❤ 13 || Tangisan Bella ||

1033 Words
Setelah mendengar Bella sedang berada di rumah sakit Gandi segera mengakhiri acara makan siangnya. Dia men cancel seluruh jadwal kerjanya hari ini. Khawatir juga dengan Bella. Pasalnya selama tiga minggu ini Bella benar-benar tidak menghubunginya. Sebenarnya Gandi khawatir, hanya saja Ia yakin. Bella akan baik-baik saja. "Tunda pertemuan dengan klien penting, dan temui beberapa perusahaan yang menawarkan kerja sama," titah Gandi pada Fadli, sekretarisnya itu senantiasa selalu setia menerima segala perintah darinya. "Baik, Pak," jawabnya. Gandi segera beranjak dari kafe, mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit. Tiba di area parkir, pria itu segera berjalan menuju ruang perawatan Bella. Pintu terbuka terlihat Mario dan Nadia sedang duduk. Raut khawatir terlihat dari kedua wajah kedua anak itu. "Apa yang terjadi pada Bella?" selidik Gandi berjalan maju, melihat Nadia dan Mario bergantian. "Bella terjatuh saat panjat tebing Om," sahut Nadia. Melihat sekilas pria itu. Memang tampan, wajar jika Bella menyukainya. Bahkan setelah di tolak, Bella masih belum bisa melupakannya. "Apa dia belum sadar juga?" tanya Gandi, melihat ke wajah Bella. Tampak ada goresan di pipi. Ada kain kasa yang menutup pelipisnya. "Tadi sudah sadar, Om, sekarang Bella sedang tidur, mungkin karena pengaruh obat bius," jawab Nadia. "Kalian sudah makan?" Gandi yakin jika kedua remaja itu belum sempat makan siang karena terlalu mengkhawatirkan Bella. "Belum," Nadia mengusap perutnya yang keroncongan. Sedangkan, Mario stay cool tidak terlalu peduli dengan tawaran dari pria dewasa di hadapannya. "Kalian makan dulu!" Gandi mengeluarkan lima lembaran merah dari dompetnya. "Terima ini!" Memaksa Nadia menerimanya. "Baik, Om," jawab Nadia. "Ayo, Mario kita makan dulu!" ajaknya pada Mario yang masih duduk di samping sofa. "Tidak, aku tidak lapar aku akan di sini menunggu Bella bangun!" tolak Mario. "Aku sangat mengkhawatirkannya!" tambahnya tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Gandi. "Ayo!" bujuk Nadia sedikit memaksa. Takut, melihat tatapan Gandi yang berubah ketika melihat Mario. "Khawatirkan dirimu terlebih dahulu, sebelum mengkhawatirkan orang lain!" seloroh Gandi. Tanpa berpikir panjang Nadia meraih tangan Mario dan memaksanya untuk keluar dari ruangan itu sekarang juga. Gandi duduk di sofa yang ditempati Mario. Kedua manik matanya lurus menatap Bella yang masih tertidur pulas. Gadis itu tampak lebih kurus dari pada 3 minggu sebelumnya. Jarinya yang lentik dan juga tangannya tampak lebih kecil dari sebelumnya. Gandi menengadah, kemudian membuang nafas kesal. Sepertinya dia telah melakukan kesalahan pada Bella. Bella membuka mata, terjaga dari tidurnya. Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Lalu tertuju pada Gandi yang duduk di sampingnya. Ia mengerjapkan matanya lalu mencubit pelan pipinya. Menyadarkan diri bahwa ini nyata. Om Gandi kenapa Om bisa ada di sini! Aku harus bagaimana ini! Tidak! Hadapi Bella paling kamu hanya akan malu itu saja! "Om Gandi," Bella membisikkan nama itu dengan pelan. "Kamu sudah bangun Bella?" tanya pria itu. Sangat datar dan tetap sama tidak akan membiarkan wajahnya mengekspresikan kelegaan yang Ia rasakan. "Iya, Om," jawab Bella lirih. Ia ingin menegakkan tubuhnya. Gandi pun membantu gadis itu untuk duduk. Kini Bella dan Gandi saling menatap dari dekat, cukup dekat, dan semakin dekat. Hening. Gandi menatap Bella yang mengacuhkannya. Mengamati lebih dan lebih lama lagi, tetapi Bella tak kunjung melihat ke arahnya. "Bella," panggil Gandi. "Iya, Om," lirih Bella memilih menunduk dari pada melihat ke arah pria itu. Dia malu, canggung, dan sakit. Sementara hati dan pikiran masih selalu memuja pria itu. Namanya terpatri dalam ingatan Bella dan tidak bisa digantikan dengan mudah begitu saja. "Kenapa kamu tidak menemuiku?" "Kenapa kamu tidak mengirim pesan padaku?" "Kenapa kamu tidak mengambil uang jatah bulananmu?" Cerocos Gandi, tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa marah kepada dirinya sendiri yang terlalu egois. Bella tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya. Dan ketika Ia marah, maka Bella tidak akan berani menemuinya. Hal itu sungguh tidak terpikirkan oleh Gandi sebelumnya. Bella tidak menjawab. Yang ada bulir-bulir air mata mulai berjatuhan membasahi pipinya. Bertepatan dengan pintu terbuka. Nadia dan Mario berdiri di ambang pintu. Menatap ke arah Gandi penuh selidik. ‘Kenapa Bella menangis?’ batin Nadia. ‘Kenapa kamu membuat Bella menangis?’ pikir Mario. Melihat kedatangan Nadia dan Mario Bella. menutup wajahnya dengan kedua tangan. Malu, memperlihatkan begitu lemah dirinya saat ini. Nadia memilih diam tidak berani berkata-kata. Menuduh dan bertanya yang tidak-tidak dengan Gandi. Dia, tidak memiliki nyali sebesar itu. Berbeda dengan Mario. Pandangannya tajam, ia melangkah tegap menghampiri Gandi. Kini tubuh mereka saling berhadapan. Meski postur Gandi lebih tinggi dengan bentuk badan berotot. Mario tampak tidak gentar sama sekali. "Apa yang Anda lakukan? Kenapa Bella menangis? Bisa tidak, Anda, tidak membuat Bella menangis? Anda itu tidak berhak menyakitinya!" ucap Mario tegas di depan mata Gandi. "Cukup Mario! Om Gandi tidak bersalah!" seloroh Bella di sela isak tangisnya. "Apa hati Anda terbuat dari batu! Lihat! Saat Anda membuatnya menangis dan bersedih berhari-hari Bela pun masih terus membela Anda!" protes Mario dengan suara lebih keras dari sebelumnya. Marah sekali dengan Gandi yang selalu membuat Bella sedih. Sementara dirinya tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghibur Bella. "Diam kamu Mario!" teriak Bella. Mengusap pipinya yang berurai air mata. "Kalian berdua pulang sekarang! Biar aku menyelesaikan masalah ini dengan Bella!" titah Gandi. Mengisyaratkan pada Nadia untuk membawa pergi Mario. Nadia melangkah maju. Menarik lengan Mario agar keluar dari ruang perawatan Bella. "Lepaskan!" Mario menepis kasar dan kembali berjalan ke arah Gandi. Mereka saling berhadapan. "Sekali lagi, aku melihat Bella menangis, tunggu saja apa yang akan aku lakukan padamu" Ancam Mario begitu berani. Hening, saling menatap tajam. "Jaga Bella malam ini!" titah Mario pada pria yang lebih dewasa darinya itu. "Aku akan menjaga Bella tanpa kamu suruh, bocah!" jawab Gandi. Tidak bisa diam saja ketika anak ABG mengaturnya sesuka hati tanpa rasa sopan sedikit pun. "Aku percayakan kamu, menjaga Bella malam ini! Segera minta maaf pada Bella, dan berjanjilah tidak akan menyakitinya lagi!" suruh Mario tidak gentar sama sekali. Gandi tidak menjawab. Mengamati, memandang dengan tatapan mematikan ke arah remaja itu. "Aku harus pulang sekarang karena Mama sudah menyuruhku untuk pulang!" ucap Mario sembari melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Kemudian dia berbalik. Di ikuti Nadia, yang melambaikan tangan ke arah Bella ingin segera kembali ke asrama. Tak lupa Ia menutup pintu ruangan itu. DASAR BOCAH!!!! umpat Gandi dalam hati, pada sikap Mario. Kini di ruangan itu hanya ada dirinya dan Bella. Gandi melangkahkan kakinya menghampiri Bella yang masih menangis. ====???==== To be Continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD