❤ 9 || Kencan? ||

2021 Words
Hari-hari di sekolah terasa hambar dengan rutinitas seperti biasa. Bella menantikan hari minggu, hari di mana Gandi berjanji akan mengajaknya pergi berbelanja. Minggu pagi tiba. Bella mengaduk isi lemari, mencari baju terbaiknya tapi tidak ada. Akhirnya, Ia memilih baju kasual. Selama ini Bella tidak pernah membeli baju bukan karena uang yang di berikan Gandi terlalu sedikit, hanya saja dia lebih suka menabung daripada untuk berbelanja baju, mengingat sebentar lagi akan kuliah. Tidak mungkin mengandalkan Om Gandi di sepanjang hidupnya. Gandi : [Segera turun! Aku sudah tiba!] Bella membuka pesan masuk. "Aku berangkat ya!" izin Bella. "Bersenang-senanglah!" sahut Nadia. Bella segera turun, melangkah cepat menuju pintu gerbang. “Bella, masuklah!” pinta Gandi seraya melempar senyum manis ke arah gadis belia yang sedang berjalan ke arahnya. Bertemu dengan Bella, sejenak melupakan sidang pertama perceraiannya yang sudah dijadwalkan. “Baiklah, Om,” jawab Bella, berlari kecil menghampiri pria itu. Gandi membuka pintu, lalu Bella duduk di dalam mobil di samping Gandi. Bahagia sekali bisa jalan berdua dengan pria yang mengisi hatinya. ‘Ini kencan kedua kita kan Om! Aku akan menganggapnya begitu! Jangan protes, biarkan aku menghalu bebas.’ Bella, tertawa menyadari bahwa dirinya terlalu menggilai pria itu. “Pakai sabuk pengamannya,” suruh Om Gandi. Ia sendiri sudah bersiap menjalankan mobilnya. “Iya, Om,” jawab Bella antusias. Menebarkan keceriaan karena, momen ini sangat jarang. Biasanya Gandi akan mengajaknya liburan atau pergi berbelanja hanya satu tahun sekali, saat liburan di semester dua. Tapi kali ini, bahkan baru awal semester. Mobil mulai berjalan membelah jalanan kota. Menuju pusat perbelanjaan. Bella sesekali melirik pria yang duduk di sampingnya, bagaimanapun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Om Gandi menepikan mobilnya. Menghentikannya lalu keluar. Dia kembali membuka pintu mobil untuk Bella. Mereka berjalan beriringan memasuki mall. Tanpa sengaja tangan Om Gandi bersentuhan dengan paha Bella yang hanya memakai celana pendek, membuat gadis itu harus menahan geli dan kadang tersenyum sendiri. Mereka benar-benar terlihat sedang berkencan, satu pria dewasa yang tampan. Satunya lagi gadis belia yang tampak sangat manis. Mereka berhenti di gerai baju wanita. Bella mulai memilih baju yang di sukainya. Ada satu SPG cantik yang menemaninya. Sedangkan Om Gandi hanya duduk dan menunggu, ada rasa sedih yang menerpanya. Menemani Rena berbelanja, itu sudah tidak akan terjadi lagi. Gandi mengamati segerombolan pemuda yang menatap Bella dengan pandangan nakal. Tatapan yang penasaran dengan Bella. Maklum, kulit Bella sangat putih, rambutnya yang hitam, sangat manis, tidak terlalu tinggi. Dengan cara berpakaiannya yang cukup berani. Celana jeans pendek dan kaus lengan pendek dengan bagian kerah yang lebar memperlihatkan dadanya yang ranum. Gandi berjalan menghampiri Bella. “Lain kali jangan memakai celana pendek!” perintahnya sambil melirik ke paha gadis. Dia sendiri tergoda jika berlama-lama melihat bagian itu. Hanya saja Ia tidak mungkin mengakui. “Memangnya kenapa Om, ini sangat nyaman dan aku suka,” jawab gadis itu datar tak peduli dengan tatapan-tatapan nakal dari laki-laki hidung belang yang melihatnya. “Dan jangan pakai