Bab 5 Menjadi Calon Suami Sempurna

1667 Words
  Adel langsung bersin ketika Awan masuk ke mobilnya dan menyebarkan aroma aneh yang menyengat. “Aku udah mandi, ya!” sembur Awan. Adel menggeleng, tangannya mengibas pada Awan. “Kamu turun dulu,” usirnya. “APA?!” Awan berteriak. “TURUN!” balas Adel dalam teriakan juga. Awan menggerutu, tapi menurut dan turun. Adel membuka semua jendela, membiarkan aroma parfum pria itu keluar dari mobilnya. Entah parfum apa yang digunakannya. Awan tampak kesal berdiri di luar mobil. Adel meraih ke dashboard mobilnya dan menyambar parfum pria yang biasanya ia simpan untuk jaga-jaga. Papanya terkadang suka lupa memakai parfum ketika keluar dari rumah sakit dan akan pergi menemui kerabat atau rekan di luar. Aroma rumah sakit selalu menguar dari papanya yang seharian berada di rumah sakit. Begitu pun mamanya. Meski mamanya lebih memperhatikan tentang hal itu. Adel lalu menjentikkan jari ke arah Awan, menarik perhatiannya. Begitu pria itu menoleh, Adel melempar parfum di tangannya. Awan menangkapnya. “Pakai itu,” tuntut Adel. “Ini apa?” Awan bertanya tak suka. “Kamu bisa baca sendiri,” desis Adel kesal. Benar saja, pria itu membaca tulisan di botol parfumnya, lalu mendengus pelan dan menyemprotkan parfum itu ke tubuhnya. Setelahnya, ia mencium kemeja belel yang dikenakannya, lalu kaus kusam di balik kemeja yang tak dikancingkan itu juga. Baru setelahnya, ia masuk ke mobil Adel. Setelah yakin aromanya tidak lagi mengganggu, Adel menutup jendela mobilnya dan menghela napas lega. “Kamu pakai parfum apa, sih?” protes Adel tanpa tedeng aling-aling. “Nggak tahu. Tadi Ramli yang nyemprotin. Baunya agak kayak … baygon gitu, ya?” Awan menggaruk-garuk kepalanya canggung. “Kamu parfuman pakai baygon?” Adel mendelik. Awan berdehem. “Yang penting kan, wangi. Habis, parfumku habis.” Adel memijat pelipisnya. Kenapa harus pria seperti ini yang menjadi calon suaminya? Adel menarik napas dalam, menenangkan diri. Tenang, ini hanya sementara. Hanya setahun. Lagipula, yang terpenting adalah, pria ini bisa dibelinya, bisa diatur sesukanya. Tak ada yang lebih baik dari ini. Adel tahu, sejak pertama ia melihat pria ini, sejak ia tahu hidup menyedihkan pria ini, pria ini adalah orang yang tepat untuk menjadi suaminya. “Kamu simpan parfum itu. Hari ini kita harus pergi ke banyak tempat,” kata Adel sembari melajukan mobilnya. “Ke mana?” tanya Awan sambil mencium-cium parfum di tangannya. “Pertama, salon dan butik langgananku. Kamu perlu dipermak,” Adel berkata. Ia menoleh sekilas. “Wajahmu nggak jelek-jelek banget, tapi tetap aja, kamu butuh perawatan.” “Bukan nggak jelek-jelek banget, tapi ganteng banget. Tolong kalau ngomong sesuai fakta,” protes Awan. “Seleraku nggak serendah itu,” balas Adel. “Trus, kenapa kamu mau nikah sama aku? Aku bukan seleramu, kan?” sambar Awan. “Kamu lupa, apa yang udah kamu tanda tangani kemarin? Harusnya kamu udah sadar sejak awal pas aku nawarin kamu uang. For your information, aku bukan cuma nggak tertarik sama tubuhmu, sama wajahmu juga. You’re not my style,” tandas Adel. Telinga Adel menangkap desisan u*****n Awan. “Kamu bilang apa barusan?” tanya Adel. “Sori, nggak ada siaran ulang,” balas Awan sinis. Adel mendengus. Seolah ia peduli. “Tapi, emangnya hari ini ada acara apa? Kita nggak harus nikah hari ini, kan?” cibir Awan. “Meskipun aku pengen kita nikah secepatnya biar orang-orang berhenti ganggu aku dengan nyodorin kandidat calon suami, tapi kita nggak bisa. Ada banyak yang harus dipersiapkan. Dan saat ini, kamu masih jauh dari kata siap buat ke pernikahan. Meski aku beli pernikahan ini, tapi aku pengen nunjukin pernikahan yang sempurna ke semua orang,” urai Adel. “Malam ini, kamu cuma akan ketemu orang tuaku.” “Ketemu orang tuamu? Malam ini? Secepat ini?” kaget Awan. Adel mengangguk santai. “Omong-omong, alasan kita nikah adalah cinta pada pandangan pertama,” Adel berkata. “Orang tuaku penggemar kisah cinta pada pandangan pertama, jadi mereka akan langsung percaya itu.” “Jatuh cinta pada keributan pertama di versiku,” sebut Awan. Adel mengerutkan kening. “Kemarin aku keserempet mobilmu, kita saling lihat-lihatan dan jatuh cinta.” “Okay.” Cerita itu cukup meyakinkan. Banyak kejadian di film seperti itu. “Tentang orang tuaku, mereka berdua dokter. Mereka suka cerita-cerita berbau perikemanusiaan.” “Hah? Cerita macam apaan, tuh?” “Semacam ngasih makan kucing di pinggir jalan, melompat di depan mobil buat nyelamatin anak kecil, suka bagi-bagi ke sesama, something like that,” terang Adel. “Ha ha! Aku mana sempat berbagi, yang ada butuh dibagi,” cibir Awan. “Aku nggak nyuruh kamu ceritain kisah aslimu. Kamu bisa mengarang bebas sesuai tema yang aku kasih,” ketus Adel. “Dan jangan ngomong macam-macam tentang kehidupan menyedihkanmu. Apalagi tentang kamu jadi benalu. Orang tuaku paling benci benalu dan orang yang memanfaatkan kebaikan orang lain.” Awan berdehem. “Trus, aku harus ngomong apa tentang keluargaku dan pekerjaanku?” “Bilang aja habis dipecat dari pekerjaan mana gitu dan sekarang pengangguran. Atau bilang aja, kamu bangkrut karena terlalu sering bagi-bagi uangmu ke orang lain,” sebut Adel. “Apa aku harus bohong sampai kayak gitu?” Awan terdengar tak suka. “Kamu udah tanda tangan kontrak,” Adel mengingatkan. “Boleh aku kasih alasan lain?” Awan meminta. “Apa?” “Aku diusir dari rumah karena mutusin ngejar impianku, tapi aku masih pengangguran dan berjuang ngewujudin mimpiku,” sebut Awan. Adel berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Itu lebih menyentuh. Mamaku pasti suka. Oh iya, pastiin keluargamu nggak datang ke pernikahan kita. Jangan sampai ada keluargamu yang datang, oke?” “Kalau cuma adikku …” Adel menghela napas. “Pastiin aku nggak harus buang-buang waktuku nemuin adikmu di pesta pernikahan kita nanti.” “Ya.” Hanya itu jawaban Awan. “Tapi, orang tuamu beneran nggak akan datang, kan?” Adel memastikan. “Ibuku udah meninggal. Ayahku nikah lagi dan nggak peduli sama kehidupanku setelah aku pergi dari rumah. Aku hidup atau mati pun dia nggak peduli. Makanya aku hidup kayak gini. Kamu pasti tahu tentang bisnis ayahku. Meski gitu, aku nggak pernah minta sepeser pun dari ayahku. Mending aku ngemis daripada minta uang ke ayahku,” Awan menjawab dengan nada dingin. Adel melirik pria itu sekilas. “Ada bagusnya juga kamu kabur dari rumah dan nggak berhubungan baik sama ayahmu. Jadi, aku nggak perlu repot ngurus itu juga,” ucapnya. Awan hanya menjawab dengan, “Hm.” Setelahnya, tak ada lagi yang berbicara sampai mobil Adel berhenti di halaman butik langganannya. Adel turun lebih dulu, lalu Awan juga turun. Adel memimpin mereka masuk ke butik itu. “Lucy!” panggil Adel. Seorang wanita dengan dandanan menor keluar menyambutnya dengan senyum lebar. Lucy langsung memeluk Adel antusias. “Siska semalam telepon aku, katanya pagi ini kamu akan datang ke sini. Tapi, aku nggak tahu kamu akan datang sepagi ini,” ucap Lucy. “Urgent,” jawab Adel. “Tolong lakuin sesuatu sama dia.” Adel mengedik ke arah Awan yang berdiri di belakangnya. Lucy melongok ke belakang Adel, keningnya berkerut. “Who is he?” tanyanya. “Calon suamiku. Nanti malam kami mau ketemu orang tuaku. Tolong, lakuin yang terbaik,” kata Adel. Lucy ternganga. Ia menatap Adel dan Awan bergantian. “Wow! Adelia, are you serious right now? You’re gonna getting married? Wow!” “I’m so serious, so please help me. He needs so much help right now, as you can see.” Adel meringis. Lucy tersenyum geli. “Jelas dia bukan cowok yang dijodohin sama kamu. Kamu nemuin cinta sejatimu sendiri?” Adel mengangguk cuek. “He’s my prince charming. So, make him like one,” pesan Adel. Lucy mengangguk mantap, lalu memanggil karyawan-karyawannya. Adel berbalik menatap Awan. “Aku tunggu di atas,” Adel berkata, lalu tanpa menunggu jawaban Awan, ia berbalik dan pergi ke arah tangga, pergi ke ruang tunggu di lantai atas. *** Awan tak tahu berapa lama ia dipermak oleh orang-orang ini. Ia tak percaya, ia bahkan harus menjalani perawatan spa. Jika ketiga temannya tahu, Awan akan ditertawakan habis-habisan. Setelah entah berapa jam melewati siksaan itu, Awan akhirnya dibebaskan. Ketika seorang karyawan menyeret kaca seukuran badan yang beroda ke depan Awan, ia mengerutkan kening melihat sosok di dalam kaca itu. Itu dirinya, Awan masih bisa mengenali wajahnya. Biasanya, wajahnya sudah tampan. Ganteng maksimal. Namun, saat ini wajahnya terlihat glowing, shining, shimmering, splendid seperti lagu Aladdin. Tak hanya itu, rambut ikalnya yang biasanya berantakan dan hanya rapi saat berkencan, kini dipotong dengan rapi dan ditata sedemikian rupa, membuatnya tampak lebih dewasa dan berwibawa. Awan diam-diam mengagumi pesona barunya. Namun, itu belum selesai. Saat ini, ia mengenakan pakaian yang berbeda dari yang ia kenakan biasanya. Jika sehari-hari ia hanya memakai kaus belel atau jeans usang yang berlubang di sana-sini, atau yang paling rapi, memakai kemeja dikancing rapi, jeans yang tidak berlubang dan rambut ditata modal gel rambut. Saat ini, ia memakai celana warna hitam yang nyaman dipakai dan pas di tubuhnya. Celana itu dipadukan dengan kemeja putih lengan panjang yang dilapisi outer tipis berwarna abu-abu gelap. Meski Awan mengenali dirinya, tapi ia juga merasa seolah tak mengenali dirinya. Ia tampak … berbeda. Ia tampak … tak seperti dirinya. Awan mendengus pelan. “Silakan ke atas, Pak, Bu Adel sudah menunggu di atas,” ucap salah seorang karyawan butik. Awan mengangguk. Ia pun pergi ke tangga, menuju tempat Adel. Dalam perjalanannya, ia menyadari, kini hidupnya bukan lagi miliknya sepenuhnya. Seperti yang Adel katakan padanya kemarin, Awan sudah dibeli oleh wanita itu. Jadi, mulai detik ia menandatangani kontrak itu, ia sudah sepenuhnya milik Adel. Wanita itu berhak mengubah Awan sesuai keinginannya. Awan tak lagi punya hak atas dirinya sendiri. Yang Adel butuhkan bukan Awan sebagai calon suaminya, tapi yang wanita itu butuhkan adalah calon suami yang sempurna. Untuk itu, Awan harus menjadi calon suami yang sempurna untuk Adel. Hanya itu alasan Adel memilihnya. Karena Awan bisa dibeli. Untuk menjadi calon suami yang sempurna. Sesuai harga yang dibayar Adel. Dan itulah harga yang harus dibayar Awan karena telah menjual tubuh dan jiwanya pada iblis seperti Adel. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD