Awan menarik napas dalam, lalu bergerak di tempat duduknya, berusaha membuat dirinya nyaman. Ini jok yang biasa ia duduki, jok mobil Adel, tapi malam ini kenapa terasa setak nyaman ini, sih? Di sebelahnya Adel nyaman-nyaman saja, tuh!
Awan teringat pesan ketiga temannya tadi pagi sebelum mereka meninggalkan apartemen Awan.
“Lo harus kelihatan berwibawa di depan mereka, Bro! Jangan sampai terintimidasi sama keluarganya calon bini lo,” ucap Nugie.
“Iya, Bro. Status lo adalah calon suami pilihan Adelia Wiratmadja, cowok yang dicintai Adelia Wiratmadja pada pandangan pertama. Lo jual aja kisah cinta palsu lo sebanyak mungkin,” tandas Wiki.
“Tapi, grup Wiratmadja itu ngeri-ngeri, lho. Yang kuat ya, Bro.” Ramli menepuk pundak Awan. “Pokoknya, kalau nanti lo beneran pulang tanpa nyawa, gue pasti bakal nuntut keluarga Wiratmadja.”
Awan ingat, ia tadi akhirnya menabok mulut Ramli yang mengatakan hal mengerikan itu.
“Apa pun yang diomongin kakek sama sepupu-sepupuku nanti, kamu nggak perlu jawab,” ucap Adel tanpa menatap Awan. “Kamu cuma perlu senyum kayak i***t. Kayak kamu biasanya.”
Tuh, tuh! Mulutnya si Adel emang nggak pernah sekolah, ya!
“Aku akan jawab semua pertanyaan yang mereka tanyain tentang kamu. Well, selain hal yang kemarin kamu ucapin ke orang tuaku, kamu nggak boleh ngucapin apa pun lagi. Nggak satu informasi menyedihkan pun tentang kamu, paham?” Adel melempar tatapan penuh peringatan sekilas sebelum kembali menatap ke depan.
Mulut pedas itu, selalu saja membuat Awan gemas. Gemas ingin menciumnya.
“Apa aku cuma ngomong sendiri di sini?” Adel terdengar kesal.
“Iya, paham,” sahut Awan cepat. Temperamennya yang luar biasa buruk itu juga menakjubkan.
“Kamu juga harus bilang, kita udah tinggal di apartemenku,” kata Adel.
“APA? KAMU MAU LIHAT AKU DICINCANG KAKEKMU?!” teriak Awan heboh.
Adel mengernyit terganggu dan menjawab sinis, “Jangan lebay, deh! Itu bahkan belum apa-apa.”
“Apa maksudmu?” tanya Awan was-was.
“Kalau Kakek masih nggak biarin kita nikah, aku bakal bilang kalau aku hamil anakmu.”
“APA?! SEKALIAN AJA KAMU NGUBUR AKU DI HALAMAN RUMAH KAKEKMU!” sembur Awan.
“Shut up! Aku yang urus itu nanti,” kata Adel.
“Lagian, kita baru ketemu dua hari. Gimana bisa kamu udah hamil aja? Janinnya dari mana? Jatuh dari langit?” protes Awan.
Adel mengumpat, lalu menepikan mobil dan memutar tubuh menatap Awan. “Apa pun yang aku omongin ke kakekku nanti, kamu jangan ikut campur. Aku udah nyiapin banyak skenario dalam kepalaku. Bahkan the worst case scenario. Jadi, kamu jangan banyak omong di sana nanti dan tutup aja mulutmu itu.”
Awan menarik napas dalam. Adel saat ini tampak cukup mengancam. Sebelum Awan sampai di rumah kakeknya, bisa-bisa Adel melindasnya dengan mobil lebih dulu.
“Oke, aku paham,” Awan mengalah.
Adel menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Wanita itu mengibaskan rambut kucir kudanya sebelum kembali menatap ke depan dan membawa mobil itu melaju pergi menuju rumah kakeknya.
Awan tahu apa yang harus ia siapkan saat ini. Siap-siap saja untuk mati. Entah itu di tangan Adel, atau di tangan kakeknya.
***
“Kamu ngapain duduk kayak gitu?” tanya Adel yang menyadari Awan duduk tegak di sofa ruang tamu rumah kakeknya. Dari tadi di mobil pun, pria itu duduk seolah ada duri di pantatnya.
“Emangnya kenapa dudukku?” tanya Awan dengan suara kaku. Tegang.
Adel mendengus. “Kenapa? Kamu takut mau ketemu kakekku?”
Awan tak menjawab.
Adel mendekat pada pria itu, menangkup wajahnya dan membawa wajah itu menghadapnya. Adel lalu mendekatkan kepalanya dan berbisik di telinga Awan, “Ingat apa yang aku bilang di mobil tadi.”
Awan mengangguk kecil. Adel mengusap belakang kepalanya dengan lembut ketika keempat sepupunya muncul bersamaan. Adel menarik diri dan melambai santai pada keempat sepupunya.
Mereka berempat duduk di sofa ruang tamu, dua di seberang Adel, dua lagi di kanan-kiri Adel. Adel menoleh pada Awan dan untungnya pria itu sudah menatap ke depan dan memamerkan senyum i***t-nya. Itu cukup.
“Sayang, kenalin, ini sepupu-sepupuku,” Adel berbicara pada Awan sembari menggaet lengannya. “Di kanan itu sepupu pertamaku, Thomas. Yang di kiri itu sepupu keduaku, Benjamin. Di depanmu itu sepupu ketiga, Alfa, dan di sebelahnya sepupu keempatku, Very.”
Thomas dan Benjamin tersenyum meremehkan menatap Awan, sementara Alfa menyipitkan mata curiga pada Awan. Hanya Very yang tersenyum pada Awan. Well, bukan awal yang buruk juga.
“Nona, Tuan, makan malam sudah siap,” beritahu kepala pelayan.
Adel berdiri lebih dulu sambil menggandeng Awan. Tanpa ragu, ia juga melangkah lebih dulu meninggalkan keempat sepupunya dan pergi ke ruang makan. Adel mengambil tempat duduk di kursinya biasa, kursi yang paling jauh dari kursi kakeknya, dan menarik Awan duduk di sebelahnya.
Tak lama, sepupu-sepupunya menyusul dan duduk di kursinya masing-masing. Kali ini, para istri dari sepupu-sepupunya juga ikut masuk ke ruang makan. Adel juga tak dekat dengan mereka. Dari keempat wanita itu, tak ada yang menikahi sepupu-sepupu Adel karena cinta. Menikah demi bisnis adalah tradisi di keluarga ini. Hanya mama Adel yang menghancurkan tradisi.
Adel? Bisa dibilang, ia tidak menghancurkan tradisi itu sepenuhnya. Pernikahannya nanti toh bukan berdasar cinta, tapi bisnis juga. Meski, semua orang tak boleh tahu.
Lima menit setelah semua duduk di ruang makan, kakek Adel memasuki ruangan. Dari awal kakeknya masuk hingga dia duduk, tatapannya hanya tertuju pada Awan. Adel menoleh dan agak kaget melihat Awan lagi-lagi duduk tegak dan kaku di sebelahnya. Adel mendengus pelan.
Adel meraih tangan Awan yang tertumpu rapi di atas meja, lalu menggenggam tangan kiri pria itu dan menautkannya dengan tangan kanan Adel. Awan menoleh padanya. Adel melemparkan senyum, berharap itu bisa membuatnya relaks. Namun, mengejutkan Adel, Awan justru membalas senyumnya. Bukan senyum i***t seperti biasanya, tapi senyum hangat.
“Adel.” Panggilan kakeknya itu membuat Adel terpaksa mengalihkan tatap dari Awan.
“Ya?” sahut Adel begitu ia menatap kakeknya.
“Mamamu sudah menelepon Kakek dan mengatakan tentang calon suamimu. Kakek tidak akan menentang pernikahan kalian. Meskipun Kakek tahu, calon suamimu itu bukan siapa-siapa. Tapi, Kakek ingin menawarkan salah satu perusahaan Kakek untuk dipimpin calon suamimu begitu kalian menikah nanti,” ucap kakeknya.
Adel tersenyum, lalu menggeleng sopan. “Nggak perlu, Kek. Dia udah punya kesibukan sendiri, kok.”
“Bukannya dia pengangguran?” sebut Thomas dengan nada meledek. Benjamin ikut tersenyum meledek.
“Dia lagi sibuk ngejar impiannya. Dia pengen jadi komikus,” sebut Adel.
Dengusan meledek terdengar hampir dari semua orang di meja itu. Hanya sepupu ketiga Adel dan istrinya yang justru tampak tertarik.
“Komikus?” tanya Alfa. “Aku punya kenalan perusahaan yang nerbitin webtoon. Kamu mau aku kenalin calon suamimu sama dia?”
Adel menggeleng. “Dia pasti bisa berjuang dengan kemampuannya sendiri.” Adel menoleh pada Awan dan tersenyum. “Iya kan, Sayang?”
Awan lagi-lagi membalas senyumnya dan menjawab, “Ya. Aku pengen kayak kamu yang bisa berjuang sendiri mulai dari nol.”
Adel tertegun, agak terkejut karena jawaban pria itu. Adel berusaha membenahi ekspresinya ketika kembali menatap kakeknya.
“Kalau Kakek udah setuju, kami udah bisa nentuin tanggal pernikahan, kan?” tanya Adel.
Kakeknya mengangguk. “Dua minggu lagi kayaknya waktu yang tepat. Minggu depan Kakek akan mengumumkan pernikahan kalian di pesta ulang tahun Grup Wiratmadja, jadi minggu depan kalian harus hadir.”
Adel mengangguk cuek. Bukan masalah besar. Namun, di sebelahnya, ia memperhatikan gerakan Awan. Saat Adel menoleh, ia melihat tangan kanan Awan gemetar mengangkat gelas minumnya. Adel menguatkan genggaman di tangan Awan yang masih bertaut dengan tangannya, membuat pria itu menoleh.
Adel tak dapat menahan senyum geli melihat tangannya yang gemetar. Awan berdehem, lalu berkata pelan hingga hanya Adel yang bisa mendengarnya, “Tanganku kram gara-gara kamu pegangin terus.”
Adel sampai harus merapatkan bibir agar tawanya tak lolos mendengar alasan pria itu. Adel menggigit bibir untuk menahan tawanya ketika ia menatap ke depan.
“Ayo mulai makan,” kata kakeknya.
Barulah Adel melepaskan tangannya yang bertaut dengan tangan Awan dan mulai mengisi piring makan malamnya dengan makanan yang ada di sana. Adel menoel lengan Awan. Ketika pria itu menoleh, Adel mengedik ke arah nasi goreng.
“Kesukaanmu,” Adel berkata.
Awan mengerjap.
“Jangan berani bilang nggak,” Adel mengingatkan dalam bisikan.
Awan tersenyum geli dan mengangguk. “Ya. Kesukaanku.” Pria itu lalu menyendok nasi goreng ke piringnya. Adel menatapnya puas.
***
Awan menghela napas lega ketika akhirnya mobil Adel melaju meninggalkan rumah kakeknya. Awan membuka dua kancing kemeja teratasnya. Ia sudah hampir sesak napas dan pingsan di dalam tadi, ketika kakek Adel menatapnya begitu rupa di ruang makan.
“Kamu udah dengar kan, tadi? Dua minggu lagi kita nikah. Minggu depan pernikahan kita diumumin di pesta ulang tahun Grup Wiratmadja,” ucap Adel sembari mengecek kaca spion sebelum ia menyalip kendaraan di depannya. “Pastiin keluargamu nggak heboh tentang pernikahan kita, atau tentang keluarga besarku.”
“Tapi, nanti beneran nggak pa-pa kan, kalau adikku datang ke pesta pernikahan kita?” tanya Awan.
“Oke, cuma adikmu. Tapi, kamu harus mastiin adikmu nyocokin ceritanya sama kita,” jawab Adel. “Tapi, kamu yakin kan, ayahmu sama istrinya nggak akan datang ke pernikahan kita dan bikin ribut?”
“Nggak perlu khawatir. Aku ngemis-ngemis pun ayahku nggak bakal datang,” kata Awan.
“Ada masalah apa sebenarnya kamu sama ayahmu?” dengus Adel.
“Jangan tanya lebih jauh, nanti kamu jatuh cinta sama aku,” ucap Awan asal.
Adel meliriknya jijik. Lihat itu! Kebiasaannya merendahkan orang lain itu memang seperti keturunan. Pantas saja tadi kakek dan sepupu-sepupunya juga seperti itu. Hanya orang tua Adel yang berhati malaikat. Yang lainnya sama saja seperti Adel.
“Bagian mana dari dirimu yang bisa bikin aku jatuh cinta?” balas Adel. “Sebutin satu aja bagian dari kamu yang worthy buat bikin aku jatuh cinta.”
Awan terbungkam. Itu berarti, dari ujung rambut sampai ujung kaki Awan, tak ada satu hal pun yang cukup menarik bagi Adel. Memang dasar seleranya Adel saja yang ketinggian. Awan yang super ganteng, menyenangkan, loyal begini, kurang apa coba?
Kurang duit, iya. Kurang ajar juga, kadang-kadang.
Di sebelahnya, Adel tiba-tiba tertawa. “Aku nggak bisa ngebayangin kalau aku sampai jatuh cinta sama kamu. I mean, apa bagusnya sih, kamu?” Adel kembali tertawa.
Awan hanya bisa terdiam. Lagi-lagi menelan kalimat-kalimat kejam Adel itu tanpa protes.
***