kaos tipis ini!” suruh Om Gandi sambil menunjuk kaos Bella yang menerawang. Rautnya terlihat sangat kesal. “Kenapa Om, ini ringan dan enak untuk cuaca panas seperti ini,” sahut Bella bersemangat. Tidak tahu maksud di balik perintah dari Om Gandi. “Ya sudah terserah kamu saja!” jawab Om Gandi kesal jika harus berdebat dengan Bella. Hanya saja dia sangat menyukai Bella mengenakan kaos itu tetapi dia tidak rela jika ada orang lain melihatnya. "Kamu sudah memilih baju yang kamu inginkan?" tanya Gandi, melihat papper bag yang di bawa Bella. Gadis itu mengangguk. "Baiklah aku akan membayarnya," ucap Gandi memberikan kartu kreditnya ke bagian kasir. Mereka berdua berjalan ke lantai dasar melalui eskalator. “Ayo kita makan!” ajak Om Gandi. "Makan es krim saja Om,” jawab Bella mengingat janji Gandi beberapa waktu lalu. “Baik,” jawab Om Gandi. Kemudian, berniat mengajak Bella menuju kedai es krim, yang tak jauh dari mall. Bella meletakkan belanjaannya di kursi belakang, dia sendiri duduk di samping Gandi. Tidak akan membuang kesempatan berharga ini. Setibanya di kedai es krim, Gandi masuk ke dalam sendirian. Sengaja tidak membiarkan Bella keluar, karena banyak pemuda yang ramai di pintu masuk bangunan kedai. Gandi mengambil beberapa kotak es krim lalu membayarnya. Kemudian, kembali ke mobil. Merasa lega karena janjinya pada Bella satu per satu sudah di penuhinya. "Terima kasih ya Om!" ucap Bella sembari melihat kotak Es krim dengan mata berbinar. Lama sekali tidak menikmati camilan manis dan lembut yang lumer di mulut itu. Tentu saja Ia akan membaginya dengan Nadia. Mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Sayang sekali mereka terjebak macet. Dan harus berlama-lama berduaan di dalam mobil. “Macet ni Om,” ucap Bella. “Sabar ya, maklum hari minggu,” sahut Om Gandi. "Om, sekarang Dea sudah bisa sekolah belum?" tanya Bella yang kemudian ingat mengenai anak dari pria yang duduk di sampingnya itu. Perceraian kedua orang tua pasti akan berdampak pada anaknya. "Dea, belum sekolah, usianya baru tiga tahun," jawabnya. "Oh ya, Bella kamu akan melanjutkan kuliah di mana, aku akan membantumu mempersiapkannya!" kata Gandi yang tiba-tiba ingat bahwa Bella sudah hampir lulus SMA. "Bella, masih bingung Om," jawabnya jujur. "Oh, baiklah nanti kalau kamu sudah memutuskan segera beri tahu aku!" ucap Gandi melihat ke arah depan. Macet semakin panjang, terlihat dari google map yang ada di layar ponselnya. "Iya." Hening, kedua orang itu sibuk dengan pikiran masing-masing. "Bagaimana dengan perceraian Om Gandi?" tanya Bella memberanikan diri. Pasalnya Ia tetap bisa merasakan kesedihan dan kehancuran yang di rasakan Gandi. "Besok, sidang pertama, dengan agenda mediasi, aku tidak akan datang agar mempercepat semua prosesnya!" kata pria itu, menunduk. Rena, nama itu masih terpatri di dalam hati, satu-satunya sampai detik ini. Bahkan saat wanita itu mengecewakannya di hati dan pikiran Gandi hanya ada wanita itu. "Semangat ya Om, apa pun yang terjadi di depan sana, itu yang terbaik buat Om, tetaplah tersenyum." Bella mencoba memberi semangat pada Gandi. Hanya itu yang bisa di lakukannya. Hening! Gandi tidak menjawab. Ia memilih menunduk menyembunyikan kesedihannya. “Panas,” keluh Bella berpura pura mengusap keringatnya. Memecah keheningan, sebenarnya dia, hanya tidak ingin Gandi berlama-lama larut dalam kesedihan. Badannya mulai panas, kaos tipisnya melekat di tubuh. Bahannya yang tipis membuat kulit tubuhnya terlihat sangat jelas. Membuat Gandi melihat ke arah Bella. Mengamatinya sekian detik lebih lama. Untuk kedua kalinya Ia setuju dengan Mario, Bella memang manis. Bella mengipaskan tangannya, dinginnya AC tetap membuatnya gerah. Di melihat kanan kiri, mencari tempat agar terhindar dari kemacetan ini. Kebiasaannya yang jarang keluar dari Asrama membuatnya tidak bisa menahan emosinya ketika terjebak macet. “Om, kita ke taman yuk, makan es krim,” ajak Bella. Menemukan ide bagus untuk menghibur Gandi. “Baiklah, kita tunggu sampai pertigaan ya?” jawab Gandi, matanya sekilas terpaku ke d**a Kayla yang terlihat begitu menawan menurutnya. Normal! Sudah tiga bulan lebih Ia tidak mendapatkan kehangatan dari Rena. Menahan nafsu adalah sesuatu yang menyiksa bagi pria muda sepertinya. Tidak mungkin jajan di luar, banyak penyakit menular yang Ia takutkan. “Iya, Om,” jawab Bella masih sibuk mengerakkan t-shirtnya dan kadang meniup ke arah dadanya. Sungguh panas! Om Gandi melihat tingkah konyol Bella, itu membuatnya tersenyum sendiri. Benar-benar menggemaskan sekali gadis itu. Dia menutup bibir dengan tangan kirinya tidak ingin Bella melihatnya saat Ia tertawa. Kaos yang melekat membuatnya bisa menebak berapa nomor underware gadis itu. Bahaya! Kalau berlama-lama dengan Bella fantasinya menjadi liar. Sadar Gandi! Bella itu masih 17 tahun, dan bukan tipemu! Mobil mulai berjalan pelan, dan setelah di pertigaan Gandi membelokkan mobilnya ke taman Kota yang tidak jauh dari asrama tempat tinggal Bella. Pengunjung tidak terlalu banyak karena tempat parkir masih lenggang. Cuacanya juga panas, membuat enggan berada di taman, saat menjelang sore taman baru akan ramai. “Sini ya,” kata Om Gandi sambil menghentikan mobilnya di tepi jalan, berjajar dengan kendaraan lainya. “Iya, Om,” sahut Bella sambil membawa sekotak es krim. Satu kotak es krim yang lain, akan Ia berikan pada Nadian. Ia membukan pintu lalu keluar dari mobil. Mereka berjalan berdampingan. Semua mata tertuju melihat keduanya. Satu pria tampan yang tinggi dengan aura kuat, di sampingnya ada gadis muda, mungil, dan tampak seksi dengan baju yang dikenakannya. “Pakai ini!” kata Om Gandi sambil memberikan jaketnya pada Bella, agar dadanya yang terbuka tidak bisa di nikmati orang yang melihatnya. “Apaan sih Om, panas!” tolak Bella. Memberikan baju hangat itu kepada pemiliknya. “Ayo nurut Bella,” desak Om Gandi dengan suara berat dan serius. Membuat Bella tidak bisa menolak. "Kalau kamu membantah aku tidak akan membelikanmu es krim lagi!" ancam Gandi. “Iya, Om,” sahut Bella manyun. Ia menurut ketika Om Gandi memakaikan jaket itu di pundaknya. Mereka duduk di salah satu kursi di taman. Menikmati es krim sambil memperhatikan orang yang berlalu lalang. Bella juga memperhatikan pria yang duduk di sampingnya. Dia sedang sibuk makan es krim, sama seperti dirinya. Dan udara yang bertiup di bawah pohon membuat aura pria itu semakin terpancar dan terlihat tampan. Manis sekali, duduk berdua menikmati es krim di taman kota bersama orang yang kita cintai, Om Gandi aku mau jadi es krim yang kamu makan, batin Bella nakal. Padahal tak sekali pun Gandi menyentuh es krimnya. Ya, dia masih terlalu memikirkan