Edwin melajukan mobilnya mengikuti taksi yang ditumpangi Nayla. Ia lebih suka membawa mobil akhir-akhir ini, supaya Nayla tidak menolak bepergian dengannya atau mengantarnya pulang, karena pastinya Nayla akan menolak jika menggunakan motor. Tapi, meskipun dengan mobil, ternyata Nayla masih menolak juga. Hufft! Beginilah nasib ngejar-ngejar cewek alim. Hingga sampai di lampu merah menuju belokan ke arah rumah Nayla, taksi itu terus melaju, tidak berbelok. Membuat Edwin jadi penasaran. “Eh, mau ke mana dia? Nggak pulang? Tadi kuajakin jalan nggak mau, sekarang malah jalan sendiri,” gumam Edwin sambil menginjak pedal gas semakin dalam agar tidak kehilangan jejak. Rasa penasaran semakin menjadi-jadi ketika taksi itu memasuki area pantai, lalu berhenti di depan sebuah kafe yang posisinya san

