❤3 || Perasaan Bella ||

1164 Words
Sepulang dari apartemen Om Gandi, Bella memesan ojek Online untuk mengantarnya ke asrama. Sepanjang perjalanan gadis itu tidak bersemangat. Merasa bingung harus sedih atau bahagia dengan apa yang menimpa Om Gandi saat ini. Satu sisi Ia merasa bahagia, di sisi lain Bella ikut menangis karena kesedihan dari pria yang di kaguminya itu. Setelah turun dari sepeda motor, Bella membayar. Kemudian, melangkahkan kakinya pelan menuju lantai tiga di mana kamarnya berada. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Semua kegiatan sekolah sudah berakhir para siswa siswi penghuni asrama sudah berada di kamarnya. Akan bersiap untuk acara makan malam kemudian belajar bersama. Bella menaiki anak tangga demi anak tangga dengan langkah pelan. Sampai juga Ia di ujung tangga. Gadis itu berjalan ke arah kamarnya yang berada di ujung. Pintu dalam keadaan terbuka, sebuah kamar dengan enam tempat tidur. Ada bagian bawah dan atas. Jadi totalnya ada 12 siswi perempuan yang tidur di kamar itu. Bella paling dekat dengan Nadia. Gadis itu tidur di kamar bagian atas sedangkan Bella berada di bagian bawah. Mereka sama-sama siswi yang pintar hanya saja Nadia lebih beruntung karena dia memiliki orang tua yang masih utuh. Sedangkan Bella dia sebatang karena karena tidak memiliki siapa pun selain Om Gandi. "Apa yang terjadi? Apa kau tidak bertemu Om Gandi? Atau pria itu menolak cintamu?" cerocos Nadia. Ekspresi Bella berbeda, tidak seperti biasanya. Gadis itu akan kembali ceria dan bersemangat ketika dia berjumpa dengan Om Gandi. Kedua matanya akan berbunga-bunga menceritakan mengenai ketampanan pria itu. Bukan hanya itu juga akan mengulang-ulang tentang percakapan apa yang mereka bicarakan. Namun, kali ini Bella terlihat sangat lesu. Mungkinkah Ia tidak bertemu dengan OM Gandi? atau Pria itu marah kepadanya? Nadia hanya menebak-nebak dan menunggu jawaban dari Bella. Dia hanya menggelengkan kepala. Isyarat bahwa dia belum ingin menceritakan apa yang terjadi. Bella tidak menjawab. Ia segera menyambar handuk dan menuju ke kamar mandi yang berada di lantai dasar. Tinggal di asrama itu sungguh melelahkan. Semua kegiatan makan dan mandi berada di lantai dasar. Sedangkan kamarnya di lantai 3, membuatnya harus perjalanan naik turun lebih dari lima kali dalam sehari. Tiba di kamar mandi, Bella menanggalkan bajunya satu persatu. Kemudian, mulai membasahi tubuhnya dengan air dingin. Memejamkan mata merasakan setiap molekul air melewati pori-pori kulitnya. Kesegaran air dingin tidak mampu membuatnya kembali bersemangat. Bella merasa perlu melakukan sesuatu membantu Om Gandi, membantu pria itu mendapatkan kebahagiaan. Mengembalikan senyum di wajah tampan pria itu. Terbesit di benak Bella, besok ingin mencari dan bertemu dengan Rena membicarakan semuanya. Ingin membicarakan mengenai hal ini. Pelan tapi pasti kedua tangannya mulai menyapukan sabun di permukaan tubuhnya. Membersihkan kuman dan keringat yang menempel. Aroma wangi Jasmine dari sabun yang di pakainya, tidak bisa mengembalikan mood nya yang terlanjur buruk. Jika bertanya seperti apa pengaruh Gandi di dalam hidup dan suasana hati Bella. Jawabannya pria itu sangat berpengaruh. Jika Gandi bersedih, maka Bella akan ikut menangis, tetapi jika Gandi tersenyum dan bahagia. Bella akan selalu sejalan. Dia akan ikut tersenyum meski senyuman Gandi tidak pernah untuknya. Bella menyalakan kran air di atas kepalanya. Membiarkan menyapu busa yang meliputi seluruh tubuhnya. Meski setitik gadis itu, mendapatkan energi dan semangat kembali. Dia sudah yakin dan memastikan bahwa besok Ia akan mencari keberadaan Rena dan berbicara dengan wanita itu. Melakukan sesuatu untuk menolong Gandi. ========== Pagi hari bersama siswa-siswi yang lain. Bella dan Nadia berjalan menyusuri lorong menuju ruang kelas. Langkah kaki mereka seirama sejalan dengan hati mereka, saling mendukung satu sama lain. "Nanti siang aku mau izin, aku tidak bisa mengikuti pelajaran terakhir karena aku ada acara!" kata Bella yang selama ini tidak pernah absen sama sekali. Dalam mata pelajaran apapun dan dalam keadaan sakit sekali pun. Dia tidak memiliki keluarga yang memaksanya untuk izin sekolah karena ada kegiatan yang mengharuskannya datang. Dia juga jarang bergaul dengan teman selai. Nadia. "Kamu mau ke mana?" tanya Nadia. Jam terakhir adalah mata pelajaran bahasa Indonesia. Pelajaran paling disukai oleh Bella. "Aku mau cari dan menemui Tante Rena, Ada yang ingin aku bicarakan!" jawab Bella yakin. Sudut bibirnya naik karena merasa ini adalah ide yang bagus. "Bella sadar! Kamu jangan terlalu jauh masuk dalam kehidupan Om Gandi, pria itu punya privasi dan kamu tidak boleh mengganggunya, karena kamu bertindak melebihi batas mencampuri urusannya di ranah bisa kamu jangkau!" elak Nadia. Tidak setuju! "Diam! Aku bisa menemui Tante Rena sendiri dengan atau tanpa dirimu!" tegas Bella. Kemudian Ia melangkahkan kakinya lebih cepat karena tidak ingin berdebat lagi dengan Nadia. Dari pelajaran jam pertama hingga jam pelajaran ke lima, Bella dan Nadia saling diam. Tidak ada yang mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu. Bella sebenarnya ingin Nadia ikut dan menemaninya. Sedangkan Nadia, sebenarnya tidak tega jika Bella pergi sendirian. Bel pergantian jam terakhir berbunyi. Bella mengemasi alat tulis dan segera berdiri. Membawa tas dengan lengan tangan kirinya. Ia berjalan dan pasrah. Namun, tanpa disangka Nadia sudah berjalan di sampingnya. "Aku akan mentraktir bakso lobster! Mari kita izin sama-sama!" ucap Nadia tidak tega membiarkan Bella pergi sendirian. Bella tersenyum, Nadia memang selalu baik. Akhirnya mereka berdua izin dan segera memesan ojek Online menuju sebuah tempat pemotretan outdor. Bella sudah mencari tahu, di mana jadwal kerja Rena hari ini. Kebetulan tidak terlalu jauh dari sekolahnya. Turun dari motor, Nadia mengikuti langkah Bella. Menyelinap di sebuah gedung hotel. Ia sudah mengingat semua tentang Rena, nama manajernya, agensinya, juga Ia sudah mencari tahu ruang make-up nya di acara hari ini. "Kamu tunggu di sini! Biar aku saja yang masuk!" suruh Bella. Tidak ingin Nadia melihat aksi nekatnya. "Iya," jawab Nadia menurut. Mengaku sebagai saudara dari Rena, akhirnya Bella di izinkan masuk ke dalam ruang make-up sang model. "Permisi," sapa Bella. Mengangguk sopan menatap wanita cantik, seksi, sempurna elegan tiada tara. Begitulah paras Rena sang model istri dari Gandi permana. Sejenak aura Bella meredup, Ia gemetar. Lupa maksud dan tujuannya menemui Rena. "Maaf, kamu siapa?" tanya Rena berbalik. Menatap Bella dengan Aneh. Kedua indra penglihatan mereka saling berpandang. "Tante Rena, perkenalkan nama saya Bella. Maksud saya datang kemari saya hanya tidak setuju jika Anda menggugat cerai suami Anda!" ucap Bella menunduk dengan satu kali nafas. "Kenapa? Apa alasanmu tidak ingin bercerai?" selidik Rena mengira Bella adalah salah satu fans fanatiknya, dan tidak menginginkan Ia bercerai. Bella bergeming, bibirnya bergetar. Aura kuat wanita yang berada di hadapannya. Membuatnya menciut, menghilangkan semua tekad dan rasa percaya dirinya. "Katakan! Apa alasanmu melarangku bercerai!" desak Rena mulai menajamkan pandangan matanya. "Emm ... emm ... ," hanya itu yang keluar dari bibir Bella. "Katakan!" paksa Rena lagi dengan sekuat tenaga. "Aku ... tisdak ... ingin melihat Om Gandi bersedih!" jawab Bella mengatakan alasan sebenarnya dengan terbata-bata karena ketakutan. "Sini, duduk di sini dan jangan pergi sebelum aku mengizinkan kamu pergi!" tegas Rena. Kemudian, Ia segera meraih ponsel . Menghubungi nomor Gandi yang masih tersimpan di ponselnya. "Dasar pengecut, kamu mengirim tikus kecil untuk mengemis cinta dariku! Datang kemari atau aku tidak akan membiarkan keluar dalam keadaan baik-baik saja!" bentak Rena di seberang telefon. Bella meringis Ia yakin, pria yang di telefon oleh Rena adalah Om Gandi. To be Continue Tap love dulu ya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD