Pagi hari meski tidak bersemangat, Gandi tetap turun ke meja makan, tidak ingin kedua orang tuanya, Pak Yusman dan Nyonya Karina khawatir. Pak Yusman duduk di kursi utama, Gandi dan Nyonya Karina di samping kiri dan kanannya.
"Jadi, hari ini kamu akan menghadiri sidang perceraian atau kamu akan berangkat bekerja?" tanya Nyonya Karina pada putranya.
"Entahlah Ma, yang jelas Aku tidak ingin menghadiri persidangan dan untuk urusan pekerjaan, Fadli sudah melaksanakan semuanya untukku," jawab Gandi mulai mengisi piringnya dengan roti dan selai coklat.
"Bukankah ini satu-satunya kesempatan, jadwal mediasi bisa membuatmu menyelesaikan masalah dengan Rena, apa kamu akan melewatkan begitu saja?" protes sang mama. Merasa sayang jika tidak ada perjuangan sama sekali dari pihak Gandi. Sementara dia paham betul bahwa Rena sangat mencintainya.
"Tidak ada rujuk Ma, semuanya tidak akan seperti semula. Perceraian ini keinginan Rena bukan keinginanku," jawab Gandi. "Aku akan melakukan apapun asal membuatnya bahagia, mungkin perpisahan dan perceraian ini membuat hidupnya bahagia dan bisa membuatnya lebih bebas mengejar cita-citanya.
"Menurut mama kalian berdua egois!" Nyonya Karina menelan ludah. Masih belum percaya jika Gandi dan Rena keduanya sama-sama egois.
"Bagaimana dengan Dea, kalian berdua tidak ingin berbicara mengenai Dea, jangan terlalu memikirkan perasaanmu pikirkanlah putrimu yang masih berusia 3 tahun dan harus hidup dengan keadaan orang tua yang bercerai!" tegas Nyonya Karina marah.
"Sudah Mah! Aku memiliki kasih sayang yang cukup, aku akan menyayangi Dea mencukupi kebutuhannya tanpa mengemis ke wanita itu Ma!" balas Gandi. Ia marah tetapi berusaha menahan diri agar tidak meledak di depan kedua orang tuanya. Berusaha menguasai dirinya
"Gandi tolong hadir di sidang hari ini," paksa Nyonya karina penuh harap.
"Tidak Ma, jangan paksa aku!" tolak pria itu. "Sudah cukup Aku berusaha, selama ini aku mengalah, menuruti semua kemauan Rena, dan aku sangat mencintainya, tapi apa balasannya sekarang? hanya luka dan terus terluka! Aku sudah memberikan apa yang dia mau, uang, cinta, perhatian semuanya aku curahkan pada Rena tapi dia tidak mau yang dia inginkan adalah kebebasan!" ucap Gandi menjelaskan tentang keadaan yang sebenarnya.
"Gandi!" panggil Nyonya Karina menatap tajam kedua manik mata putranya.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali membebaskan dan membiarkan dia bahagia dengan pilihannya!" tegas Gandi.
"Baiklah kalau itu kemauan mu!" sahut sang mama mengalah.
"Aku sudah kenyang, aku pergi dulu!" kata Gandi menaruh sendok dan membiarkan makanan dalam piringnya. Ia beranjak dari duduknya dan kembali ke lantai dua menemui putrinya.
"Ma! Gandi sudah dewasa, biarlah dia memilih jalan hidupnya sendiri!" kata Pak Yusman. "Menurut Papa, Gandi pria yang bertanggung jawab dengan pilihannya!" tambah pria paruh baya itu.
"Ya Pa mama tahu, mama hanya kasihan melihat Dea, harus tumbuh dengan keadaan orang tua divorce!" protes Nyonya Karina.
"Sudahlah Ma, kasih sayang kita pada Dea melebihi kasih sayang Rena pada putrinya sendiri, Mama tidak perlu khawatir kalau cucu kita akan kekurangan kasih sayang, hanya karena Rena tidak memperhatikannya," ucap Pak Yusman.
"Iya Pa." Nyonya Karina mengalah.
Seharian Gandi tidak bersemangat melakukan apapun. Hanya di rumah dan berdua dengan putrinya. Menemaninya bermain, menemaninya berlarian di taman belakang, sembari melihat di taman bunga mawar.
Gandi membuat taman itu untuk Rena. Karena kecintaan sang wanita pada bunga itu. Gandi menatapi bunga-bunga itu dengan pandangan kosong. Kenangan indah bersama Rena ikut melayang dan menguap begitu saja sejalan dengan perceraian yang ada di depan mata.
Kini di depannya ada Dea, melihat Dea yang sangat mirip dengan Rena membuat Gandi terus mengingat wanita itu.
====???====
"Bella," panggil Nadia yang sedang merebah di tempat tidur masih memakai seragam osisnya.
"Iya," jawab gadis itu sembari melihat baju yang dibelinya bersama Gandi.
"Apa kamu tidak akan menelefon Om Gandi?" tanya Nadia.
"Untuk apa?" Bella bertanya balik.
"Bukankah hari ini sidang pertama perceraiannya, mungkin sekarang dia sudah pulang," kata Nadia. Merasa ini saat yang tepat untuk mendapat perhatian dari pria itu.
"Benar juga," sahut Bella, meraih ponsel lalu mencari nomor pria itu.
Panggilan terhubung dan beberapa saat kemudian terdengar suara dari seberang.
"Halo," sapa Gandi.
"Halo Om, ini Bella," sahut Bella malu jarang sekali melakukan panggilan telefon. Dan jika bukan Nadia yang memaksa mungkin dia tidak akan menelefonnya.
"Iya Bella ada apa," balas Gandi. Pendapatnya mengenai Bella kini berubah. Jika dulu hanya sebatas memberikan kecukupan materi, kali ini Gandi akan memberikan sedikit perhatiannya pada Bella. Seperti kedua orang tua gadis itu yang selalu memperlakukannya dengan baik.
"Enggak Om, cuma mau tanya saja gimana kabar Om hari ini, gimana tadi persidangannya?" cerocos Bella mengalahkan rasa gugupnya.
"Tadi aku nggak datang di persidangan," sahut Gandi.
"Oh! Lantas bagaimana?" Bella menunggu pria itu mencurahkan isi hatinya.
"Tidak ada yang bagaimana, semua kan baik-baik saja!" tegas Gandi. Tidak akan pernah menunjukkan kelemahannya.
"Kalau begitu, bisakah Om ajarin Bella belajar, aku mulai kesusahan mengerjakan tugas!” ucap gadis itu menuruti arahan Nadia.
"Bagaimana kalau aku akan mendaftarkanmu ke tempat les privat saja!" usul Gandi sebenarnya dia merasa terganggu dengan panggilan telefon dari Bella. Namun, Ia berusaha menjaga sikap.
"Tidak! tidak perlu, Bella ingin diajarin Om saja," jawab Bella.
"Aku sibuk, aku juga harus bekerja dan tidak punya waktu lebih untuk mengajari mu belajar biar aku sewakan guru privat untukmu, bagaimana?" tawar Gandi.
"Kali ini saja, aku hanya ingin kamu yang mengajariku, untuk kali ini saja Om, mau kan?" desak Bella. "Ini pelajaran ekonomi dan aku benar-benar tidak suka!" ucap Bella berbohong. Dia hanya ingin mencari kesempatan untuk bertemu pria itu.
"Bella, Aku tidak bisa!" tolak Gandi, ada penekanan di nada suaranya.
"Kali, kali ini saja Om! Please aku janji deh cuma sekali ini saja!" Bella mengeluarkan jurusnya dengan suara manja nan imut.
"Baiklah besok sepulang sekolah datang ke rumah ya!" sahut Gandi mengalah.
"Siap !" jawab Bella merasa menang.
Klik panggilan berakhir.
Bella menaruh ponsel kemudian refleks memeluk Nadia.
"Makasih ya, Nad!"
"Aku ikut senang, Bella!"
Setelah itu Bella memilih seragam osis terbaik diantara tiga seragam osis yang dimilikinya, konyol memang, tetapi apa salahnya.
Lagi pula sebentar lagi Om Gandi akan bercerai dengan istrinya. Dia bukan pelakor, karena Tante Rena memang sudah tidak. mencintai pria itu.
Remaja 17 tahun, yang tidak kenal takut dan ingin memperjuangkan cinta pertamanya tanpa tahu seberapa dalam jurang memisahkan dirinya dengan Gandi.
To be Continue