❤ 11 || Satu Langkah Lebih Dekat ||

1186 Words
Di dalam kelas seusai pelajaran. Bella menyisir rambut, mengikatnya ekor kuda. Tak lupa memakai lip balm, di bibir tipisnya itu tak pernah ia lakukan kecuali ingin bertemu dengan Om Gandi. Nadia duduk dan selalu mendukung sahabatnya itu. Tahu betul jika Bella sebenarnya sudah tidak sabar menunggu jam terakhir. Mario yang selalu memperhatikan Bella, melirik gadis itu, penasaran. Karena tidak biasanya sepulang sekolah Bella berdandan. Jangankan pulang sekolah, ketika pagi hari cewek-cewek di kelas sibuk berdandan dia lebih suka membaca novel. Adakah yang spesial hari ini? "Mau ke mana kamu?" tanya Mario duduk di kursi yang berada di depan bangku Bella. Membuat mereka saling berhadapan. Mario dapat memandang Bella dari dekat. "Mau tahu aja! Terserah aku mau ke mana!" sahut Bella acuh masih menatap pantulan wajahnya di depan cermin. "Ya sebagai teman, aku cuma ingin bertanya," jawab Mario. Semakin terpesona dengan teman sekelasnya itu. "Aku ingin bertemu dengan Om Gandi," jawab Bella, membalas tatapan Mario. Ia dapat merasakan getaran yang berbeda dari cowok itu. Mario segera membuang pandangan tidak bisa membalas tatapan Bella. "Untuk apa?" Mario masih menunduk, rasa penasaran tetap membuatnya terus berkata-kata. "Untuk berbicara banyak hal." Bella menjawab meski canggung dengan Mario yang terus-terusan menginterogasinya. "Banyak hal? Apa itu?" desak Mario. "Itu tidak, ada hubungannya dengan kamu!" sahut Bella. Ia mengernyitkan dahi tidak suka dengan teman sekelasnya itu. "Kenapa kamu ingin tahu saja sih!" protes Bella mulai kesal. "Baiklah aku tidak ingin tahu, tapi izinkan aku mengantarmu sampai ke rumah Om Gandi aku cuma tidak mau kamu naik kendaraan umum, itu saja!" kata Mario datar. Bella melihat ke arah Nadia, meminta persetujuan dari sahabatnya itu. Nadia mengedipkan mata, tandanya Ia memperbolehkan Bella agar menerima tawaran dari Mario. "Baik antar aku sampai ke rumah Om Gandi," ucap Bella melempar senyum tipis untuk Mario. Nadia pulang ke asrama, yang tidak jauh dari sekolah. Sedangkan Bella diantar Mario menuju ke rumah Om Gandi. Gadis itu membonceng Mario. Tetap menjaga jarak agar tubuhnya tidak terlalu bertumpu dengan punggung Mario. Kendaraan roda dua milik Mario mulai berjalan sesuai arahan dari Bella. "Bella," "Bella," "Bella Rusadi!" "Iya," sahut Bella. "Bisakah aku menawarkan sesuatu?" tanya Mario penuh harap. "Memangnya apa yang kamu jual?" Bella balik bertanya. "Mulai hari ini aku bersedia menjadi sopir pribadimu mengantar ke mana pun! Apa kamu mau?" tawar Mario. Masih tetap fokus mengemudikan motornya. "Aku pikir dulu ya!!" teriak Bella, agar Mario mendengar ucapannya. "Oke baiklah," sahut Mario kecewa. Motor milik Mario terus berjalan dengan kecepatan sedang. Cowok itu sengaja memperlambat kendaraannya agar bisa berlama-lama dengan Bella. Hatinya tidak rela Bella menyukai Om Gandi. Pria itu tidak pantas untuk Bella yang masih muda, Om Gandi terlalu tua begitulah anggapan Mario mengenai Om Gandhi dan Bella. Tibalah mereka di depan pintu gerbang rumah Gandi Permana. Bella turun dari motor melepas helm dan mengembalikannya pada Mario. "Aku masuk dulu ya, terima kasih, kamu boleh pulang sekarang!" suruh Bella. "Tidak biar aku menunggumu di sini, nanti aku akan mengantarmu ke asrama!" sahut Mario. Duduk di atas motor dengan ekspresi tidak rela jika Bella menemui Gandi. "Tidak usah, mungkin akan lama!" tolak Bella. "Aku akan tetap menunggumu," kekeh Mario. "Pulang aja biar nanti Om Gandi, yang mengantarku pulang ke asrama," jelas Bella. "Tidak aku akan menunggumu!" ucap Mario tidak ada niat merubah keputusannya. Bella diam, menatap Mario dengan saksama. "Baiklah aku pulang sekarang," jawab Mario kecewa. Mulai kesal, lalu menyalakan motornya. Memutar Balik kendaraan roda dua itu dan berjalan menjauh kediaman rumah Gandi. ====???==== Pintu gerbang terbuka. Bella melangkah pelan memasuki pekarangan rumah mewah milik Gandi Permana. Sangat luas ada taman, ada kolam yang diisi ikan hias dan air mancur yang sangat indah. Di samping rumah, ada sebuah taman bunga mawar yang cukup luas dengan beberapa varian warna. Bella terus melangkah maju. Ia berdiri di pintu depan disambut dua pilar berwarna putih yang menjulang tinggi. Dindingnya berwarna putih bak istana. Seorang pelayan perempuan membuka pintu untuknya. Bella melangkah masuk. "Selamat siang," sapa Bella pada Nyonya Karina dan Pak Yusman. Kedua orang itu sedang duduk bersantai di ruang tamu. "Selamat siang Bella, apa kabarmu?" tanya wanita paruh baya yang sangat berkharisma itu. "Baik, bagaimana dengan kabar Nyonya Karina dan Pak Yusman?" Bella bertanya balik. "Kami baik-baik saja." Nyonya Karina menjawab dengan memperhatikan gadis itu. Tampak lebih dewasa dari sejak terakhir kali bertemu dengannya tiga bulan lalu. "Sudah lama sekali kamu tidak bermain kemari, sering-seringlah bermain menengok kami!" tutur Nyonya Karina selalu bersikap baik dengan Bella. "Baik Nyonya," jawab Bella. Sebenarnya dulu Bella tinggal di rumah itu. Hanya saja saat Gandi memutuskan untuk menikah Bella memberanikan diri untuk mencoba hidup mandiri, memilih sekolah yang memiliki fasilitas asrama. Sejak saat itu hubungannya dengan keluarga besar Gandi mulai renggang. "Apa kamu ingin bertemu Gandi?" tanya Nyonya Karina. Hanya Gandi yang dekat dengannya. Sepuluh tahun yang lalu ketika Bella masih berusia 7 tahun. Saat kecelakaan mobil merenggut nyawa kedua orang tuanya, Hanya Gandilah satu-satu nya orang yang bisa membuatnya bicara dan kembali menjalani kehidupan dengan sebagaimana mestinya. "Iya, Nyonya," sahut Bella. "Naiklah ke lantai atas, dia sedang bermain dengan Dea," jawabnya seraya menyunggingkan senyum. "Baik Nyonya, terima kasih," Bella mulai melangkah menaiki anak tangga demi tangga menuju lantai dua. Sampai di ujung tangga Ia berdiri sambil mengamati sepasang anak dan bapak. Tidak lengkap, ada yang kurang! "Kemari!" suruh Gandi yang saat ini sedang duduk menemani Dea. Anak kecil itu tampak asyik bermain boneka kesukaannya. Bella melepas alas kaki. Kemudian Ia duduk di karpet bulu sejajar dengan Gandi yang sedang duduk menemani putrinya. "Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan Bella! Aku tahu kamu anak yang cerdas nggak mungkin kan kamu kesusahan mengerjakan PR, sulit memahami materi!" protes Gandi. "Ini pertama kalinya kamu mempunyai masalah seperti itu, jadi katakan apa yang sebenarnya kamu perlukan!" desak Gandi. Tidak bisa di bohongi. Di balik sikap dingin dan cueknya Gandi paling memahami seperti apa gadis yang di depannya itu. Bella terkesiap, kebohongan kecilnya langsung diketahui oleh Gandi. "Tidak Om, tidak ada," elak Bella, tidak mungkin mengakui perasaannya. Ia juga sadar diri, masih belum pantas mengutarakan perasaan cintanya itu. "Apa uang saku mu kurang, atau kamu ingin membeli baju lagi, atau ada masalah di sekolahmu? Dengan teman-temanmu?" cerocos Gandi menebak. Bella bergeming. "Katakan dengan jujur apa yang kamu butuhkan, sikapmu akhir-akhir ini begitu aneh Bella!" desak Gandi menatap tajam mata Bella. Tidak suka dengan sikapnya yang aneh dan tampak mengada-ngada. "Jangan diam saja katakan apa sebenarnya mengganggumu Bella!" paksa pria itu kehilangan kesabaran melihat Bella yang diam saja. Bella menunduk, bibirnya bergetar. "Sebenarnya aku menyukai ...," menghentikan ucapannya. "Apa kamu menyukai temanmu tadi, yang mengantarmu ke sini, aku melihatnya dari balkon! Kalau kamu menyukainya, aku tidak mengizinkan! Jangan pacaran sebelum kamu lulus dari Sekolah Menengah Atas!" tegas Gandhi dengan nada bicara sedikit membentak. Gadis itu semakin bungkam Ia menggigit bibir bawahnya, untuk menahan tangis. Akhir-akhir ini Gandi sepertinya semakin berani membentak dan marah di hadapannya. "Kenapa Om Gandi membentakku?" protes Bella lirih. Aira matanya mulai merebak. "Aku tidak menyukai Mario!" ucap Bella dengan nada suara lebih keras dari sebelumnya. Melihat Bella yang menangis Gandi merasa bersalah. Dia diam dan mencoba menuntun Bella menjauh dari Dea dan pengasuhnya. "Sudah lama aku menyukaimu Om," kata-kata itu lolos dari bibir Bella begitu saja. To be Continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD