Part 2
Setelah kepergian Bella. Gandi menyempatkan untuk mandi. Air dingin selalu berhasil membuatnya kembali semangat.
Ia mengenakan baju rapi. Akan segera pulang ke rumah. Ada putri kecil yang menanti kehadirannya.
Dari pernikahannya dengan Rena, empat tahun yang lalu. Mereka dikaruniai seorang buah hati. Dea, gadis kecil yang kini sudah berusia tiga tahun.
Gandi berjalan menuju lift. Ia masuk dan menekan tombol lantai dasar. Pria itu berdiri kemudian, melihat ke arah pergelangan tangan. Jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam.
Pintu lift terbuka.
Pria itu, berjalan menuju area parkir yang berada di bawah tanah. Ia masuk ke dalam mobil. Lalu melajukan Lamborghini hitamnya menuju South Residence. Sebuah perumahan mewah yang dimiliki kalangan menengah atas. Orang tuanya yang kaya raya tinggal di salah satu rumah di perumahan elite itu.
Gandi melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Kedua orang tuanya akan marah perihal gugatan cerai yang sudah tersebar di berbagai media. Namun, itu adalah kebenaran dan sebagai pihak laki-laki, Gandi Haru siap bertanggung jawab dengan semuanya.
Menjalani biduk rumah tangga, itu seperti mengarungi lautan. Jika kapalnya karam maka yang bersalah, adalah nahkoda nya. Ya! Gandi tidak ingin menyalahkan Rena, semua karena kesalahannya.
Setelah 20 menit perjalanan, Gandi tiba di pintu utama kediaman orang tuanya. Ia memarkir mobil di garasi, berjejer dengan mobil mewah lainnya.
Gandi, keluar dari mobil. Ia melangkahkan kakinya pelan menuju teras rumah. Lalu berdiri di depan pintu.
Pria itu, ragu untuk menekan bel pintu. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah saat mobil Gandi tiba di gerbang utama. Satpam depan sudah memberitahukan kepada orang tua Gandi, yaitu Pak Yusman dan Nyonya Karina. Bahwa anak laki-lakinya sudah pulang.
Gandi membuang nafas pelan. Kemudian, menekan bel pintu. Seorang pelayan wanita membuka pintu untuknya.
Tebakannya benar papa dan mamanya sedang duduk di ruang tamu menunggunya. Terlihat dari wajah mereka yang penasaran dan penuh tanya. Gandi dapat merasakan kesedihan yang di rasakan orang tuanya, karena kabar perceraiannya dengan Rena yang sudah menyebar.
Gandi melangkah maju menghampiri orang tuanya. Kemudian Ia duduk di samping ibunya.
Suasana menjadi hening. Pak Yusman menatap ke arahnya sedangkan Gandi hanya bisa menunduk karena tidak berani membalas tatapan kedua orang tuanya.
"Istirahatlah! Temui putrimu dan kita bahas masalah ini lain kali saja!" titah Pak Yusman.
Pria paruh baya itu marah, sedih, kesal dan kecewa mendengar mengenai perceraian putranya. Namun, ada yang lebih penting dari itu semua Gandi masih terlihat baik-baik saja. Ia akan melakukan apa pun, untuk men support dan mengembalikan semangat putranya itu.
"Dia sudah menunggumu, dari semalam sudah berkali-kali Dea menanyakan di mana Papanya berada?" tambah Nyonya Karina, Ia mengusap pelan pundak putranya itu, dapat melihat ada air mata yang sudah merebak dan ditahannya.
"Baik Ma, Pa, aku tidur sekarang!" pamit Gandi. Ia beranjak dari duduknya. Kemudian, berjalan menaiki anak tangga menuju lantai 2. Ia membuka pintu kamar yang berada paling dekat dengan tangga. Kamar itu adalah kamar milik Dea, putrinya yang berusia tiga tahun setengah.
"Papa," teriak gadis kecil itu melihat sosok sang papa yang berdiri di ambang pintu. Ia membuka pelukan dengan merentangkan kedua tangannya.
Gandi segera menghampiri putrinya dan memeluk gadis kecil itu dengan erat. Pelukan berlangsung haru dan sangat lama. Membuat pengasuh Dea, keluar dari kamar itu.
Gandi mengurai pelukan. Dia meraih wajah putrinya dengan kedua tangannya. Tak dapat diungkiri, Dea sangat mirip dengan Rena, mamanya.
"Papa dari mana?" tanya Dea dengan suara cadelnya.
"Papa baru saja kerja sayang," jawabnya. Gandi membawa putrinya ke tempat tidur. Malam ini, Ia hanya ingin berada di sisi Dea untuk menemaninya.
Gandi membenarkan selimut agar putrinya tidak kedinginan. Berkali-kali Ia mencium kening Dea, merasa bersalah karena tidak bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Rena.
Setelah memastikan Dea sudah terlelap Gandi bangkit dari tidurnya. Meraup wajahnya kasar dengan tangan kanannya. Kemudian, Ia berdiri, memakai alas kaki. Ia keluar dari kamar itu.
Gandi, berjalan ke ruangan di sebelah kamar putrinya.
Gandi, memutar kunci lalu mendorong handle pintu. Ruangan itu adalah kamarnya dengan Rena. Berukuran cukup luas dan terlihat hangat.
Masih ada beberapa foto mesranya dengan Rena yang terpajang di dinding. Yang paling menonjol adalah foto pernikahan yang di cetak besar dan di pajang di atas ranjang.
Empat bulan lagi, adalah ulang tahun pernikahannya yang ke 5. Semua foto-foto dan kenangan indah di dalamnya hanya akan menjadi kenangan. Begitu juga dengan romansa yang tercipta di kamar ini. Malam pertama, sentuhan hangat, senyum dan air mata dan semua kejadian di kamar ini, hanya akan membuat pria itu bersedih ketika Ia sadar semuanya tinggal kenangan.
Gandi duduk di tepi ranjang. Telapak tangannya meraba seprai. Hanya dingin dan sepi yang Ia rasakan.
Pernikahannya dengan Rena mulai retak setelah ulang tahun pernikahannya yang ke-4. Rena kembali terobsesi untuk melanjutkan kariernya sebagai model. Sejak saat itu, istrinya menjadi tidak betah di rumah, dan selalu menerima tawaran kerja.
Gandi, sudah melakukan berbagai cara agar, istrinya itu tidak lepas kendali. Dari mulai menambah uang yang Ia berikan, sering memberi kejutan. Usahanya sia-sia karena Rena memang menginginkan lepas dari ikatan pernikahannya dengan Gandi.
Semua itu memang kesalahan dari awal. Gandi terlalu memuja Rena yang saat itu menjadi model yang sedang naik daun. Sedangkan Rena, Ia menerima lamaran dari Gandi bukan karena cinta, melainkan karena Gandi anak salah satu orang terkaya di kota B.
Gandi, mendongak ke atas melihat ke arah foto pernikahannya. Tak terasa bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya.
Di malam yang sepi dan dingin ini, Ia menangis sendirian. Tiga bulan Ia merindukan Rena, berharap istri yang sangat Ia cintai itu akan pulang dan melepaskan mimpi dan kariernya. Namun, Ia salah, gugatan cerailah yang Ia dapatkan.
Dari itu, Ia menyadari satu hal. Bagi Rena, karier dan impiannya lebih penting di bandingkan rumah tangga dan putrinya.
Air mata terus mengalir, membasahi pipi pria itu. Ketika seorang pria menangis air matanya mengungkapkan kejujuran di balik emosi karena rasa sedihnya yang begitu dalam.
Rumah tangganya dengan Rena sudah di ujung tanduk. Malam yang sunyi menjadi saksi bis kesedihan, Gandi. Pria berusia 35 tahun, seorang CEO dari brand perhiasan ternama di negeri ini.
Pria itu menghapus air mata. Menyudahi rasa sedihnya malam ini. Ia akan kembali ke kamar putrinya. Meringkuk di balik selimut. Bukan cengeng, dia hanya tidak pernah menyangka akan bercerai dengan wanita yang sangat di cintainya.
Bersambung.