❤ 14 || Berdamai ||

1052 Words
"Aku minta maaf Om, Mario sudah kasar sama Om Gandi," lirih Bella menahan isak tangis yang masih menderu. Sesekali menahan nafas dengan menutup bibir dan hidungnya dengan punggung tangannya. Agar isakannya tidak terdengar keras. Gandi duduk di tepi tempat tidur Bella. Memperhatikan Gadis itu dengan saksama. Ada rasa tidak enak yang ada di hatinya. Apalagi setelah mendengar cerita dari Mario tadi. Gandi benar-benar tidak tahu jika Dia melukai hati Bella. Dia mengira Bella tidak akan sakit hati setelah dia menolaknya. Selama ini Gandi, juga disibukkan oleh kerja dan urusan perceraiannya dengan Rena. Wajar jika Gandi tidak terlalu memperhatikan Bella. "Benar yang dikatakan Mario?" tanya Gandi. Perlahan Ia meraih tangan Bella. Kemudian Ia memperhatikan dengan jelas kedua manik coklat Bella yang basah dan memerah. Gadis itu memang tampak lebih kurus dari sebelumnya. Bella tidak berani menjawab. Dia menggigit bibir bawah untuk rasa menahan sakit di dalam hatinya. Jelas saja, Om Gandi yang telah menolak perasaan membuatnya begitu sakit hati. "Aku membuatmu terluka apa kamu sedih karena aku menolak cintamu?" tanya Gandi lagi. Sama rapuhnya dengan keadaan Bella saat ini. Bella hanya diam tidak berani menjawab. Bibirnya terkatup rapat. Untung saja air matanya sudah berhenti mengalir. "Aku minta maaf, sekarang kita baikkan ya, jangan sampai lagi ada permusuhan di antara kita. Apa kamu setuju?" tawar Gandi. Dia sadar Bella tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya. Ke mana gadis itu kabur jika dengan dirinya sedang berdebat. Tidak memiliki tempat untuk pergi selain dirinya. Bella mengangguk, menyetujuinya. Bagaimana pun, bertengkar dengan Gandi membuatnya stres. Karena hanya pria itu lah yang di miliki Bella sebagai anggota keluarga. Gandi yang merasa kasihan terhadap Bella, Melihat raut sedih meliputi gadis itu. Kemudian, Ia memekuk Bella dalam kuasanya dengan erat. Apa yang dirasakan Bella, sama dengan yang dirasakan dirinya saat ini. Jika Bella merasa sedih karena telah ditolak cintanya, dia juga merasa sedih karena dia tidak bisa mempertahankan cintanya. Suara pintu terbuka. Seorang perawat wanita sudah berdiri di depan pintu. Berhasil membuat Gandi dan Bella menghentikan kedekatan di antara mereka. Gandi dan Bella sama-sama mengurai pelukan. Gandi berdiri dari duduknya melihat ke arah perawat wanita itu. Memandangnya dengan datar. "Ini menu makan dan obat untuk Nona Bella, Pak," ucap perawat wanita itu berjalan dan meletakkan nampan di atas nakas. Kemudian Ia segera pergi untuk menghindari kecanggungan yang dirasakannya. Gandi meraup wajahnya kasar. Lalu Ia berjalan berkeliling tempat tidur Bella. Duduk di satu sisi yang lain. "Kamu belum makan kan! Biarkan aku menyuapimu, sebagai permintaan maafku, padamu Bella!" tutur Gandi, memperbaiki posisi duduknya. Kemudian Ia meraih nampan dan bersiap untuk menyuapi Bella. "Iya Om," jawab Bella. Tawaran dari Gandhi benar-benar seperti hujan di gurun pasir. Jantungnya masih berdebar cepat karena pelukan dari dia itu, kini tambah berdebar. Harus menatap Om Gandi karena pria itu ingin menyuapinya. Sore ini benar-benar membuat Bella senam jantung karena harus berada satu ruangan dengan Gandi. Rasa cinta itu masih sama dan mungkin lebih dalam, searah dengan debar jantungnya itu. Sudah lama tidak berjumpa dan merindukan pria itu. Pelukan dari Gandi benar-benar debarannya sangat kuat. Bella kadang menahan nafas karena takut Gandi mendengar suara detak jantungnya. "Apa kamu tidak makan? Kenapa kamu membiarkan pipi chubby mu menjadi kurus! Aku benar-benar tidak suka Bella!" protes Gandi mencoba memberikan sedikit perhatiannya pada Bella. Jujur dia benar-benar merasa sangat bersalah pada gadis itu. "Aku makan kok Om," bantah Bella menerima suap demi suap yang diberikan Gandi kepadanya. Ia mengunyah dan menelannya. Karena benar-benar lapar. Disuapi Gandi membuatnya lebih bersemangat. Menu rumah sakit yang tak jauh beda dengan masakan di asrama tetap membuatnya antusias menghabiskan sajian yang di suapkan Gandi. Setelah selesai makan Gandi, menyuapi Bella untuk meminum obat. Baru menyadari, Bella hanya remaja biasa yang butuh perhatian dari orang tua. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Gandi memutuskan untuk menghubungi rumah. Memberitahu bahwa malam ini dia tidak akan pulang karena akan menemani Bella di rumah sakit. Nyonya Karina memahaminya, bagaimanapun wanita itu sangat sadar, Bella tidak memiliki siapa pun kecuali Gandi. Bella meraih botol infusnya. Dia bersiap turun karena ingin buang air kecil . "Kamu mau ke mana Bella?" tanya Om Gandi. "Pipis Om," jawab Bella menurunkan kakinya. Hanya saja kaki kanannya terasa sakit dan membuatnya ingin terjatuh. Untung saja Gandi meraihnya. Bella tidak jadi terjatuh. Tanpa berpikir panjang Gandi langsung menggendong Bella. Meraih tubuh kurus itu, membawanya ke kamar mandi yang berada di dalam ruang perawatan. Tubuh Bella memang sangat ringan, kurus dan mungil. Terlihat jelas tubuh kekar Gandi tidak merasa terbebani sedikit pun ketika membawa Bella menuju kamar mandi. Momen itu membuat Bella mengamati wajah Gandi dari dekat. Masih sama, pria itu masih sangat tampan ketika Ia hanya berdiri dan bernapas. Sekarang tambah tampan karena sedang menggendongnya. Gandi membuka pintu toilet. Kemudian menurunkan Bella sangat pelan. "Kamu ingin aku menungguku di dalam atau di luar?" tanya Gandi mengamati Bella yang masih bengong. Menatapnya tanpa berkedip. Bella yang masih terpesona ke ketampanan pria itu, hanya diam dan tidak menjawab. Dia bahkan menggigit bibir karena begitu terpesona. "Haruskah aku membantumu membuka celanamu Bella?" tawar Gandi sambil menunjukkan wajah lucu nya di hadapan Bella. Hal itu membuat Bella tersadar. Ia menunduk karena malu. "Tunggu di luar Om!" lirih gadis itu menahan malu. "Kalau sudah selesai panggil aku!" suruh Gandi. Ia berbalik keluar dari kamar mandi. Menutup pintu dan menunggu Bella di luar. "Sudah Om," ucap Bella Gandi, membuka pintu dan kembali meraih tubuh Bella menggendongnya dan merebahkan Gadis itu di atas tempat tidur. "Apa kakimu sakit?" tanya Gandi setelah melihat ekspresi Bella saat meringis, menahan lara. "Sedikit Om," jawab Bella seperti nya kakinya terkilir saat Ia jatuh dari panjat tebing. "Sini biar ku pijat!" tawar Gandi. Duduk di tepi ranjang bersiap memegang pergelangan kaki gadis itu. "Tidak perlu Om, aku bisa sendiri!" tolak Bella tersipu. Semua perlakuan pria itu sudah membuatnya senam jantung. Bella benar-benar takut jantungnya akan meledak karena perubahan perlakuan Om Gandi yang berubah 180°, menjadi sangat manis. "Tak perlu malu, sejak usia 7 tahun, aku merawatmu, jadi jangan sungkan kepadaku!" bujuk pria itu. Semakin sadar tidak ada orang lain yang bisa dimintai tolong oleh Bella kecuali dirinya. Semakin lama dekat dengan Bella, membuatnya menyadari satu hal bahwa selama ini dia telah melupakan Bella, membuatnya hidup sendiri dan hanya memberikannya kecukupan materi tanpa perhatian. Akhirnya Bella mempersilahkan Gandi menyentuh kakinya. Tangan kekar milik Gandi ternyata sangat lembut. Sentuhan dari pria itu membuat Bella lupa bernafas. ====???==== To be Continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD