Bab 11 Mata-mata Everywhere

1723 Words
Awan sedang memilih camilan di rak camilan minimarket apartemen itu ketika tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Awan refleks hendak melepaskan diri, tapi ia mendengar suara yang dikenalnya, “Ini aku.” Seketika, perut Awan bereaksi. Seperti ada kupu-kupu, kuda, badak, berlarian di sana. Mungkin ayam yang tadi dimakannya juga ikut berlarian ke sana-kemari. “Kamu ngapain?” tanya Awan bingung, masih shock juga. “Mata-matanya kakekku udah sampai sini. Siska yang ngabarin aku. Tadi waktu dia antar barang-barang ke apartemenmu, dia lihat mata-mata kakekku di sini,” terang Adel masih sambil memeluknya. “Kakek pasti mau mastiin hubungan kita. Aku harus kasih dia gambar yang bagus.” Awan menelan ludah. “Gambar kita pelukan?” “Yang lebih menarik lagi,” timpal Adel seraya melepas pelukan. Wanita itu menarik Awan mundur, lalu dia berpindah berdiri di antara Awan dan rak camilan. Seperti sebelum-sebelumnya, wanita itu menangkup wajah Awan dan menariknya turun. Awan menahan napas ketika bibirnya dan bibir Adel berjarak hanya tiga senti. Kali ini, bibir itu tak ber-lipstick. Namun, tetap menggoda. Wanita itu menatap lurus melewati bahu Awan, sebelum perlahan memejamkan matanya. Bulu mata lentiknya membuat tangan Awan gatal ingin menyentuhnya. Ketika tangan Adel bergerak ke rambutnya, tangan Awan terasa lemas, membuat keranjang yang dipegangnya terjatuh di lantai. Di depannya, Adel perlahan membuka mata. Ia memundurkan tubuh dan menggeser tubuh Awan sedikit. Wanita itu tersenyum puas, lalu menyingkir dari hadapan Awan, tapi dia tidak pergi. “Lanjutin belanjamu. Nanti kita naik bareng ke atas,” ucap wanita itu. Awan mengangguk. Ia membungkuk untuk mengambil keranjangnya, lalu memasukkan asal camilan yang ada di depannya. Setelah memenuhi satu keranjang, Awan pergi ke kasir. Adel mengekorinya. “Segini cukup? Kamu lagi sama teman-temanmu, kan?” tanya wanita itu. Awan hanya mengangguk. Namun, ia terkejut ketika Adel hendak melakukan pembayaran dengan aplikasi di ponselnya sementara kasir mulai menghitung belanjaan Awan. “Biar aku aja,” Awan menahan ponsel Adel. Adel menatap tak suka dan menarik ponselnya dari pegangan Awan. Awan lagi-lagi mengalah. Ia mengalihkan tatap ke rak di depan meja kasir dan melihat permen kapas yang tadi diborong Adel di supermarket. Awan refleks mengambil sebungkus permen kapas dan memasukkannya ke keranjang. “Aku udah punya banyak itu,” Adel berkata. “Ha?” Awan menoleh, bingung. Adel menunjuk permen kapas yang barusan dimasukkan Awan ke keranjang. “Kamu nggak perlu beli itu buat aku.” “Itu buat aku. Aku pengen,” jawab Awan. Bayangkan ada suara burung gagak di tengah keheningan canggung itu. Namun, Adel menutupnya santai dengan kalimat, “Aku nggak tahu kamu juga suka permen kapas.” Awan tak menjawab. Tidak. Ia tidak suka. Hanya penasaran karena seseorang yang memborong berbungkus-bungkus permen kapas tapi mengaku tak punya makanan kesukaan. *** Adel merangkul lengan Awan ketika mereka berjalan ke lift. Ia baru melepas lengan pria itu ketika pintu lift menutup dan lift bergerak ke lantai mereka. “Kakek cepat juga. Untung kamu udah pindah ke apartemen ini,” ucap Adel. “Omong-omong, kapan kita mau ketemu kakekmu?” tanya Awan. “Besok, mungkin,” jawab Adel. “Besok kamu jangan ke mana-mana.” Awan hanya mengangguk. “Tapi, kamu biasanya ngapain aja? Kan, kamu pengangguran,” singgung Adel. “Biasanya sih, di kos aja.” “Nggak ngapa-ngapain gitu? Betah diam aja di kos?” Adel heran juga mendengarnya. “Namanya juga pengangguran,” sahut Awan cuek. “Aku nggak bisa bayangin, berapa banyak uang yang kamu pinjam dari temanmu dan berapa banyak cewek yang harus menghidupi kamu,” dengus Adel. “Nggak usah dibayangin,” balas Awan. “Tapi, kamu kayak gitu nggak ngerasa malu gitu? Atau nggak nyaman?” Adel penasaran. “Namanya juga demi bertahan hidup.” Adel mendengus meremehkan. “Kamu masih muda, kamu bisa kerja apa aja. Kamu aja yang malas dan suka manfaatin orang lain.” Awan manggut-manggut, tapi kemudian dia berkata, “Tapi, kamu kayaknya nggak bisa hidup kalau nggak ngerendahin orang lain, ya? Atau itu kebiasaanmu?” Ting! Lift berhenti di lantai mereka. Namun, tak satu pun dari mereka bergerak. Adel menatap Awan, tak ada tanda pria itu tersinggung, wajahnya malah datar tanpa ekspresi. “Kamu benar. Itu kebiaasaanku. Biasain aja dirimu sama itu. Aku bekerja keras buat ada di posisiku, jadi aku refleks mandang rendah orang-orang yang nggak mau bekerja keras. Kayak kamu gitu.” Setelah mengatakan itu, Adel turun lebih dulu dari lift dan pergi ke apartemennya. Tanpa berbalik atau menoleh ke belakang, Adel masuk ke apartemennya dan menutup pintunya. Adel berdiri di balik pintunya, terdiam selama beberapa saat. Ia menarik napas dalam, sebelum akhirnya melangkah ke ruang tamu dan melanjutkan membaca berita-berita terbaru tentang sepupu-sepupunya. Termasuk, kelemahan-kelemahan mereka. *** “Lo ngapain beli itu?” tanya Nugie ketika melihat Awan mengambil sebungkus permen kapasnya. “Salah ambil?” Awan menggeleng dan membuka bungkusnya. “Pengen aja.” Sementara teman-temannya asyik menonton film sambil menikmati camilan mereka, Awan memikirkan percakapannya dengan Adel di lift tadi. Baru dua hari bertemu saja Adel sudah berkali-kali menghunus pisau untuk menyerang Awan. Apa jadinya jika mereka menikah nanti? Apa masalah wanita itu sebenarnya? Apa dia tak pernah belajar untuk menghargai orang lain? Oke, Awan memang memanfaatkan orang lain, seperti yang wanita itu katakan, tapi … Ah, sudahlah. Untuk apa Awan memberikan pembelaan di depan wanita itu? Percuma. Kapan Adel mendengarkannya? Awan menarik permen kapas dari bungkusnya dan memasukkannya ke mulut. Kapas rasa stroberi di mulutnya mencair dengan cepat. Lalu hilang, meninggalkan rasa manis di mulutnya. Ironis. Adel suka makan makanan semanis ini, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu pahit. Awan menghabiskan permen kapasnya perlahan-lahan sembari terus memikirkan Adel. Bahkan ketika perman kapasnya habis, Awan masih terus memikirkan Adel. Ia penasaran, apa yang Adel lakukan di apartemennya saat ini? *** Adel bersin dan menutup hidungnya dengan tangan. Adel mengerutkan kening. Kenapa mendadak ia bersin? Apa mungkin orang yang bertugas membersihkan rumahnya hari ini tidak melakukannya dengan benar? Adel mendecak kesal dan mengirim pesan pada Siska, meminta petugas yang membersihkan apartemennya diganti. Adel melempar ponselnya ke sofa dan mengambil i-Pad-nya lagi, tapi tatapannya jatuh pada tiga bakpao di piring yang ada di meja ruang tamunya. Bakpao itu pasti sudah dingin. Namun, Adel mengambil sepotong bakpao dan memakannya sambil melanjutkan membaca berita tentang salah satu sepupunya. Sepupu tertuanya yang sudah menikah dengan salah satu putri grup perusahaan lain, punya wanita simpanan. Adel tak terkejut. Ia bahkan tahu jika istrinya juga punya pria simpanan. Mereka sama rendahnya. Well, Adel bisa menggunakan itu jika dia macam-macam pada Awan. Adel mengambil bakpao kedua ketika lanjut membaca berita tentang malpraktik di rumah sakit yang dikelola sepupu keduanya. Itu sudah cukup. Sepupu ketiganya … dia baru saja beramal di panti asuhan. Sepupu keempatnya juga hari ini menjadi relawan di panti jompo. Adel mengembuskan napas. Adel adalah satu-satunya cucu perempuan Wiratmadja, itu pun, satu-satunya yang belum menikah. Namun, kakeknya lebih menyukai Adel meski mama Adel meninggalkan kediaman Wiratmadja. Karena itulah, keempat sepupunya selalu membencinya dan menganggapnya saingan, bahkan meski Adel selalu menolak kakeknya. Dengan keberadaan Awan, mereka punya target baru sekarang. Adel hanya perlu memastikan Awan tidak bertemu mereka sendirian. Menghadapi kata-kata kejam Adel saja pria itu terus protes. Bagaimana jika dia berhadapan dengan kakek dan sepupu-sepupu Adel? Bisa-bisa dia menangis nanti. Tentu saja, suami seorang Adelia Wiratmadja tidak boleh menangis di depan musuh-musuhnya. *** Awan terbangun pagi itu karena suara dering ponselnya. Ia yang berbaring di sofa menggerakkan tangannya mencari ponsel. Ia menemukan ponselnya di bawah pantatnya. Ponsel yang malang. Awan melihat nama ‘Mulut Pedas Level Seribu’ di layar ponselnya dan segera mengangkat telepon itu. “Ya?” Awan berdehem karena suaranya terdengar serak. Awan berdiri dan menatap ruang tamunya yang berantakan. Piring kotor dan bungkus camilan berserakan. Televisi masih menyala dan ketiga temannya, seperti saat di kosnya, berserakan di mana-mana. Hanya saja, kali ini area berserakan mereka lebih luas. Awan bahkan tak tahu bagaimana Nugie bisa sampai di depan dapur sana. “Aku berangkat kerja. Jangan cari aku di apartemen. Kalau kamu butuh sesuatu, hubungi aku,” ucap Adel. Awan seketika menoleh ke arah pintu. Ia berlari secepat tenaga dan membuka pintu, tapi langsung membeku ketika ia berhadapan dengan sosok wanita dengan stelan kantor hitam-hijau yang tampak terkejut di depannya. “Kamu ngapain di sini?” tanya Awan pada Adel, lebih sekadar basa-basi karena ia tak tahu harus berkata apa. “Mau berangkat kerja,” jawab Adel sembari menurunkan ponsel yang tadi menempel di telinganya. “Kamu … mau ke mana? Kayaknya buru-buru banget.” Awan berdehem, berpikir cepat. “Kamar mandi,” dustanya. Adel mengangkat alis. “Kamar mandinya … di seberang lain.” “Aku tahu. Aku baru bangun tidur dan belum sepenuhnya sadar,” Awan ngeles. Adel mengangguk percaya. “Kamu tiap bangun tidur, jangan langsung keluar,” katanya. “Kenapa? Mukaku berantakan?” dengus Awan. “Aku meski bangun tidur juga kelihatan ganteng, kok.” Awan bersandar di kusen pintu dengan satu tangan, bergaya sok keren. Adel balas mendengus, lalu menunjuk kepala Awan, rambutnya. “Aku khawatir kalau kamu keluar dengan rambut kayak gitu, pulang-pulang kamu bawa anak-anak burung. Udah kayak sarang burung. Persis. Banget.” Adel lalu berjalan pergi setelah melemparkan ledekan tak berakhlak itu. Awan mendesis kesal. Namun, ketika wanita itu menghilang dari pandangannya dan masuk ke lift, Awan tak tahu kenapa kakinya bergerak sendiri membawanya berlari hingga ke depan lift, menahan pintu lift dengan tangannya ketika pintu itu akan tertutup. Adel menatapnya kaget. “Kamu beneran mau keluar dengan rambut itu? Mau ternak burung?” Wanita itu terdengar serius. Awan menggeleng. Otak, berpikirlah. Berat-berat dibawa masa nggak fungsi, sih? “Game. Play station!” sebut Awan. Adel mengangkat alis. “Game apa?” “Aku butuh play station di rumah, buat main game sama anak-anak,” jawab Awan. “Okay. Nanti aku bilang ke Siska,” sahut Adel santai. Awan mengangguk. “Udah?” tanya Adel. “Udah. Itu aja,” jawab Awan. “Kalau gitu, tolong tarik tanganmu. Aku nggak bisa ke mana-mana kalau tanganmu di situ. Kecuali kamu mau aku motong tanganmu,” ucap Adel dengan entengnya. Awan refleks menarik tangannya. “Brutal banget, sih.” Adel mengedik cuek. Perlahan, pintu lift menutup, tapi Awan masih menatap Adel hingga pintu benar-benar menutup. Awan menghela napas berat ketika akhirnya pintu menutup dan lift bergerak ke bawah. Entah kenapa, ia mendadak merasa … sendiri. Padahal, di apartemennya ada tiga makhluk paling barbar dan tak berakhlak sedunia. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD