Bab 10 Rumah Baru

1725 Words
Setelah melakukan ritual mengheningkan cipta dan berpelukan bersama di kos kumuh Awan sore itu, akhirnya mereka pergi dengan mobil Ramli ke apartemen baru Awan. Awan hanya membawa satu ransel dan tas besar berisi pakaian. Ia meninggalkan rice cooker untuk diwariskan pada penghuni kamarnya berikutnya. Toh, Adel sudah membelikan penanak nasi yang lebih canggih. Awan kemudian melihat tasnya dan baru menyadari betapa miskinnya ia selama ini. Saat mereka baru memasuki kompleks apartemen baru Awan, ketiga temannya sudah berwow berjamaah. Mereka tidak berhenti berwow sepanjang jalan menuju unit apartemen Awan. Wow mereka semakin heboh ketika masuk ke kamar apartemennya. “Tapi, ini semuanya apa, Bro?” tanya Wiki yang berjalan melompati kardus demi kardus mie instan dan karung beras. “Lo buka warung di sini?” Awan berdehem. “Persediaan makanan. Dibeliin Adel tadi.” “Waaah … gila tuh bini lo, Bro. Dia beliin lo semua ini?” Wiki geleng-geleng kepala. “Tadinya hampir satu supermarket dia beli. Saking takutnya dia kalau gue bakal ngemis makanan di luar,” dengus Awan. “Bini lo kalau ngomong emang ngajak gelud, ya?” celetuk Nugie. “Tapi kan, yang penting dia mencukupi semua kebutuhan Awan. Padahal mereka belum nikah, tapi Awan udah dikasih tempat tinggal sebagus ini, makanan sebanyak ini, belum lagi uang yang dia pakai bayar utang ke gue kemarin. Meski dia nyeremin, tapi dia baik juga, mikirin hidup Awan,” kata Ramli. “Ya, soalnya kalau Awan mati, dia mau nikah sama siapa?” cetus Nugie. “Semua yang dia lakuin ini buat dirinya sendiri. Iya kan, Wan?” Nugie menoleh pada Awan. Awan mengangguk. “Udah lah, daripada kalian ngomongin dia terus, mending kalian bantuin gue mindahin nih barang-barang biar nggak amburadul begini.” Wiki lalu menemukan tas-tas belanjaan berisi pakaian dan sepatu yang dibelikan Adel. “Gila, baju-baju yang dia beliin lebih banyak dari baju-baju yang lo punya, Bro,” katanya takjub. “Dan lebih bagus,” tambah Awan. “Barang mahal semua itu. Buat seragam kerja gue sebagai suami dia nanti.” Ketiga temannya menoleh padanya. “Kalian lupa? Gue di sini buat kerja. Jadi lakinya si Adel. Cuma status doang, tapi harus sempurna.” Awan mengedik. Ketiga temannya meringis. “Ayo ah, buruan ini beresin. Tadi Adel beli segala macam daging banyak banget. Lo mau masak nggak, Wik?” sebut Awan. Wiki manggut-manggut, dia sudah menemukan kotak gabus berisi perdagingan. “Kita party nih, malam ini?” “Let’s party tonight!” Awan berseru penuh semangat. Ketiga temannya seketika bersorak senang. Mereka dengan gembira memindahkan berkarung-karung beras ke dapur. Sementara, Awan membawa bertas-tas pakaian dan sepatu ke kamarnya. Meski begitu, Awan tak membongkarnya dan membiarkan tas-tas itu berserakan di lantai kamarnya. Ia kembali keluar untuk bergabung dengan teman-temannya memindahkan kardus-kardus mie instan. “Segala macam rasa mie instan ada. Tiap hari makan mie instan, akhir bulan usus lo udah kayak mie kali, Bro,” komentar Nugie. “Ini buat modal warung lumayan, Bro,” celetuk Wiki. “Buka toko online gimana?” “Kalau berani, ngomong langsung sama Adel,” tantang Awan. Kontan teman-temannya bergidik ngeri. “Dulu maknya hamil dia ngidam apaan, ya?” tanya Wiki penasaran. “Ngidam palunya Thor, kali,” celetuk Nugie. “Ngidam yang pedas-pedas,” timpal Ramli. Awan tergelak mendengar itu. “Orang tuanya baik banget, padahal,” ungkapnya. “Gue ngerasa bersalah ngebohongin mereka tentang hubungan gue sama