suka tanding futsal." Arya menjentikkan jarinya mengingat Sandi.
"Oh, dia! Yang sering ngelerai lo sama Naina waktu berantem itu? Kalau dia cuma temen ya nggak masalah. Malahan baik kalau bisa jaga Naina," kata Zaka sedikit berpikir.
"Naina nggak perlu di jaga! Penjahat pada lari ketemu dia. Udah cerewet, jelek, nggak waras lagi!" Arya sangat suka menghina Naina.
"Lo juga cerewet!" Zaka balas mengejek. "Naina cantik imut begitu lo bilang jelek!" gumam Zaka.
Arya mendelik tidak percaya. "Wah, wah, wah! Pangeran kita memuji cewek cantik! Naina pantas dapat penghargaan buat ini!" menggeleng pelan.
Zaka melengos sambil terkekeh. "Apaan, sih?!"
Percakapan kecil mereka baru berhenti saat hujan sudah reda. Mereka baru sadar jika Naina tak kunjung kembali. Segera menyusuri koridor dan mencari Naina di tiap kamar mandi, tetapi tidak menemukan Naina. Zaka panik, Arya lebih panik lagi. Sampai dirinya sendiri heran kenapa begitu ingin menemukan Naina. Pikirannya negatif, berharap Naina tidak pingsan di jalan ataupun kamar mandi.
"Naina!" teriak Arya di koridor lantai dua fakultas ekonomi.
"Naina! Kamu dimana?!" teriak Zaka di koridor lantai satu fakultas hukum.
Mendengar suara Arya, Lily segera keluar dari kelas. Membuat Arya berhenti dan bertanya. "Naina mana? Dia udah ke kelas?" tanya Arya sambil ngos-ngosan.
Lily melunturkan senyumnya. "Ada aku kenapa cari Naina? Dia nggak ada!" jawabnya senang.
Arya berdecak dan kembali mencari Naina. Dia berlari ke kamar mandi pojok dan membuka semua pintu yang tidak ada orangnya.
"Arya! Naina udah pulang! Nggak usah cari dia! Mendingan duduk bentar sama aku!" ujar Lily teriak membuat Arya menoleh dan menghampirinya lagi. Lily sangat senang berharap Arya melihatnya sebentar.
"Pulang? Sejak kapan?" pertanyaan Arya membuat Lily kecewa. "Sejak hujan reda, lah! Nyebelin banget, sih! Yang ditanyain malah Naina. Kayak peduli aja sama dia!"
Arya mengerutkan dahi. "Peduli?" gumamnya.
"Iya! Arya, lihat aku sekali aja! Udah berbagai cara buat deket juga nggak ditengok juga. Aku udah tau kok kalau kalian...," ucapan Lily terpotong Arya.
"Sstt! Tutup mulut lo! Ingat kalau gue kakak tingkat lo di sini! Jaga etika dikit bisa nggak sih?" Arya menggeleng dan meninggalkan Lily.
Lily teriak menahan Arya, tetapi Arya tidak peduli. Arya menghampiri Zaka untuk mengatakan Naina sudah pulang agar Zaka tidak mencari lagi. Saat dia juga mau pulang ganti pakaian, Tempat sampah di ujung parkiran menjadi pemandangan tersedap bagi Arya. Zaka melotot tidak percaya Naina benar-benar membuang jaket Arya ke tempat sampah.
Arya mengambil jaketnya tidak terima. Zaka terkikik saat Arya mencium aroma jaket yang bercampur dengan sampah. Seketika tangan Arya mengepal.
"NAINAAAAAAAAAA!!!!" teriak Arya menggelegar.
~~~
Siang ini harus bisa mengejar jam kuliah ke dua. Dia tidak bisa mengosongi absen hanya karena hujan dan Arya. Setelah ganti pakaian segera kembali ke kampus. Tentu saja pekikan heboh teman-temannya mengagumi Naina yang berhasil memenangkan tantangan. Sayangnya lima detik setelah Naina masuk kelas, dosennya datang.
Diam-diam bermain handphone sambil menahan senyum membalas pesan orang-orang tentang aksinya tadi pagi.
"Naina, bisakah kamu pura-pura mendengarkan daripada bermain handphone?" suara berat mirip sang dosen membuat Naina panik.
"Iya, Pak!" seru Naina menatap ke depan.
Namun, dosennya sedang menunduk menatap laptop. Dia menjadi menatap Naina heran. Hal yang sama dilakukan oleh teman-temannya. Naina bingung, lalu tawa cekikikan terdengar mengejek di sampingnya. Ternyata itu suara Sandi yang mengerjainya.
Naina melotot. "Oh, jadi elo yang ngomong! Awas lo!" desis Naina menyenggol lengan Sandi.
"Ada apa, Naina?" tanya pak dosen membuat Naina tersenyum kaku. "Ahaha, nggak ada apa-apa, Pak! Tadi cuma refleks aja!" jawab Naina.
Dosennya mengangguk dan kembali menatap laptop sedang mencari bahan ajarnya.
"Hahaha, sukurin! Lagian asik main handphone. Udah tadi pagi bolos sekarang nggak fokus. Niat kuliah nggak, sih?" ejek Sandi memiringkan badannya sampai menabrak Naina.
"Iiyyy, jauh-jauh! Kayak elo peduli sama kuliah aja! Bengkel noh banyak pasien motor!" desis Naina mendorong Sandi kuat kembali ke posisinya.
"Hah, begitulah! Ntar malam beneran datang lo! Walaupun kayaknya lo nggak aneh kayak tadi pagi," ucap Sandi sambil memutar-mutar bolpoint.
"Ikut, lah! Nurmala mana? Kok, nggak ada suaranya?" tanya Naina celingukan mencari Nurmala.
Sandi berdecak. "Tidur di pojokan! Sstt, jangan teriak! Gue kasih dia obat tidur tadi, hihihi! Habisnya cerewet banget! Sibuk ngajakin gue buat nonton pertandingan lo sama Arya. Tuh, orangnya!" Sandi menunjuk bangku belakang yang kosong.
Naina masih celingukan, lalu terlihat kaki lurus di lantai. Naina membekap mulutnya tidak percaya. Sandi membuat Nurmala tidur di lantai.
"Gila! Lo apain dia?! Anak orang itu! Dapat obat tidur dari mana, sih?!" geram Naina memukuli lengan Sandi pelan.
"Ada, deh! Lo mau?" tawar Sandi sambil mengambil obat tidur di sakunya.
Naina melengos dan pura-pura menatap dosen yang mulai menerangkan materi. "Kagak perlu! Bener-bener kelewatan lo kali ini!" gumam Naina menggeleng. Sandi hanya tertawa tanpa suara.
Mata lebar Naina fokus mempelajari ilmu ekonomi yang sudah dia geluti sampai sekarang. Tangannya sangat cepat menulis sampai ada yang keluar garis, sangat tidak rapi. Berbeda dengan Sandi yang justru rapi dan mudah di baca. Naina heran dengan kemampuan Sandi. Dia bisa segala hal kecuali memasak. Dia berniat ikut bergadang dengan Sandi di bengkel setelah pengajian. Berharap bisa bicara banyak tentang segalanya.