Bab 1: Malam di Kamar 1001
"Ahh... kamu sangat sempit sekali, Gia. Tetaplah seperti ini dan jangan pernah lepaskan aku."
Bisikan bariton yang berat itu bergetar di ceruk leher Giana, mengirimkan gelenyar panas yang membakar seluruh sarafnya. Di bawah lilitan penutup mata berwarna hitam yang mengunci dunianya dalam kegelapan total, Giana hanya bisa mencengkeram sprei sutra di bawah tubuhnya dengan erat. Ia tidak bisa melihat wajah pria yang sedang mendominasi tubuhnya dengan begitu posesif, namun ia mengenali aroma parfum sandalwood bercampur black pepper yang pekat, sebuah aroma maskulin mahal yang kini menguasai inderanya.
"Nikmati malam ini, Gia. Kamu hanya milikku sekarang. Lupakan duniamu di luar sana," perintah pria itu lagi dengan nada mutlak.
Giana menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan isakan yang hampir pecah berantakan. Rasa nikmat yang dipaksakan berbaur dengan rasa hina yang luar biasa. Di dalam kamar hotel nomor 1001 ini, ia hanyalah sebuah objek pemuas hasrat. Ia telah menjual harga diri dan kesuciannya demi uang tebusan nyawa ibunya di meja operasi saraf.
Setiap entakan yang diberikan pria itu seolah menjadi pengingat kejam bahwa tubuh Giana bukan lagi milik dirinya sendiri. Giana membiarkan air matanya luruh di balik kain hitam, tenggelam dalam dosa paling manis yang terpaksa ia jalani.
Tiga Hari Sebelumnya...
"Biaya operasi saraf dan perawatannya mencapai tiga ratus lima puluh juta rupiah, Saudari Giana. Jika dalam waktu tiga hari operasi tidak dilakukan, kami tidak bisa menjamin keselamatan nyawa ibu Anda," ucap petugas administrasi rumah sakit dengan wajah datar.
Tiga ratus lima puluh juta. Bagi Giana, angka itu seperti vonis mati. Sebagai mahasiswi jalur beasiswa penuh, ia tidak punya tabungan. Sejak ayahnya yang seorang pensiunan meninggal dunia, ia dan ibunya hanya bertahan hidup dari uang pensiunan bulanan yang pas-pasan. Uang itu hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Demi menutupi biaya pengobatan ibunya, Giana nekat melamar menjadi pelayan paruh waktu di sebuah klub malam eksklusif. Ia baru bekerja di sana tepat satu minggu. Namun, serangan stroke mendadak ibunya malam itu meruntuhkan segala pertahanannya. Giana buntu. Kerabat jauh yang dihubunginya mendadak tuli dan buta begitu ia menyebutkan kata pinjaman uang.
Saat ia sedang menangis di lorong karyawan klub, seorang pria bersetelan jas rapi bernama Jordan tiba-tiba menghampirinya dan membawanya ke sebuah sudut ruangan VIP.
"Duduklah, Giana Putri. Saya tahu kamu sedang membutuhkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat," ucap Jordan langsung ke inti masalah.
Giana tertegun. Bagaimana pria ini bisa tahu namanya? Ia baru bekerja di sini selama seminggu dan tidak pernah menceritakan masalah pribadinya pada siapa pun. Kebingungan itu membuat Giana waspada, namun Jordan langsung menyodorkan selembar dokumen tebal di atas meja marmer.
"Tuan saya membutuhkan seorang teman tidur jangka panjang. Kontrak ini berdurasi satu tahun. Seluruh biaya operasi dan perawatan ibumu akan dilunasi malam ini juga jika kamu tanda tangan."
Napas Giana tercekat melihat angka ratusan juta yang tertulis di sana. Rasa bingung dan curiganya kalah oleh rasa panik. "Apa syaratnya?"
"Aturannya mutlak, Giana. Pertama, kamu tidak akan pernah tahu nama asli Tuan saya. Kedua, tidak boleh ada keterlibatan perasaan. Dan ketiga..." Jordan mengambil sebuah kain lembut dari sakunya.
"Setiap kali Tuan saya memasuki ruangan kamar hotel, kamu wajib mengenakan penutup mata berwarna hitam ini. Kamu dilarang keras melihat wajahnya. Jika kamu berani mengintip, kontrak batal, uang ditarik, dan ibumu akan dikeluarkan dari rumah sakit hari itu juga. Bagaimana?"
Bayangan wajah ibunya yang pucat di ruang ICU melintas di benak Giana. Seorang gadis miskin tidak memiliki kemewahan untuk mempertahankan harga diri di depan maut. Giana meraih pulpen dan menorehkan tanda tangannya.
Kembali ke Kamar 1001...
Cengkeraman tangan kekar pria misterius itu di pinggang Giana semakin mengerat, membawa mereka berdua menuju puncak pelepasan hasrat yang membakar. Setelah badai gairah itu mereda, pria itu perlahan menarik dirinya. Giana berbaring lemas dengan tubuh yang basah oleh keringat. Ia bisa mendengar suara gemerisik pakaian saat pria itu mengenakan kembali kemejanya di dalam kegelapan.
Langkah kaki berat itu kembali mendekati tempat tidur, membuat kasur di samping Giana kembali ambles. Jemari pria itu menyelusup ke belakang kepala Giana, melonggarkan simpul penutup mata berwarna hitam yang sejak tadi menjeratnya.
Kain hitam itu akhirnya merosot turun. Giana refleks memejamkan mata erat-erat, takut jika pandangannya secara tidak sengaja menangkap wajah sang pria dan melanggar kontrak yang menjadi nyawa ibunya.
"Buka matamu, Gia," bisik pria itu dingin, tepat di depan wajahnya.
Giana menggeleng pelan, kelopak matanya semakin bergetar hebat dalam keadaan terpejam. "T-Tuan... ini melanggar kontrak... saya tidak boleh melihat Anda..."
Melihat reaksi ketakutan Giana yang sangat polos, sebuah senyum samar terukir di bibir tipis pria itu. Baginya, Gia terlihat sangat imut saat berusaha keras mempertahankan harga diri yang sebenarnya sudah ia kuasai. Pria itu kembali meraih penutup mata hitam tadi dan memasangkannya kembali ke mata Giana dengan gerakan yang jauh lebih lembut, namun tetap posesif.
"Aku yang membuat kontraknya, jadi aku yang menentukan aturannya," bisik pria itu lagi, suaranya kini terdengar lebih dalam. "Jujur saja, aku sedikit tidak menyangka kalau kamu ternyata masih perawan, Gia."
Giana menahan napas, wajahnya memanas mendengar pengakuan itu. Pria itu mencengkeram dagu Giana, seolah mengunci keberadaannya meskipun mata gadis itu tertutup.
"Mulai besok, permainan kita akan berubah, Gia."