bc

Om Gandi CEO Tampanku

book_age18+
12.4K
FOLLOW
94.6K
READ
billionaire
CEO
drama
sweet
bxg
city
first love
like
intro-logo
Blurb

“Aku, sudah lama mencintaimu, Om.” ~ Bella Rusadi.

“Tidak bisa Bella, seleramu memang tinggi tapi maaf kamu bukan tipeku!” sahut Gandi Permana kejam.

~~~~~~•••••~~~~~~

Bella, gadis berusia 17 tahun, baru saja kelas 3 SMA. Dia terpaksa menyatakan cintanya pada pria yang 18 tahun lebih tua darinya.

Ya, karena hanya Gandi permana, yang bisa membuatnya terpesona dan jatuh cinta.

Namun, pria itu menolak cinta Bella, karena hanya menganggapnya sebagai seorang adik.

Gandi paham betul sifat keras kepala Bella, Ia terpaksa menolaknya dengan cara yang kejam.

Apa yang akan di lakukan Bella? Akankah dia menyerah? Atau tetap kekeh memperjuangkan rasa cintanya pada Gandi?

===

“Bella aku kangen kamu!” ucap Gandi meraih Bella dalam pelukannya.

“Tunggu Om!” cegah Bella. Ia baru sadar telah meninggalkan ponselnya di sofa ruang tengah. Bisa gawat jika Rena mengambilnya.

“Ada apa?” tanya Gandi mengurungkan niatnya membawa Bella ke pangkuannya.

“Aku akan mengambil ponsel dulu!” izin Bella.

Gandi mengangguk. “Cepat ke sini dan pastikan Rena tidak melihatmu masuk ke ruang ini!” pinta Gandi.

“Siap Om!” jawabnya.

Bella mulai bergerak keluar dari ruang perpustakaan. Ia melangkah ke ruang tengah.

“Syukurlah,” ia meraih ponsel dan melihat segelas minuman. Tepat sekali karena ia merasa haus.

Glek.

Glek.

Glek.

Tanpa berpikir panjang Bella menghabiskan minuman yang di buat Rena khusus untuk Gandi. Bahkan Bella meneguknya hingga tetes terakhir.

Kemudian, ia kembali ke ruang perpustakaan untuk menemui Gandi.

Suatu kejadian, menyadarkan Gandi, bahwa Bella sangat berarti baginya.

Saat hari itu tiba masihkah ada rasa cinta untuk Gandi? Atau kali ini Gandi yang harus berusaha mendapatkan cintanya kembali?

chap-preview
Free preview
❤ 1 || Cinta yang Terpendam
Part 1 Gandi Permana, pria berusia tiga puluh lima tahun. Dia sedang merasa sedih karena gugatan cerai yang baru saja dilayangkan istrinya ke pengadilan agama. Ia terus saja meneguk minuman keras yang ada di hadapannya. Hingga satu per satu botol alkohol itu menjadi kosong. Namun, Gandi masih terus saja merasakan kehampaan di dalam hatinya. Di sebuah unit apartemen, Gandi mengurung dirinya selama dua hari. Tidak pergi bekerja, tidak menemui putrinya bahkan Ia lupa mengirim uang pada Bella. Ya, Bella adalah gadis malang yang sepuluh tahun yang lalu dititipkan kedua orang tuanya pada Gandi. Saat itu, Gandi rekan dari , Devano dan Cella. Orang tua Bella yang meninggal dalam kecelakaan mobil beruntun. Sejak saat itu, Gandi merasa harus bertanggung jawab pada Bella. Sudah sepuluh tahun, Gandi merawat Bella. Menyekolahkan, memberi uang saku, membelikan pakaian. Bukan hanya itu, Gandi juga berjanji pada dirinya sendiri akan terus merawat Bella hingga gadis itu menikah dengan pria pilihannya kelak. Suara bel pintu berbunyi. Gandi masih diam tak bergeming sedikit pun. Suara bel berbunyi untuk kedua kalinya. Gandi, terpaksa berdiri dari duduknya. Ia melangkah gontai menuju ke arah pintu. Merasa kesal siapakah kiranya yang berani menggagunya. "Siapa yang berani menggangguku!" teriak Gandi sembari menarik handle pintu. Bella bungkam, Ia terkesiap. Ini pertama kalinya Ia di bentak oleh Gandi. Orang yang sangat di hormatinya. "Ma ... Maaf, Om!" lirih Bella menggerakkan satu kakinya melangkah mundur. "Oh, Kamu, sini masuk!" suruh Gandi berusaha menahan dan mengendalikan emosinya. "Tidak, Om, aku bisa datang lagi nanti atau besok," ucap Bella gemetar. Tak terlintas dalam pikirannya akan mendapat teriakan menakutkan dari pria berwibawa itu. "Masuklah, jangan membantah. Ini awal bulan, kamu harus mengambil uang sakumu jika tidak, satu bulan penuh kamu bisa kelaparan di jam makan siang!" kata Gandi datar. Pria itu meraup wajahnya kasar berusaha menyegarkan indra penglihatannya. Gandi membuka pintu lebar-lebar agar Bella mau masuk ke dalam rumah. Bella mengekor, mengikuti setiap langkah Gandi dengan pelan. Ia menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Ini masih jam dua siang, tetapi tirai masih dalam keadaan tertutup. Lampu ruangan yang sengaja di matikan, membuat suasana semakin gelap. Hanya ada sedikit cahaya matahari yang masuk dari celah tirai yang sedikit terbuka. "Om baik-baik saja kan?" tanya Bella lirih. Ia melirik ke arah pergelangan tangan dan memastikan bahwa waktu masih jam 2 siang. “Ya aku baik-baik saja, memangnya kenapa?" Gandi bertanya balik dengan suara berat khasnya. "Izinkan aku lebih lama di sini, aku akan membersihkan tempat ini. Setelah itu, baru aku akan pergi!" ucap Bella. Ia berjalan ke arah tirai membukanya satu persatu. Hingga cahaya dari luar masuk melalui jendela. Tak lupa Ia membuka ventilasi, untuk mengurangi pengap. Gandi melihat sekilas, tidak ada alasan untuk melarangnya. Ia membiarkan Bella untuk membuka semua tirai dan memperlihatkan dengan jelas, betapa berantakan dan kotornya meja yang berada di ruang tengah itu. Gandi masuk ke dalam kamar mencari dompet lalu mengambil sejumlah uang dan memasukkannya pada amplop. Sesuai dengan jatah bulanan Bella. Kemudian pria itu kembali berjalan ke ruang tengah. "Ini uang sakumu!" ucap Gandi, menaruh amplop berwarna cokelat, di atas meja. Lalu dia pun kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa. Bella, menyapukan pandangan. Kedua manik matanya tertuju pada meja yang sangat berantakan. Ada beberapa botol alkohol kosong yang berserakan dan juga gelas-gelas kotor yang tak beraturan. Banyak juga puntung rokok dan bekas korek yang berantakan. Bella menelan ludah, lalu menggeleng pelan. Gadis itu memutuskan untuk, membersihkan meja. "Kamu pulang saja, aku bisa mengurusnya sendiri," ucap Gandi tegas. "Tidak Om, aku akan pergi setelah membereskan semuanya," kekeh Bella mulai memasukkan botol kosong ke dalam tempat sampah. Sedangkan, gelas kotor mulai Ia bawa ke dapur yang berada tidak jauh dari ruang tengah. Pria itu beranjak dari duduknya. Menopang wajah dengan kedua tangan. ‘Pernikahanku akan segera berakhir, Renaku sayang! Kenapa kamu lebih memilih kariermu dibandingkanku dan Dea Olivia putri kecil kita.’ Pria itu meraup wajahnya kasar, tak terasa bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya. Perceraian di depan mata. Sangat, berat bagi Gandi yang masih sangat mencintai istrinya. Sementara itu, Bella sudah selesai mencuci semua gelas Ia juga sudah merapikan meja yang ada di sana. "Terima kasih, Om," ucapnya sembari mengambil amplop uang. Ia melihat ke arah pria dewasa yang sedang duduk tertunduk di sofa. Gandi hanya mengangguk pelan. Tidak menampakkan wajah kusutnya. "Sebentar, apa Om Gandi menangis?" tanya gadis belia itu berjalan menghampiri Gandi. Gandi tidak menjawab. Ia memilih membuang pandangannya ke arah lain. Merasa lemah di depan Bella adalah hal yang paling di hindarinya selama ini. "Jadi apakah benar apa yang aku baca di media online?" Tanya Bella, Ia duduk di sebelah Gandi. Tidak tega membiarkan pria itu sendirian. "Apa yang kamu ketahui!" Gandi berdiri dari duduknya, berjalan ke arah balkon. Bella mengekor, langkah kaki pria dewasa itu. Pria yang sangat Ia kagumi. Bahkan hanya saat berdiri dan bernafas saja pria itu begitu tampan. "Kabar Tante Rena, yang mengajukan perceraian sudah tersebar di media, Om." Bella berdiri di samping pria itu, melihat ke bawah, mengikuti pandangan mata Gandi. "Jadi, kamu sudah mengetahuinya, Bella," "Iya, Om, aku harap Om Gandi jangan bersedih," "Aku, tidak bersedih hanya saja aku masih sangat mencintai Rena," keluh Gandi jujur. "Yang sabar Om," hibur Bella. Mendengar keluhan Om Gandi, Bella ikut sedih. Padahal sebelumnya Ia sempat lega mendengar kabar perceraiannya itu. Ia mengira itu adalah kesempatan baginya agar bisa mendekati Gandi. "Aku mau menemui putriku, kamu kembalilah ke asrama sekarang juga!" suruh Gandi. "Baik Om," Bella menurut. Ia berbalik sembari mendengus kesal. Sebulan sekali Ia menantikan pertemuannya dengan Gandi. Namun, pria itu sama sekali tidak menganggap penting kehadirannya. "Jangan, bersedih Om, kalau Tante Rena tidak ingin hidup bersama dengan Om Gandi hingga tua nanti, mungkin suatu hari nanti Om, akan bertemu dengan wanita lain yang mencintai Om Gandi dengan tulus!" tutur Bella dengan tegas. ‘Aku Om, aku wanita yang mencintai Om Gandi dengan tulus! Tunggu aku Om, aku akan tumbuh dewasa dan menjadi wanita cantik untukmu. Tidak di ragukan lagi, aku juga mempunyai cinta yang tulus untukmu.’ Batin Bella sembari berjalan ke keluar ruangan. Entah sejak kapan, Bella pun tidak tahu. Yang pasti di usia 17 tahunnya, saat ini. Ia menyadari satu hal. Sangat merindukan pertemuan dengan Gandi Permana. Meski hanya satu bulan sekali. Next _

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
198.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
59.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook