“Jadi, itu tadi maksudnya apa sih, No?” tanya Ramli. Seperti biasa, dia yang paling lama loading.
“Jadi, Ram, si Awan bakal nikah, dan dibayar pula!” terang Nugie.
“Wah, lucky banget lo, Bro! Selamat, ya! Akhirnya, lo nggak bakal ngutang gue lagi dan nggak perlu pacaran sama sembarang cewek demi sesuap nasi,” ucap Ramli dengan nada bahagia.
Lucky sih, lucky, tapi ngeri juga. “Lo teman gue apa musuh gue sih, Ram? Tangan gue gatal pengen nabok lo soalnya,” balas Awan.
Ramli nyengir. “Ya kan, benar. Lo sekarang nggak perlu khawatir tentang biaya hidup dan bisa fokus …”
“Jadi, kapan kalian akan tanda tangan?” Pertanyaan itu membuat Awan dan ketiga sahabatnya menoleh ke depan, di sofa seberang, tempat Adel duduk dan menatap mereka tajam. Wanita itu mengedik ke arah berkas-berkas di meja kaca di antara mereka.
“Gimana, Bro?” tanya Wiki pada Awan.
Awan menghela napas. Kenapa juga Wiki masih pakai bertanya. Sudah jelas jawabannya apa. Awan memimpin mengambil bolpoin dan menandatangani berkas yang tadi diantarkan sekretaris Adel. Setelahnya, menyusul Wiki, Nugie, dan Ramli bergantian menandatangani. Hanya saja, Ramli sempat salah ikut menandatangani di berkas milik Nugie. Memang dunia ini adil. Manusia ganteng, tinggi, tajir kayak Ramli, ada error-nya juga.
Adel mengambil keempat berkas di meja kaca itu dan mengeceknya. Wanita itu mengangguk, lalu berdiri dan membawa pergi keempat berkas itu. Namun, baru dua langkah, wanita itu berhenti dan menatap Awan.
“Kalian mau di situ sampai kapan? Kalian boleh pergi.”
Sopan sekali Anda! Awan mendesis sinis dalam hati.
“Itu kita nggak dapat salinannya?” tanya Awan.
Adel menelengkan kepala. “Aku khawatir kalian ceroboh bawa berkas ini dan bikin kesepakatan ini kesebar ke mana-mana. Tenang aja, aku nggak akan ngelanggar kontrak dan bayar kamu sesuai yang ditulis di kontrak. Dan malam ini juga, aku akan bayar DP untuk penandatanganan kontraknya. Maksimal dalam tiga puluh menit, uangnya akan masuk ke rekeningmu.”
“Emangnya kamu tahu rekeningku?” tembak Awan.
Adel mendengus meremehkan. “Aku bahkan tahu ukuran ‘anu’mu.”
Lalu, wanita itu pergi ke arah tangga. Meninggalkan Awan dengan ketiga temannya yang langsung menatap ke arah ‘anu’ yang disebutkan Adel tadi.
“Itu … emangnya tadi pakai diukur buat syarat kesepakatannya ya, Bro?” tanya Nugie.
“Enggak, lah! Cewek itu aja yang sok tahu!” geram Awan.
“Tapi, lumayan juga, Bro. Tahu-tahu dapat istri cantik, tajir, meski galaknya minta ampun,” Nugie nyengir.
“Tapi, kalau kita ngelanggar kontraknya, dendanya tiga kali lipat, lho. Jangan sampai bikin kesalahan!” Wiki menuding Ramli. “Terutama elo, Ram!”
“Iya, gue bakal hati-hati. Kalau sampai bayar denda dan minta duit ke Babeh sebanyak itu, bisa dicoret dari KK gue,” balas Ramli.
“Trus, kalau ada yang tanya gimana lo nemuin bini cantik nan tajir itu, jawabnya gimana, Bro?” tanya Wiki.
Awan berpikir sebentar. “Cinta pada keributan pertama aja, deh. Bilang aja gue keserempet mobilnya, trus kita saling tatap, trus jatuh cinta.”
“Njir, gue mual. Mendadak pengen muntah,” celetuk Nugie.
“Gaya lo, Gie, biasanya lo juga gitu, Bucin!” Awan menoyor Nugie. “Tapi, ntar gue tanyain lagi sama dia, deh. Salah ngomong dikit bisa digorok gue.”
Awan kemudian tepekur di tempatnya duduk. Kenyataan menghantamnya kini. “Gue nggak nyangka, gue bakal nikah dengan cara kayak gini.”
Ketiga temannya mengangguk sambil melamun di kanan-kirinya.
Hingga kemudian, terdengar seruan dari lantai atas, “Kenapa kalian masih di sini?!”
Seketika, Awan dan ketiga temannya tersadar. Mereka buru-buru berdiri dan pergi. Namun, mereka berhenti di depan villa ketika ponsel Awan berbunyi. Dari nomor baru yang tak dikenalnya. Awan mengangkat telepon.
“Halo?”
“Selamat malam, Pak Awan, saya Siska, sekretaris Bu Adel. Mengenai DP kontraknya sudah saya kirim ke rekening Pak Awan. Terima kasih.”
Setelah mengatakan itu, sekretaris Adel itu menutup telepon. Tidak bos, tidak sekretarisnya, sama saja. Akhlak-less semua. Namun, Awan kemudian sadar.
“Bro, gue sekarang punya duit,” katanya pada ketiga temannya. “Malam ini, gue traktir kalian sepuasnya!”
Mereka berempat saling merangkul dan bersorak gembira. Meski itu tak bertahan lama karena terdengar seruan dari beranda lantai atas,
“Kalau kalian masih bikin ribut di sini, aku akan manggil polisi!”
Mendengar ancaman Adel itu, Awan dan ketiga temannya buru-buru pergi. Saking buru-burunya, mereka berempat masuk ke jok belakang mobil Ramli.
“Lah, Bro, kalau kita semua di belakang, yang nyetir siapa?” tanya Ramli.
“Ah, pada nggak benar nih mikirnya,” omel Awan kesal sembari melompat ke depan, ke kursi kemudi.
Dari tempatnya duduk kini, ia bisa melihat ke beranda lantai dua. Adel masih berdiri di sana dan menatap ke arah mobil Ramli dengan mata menyipit tajam. Awan masih takjub memikirkan wanita itu akan menjadi calon istrinya. Rasanya seperti mimpi, tapi ini bukan mimpi.
Dalam sehari, kehidupannya berubah. Meski banyak hal terjadi hari ini, tapi semua berakhir menjadi keberuntungan Awan. Ia akan menikah dan memiliki istri yang cantik, tapi ia tak perlu melakukan kewajiban sebagai suami dan bahkan menerima uang dari istrinya. Tak hanya itu, ia akan diakomodasi tempat tinggal dan kendaraan.
Adel adalah jackpot-nya. Dalam sehari, Awan mendapatkan segalanya karena wanita itu. Dalam sehari, Awan seolah mendapatkan seluruh dunia. Berkat Adel. Meski wanita itu memiliki mulut pedas level seribu, kekejaman layaknya iblis, kejutekan tak terbatas, tapi dia juga membawa keajaiban dalam hidup Awan.
Awan masih menatap ke beranda ketika Adel berbalik dan masuk ke villa. Awan perlahan tersenyum. Mulai hari ini, ia tak perlu menghadapi para wanita-wanita yang menuntut perhatiannya. Mulai hari ini, ia akan menikmati hari-harinya sebagai Awan Cakrawala yang tak perlu lagi mengemis sesuap nasi pada kekasihnya.
Adel? Dia bukan kekasih Awan. Dia calon istrinya. Segera, menjadi istrinya. Awan tersenyum sambil mengangguk-angguk.
***
Adel menyimpan kontrak yang sudah ditandatangani Awan dan ketiga temannya di brankas di kamarnya. Setelahnya, ia duduk di tepi tempat tidur dan menghubungi nomor mamanya.
“Halo, Ma?” Adel berbicara begitu mamanya mengangkat telepon.
“Halo, Adel, kamu belum tidur?” Suara mamanya terdengar mengantuk.
“Aku bangunin Mama, ya?” sesal Adel.
“Nggak kok, Mama ketiduran pas nonton TV,” jawab mamanya. “Kenapa, Del? Kenapa kamu telepon malam-malam gini? Kamu ada masalah?”
Adel menarik napas dalam. “Ma, aku … mau kenalin calon suamiku ke Mama sama Papa.”
Hening. Tak ada jawaban selama beberapa saat.
“Ma?” panggil Adel lagi.
“O-oh … iya, kamu bilang … calon suami? Kamu … udah punya pacar?” Mamanya terdengar shock.
“Udah, Ma. Sama kayak Mama sama Papa dulu. Love at first sight.” Adel tersenyum getir di akhir kalimatnya. “Jadi … Mama bisa bantu aku ngomong ke Kakek, kan? Aku … pengen nikah sama orang yang aku cinta, Ma.”
Terdengar isakan pelan di seberang. Adel seketika panik. “Ma? Mama kenapa?”
“Nggak pa-pa, Adel. Mama cuma … bahagia. Mama bersyukur karena kamu akhirnya bisa menikah dengan orang yang kamu cinta,” jawab mamanya. “Kakek kamu itu keras kepala banget. Tapi, Mama akan bantu kamu ngomong ke kakekmu. Mama akan melakukan apa pun agar kamu bisa bahagia dengan orang yang kamu cinta, Nak. Mama cuma ingin kamu bahagia, Adel.”
Adel mengernyit. Dalam hati, ia merasa sangat bersalah. Namun, setidaknya Adel bisa memberikan satu hal yang diinginkan mamanya darinya. Adel bahagia.
“Makasih, Ma. Besok malam, Adel akan pesan tempat di restoran buat makan malam bareng,” ucap Adel.
“Kenapa nggak di rumah aja, Del? Biar Mama masakin. Kamu tanyain aja apa makanan kesukaan calon suamimu,” pinta mamanya.
“E-eh, itu … dia masih malu gitu, Ma. Mungkin ke rumahnya next time aja, ya?” bujuk Adel.
“Oh … iya, deh, nggak pa-pa. Nanti Mama kasih tahu ke papamu. Papamu masih di rumah sakit. Papa pasti senang kalau tahu. Astaga, Adel … Mama bahagia banget dengar kamu menemukan orang yang kamu cintai. Itu pun, cinta pada pandangan pertama, seperti Mama sama Papa dulu,” celoteh mamanya. “Ya udah, kamu buruan tidur dan istirahat. Sampai ketemu besok ya, Sayang.” Mamanya melayangkan kecupan sayang lewat telepon, lalu mengakhiri panggilan.
Adel tersenyum sembari menurunkan ponsel dari telinganya. Tentu saja. Kisah cinta pada pandangan pertama akan selalu berhasil jika menghadapi mamanya. Karena mama dan papanya dulu juga jatuh cinta pada pandangan pertama. Di kampus. Ketika mereka berlari bersama di bawah hujan. Seperti kisah dalam film atau novel romantis. Sayangnya, bukan itu yang terjadi pada Adel.
Kisah cinta Adel tidak ber-genre romantis, tapi mungkin komedi, tragedi, atau keduanya. Romantis tidak ada di dalamnya.
***
Pagi itu, Awan terbangun karena gedoran keras di pintu kamar kosnya. Awan masih sangat mengantuk karena semalam ia begadang dengan ketiga temannya di kosnya. Mereka merayakan keberuntungan Awan dengan memborong berbagai macam makanan, dari steak sampai potato chip. Semalam mereka benar-benar pesta makanan sambil memainkan play station yang dibawa Ramli dari rumahnya. Terlebih, hari ini hari Sabtu, jadi Nugie dan Wiki tidak perlu pergi bekerja.
Suara gedoran keras di pintunya berlanjut. Wiki mengerang protes. “Siapa sih, nggedor pintu udah kayak mau gerebekan aja!” omelnya.
Awan beranjak duduk, simpati menatap ketiga temannya berserakan di lantai kamar kosnya, bercampur sampah makanan sisa semalam. Ramli bahkan tertidur dengan garpu di tangannya. Salah melayang bisa-bisa mereka bangun dengan korban jiwa pagi ini.
Awan berdiri dengan sempoyongan. Ia menoleh ke arah jam dinding, mengucek matanya untuk melihat angka yang tampak kabur. Masih jam enam pagi. Awan berjalan ke arah pintu, tapi karena keseimbangannya goyah, ia menginjak perut Nugie, membuatnya menjerit kesakitan dan langsung terbangun sambil misuh-misuh.
“Sori, Bro, lo ngehalangin jalan. Pindah sono, ke kolong tempat tidur,” usir Awan.
Nugie menendang kaki Awan kesal, membuat Awan oleng dan menabrak pintu dengan keras. Awan sudah akan balik menendang Nugie, tapi Nugie sudah menyeret tubuhnya menjauh, lalu memanjat naik ke atas tempat tidur.
Awan menegakkan tubuh sebelum membuka kunci pintu kamar kos dan membukanya. Begitu Awan membuka pintu, matanya silau karena cahaya yang terlalu terang meski ini masih pagi.
“Geez, you smell like s**t!”
Kata-kata tak berakhlak itu … suara sinis itu …
Awan menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas, lalu mengucek matanya dan mencondongkan tubuh ke depan untuk mendapat pandangan lebih jelas, tapi detik berikutnya, ia didorong keras hingga terjungkal ke lantai kosnya. Seketika, nyawa Awan berkumpul keseluruhan di tubuhnya.
Awan melotot ketika melihat seorang wanita dengan stelan rok selutut warna putih tulang dan atasan blouse sifon warna biru muda. Di bahunya tersampir blazer warna senada dengan roknya, begitu pun dengan heels tingginya yang tajam dan bisa membunuh siapa pun yang diinjaknya.
“Siapa, Bro?” tanya Ramli yang akhirnya terbangun dan merangkak ke pintu. Detik ketika Ramli melihat wanita itu, Ramli menjerit histeris dan melompat mundur. “Pencabut Nyawa!”
Wanita itu mengangkat alis mendengar itu. “Sounds good for me,” katanya santai. Ia lalu menatap Awan tajam. “Waktumu sepuluh menit. Keluar dalam keadaan bersih atau aku akan nyuci kamu di pencucian mobil.”
Seumur hidupnya, belum pernah Awan diancam akan dimandikan di tempat pencucian mobil. Itu pun istilahnya ‘dicuci’.
“Sepuluh menit,” ulang wanita itu sebelum berbalik dan melangkah keluar gerbang dengan langkah angkuh yang anggun.
“Bro, bayangin kalau tiap hari lo dibangunin bini lo kayak gini. Apa tidak kaget jantung Anda?” ucap Nugie yang sudah merangkak ke pintu juga.
“Normalnya bini bangunin suami tuh, dikecup keningnya. Ini malah mau dimandiin di pencucian mobil,” gerutu Awan. “Awas, gue mau mandi sebelum gue diseret ke pencucian mobil dan dipermalukan di sana.”
Ketiga temannya meringis iba memberinya jalan. Jalan menuju wanita iblisnya, calon istrinya.
***