Warning
Kamar ini disinari cahaya temaram. membuat Grisel semakin malas untuk membuka matanya.
Usapan lembut pada tubuh Grisel membuat Grisel merasakan kenyamanan. Tiba-tiba Grisel merasakan tubuhnya sangat dingin sekali, dia kembali menarik selimutnya keatas. Dia belum engan untuk bangun rasanya sangat nyaman sekali tidur pagi ini.
Tapi setelah beberapa menit, Grisel merasakan ada yang aneh ? dia tersadar kenapa dia merasa nyaman pada tubuhnya yang sulit dia jelaskan dan di satu sisi lain ada yang aneh pada tubuhnya terasa sangat remuk sekali.
Grisel mencoba memaksa membuka matanya walaupun itu sangat berat sekali, ditambah kepalanya sangat pusing, tapi badannya sangat remuk terasa seperti sesuatu telah menghantam pada tubuhnya semalam, tapi apa yang terjadi..!
Dia mencoba untuk membuka matanya dengan paksa.
'Duuur.. !'
Seperti bom waktu yang baru saja meledak. Grisel sungguh sangat terkejut dengan tubuhnya sendiri dia dalam kondisi shock yang luar biasa, dengan tubuh yang sangat lelah. Dia masih mencerna apa yang sudah terjadi kepada dirinya, kini dia kaget setengah mati mendapati seorang pria yang tidak menggunakan sehelai benangpun yang melekat pada tubuhnya persis seperti dirinya. Kini sebuah tangan dengan beraninya melingkari pinggang rampingnya dengan memeluknya dengan mesra, tangan tersebut tepat di dadanya.
Dengan segera dia menyingkirkan tangan pria ini dari tubuhnya dengan pelan. Tapi si pria ini malah mengeratkan kembali pelukannya.
"Astaga apa yang terjadi kepada ku..!" Gumam Grisel sambil memukul-mukul kepalanya.
Dia buru-buru mengucek-ngucek kedua matanya untuk memperjelas lagi penglihatannya, rasa pusing menderanya kembali menghampirinya. Ternyata disampingnya ini adalah Raihan. Grisel semalaman berada dalam dekapan Raihan.
"Astaga.. apa yang terjadi pada diri ku Tuhan, kenapa aku dalam kondisi tubuh naked seperti ini ?"
"Kenapa aku tidak bisa mengingat kembali kejadian semalam ? " Grisel memukul kepalanya dengan pelan.
"Apakah ini efek minuman alkohol tadi malam, kenapa aku jadi kesulitan untuk mengingat kejadian tadi malam." Berapa teguk aku meminumnya, kenapa aku jadi menyerahkan tubuh ku kepada pria ini. Ya ampun, semoga saja dia tidak melakukan hal yang lebih kepada ku." Harap Grisel dalam hatinya.
Jantung Grisel mulai berdetak tidak karuan. Dia mulai ketakutan.
Grisel kini melepaskan tangan Raihan yang sedang memeluk tubuhnya dengan segera dia menggeser tubuhnya untuk beranjak dari kasur, dia pengen membersihkan dirinya dan segera meninggalkan tempat terkutuk ini. Tapi kepalanya tiba-tiba terasa berputar dengan cepat.
"Aduuh..! " dia berteriak sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit dan mengejutkan lagi rasa sakit pada intinya.
Raihan tiba-tiba terbangun mendengarkan suara Grisel mengaduh kesakitan.
Grisel mulai menangis, Dia mencengkram kuat selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Sesuatu telah terjadi kepada dirinya, saat dia bergerak sedikit saja tadi bagian bawahnya sangat perih dan sangat sakit sekali.
"Apakah ini benar sudah terjadi kepada ku ?"
"Seingatnya, dia sudah bilang dan memohon kepada Raihan tadi malam agar dia tidak melakukannya. Kenapa Raihan malah merenggut keperawanan ku, apa yang sebenar terjadi Tuhan..?" Batin Grisel.
Grisel merasa dadanya terasa sesak. Dia mencoba memaksa untuk mengingat kejadian tadi malam sambil memegangi kepalanya yang sakit, sesekali dia memukulnya dengan pelan. Tindakan itu tidak terlepas dari pandangan Raihan
"Grisel.. ?"
Grisel tidak peduli panggilan Raihan. Dia memukul kepalanya kembali agar dia bisa mengingat apa yang terjadi semalam.
'Duuur .. !'
Kini sepotong ingatan di lobus frontal nya tiba-tiba berhasil memunculkan informasi yang terjadi semalam.
"TIDAK.. !" ucap Grisel panik.
Kenyataan yang harus Grisel harus terima mereka berdua sudah melakukannya tadi malam. Hancur sudah hidup Grisel mahkota yang sudah di jaganya selama ini kini sudah di renggut. Ini bukan cuma salah Raihan saja dia juga salah sudah melemparkan dirinya kepada pria asing ini untuk mendapatkan uang.
Grisel, memeluk lututnya.
Dia sudah terhanyut dalam bujukan Raihan walaupun Grisel sempat menolak melakukan s*x itu tadi malam, tapi setelah meminum alkohol dia mulai agresif dia terhanyut oleh sentuhan-sentuhan Raihan berikan. Ciuman yang menuntun hingga lidah Raihan bebas bergerilya tanpa ampun. Hingga Grisel ikut terhanyut dengan jamahnya pada tubuhnya.
Raihan bahkan melakukannya berulang-ulang.
Grisel sampai takut untuk melihat bercak darah yang menempel pada seprei yang dia duduki ini. "Raihan tidak mengunakan pengaman, bagaimana kalau dia hamil ?" Dia meruntuki penyesalannya lagi.
"Bagaimana dia melanjutkan kuliahnya di luar kota nanti ? Semuanya hancur seketika, kamu benar bodoh Grisel.
Grisel kembali menangis, air matanya tidak bisa di cegah dia mengalir begitu deras. Bahkan tangisan itu merupakan tangisan penyesalan untuk Grisel.
Mendengarkan tangisan Grisel sudah pasti terjadi sesuatu, dia tidak perlu lagi membuka selimutnya dia bisa merasakan kulitnya bersentuhan dengan selimut tersebut. Berarti dia sama dengan Grisel dalam kondisi tubuh polos tanpa sehelai benang pun yang melekat pada tubuhnya. Dia edarkan pandang di sekelilingnya untuk menyakinkan dia lagi. Dia melihat bajunya berserakan di lantai. Dia benar mengutuk dirinya, mendengarkan tangisan Grisel dia menjadi kasian. Raihan memijit pelipisnya agar dia juga mengingat apa yang telah terjadi tadi malam.
Tiba-tiba sepotong ingatan itu muncul, ini merupakan pengakuan, kenyataannya dia telah merenggut keperawanan Grisel. Kata-kata itu, meski tak terucap, bergaung keras di benaknya, mengalahkan riuhnya suara kota yang mulai terbangun pada pagi ini.
Raihan menutup matanya, berharap bayangan itu sirna. Namun, semakin ia mencoba melupakannya, semakin jelas wajah Grisel terpampang di benaknya. Keperawanan Grisel yang ia renggut, bukan hanya meninggalkan bekas di tubuh Grisel, tetapi juga luka menganga juga di sanubari Raihan
"Grisel.. !"
"Aku tidak ingin bicara dengan mu."
Di leher Grisel, samar-samar terlihat jejak merah yang banyak, itu bukti tidak terbantahkan lagi dari gairah yang meluap tadi malam. Tiap bekas adalah bisikan tentang sentuhan-sentuhan yang dalam, tentang hasrat yang membara dan tak terkendali. Malam tadi, mereka terbakar dalam luapan emosi, meninggalkan tanda-tanda yang jelas, tak bisa disembunyikan dari tubuh Grisel yang terpampang nyata.
"Grisel Maaf.. semalam a—aku.. aku, sudah melakukannya kepada mu !" Ucap Raihan kepada Grisel dengan gugup.
Tidak ada jawaban terdengar hanya isakan tangisan Grisel.
Raihan memeluk tubuh Grisel, "maafkan aku.. ? Grisel, aku janji akan bertanggung jawab atas perbuatanku tadi malam."
Lagi-lagi Grisel tak kunjung bersuara.
"Grisel aku mohon, maafkan aku. " Raihan merasa menyesal atas perbuatannya, walaupun mereka berdua menikmatinya malam tadi, dalam kondisi dipengaruhi oleh alkohol.
"Ayo kita menikah aku akan membawa mu ke kota ku. Kita menikah disana Grisel."
"Tidak perlu aku tidak ingin menikah. " Dia tidak pernah merencanakan pernikahan dalam hidupnya setelah mengetahui pernikahan orang tuanya gagal.
Sebuah halaman yang sudah terkoyak.
Kata pernikahan sudah lama terhapus dari kamus hidupnya Grisel. Ia bukan lagi sekadar ketiadaan, melainkan sebuah ruang hampa yang disengaja, terisi oleh puing-puing kenangan yang pahit dan janji-janji yang tak akan dia penuhi dalam hidupnya. Tidak ada lagi kata pernikahan dalam hidupnya dia tidak mau menikah setelah dia melihat kehancuran dalam keluarganya, Mommy dan Daddy nya bercerai.
"Aku mohon Grisel."
Grisel mendorong tubuh Raihan. Grisel turun dari kasur dan membawa selimut itu menuju kamar mandi.
"Grisel aku akan menunggu mu habis selesai mandi kita bisa bicarakan ini dengan secara baik-baik aku mohon Grisel."
"Tidak usah silahkan kamu pergi dari kamar ini."
Raihan meruntuki kebodohannya. "Raihan tidak pernah mama mu mengajarkan untuk berbuat jahat seperti ini. Kenapa kamu terperdaya bujukan teman mu itu. Emang pantas sebutan si bodoh di sematkan kepada mu Raihan. Mampus aku kalau Mama tahu aku sudah meniduri wanita ini."
"Grisel please maafkan aku.. ?"
Grisel menoleh ke arah Raihan lagi. Tatapannya sungguh sangat tajam, di ibaratkan sebuah mata pisau mungkin tubuh Raihan sudah tercabik-cabik.
"Sesuai dengan kesepakatan yang sudah agen sepakati dengan mu, tolong ya aku minta bayarannya kepadamu karena kamu sudah merenggut keperawanan ku."
Grisel meninggalkan Raihan dalam kebekuan." Dia menginginkan uang itu." Gumam Raihan.
Terlihat Grisel berusaha untuk berjalan itu tidak terlepas dari pandangan Raihan.
Dari cara berjalannya Grisel terlihat sekali berusaha keras. Deretan langkah Grisel penuh perjuangan. Setiap ayunan kaki Grisel terlihat berat, seolah ada beban tak kasat mata yang menariknya kembali. Ia sungguh-sungguh mencoba. Namun, usahanya sia-sia. Bahu yang sedikit terangkat dan tarikan napas yang tertahan, tak mampu menyembunyikan kenyataan pahit. Kini rasa sakit itu begitu nyata, begitu menusuk. Setiap langkah adalah peperangan kecil, dan Grisel kalah telak. Ia berjalan, atau lebih tepatnya, menyeret dirinya, dalam balutan kesunyian yang pilu.
"Maafkan aku Grisel." Gumam Raihan pelan.
Grisel kembali meneteskan air matanya menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Kini pandangan Raihan tersapu, tak sengaja menangkap sprei putih di ranjang. Seketika, matanya melebar, napasnya tercekat di tenggorokan. Di sana, warna kontras di sprei putih ini, terhampar bercak darah merah yang tak bisa dihindari. Merah pekat, seolah berteriak dalam kebisuan kamar disusul denyutan hebat di pelipis. Jemarinya terangkat, memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa begitu berat, seolah mencoba mengusir bayangan mengerikan yang kini menancap di benaknya.
"Kamu benar br*ngsek Raihan !"
***