perceraiannya. “Kenapa kamu tersenyum sendiri Bella?” tanya Om Gandi, menghentikan Bella yang berimajinasi. “Eh ..., tidak kok Om,” jawab Bella terkejut. Ia mengatupkan bibir rapat dan membalas tajam tatapan pria itu. “Sebentar,” sahut Om Gandi sambil menunduk memperhatikan wajah Bella Bella terdiam, berada sedekat itu dengan Om Gandi membuat jantungnya semakin berdetak kencang. Lidahnya kelu, bibirnya terkunci dan matanya terpejam. Sampai Ia lupa untuk bernafas. Om Gandi, membersihkan noda es krim di bibir Bella dengan punggung tangannya. Membuat gadis itu berhenti bernafas karena gugup. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, sentuhan pria itu selalu membuat Bella bereaksi berlebihan. “Haah ...,” suara Bella membuang nafas seperti habis berlari kencang di kejar anjing. Tangan kirinya memegangi d**a menahan detak jantungnya yang tidak karuan. “Apa kamu tidak bernafas?” tanya Om Gandi heran. “Aku Cuma lupa bernafas Om,” jawab gadis itu sambil menggigit bibir bawahnya menguasai rasa gugupnya. “Lucu kamu!” celetuk Gandi sambil tertawa ceria, berbicara dengan Bella, berhasil membuatnya lupa akan beban pikiran dan masalahnya. Om Gandi, sibuk dengan es krim nya. Dia menikmati makanan dingin dan manis itu perlahan, sedikit demi sedikit. Membuat Bella sering melihat ke arahnya. Tidak mau kehilangan momen itu, saat bibir Om Gandi menangkap es krim dari sendok dan mendorongnya masuk ke mulut, Bella ingin sekali menggantikan es krim itu. ‘Suatu hari nanti aku yakin akan menjadi es krim yang saat ini ada di bibirmu Om, tunggu aku ya Om, aku ingin menjadi dewasa dan menjadi wanita cantik, yang pantas untukmu.’ “Bella kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Gandi. "Apa ada es krim di mulutku?" cerocosnya lagi. "Sebentar Om, sini aku bersihkan!" jawab Bella berbohong, sebenarnya dia hanya ingin menyentuh bibir Gandi. Lembut. Basah! Setelah menghabiskan es krim mereka berdua kembali ke mobil, ingin segera pulang. Bella selalu menatap pria itu dengan kagum. Semakin lama semakin sering, membuat Gandi beberapa kali melihat tatapan gadis itu yang menurutnya bukan tatapan biasa, tatapan cinta dan penuh arti. “Bella?" Suara Gandi menyadarkan Bella yang sedang hanyut dalam lamunan. Berhalu ria sebebas-bebasnya. "Iya," jawabnya singkat segera menunduk. “Jangan menatapku seperti itu!” kata pria itu mengagetkan Bella yang sedang tenggelam dalam khayalannya. Nada suaranya tinggi dan tegas! “Maaf, Om,” bisik Bella menyadari ada yang lain dari Om Gandi. Dia kembali menunduk menghindari bertatap mata dengan pria itu. Gandi tidak menjawab permintaan maaf Bella. Namun dia menatap gadis itu dengan penuh tanya. Membuat Bella menyesal terlalu berani menatapnya tanpa sembunyi atau mencuri pandang. Jangan ceroboh Bella! Jangan sampai Om Gandi mengetahui semuanya saat ini. Sekarang kamu bahkan belum memiliki apa-apa untuk mencintaimu, sadar diri kamu hanya gadis malang yang tidak akan bisa hidup dengan baik tanpa belas kasihan dari pria ini! Mobil berhenti di depan pintu gerbang asrama. "Terima kasih Om," ucap Bella mengambil barang belanjaannya. Tak lupa es krim yang akan Ia berikan pada Nadia. "Iya," jawab Gandi singkat. Bella masuk ke dalam asrama setelah memastikan melihat mobil Gandi berjalan menjauh. To be Continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD