"Sebentar! Tolong ulangi perkataanmu!"
"Sudah lama aku menyukaimu ,Om," ungkap Bella dengan suara lebih keras dari sebelumnya.
"Yang benar saja kamu Bella!" Gandi menatap marah ke arah gadis belia itu. Bagaimana mungkin dia yang masih berusia 17 tahun berani mencintainya yang saat ini berusia 35 tahun dan sudah memiliki istri, yah walaupun sebentar lagi akan bercerai.
Bella terkesiap tak berani membalas tatapan pria itu. Kemudian ia menegakkan kepala sekilas melihat tatapan Gandi yang ada di hadapannya dia merasa takut, lalu berbalik berlari kecil menuruni tangga.
Nyonya Karina melihat Bella, dengan keheranan. Baru sekitar lima menit Ia di lantai dua, tapi kini sudah menginjakkan kaki di lantai dasar.
"Kenapa? Ada apa Bella?" cerocos Nyonya Karina.
"Aku ingin pulang sekarang Pak Yusman, Nyonya Karina, sepertinya aku melupakan sesuatu!" ucap Bella dan segera berjalan menuju pintu depan. Iya pun melangkah cepat menuju pintu gerbang. Lalu keluar melangkah menyusuri Gang hingga sampai di jalan utama. Kemudian Ia segera memesan ojek online lewat aplikasi yang ada di ponselnya.
=====???=====
Sudah 3 minggu sejak kejadian insiden mengutarakan perasaan yang dilakukan Bella kepada Gandi. Selama itu pula Bella berusaha keras melupakan pria itu dari hati dan pikirannya. Sejak saat itu juga Bella tidak pernah menelepon Gandi. Begitu pun Gandi yang sibuk untuk mengurusi pekerjaan dan urusan kehidupan pribadinya.
Kini pria itu sudah resmi bercerai dengan Rena dan sah menjadi duda tampan, kaya raya, yang dipuja banyak wanita.
Bella menggeser layar gawainya. Beberapa artikel mengenai perceraian Gandi dengan Rena jadi trending topic di berbagai platform media online. Bella menelan ludah, sadar diri tidak ada apa-apanya bila di sandingkan menjadi rival sang model. Rena Rosaline, mantan istri Gandi Permana itu sangat cantik, cerdas dan juga kaya raya wajar jika Gandi begitu mencintai wanita itu.
"Apa kamu tidak akan mengirim pesan atau menelefon, pria itu?" tanya Nadia. Mengalihkan netranya melihat Bella dengan saksama.
"Tidak aku tidak akan mengirim pesan atau pun menelefonnya," kekeh Bella terus menatap layar ponsel, penasaran dan terus stalking i********: milik Rena Rosaline.
"Besok sudah akhir bulan, dan sore harinya bukankah kita ada acara outbond untuk perpisahan dan penyerahan ke organisasikan pramuka yang baru," protes Nadia, tahu betul jika Bella akan memerlukan banyak uang untuk acara itu.
"Aku masih memiliki uang di tabunganku, bisa aku gunakan untuk 4 bulan ke depan," sahut Bella percaya diri. Tidak mungkin Ia menemui atau mengirim pesan kepada Gandi sebelum pria itu yang menghubunginya terlebih dahulu.
"Ayolah Bella! Tak apa kamu hanya perlu minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kelancangan mu itu, hanya itu yang perlu kamu lakukan, dari pada harus menahan lapar saat makan siang, dan tidak jajan sama sekali!" bujuk Nadia, pasalnya dia tahu kalau Bella begitu menyukai jajanan yang ada di kantin sekolah.
"Tidak, aku tidak berani bahkan saat ini, saat dia menolakku, aku masih saja menyukainya!" ucap Bella yang tidak mengerti dengan isi hatinya. Terlalu menyukai Gandi sangat dalam.
Bella beranjak dari duduknya, melihat isi Dompet, uang yang dimilikinya semakin menipis. Besok ada acara sekolah yang mengharuskannya mengeluarkan uang lebih, hah dia hanya bisa mendengus kesal menahan dari godaan jajan di luat dan makan malam dengan menu yang di siapkan di asrama.
Ke esokkan harinya ...
Sesuatu yang buruk terjadi pada Bella. Saat melakukan panjat tebing, Ia terjatuh dan tidak bisa berjalan. Bahkan sampai pingsan karena kepalanya membentur lantai.
Nadia dan Mario segera membawa Bella ke rumah sakit terdekat bersama salah satu guru pembina mereka.
"Kita harus menghubungi wali dari Bella!" suruh Bu Santi selaku guru pembina.
"Iya, Bu nanti saya akan menelefonnya," jawab Nadia. Sementara Bella sedang dalam perawatan.
"Baiklah Nadia, Ibu akan kembali ke acara sekolah, kamu jaga Bella dan hubungi ibu jika wali Bella sudah tiba di sini," titah Bu Santi.
"Baik Bu,"
“Kamu lebih baik pulang dulu, atau kembali lah mengikuti acara sekolah, biar aku yang jaga in Bella!” perintah Nadia pada Mario yang masih duduk di sebelahnya terlihat sangat khawatir.
"Aku akan tetap di sini sampai Bella sadar!" kekeh Mario. Sesering mungkin mereka memperhatikan Bella berharap gadis itu segera sadar.
“Om Gandi,” igau gadis remaja itu tanpa membuka mata. Sementara peluh membasahi kening dan wajahnya.
Nadia, terkesiap ingin segera menghubungi Gandi, bagaimana pun hanya pria itulah yang bisa dimintai tolong. Bella tidak memiliki siapa-siapa selain pria itu.
Mario melihat ke arah Nadia, begitu pun sebaliknya.
"Aku akan menelefon Om Gandi," ucap Nadia. Meraih ponsel Bella kemudian menekan nomor pria itu.
Panggilan terhubung.
“Hallo,” jawab Gandi setelah melihat nama Bella di layar gawainya.
“Om, ini Nadia, teman Bella,” sahut remaja itu.
“Iya, ada apa?” tanya Om Gandi yang saat itu sedang makan bersama rekannya.
“Bella di rumah sakit, Om,” ucap Nadia.
“Kenapa bisa terjadi?” tanya Om Gandi khawatir.
“Bella terjatuh saat panjat tebing dan belum sadar Om,” jelas Nadia.
“Baiklah aku akan segera ke sana, kirimkan ,” jawab Om Gandi sangat risau. Ia sengaja tidak menghubungi Bella karena ingin gadis itu melupakannya. Takut melukainya jika bicara secara terang-terangan mengenai perasaannya.
“Iya, Om,” sahut Bella lalu mematikan sambungan telefon.
Sebelum mengunci layar ponsel, Nadia sempat membagikan lokasinya pada Om Gandi. Kemudian dia kembali masuk ke kamar Bella. Tampak Mario masih selalu menjaga Bella dengan raut sedih.
“Siapa nanti yang bakal jemput Bella?” tanya Mario, pandangan matanya selalu tertuju pada Bella yang saat ini masih belum sadar juga.
"Om Gandi," jawab Nadia tegas.
"Bagaimana dengan orang tua Bella?" selidik Mario. "Kenapa harus pria itu yang menjemput Bella!" protes Mario.
"Om Gandi, sudah menggantikan peran kedua orang tua Bella yang sudah meninggal!" jelas Nadia.
“Apa mereka dekat?! Sedekat apa mereka?” rasa penasaran Mario semakin menjadi. Dia ingin menanyai Nadia yang mungkin paham dengan apa yang terjadi antara Bella dan pria dewasa itu.
“Dekat sekali, Om Gandi selalu memperlakukan Bella dengan baik, diajak liburan, dibelikan ponsel dan mereka bertemu, hingga satu bulan yang lalu semua menjadi berubah! ” bisik Nadia di tiga kata terakhirnya.
“Memangnya kenapa?” suara Mario ikut pelan rasa ingin tahunya bertambah, semakin penasaran dengan sosok Om Gandi, terutama sebesar apa peran pria itu bagi Bella!
“Bella mengutarakannya,” sahut Nadia berbisik sambil menutupkan telunjuk di bibirnya.
Mendengar itu Mario tidak bertanya lagi. Ia hanya merasa patah hati, tapi masih ada harapan karena Om Gandi sepertinya telah menolak perasaan Bella.
Keheranan Mario terhadap Bella akhir-akhir ini terjawab. Ternyata gadis pujaan hatinya itu baru saja di tolak cintanya oleh Om Gandi.
====???====
To be Continue...
Teman-teman readers... Minta tap love nya untuk novel baruku berjudul “Emergency Husband” tolong tap love saja jangan di baca nanti kalian suka.
Salam sayang. ❤❤ Sebentar lagi akan ada Give Away..