Adel.” Wiki menghela napas dan menepuk pundak Awan dengan kardus mie yang dibawanya. “Yang kuat ya, Bro.” “Kurang kuat apa lagi gue ngadapin cewek kayak Adel?” sambar Awan sembari merebut kardus mie dari Wiki dan membawanya ke dapur. “Wik, lo jadinya mau masak apa, nih?” “Enaknya masak apa, ya?” Wiki malah bertanya. Di dapur, Awan memperhatikan ada yang berubah. Ia menoleh dan melihat sudah ada toaster, microwave, bahkan penanak nasi canggih yang tadi dipilihkan Adel. Awan membuka lemari-lemari di dapur dan melihat piring-piring yang tadi dipilih Adel sudah berada di sana. Awan tak tahu kenapa, melihat piring itu, ia mendadak tersenyum. “Bro, lo kenapa senyum-senyum sendiri di situ?” Pertanyaan itu datang dari Wiki yang sudah menyusulnya ke dapur. “Gue rada ngeri, nih. Lo kesambet penunggu sini apa gimana?” Awan berdehem, menggeleng. “Lo cari aja apa yang lo butuhin di sini. Gue juga nggak hafal. Bumbu-bumbu masaknya, lo bongkar kardus-kardus itu, deh. Tadi Adel juga beli segala macam bumbu sama saus gitu.” Wiki menurutinya dan sudah sibuk mencari kardus demi kardus. “Ini ngapain juga dia beli garam sekardus? Buat bikin laut?” celetuk Wiki. Awan tersenyum geli. Adel memang … tak biasa. *** Jam tujuh lewat empat puluh menit malam itu, bel pintu apartemen Adel berbunyi. Adel yang sedang membaca berita-berita terbaru tentang sepupu-sepupunya di sofa ruang tamu, menoleh ke pintu. Adel meletakkan i-Pad-nya dan pergi ke pintu untuk memeriksa siapa tamunya. Adel mengerutkan kening ketika melihat wajah Awan muncul di LCD interkomnya. Adel membuka pintu dan akhirnya bisa melihat Awan berdiri di sana dengan piring di tangannya. “Kenapa?” tanya Adel tanpa basa-basi. “Ini … tadi Wiki masak. Masakan dia enak, jadi aku bawain ini buat kamu,” kata pria itu. “Ini makanan sisa?” tanya Adel curiga. Awan menggeleng kuat. “Bukan. Ini yang pertama dibuat. Aku yang makan makanan sisanya,” ucap pria itu cepat. “Trus, dari mana kamu tahu masakan dia enak?” “Kan, udah sering dimasakain dia.” “Jangan samain selera makananku sama kamu,” tukas Adel. “Jadi, kamu mau nggak, nih?” Awan terdengar kesal. “Aku ke sini bukan buat minta dihina sama kamu. Seharian tadi udah cukup.” Adel berdehem. “Kalau nanti nggak enak, aku akan langsung buang makanan ini,” katanya. “Terserah,” jawab Awan dengan ekspresi kesal, tapi pria itu menyodorkan piring di tangannya ke arah Adel. Adel menerima piring itu, lalu segera masuk dan menutup pintunya. Adel kemudian menyalakan LCD interkomnya untuk melihat Awan yang mendesis kesal ke arah pintunya. Alih-alih kesal, Adel justru tersenyum geli melihat itu. Pria itu lantas berbalik dan pergi ke apartemennya. Adel menunduk ke arah piring berisi ayam yang sepertinya dibumbu barbeque. Aromanya lumayan lezat. Entah rasanya. Adel pergi ke meja makan, menyiapkan air minum lebih dulu, sebelum mulai mencicipi ayam barbaeque itu. Enak. Ayamnya empuk dan dagingnya mudah lepas dari tulangnya. Bumbunya juga terasa sampai ke dagingnya. Harus Adel akui, kemampuan memasak teman Awan itu tidak buruk juga. Bahkan, tanpa Adel sadari, ia sudah menghabiskan sepiring berisi beberapa potong ayam itu sekaligus. Adel shock ketika menyadari itu. Di tengah shock-nya, ia mendengar suara bel di pintu apartemennya. Adel buru-buru meneguk air minum, menggunakannya untuk berkumur dan memastikan giginya bersih dari saus ataupun daging ayam, sebelum pergi ke pintu dan membukanya. Ia bahkan tak perlu mengecek ke LCD interkomnya untuk tahu siapa yang ada di sana. “Apa lagi?” tuntut Adel. Awan kali ini membawa sepiring berisi tiga buah bakpao. “Tadi Nugie keluar dan beli ini. Ini juga kayaknya enak.” Adel mendengus tak percaya. “Kamu mau bikin aku gemuk?” Awan menggeleng. “Aku cuma … siapa tahu kamu mau.” Adel memutar mata. “Tapi … tadi masakannya Wiki enak, kan?” tanya Awan sembari tersenyum lebar. “Nggak, tuh,” balas Adel ketus. “Aku makan juga enggak. Dari visual-nya aja …” “Kamu belum makan ayamnya?” tanya Awan. “Belum. Nggak selera,” dusta Adel. Di depannya, Awan tersenyum geli. “Ya udah, makan ini aja. Siapa tahu kamu selera makan ini,” katanya sembari menyodorkan piring berisi bakpao yang masih tampak panas itu. Adel menerima piring itu dari Awan dan akan menutup pintu, tapi Awan menahan pintunya. “Apa?” sengit Adel. Awan menunjuk ujung bibirnya. “Ada saus di sini,” katanya. Adel memperhatikan ujung bibir pria itu bersih. Adel mengerutkan kening bingung, tapi Awan hanya tersenyum geli dan berbalik, lalu kembali ke apartemennya. Jika bukan bibir Awan yang belepotan saus, itu berarti … Adel terkesiap panik dan menyentuh ujung bibirnya. Ia mengusapnya dengan ibu jari, lalu mengecek ibu jarinya dan melihat noda saus barbeque di sana. Adel mengerang sembari membanting pintu menutup. Seumur hidupnya, ini adalah kejadian paling memalukan. Adel tak pernah sekali pun, tidak satu kali pun, menempatkan dirinya dalam kejadian memalukan seperti ini. Sial. Mau beralasan darah pun warna sausnya tidak merah. Oh, otaknya yang menyedihkan. *** Awan kembali tersenyum teringat kejadian di pintu apartemen Adel tadi. Namun, ia segera melenyapkan senyumnya ketika Nugie menegurnya kesal, “Malah senyum-senyum!” Awan berdehem. Ia menatap sepotong bakpao di piring di tengah meja ruang tamu. Potongan seperempat bakpao. “Gue jalan jauh beli bakpao, malah lo kasih ke calon bini lo yang galak itu. Nggak ada akhlak banget lo, Wan!” sembur Nugie. “Ya kan, gue kasihan kalau dia belum makan malam. Dia kayaknya nggak makan masakan Wiki yang tadi gue kasih,” Awan beralasan. “Kasihan gimana? Tuh cewek mau beli satu gerobak bakpao juga bisa! Sekalian abangnya juga bisa!” Nugie masih tak rela kehilangan bakpaonya. “Jauh-jauh jalan beli bakpao, cuma dapat seperempat bakpao!” gerutunya kesal. “Itu bagian gue buat elo, deh,” Awan mengalah. “Besok gue beliin lagi, yang banyak.” Nugie tanpa ragu menyambar seperempat potong bakpao di piring itu dan memasukkannya ke mulut sekaligus. “Lo hawrus gantiin ya, gue belum mwaafin lo, nih!” katanya dengan mulut penuh bakpao. Awan mengangguk meyakinkan. “Sekarang enaknya kita ngapain?” tanyanya. “Makan udah. Mau makan lagi atau …” “Kenyang gue,” celetuk Ramli. Dia menunjuk LED TV 60 inch di ruang tamu itu. “Lo harusnya minta dibeliin play station, jadi kita bisa main game di sini. Kan, enak, layarnya gede.” “Besok deh, gue minta ke Adel,” sahut Awan. “Malam ini kita nonton film aja,” usulnya. “Tapi, nggak ada camilan, nih,” protes Ramli. “Tadi di bawah ada minimarket,” beritahu Nugie. “Ayo hompimpa, yang kalah turun beli makanan.” Mereka langsung setuju dan hompimpa. Sialnya, dalam sekali hompimpa, Awan langsung kalah. Namun, ia tidak protes dan segera pergi sementara Nugie dengan semangat menyalakan televisi. Ketika keluar dari apartemennya, Awan menoleh ke arah pintu apartemen Adel. Apa yang ia harapkan? Wanita itu membuka pintu dan menyapanya? Awan mulai tidak masuk akal. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD