Bab 6 Iblis Penggoda

1795 Words
Adel mendongak dari majalahnya ketika matanya menangkap sepatu hitam yang berhenti di depannya. Adel mengangkat tatapan dari majalahnya dan akhirnya melihat Awan yang sudah selesai menjalani permaknya. Adel mengamati penampilan pria itu dengan cermat dari atas ke bawah. Rambutnya, oke. Wajahnya, oke. Pakaiannya, oke. Sempurna. Seperti yang ia inginkan. Adel mengangguk puas dan berdiri. Ia mengecek jam tangannya. “Kita makan siang dulu, setelah itu kita belanja,” Adel memberitahu Awan. “Kita belum sarapan,” Awan berkata dengan nada kesal. “Bukannya tadi udah ada yang ngasih kamu roti sama s**u, ya?” heran Adel. “Itu mana cukup buat sarapan? Nggak ada nasinya, tahu!” omel Awan. Adel berdehem. “Oke, kamu bisa makan sepuasmu habis ini. Kamu pengen makan apa?” Awan mendengus kesal. “Setelah seharian kamu bikin aku kerja, cuma itu yang kamu ucapin?” Adel mengerutkan kening bingung menatap pria itu. “Trus, kamu berharap aku ngomong apa? Bonus? Atau apa? Ngomong yang jelas!” Awan melengos sebal, menolak bicara pada Adel. Adel mendengus tak percaya. “Ini kamu lagi ngambek? Kamu pikir, aku akan ngikutin acara ngambekmu ini?” Awan masih tak berbicara. Adel menghela napas, lalu menatap sekeliling. Untungnya di ruang tunggu VIP itu hanya ada mereka berdua. Adel mendekat pada Awan dan berkata pelan, “Aku bisa ngehadapin ngambekmu, protesmu, sikap kasarmu, makianmu, atau apa pun itu, asal kita cuma berdua. Tapi, di depan orang lain, kita adalah pasangan yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Make sure you act like one.” Adel lalu berbalik dan hendak pergi, tapi ia merasakan Awan menyambar tangannya dan menarik Adel ke arahnya, membuat Adel mendarat di pelukannya. Adel tertegun mendapati jarak wajah mereka begitu dekat. Tatapannya jatuh ke bibir Awan ketika pria itu berbicara, “Aku bakal nunjukin ke orang-orang kalau aku setengah mati jatuh cinta sama kamu. Justru kamu harusnya lebih khawatirin dirimu sendiri. Pastiin kamu juga nunjukin kalau kamu juga jatuh cinta ke aku.” Ah, benar juga. Adel sempat melupakan itu. Permainan ini bukan untuk satu orang. Benar. Mereka harus saling mencintai, meski hanya pura-pura. *** Awan menahan napas ketika tiba-tiba Adel menyentuh pipinya dengan tangan kirinya yang bebas, lalu wanita itu berjinjit, mendekatkan bibir mereka dan memiringkan wajah. Awan mengernyit ketika wanita itu berbicara, “I can do it better than you, don’t worry.” Awan menelan ludah. Matanya terpaku pada bibir merah wanita itu. Bagaimana rasanya? “Ehm!” Deheman itu membuat Adel segera menarik diri dari Awan. Awan pun seketika tersadar dan menoleh ke asal suara. Di pintu ruang tunggu VIP ada Lucy yang tersenyum menggoda Adel. Sepertinya Adel sengaja melakukan itu karena keberadaan Lucy. “Maaf mengganggu kemesraan kalian,” kata Lucy sembari memasuki ruangan. “Hampir aja kami kebablasan di sini,” balas Adel, membuat Awan tersedak kaget. Adel menoleh padanya, tersenyum dan mengusap wajah Awan dengan lembut. Awan nyaris mengerang ketika tangan wanita itu jatuh ke lehernya. “Nanti kita lanjutin ya, Sayang,” ucap Adel dengan nada menggoda, diikuti kerdipan. Tubuh Awan seketika terasa panas. Wanita iblis ini …. Suara tawa Lucy bagai air dingin yang mengguyur hawa panas di tubuh Awan. Awan berdehem dan berdiri di samping Adel, merangkul pinggang wanita itu. Oh, Awan suka keberadaan tangannya di pinggang wanita ini. “Aku cuma mau mastiin kalau kamu suka hasil akhirnya,” Lucy berbicara pada Adel. “Kalau ini, sesuai style-mu, kan?” Lucy mengedik pada Awan. Awan mengernyit. Style Adel. Ya, Awan akan terus berubah menjadi seperti yang Adel inginkan. Awan tak bisa protes tentang itu. Adel mengangguk puas. “Thanks, Lu,” ucapnya. “Aku pergi dulu. Dia udah lapar soalnya.” “Ngelihat apa yang hampir terjadi di sini tadi, aku bisa lihat kalau dia udah ‘lapar’ banget,” balas Lucy dengan senyum menggoda. Adel tergelak, lalu ia melepaskan diri dari Awan untuk memeluk Lucy sekilas, lalu mengedik kecil pada Awan, mengajaknya pergi dari sana. Awan menurut dan mengikuti wanita itu. Namun, begitu mereka masuk ke mobil Adel, hal pertama yang diucapkan Adel adalah, “No skinship. Apa kamu lupa kontraknya?” “Tapi, tadi itu di depan orang lain. Aku harus …” “Nggak ada pengecualian,” potong Adel tajam. “Cuma aku yang boleh nyentuh kamu, tapi kamu nggak boleh nyentuh aku, dalam keadaan apa pun.” “Kenapa gitu?” “Karena aku udah bayar kamu dan kamu udah tanda tangan kontrak. Ini peringatan pertama. Yang berikutnya, aku akan nuntut kamu kalau kamu berani nyentuh aku,” ucap Adel penuh peringatan. Awan menghela napas, lalu membuang tatapan keluar jendela. “Berani-beraninya kamu nyentuh aku,” desis Adel. “Kamu cuma harus nunjukin ke orang-orang kalau kamu mencintai aku dari tatapanmu, dari perhatianmu. Yang lainnya, biar aku yang urus.” Awan mendengus teringat bagaimana Adel dengan mudah menggodanya. “Apa kamu punya pacar?” Tak ada jawaban. Awan menoleh pada wanita itu dan Adel mengerutkan kening. “Kamu punya pacar?” ulang Awan. “Nggak butuh,” tepis Adel. Awan tertawa kering. “Trus, selama ini kamu nggak pernah punya pacar?” “Nggak pernah. Apa fungsinya?” Adel terdengar begitu meremehkan. Namun, Awan mendengus pelan, tak percaya. Mengingat bagaimana wanita itu menggodanya dengan mudah tadi. “Apa maksud reaksimu itu?” tuntut Adel. “Kamu kelihatan udah expert banget godain cowok,” sebut Awan. Adel membuka mulut, seolah akan menjawab, tapi wanita itu tiba-tiba menarik tangan Awan mendekat padanya, lalu satu tangannya terangkat ke rambut Awan, meremas dan mengacak rambutnya. Sementara wajahnya kini begitu dekat dengan wajah Awan, bibir mereka nyaris bersentuhan dan wanita itu memiringkan wajahnya. Awan menelan ludah. Tatapannya turun ke bawah. Bibir itu. Hanya tiga senti lagi, Awan bisa merasakan bibir itu. Namun, perlahan dari belakangnya, Awan merasakan angin berembus ke punggungnya. Ketika Awan hendak berbalik, Adel menahan kepalanya. Mengejutkannya, wanita itu menyandarkan dagunya di bahu Awan. “Kenapa, Lu?” tanya Adel. “Kamu ngeganggu aku buat kedua kalinya.” Awan mendengar tawa Lucy di belakangnya, sementara tangan Adel masih di rambutnya, kali ini mengusap rambutnya lembut. “Sorry, Del. But he left his phone behind,” ucap Lucy. “Oh, okay. Thank you.” Adel mengulurkan tangan kanannya yang tadi ada di pintu mobilnya. Jadi, wanita itu yang membuka jendela mobil. Ia juga melakukan pose ini karena kedatangan Lucy. Iblis penggoda. Sepeninggal Lucy, Adel menutup kembali jendela mobilnya. Wanita itu menghela napas lega. Awan bisa merasakan panas napas wanita itu di lehernya, membuat Awan kesulitan bernapas. Sampai Adel menarik diri dan melemparkan ponsel ke pangkuan Awan. Wanita itu menatap Awan kesal. “Untung kontraknya aku yang bawa. Kalau nggak, bisa-bisa kamu ninggalin kontraknya sembarangan,” desis wanita itu. Awan berdehem. “Kamu bilang, kamu nggak pernah punya pacar. Pembohong.” Adel mengerutkan kening. “Kenapa kamu mikir kalau aku bohong?” Awan tak mau menjawab dan memundurkan tubuh untuk duduk seperti semula di kursinya, lalu membuang muka ke jendela. “Boleh aku bilang sesuatu ke kamu?” Adel berbicara. Awan tak menjawab. “You’re 26 but you act like a 10 years old, do you know about that?” Pertanyaan Adel itu membuat Awan menoleh pada wanita itu, menatapnya tak terima. “Cuma anak sepuluh tahun yang ngambek kayak yang kamu lakuin gitu,” lanjut Adel dengan nada meledek. Wanita itu lantas memperbaiki duduknya dan menghadap ke depan, lalu melajukan mobilnya meninggalkan butik. Dasar iblis penggoda dengan mulut pedas level seribu. Lihat apa yang akan dia katakan jika Awan menciumnya. Well, mungkin semacam tuntutan atau pengacara lagi. Mengingat wanita itu menolak disentuh Awan dalam situasi apa pun. Menyebalkan. Ini tidak adil. *** “Kamu mau makan di mana?” tanya Adel setelah lima belas menit Awan mendiamkannya. “Ke kafe waktu itu. Tempat kita pertama ketemu,” jawab Awan tanpa menoleh padanya. Adel terkejut mendengar itu. “Ngapain kita makan di sana?” Adel tak setuju. “Aku pengen.” Awan masih tak menatap Adel ketika menjawab. “Kamu mau ngapain pergi ke sana?” tuntut Adel. “Mau ngecek si Nugie-Nugie itu masih kerja di sana apa nggak,” jawab Awan. “Buat apa?” “Jangan pecat dia,” pinta Awan. Adel mendengus. “Itu urusanku.” Awan menoleh pada Adel dengan tatapan kesal. “Makanya, lain kali jangan sembarangan ikut campur urusan orang lain. Lihat apa yang terjadi. Kamu malah bikin masalah buat orang lain, kan?” sebut Adel. Awan mendengus kasar, lalu kembali melengos. Kekanakan sekali. Bahkan, ketika mereka tiba di A Café, pria itu turun lebih dulu. Adel hanya mendengus melihatnya. Ia melepas seat belt, lalu mengambil tasnya di jok belakang dan hendak turun ketika pintu di sebelahnya terbuka. Adel menoleh kaget melihat Awan membuka pintu untuknya. “Ngapain kamu di sini?” “Ngelakuin tugasku sebagai orang yang lagi jatuh cinta sama kamu,” jawabnya dingin. Adel mengangguk puas, lalu turun dari mobil dan membiarkan Awan menutup pintu mobil untuknya. Mereka masuk ke kafe bersama-sama. Lalu, dari ruang manajer, Nugie muncul tergopoh menghampiri mereka. “Bu Adel,” sapa Nugie sopan. Adel bisa merasakan tatapan Awan di sebelahnya, tapi Adel tak membalas tatapan pria itu dan berbicara pada Nugie, “Kenalin, ini calon suamiku. Berkat kamu, aku bisa nemuin cinta sejatiku. Mulai bulan ini, gajimu akan kunaikkan.” Nugie tampak terkejut, lalu menoleh pada Awan, dan kembali menatap Adel dengan bingung. “Bu Adel … serius?” Adel mengangguk. “Kami jatuh cinta pada pandangan pertama,” Adel menjawab. “Kayaknya itu udah nurun dari keluargaku. Orang tuaku juga kayak gitu.” Nugie tersenyum lebar dan mengangguk. “Selamat, Bu, saya senang mendengarnya,” ucapnya tulus. “Bu Adel nggak perlu naikin gaji saya, kok. Saya …” “Calon suamiku khawatir sama kamu. Dia agak kesal karena aku sempat bersikap kasar ke kamu waktu itu.” Adel menoleh pada Awan. “Sekarang, kamu nggak marah lagi, kan?” Awan ternganga, terkejut, tak percaya. Sebelum perlahan ia menutup mulutnya dan tersenyum seperti i***t. Pria itu mengangguk. “Makasih, Adel,” ucapnya sungguh-sungguh. Adel mengernyit. Ini pertama kalinya pria itu memanggil namanya. “Terima kasih, Bu Adel, Pak …” Nugie menghentikan kalimatnya ragu. “Awan.” Awan menyebutkan namanya. “Terima kasih, Pak Awan,” lanjut Nugie. “Kami mau makan siang di sini,” Adel mengumumkan. Nugie tampak antusias. “Sebutkan saja, Bu Adel dan Pak Awan mau makan apa, biar saya siapkan.” “Aku nasi goreng satu dan satu makanan favorit Adel,” ucap Awan. Adel mendengus dalam hati. Sok tahu sekali pria ini. Seolah ia tahu tentang Adel. “Tapi … Bu Adel nggak pernah makan di sini, Pak,” ucap Nugie pelan. Adel berdehem. “Aku juga nasi goreng,” ucapnya. Ia menatap Awan. “Ayo duduk dulu.” Awan tersenyum dan mengangguk. Tak ada lagi tanda-tanda ngambeknya. Dasar bocah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD