Bab 13 Hari yang Membosankan Sebelum Kau Tiba

1661 Words
Selasa pagi itu, Awan bangun dan mendapati apartemennya sepi. Sunyi. Tak seperti malam sebelumnya, semalam Awan tidur di kamarnya. Dan tak seperti kemarin, kali ini tak ada teman-teman Awan yang berserakan di apartemennya. Awan dengan enggan bangun dari kasur yang nyaman itu dan pergi ke dapur lebih dulu. Awan minum air putih, lalu mengambil mie instan. Sembari memasak mie, Awan membuat kopi. Sejujurnya, hidup seperti ini adalah kemewahan bagi Awan. Sekadar bisa sarapan mie instan setiap pagi, minum kopi tiap pagi, tanpa perlu panik memikirkan bagaimana ia akan makan hari ini. Awan menghabiskan paginya dengan sarapan santai di ruang tamu, sambil memandang dinding kaca yang menyajikan pemandangan gedung pencakar langit. Paginya begitu tenang, nyaman, dan … membosankan. Awan mengembuskan napas pelan, lalu segera melahap sarapannya. Dalam lima menit, ia sudah menghabiskan sepiring mie instan dan segelas kopi. Namun, setelah menghabiskan sarapannya, Awan bukannya beranjak dari ruang tamu malah mengangkat kakinya ke sofa. Ia berbaring berbantalkan lengan sofa. Kenapa mendadak hidupnya terasa membosankan? Tiba-tiba? Suddenly? Tak ada angin tak ada hujan? Awan memutuskan untuk menyalakan televisi, memindah channel tanpa minat. Ini juga membosankan. Awan mematikan televisi. Mungkin sebaiknya ia mulai menggambar. Tanpa membereskan sisa sarapannya di meja ruang tamu, Awan pergi ke kamar untuk mengambil laptop dan pen tablet-nya. Ia meletakkan laptop dan pen tablet di meja ruang tamu, lalu ia sendiri duduk di lantai. Awan mencoba untuk menggambar, tapi kepalanya mendadak kosong. Ya, memang seringnya kosong karena ia malas berpikir. Namun, kali ini benar-benar kosong. Putih. Bersih. Tanpa noda. Seolah habis dicuci pakai detergen. Ah, kan, hilang otaknya …. Awan menjatuhkan keningnya di atas laptop, tapi langsung terlonjak ketika terdengar suara bel. Siapa yang bertamu pagi-pagi begini? Dengan malas Awan berdiri dan menyeret langkah ke pintu. Ketika membuka pintu, Awan terkejut melihat Adel berdiri di sana, sudah rapi dan cantik dengan stelan kerja, seperti biasa. Wanita itu mengernyitkan hidung, lalu mundur. “Kamu baru bangun tidur?” tanya Adel. “Nggak juga. Aku udah sarapan, kok,” sahut Awan. “Tapi, belum mandi?” Adel menebak. Awan mengangguk. “Kamu mau ngomongin sesuatu?” tanya Awan sembari menutup mulutnya, khawatir Adel pingsan karena bau mulutnya. Adel mengangguk. Awan membuka pintu lebih lebar. “Masuk dulu, deh. Aku mandi bentar,” kata Awan. Adel tampak berpikir. “Sebentar. Lima menit,” janji Awan. Adel menghela napas, akhirnya mengangguk. Awan bergegas masuk dan langsung melesat ke kamarnya. Ia mandi secepat mungkin. Setelah mandi, ia memakai pakaian rapi, tak lupa memakai parfum. Ketika Awan keluar dari kamarnya, Adel sedang membungkuk di atas laptopnya. Awan buru-buru menghampiri Adel. Wanita itu langsung menoleh begitu Awan tiba di sana. Adel menatap Awan dari atas ke bawah, lalu mengernyitkan kening. “Kamu mau ke mana?” Awan menggeleng. “Nggak ke mana-mana. Kamu katanya mau ngomong sama aku.” “Iya, tapi ngapain kamu makai baju serapi ini cuma buat ngomong sama aku?” Adel menatap Awan dengan aneh. “Dan kamu habisin berapa liter parfum tadi?” Awan menunduk menatap pakaiannya sendiri. Celana bahan hitam, kemeja putih lengan panjang yang dikancingkan sampai atas. “Kamu nggak sesak?” Adel menunjuk kancing teratas kemeja Awan. “Oh, pantas rasanya sesak banget,” ucap Awan sembari melepas kancing kemeja teratas. Adel mendengus pelan, lalu duduk di sofa bahkan tanpa Awan persilakan. Yah, memang apartemen ini juga bisa dibilang milik Adel, mengingat wanita itu yang membelinya. “Kamu … mau ngomong apa?” tanya Awan hati-hati sembari duduk di lantai, di depan laptopya. “Kayaknya kamu harus mulai bekerja bahkan sebelum kita nikah,” Adel berkata. Awan mengerutkan kening. “Kerja apa, maksudmu?” “Jadi calon suamiku,” sebut Adel. “Karena orang-orangnya kakekku betah nginap di depan apartemen kita, jadi ada perubahan rencana.” “Nginap di depan apartemen kita?” Awan terbelalak. Adel mengangguk. “Jadi, mulai hari ini sampai kita nikah nanti, dalam satu hari kita harus ketemu di luar. Entah itu buat makan malam, atau makan siang. Hari ini makan siang di luar. Oh iya, satu lagi.” Adel mengambil sesuatu dari tasnya dan melempar ke meja. Sebuah kunci mobil. “Itu mobilmu. Kamu bisa pakai itu buat ketemu aku. Mulai hari ini, kamu harus lebih aktif kayak jemput aku di kantor buat makan siang, dan lain-lain.” Awan mengangguk-angguk. “Kamu nggak ada kesibukan lain, kan? Kalau ada, kamu atur jadwalmu sendiri. Aku cuma butuh waktu makan siang dan waktu makan malammu,” ucap wanita itu. Awan menatap laptopnya. “Kenapa? Kamu sibuk gambar buat ngejar impianmu?” singgung Adel dengan nada meledek. Awan menggeleng. “Aku malah sebenarnya lagi bosan dan nggak tahu mau ngapain. Kayaknya aku nggak biasa hidup enak.” Adel mendengus. “Katamu, kamu lagi ngejar impianmu. Apa kamu bahkan punya waktu buat ngerasa bosan?” cibirnya. “Kalau kamu terus kayak gini, kapan kamu bisa ngejar impianmu? Percuma juga.” Kata-kata Adel itu seolah menampar Awan, menyadarkannya. Benar juga. “Tapi, cerita tentang impianmu itu benar? Kamu pengen jadi komikus gitu? Gambar-gambar gitu?” Adel menatapnya meremehkan. Hanya Adel yang bisa mengangkat Awan di detik pertama dan menjatuhkannya dengan keras di detik kedua. Adel lalu mengambil sesuatu dari tasnya dan melemparnya kembali ke meja. Sebuah amplop cokelat. “Ini … apa?” tanya Awan dengan tatapan pada amplop cokelat itu. “Bayaranmu sebagai calon suamiku. Karena kamu udah mulai kerja, jadi aku akan mulai bayar kamu. Itu sepuluh juta, buat dua minggu.” Adel lalu berdiri. “Cuma itu yang mau aku omongin. Oh, tentang play station-mu, nanti Siska yang antar ke sini.” Dan di detik ketiga, wanita itu menginjak-injak Awan. Namun, tanpa sedikit pun merasa bersalah atau terbebani, wanita itu melenggang pergi meninggalkan apartemen Awan. Membuat separuh hati Awan melambung oleh semangat berjuang untuk impiannya, dan sisanya jatuh ke tanah terinjak hingga tak berbentuk. Seumur hidupnya, baru kali ini Awan bertemu orang seekstrim Adel. Namun, ketika Awan menatap layar laptopnya, ia mendengus pelan. Setidaknya, ia tidak lagi merasa bosan. *** Adel mendongak dari laptopnya ketika mendengar suara ketukan di pintu ruangannya. Ketika pintu terbuka, Siska muncul bersama Awan. Adel mengecek jam tangan. Sudah waktunya makan siang. “Kamu bisa nemuin kantorku tanpa tanya ke aku,” ucap Adel seraya berdiri. “Ada google,” jawab Awan. “Kita mau makan siang di mana?” “Terserah,” sahut Adel cuek. “Oh iya, besok pas kita makan malam aku mau nyiapin makan malam romantis. Jadi, besok kamu bisa pakai stelan.” Awan mengangguk. “Outfit-ku siang ini nggak masalah, kan?” Adel mengamati celana jeans yang dipadu kaus Polo. Rambut ikal pria itu pun tampak rapi. “Not bad,” jawab Adel. “Ayo pergi. Kamu parkir di mana tadi?” “Di bawah, di parkiran depan,” jawab Awan. “Lain kali, kamu tanya satpam, biar bisa parkir di parkiran VIP,” beritahu Adel. “Bilang aja kamu tunanganku.” Awan hanya mengangguk. Mereka keluar dari lobi kantor dan berjalan ke pelataran parkir yang terbuka. Adel tak dapat menahan dengusan kesal. “Jangan pernah lagi parkir di sini,” desis Adel kesal. “Kenapa kamu ikut ke sini? Kamu bisa tunggu di lobi dan aku jemput kamu ke sana,” sahut Awan. “Kamu calon suamiku, bukan sopirku,” ucap Adel tajam. “Di depan orang lain, jangan bertingkah menyedihkan. Ingat itu.” Adel langsung masuk ke mobil Awan begitu pria itu membuka kuncinya. *** Di mata Adel, tampaknya semua yang Awan lakukan selalu salah. Awan menyusul Adel yang sudah masuk ke mobil lebih dulu dan segera menyalakan mesin mobil sebelum wanita itu kembali mengomel. “Kita mau makan siang di mana?” tanya Adel dengan suara kesal. “Aku pikir, kamu udah mikirin tempatnya,” balas Awan jujur. Adel menghela napas kesal. Wanita ini mudah sekali kesal. Kena panas sedikit, kesal. Menunggu sedikit, kesal. Kenapa dia selalu hidup seperti itu? “Kita makan di restoran tempat kita ketemu sama orang tuaku dulu,” Adel berkata. Awan hanya mengangguk. Jika berhadapan dengan Adel, itu jawaban terbaik. “Apa kamu bahkan nggak bisa ngelakuin hal se-simple nyari tempat makan siang?” sinis Adel. “Aku nggak tahu apa makanan kesukaanmu,” aku Awan. Selain permen kapas itu. Tidak mungkin juga mereka makan siang dengan permen kapas. “Udah aku bilang, nggak ada makanan yang aku suka. Aku bisa makan apa aja,” jawab Adel sengit. Awan refleks mendengus mendengarnya. “Apa maksudnya itu?” tuntut Adel. Awan berdehem. “Hidungku gatal,” dustanya. “Kalau kamu pilek, pakai masker. Jangan sampai kamu nularin sakitmu ke aku,” sengit Adel. Wanita itu selalu saja berbicara seolah dia berada di peperangan. Jika tidak menghunus pedang, dia menembakkan meriam dengan kata-katanya. Awan takjub ia masih bernapas hingga hari ini sejak mengenal wanita itu. “Seenggakbergunanya kamu, jangan sampai kamu malah bikin susah aku, ya,” ketus Adel. “Aku bisa terima kalau kamu nggak berguna. Tapi, kalau sampai kamu bikin aku susah, sakit, atau rugi, aku nggak akan tinggal diam.” Lihat itu, lihat itu! Mulut pedas level seribunya tak pernah kehabisan kata-kata kejam. “Kamu sih enak, kalau sakit tinggal diam aja di rumah, nggak perlu kerja. Kalau aku sampai sakit dan nggak bisa kerja, aku nggak punya uang, gimana aku bisa bayar kamu?” lanjut Adel. “Kalau suatu hari tiba-tiba aku punya uang banyak dan nggak butuh uangmu lagi, apa yang akan kamu lakuin?” iseng Awan bertanya. Adel mendengus. “Maksudmu, kamu akan mutus kontrak dan bayar uang pelanggaran kontraknya, gitu?” “Ya, kalau aku punya uang,” jawab Awan enteng. Yah, sekarang berandai-andai dulu saja. Adel kembali mendengus, meremehkan. “Coba aja, kalau kamu bisa. Meski aku ragu tentang itu.” Adel tiba-tiba tertawa. “Tapi, seriusan deh, kalau kamu bisa punya uang sebanyak itu sebelum ini, kenapa kamu harus ngabisin bertahun-tahun ngemis ke mantan kekasihmu dan hidup semenyedihkan ini?” Awan menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Ia tahu Adel akan bereaksi seperti ini. Ia tahu, dalam kamus seorang Adelia Wiratmadja, tidak ada kata-kata yang manis. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD