Baju itu memeluk tubuh Grisel bagai bisikan jahat, kain minim yang dipakainya ini sungguh sengaja membuat mengoda bagi yang melihat. Belahan d**a yang merosot rendah, nyaris menantang pandangan, seolah ia berteriak atas nama nafsu. "Cindy benar-benar ingin sekali ia menjadi seperti dirinya," batin Grisel.
Sebuah napas panjang berdesir dari bibirnya, tercetak jelas keraguan di bibirnya namun pantulan cermin di depannya ini tak berdusta ia memang sedang mengenakan busana untuk memancing lawan jenisnya, seperti sehelai kain tipis tembus pandang yang nyaris tak menutupi apa pun pada tubuhnya.
"Apakah orang yang di dalam kamar hotel itu benar orang yang baik ? jangan-jangan aku dapat teman kencan malam ini adalah om-om atau seorang mafia yang haus akan hasrat seksual. Ya Tuhan kenapa aku harus setuju dengan penawaran Cindy kemarin. Grisel memukul bibirnya, Kenapa kamu harus sebodoh ini Grisel. Apakah kamu tergiur dengan jumlah uang miliaran itu." Grisel mulai lagi meruntuki kebodohannya.
Kini setiap detiknya adalah anak panah yang melesat, mendekati titik di mana riwayatnya Grisel akan tamat malam ini. Denyutan dalam dadanya kian mengencang ritme jantung menabuh genderang kecemasan. Cindy, dengan senyumnya yang membujuk kemarin menawarkan sebuah jeda dari lara, namun kini jeda itu berubah jadi jerat. Keperawanan, sebuah kata yang terasa asing, namun sebentar lagi akan direnggut paksa.
Haruskah malam ini menjadi penutup untuk hidupnya?
Cukup lama Grisel berdiam diri di cermin entah apalagi yang dia pikirkan setelah beberapa menit dia menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa keluar dari lingkaran setan ini karena dia sudah terlanjur mengiyakan penawaran itu.
Setelah berdebat dengan hati dan pikirannya akhirnya Grisel meninggalkan toilet dan menuju ke kamar yang sudah diberitahukan oleh agennya. Dia sedang berjuang dengan dirinya sendiri semoga saja ada keajaiban menyelamatkan dia malam ini. Grisel membatin.
Saat Grisel melihat Nomor kamar, tiba-tiba seseorang tidak sengaja menabrak nya.
"Maaf Nona, aku tidak sengaja. "
"Iya tidak Papa, aku juga tidak lihat jalan tadi." Grisel dengan segera menutup d**a nya pakai tangan. Belahan d**a nya Grisel sempat sedikit terekspose, tapi dia dengan segera kembali merapikan lagi gaun seksinya itu.
"Maaf Nona sepertinya kamu dalam kesusahan, apa ada yang bisa saya bantu ?."
"Tidak terima kasih, aku mencari kamar Kakak ku." Bohong Grisel kepada pria ini.
"Apakah ini benar lantai Presidential Suite atau Penthouse Suite.. ? "
"Benar Nona."
"Aku tidak mengerti kenapa dia tidur di lantai paling tinggi sekali, aku kira lantai ini tidak ada penghuninya, aku sempat takut tadi. "
Pria ini tersenyum. "Iya betul sekali ini kamar presidential Suite letaknya paling dasar Nona."
"Terima kasih infonya aku kira aku nyasar ternyata benar disini tempatnya."
Grisel tersenyum sangat manis dan senyum itu membuat pria ini seperti merasakan ledakan di dalam hatinya. Sungguh sangat manis sekali senyum wanita ini. Batin Pria ini.
"Ya sama-sama Nona, semoga cepat ketemu kamar kakaknya, saya permisi dulu Nona, sekali lagi maaf ya."
"Iya tidak masalah."
Grisel dan pria tersebut sama-sama berpisah dengan arah yang berbeda.
Sepertinya dia juga menginap di lantai ini.
"Dia sangat cantik, tapi dia tidak seperti yang ada di dalam pikiran ku kan ? mudah-mudahan dia benar mencari kamar kakaknya dan tidak mungkin juga kan dia akan berbuat aneh di lantai ini ?" Dia kembali menoleh kearah Grisel.
"Tapi—, tidak gampang orang melewati lantai ini tanpa persetujuan resepsionis khusus di lantai ini, ah sudahlah aku kenapa jadi aneh sekali pikirannya siapa tahu dia benar orang kaya yang sedang mencari kakak nya. Dia benar sangat cantik dan seksi sekali, semoga aku bisa berkenalan dengan dia di lain waktu." Gumam pria itu menatap punggung Grisel yang kini sudah menjauh.
***
Sudah lima menit Grisel berdiri di depan kamar hotel ini. Dia masih di landa keraguan Grisel belum pernah tidur dengan siapa pun, jangankan tidur pacaran saja dia tidak pernah, walaupun sudah banyak yang mengajak dia pacaran. Tapi mana sempat dia memikirkan hal semacam itu yang di pikirkan Grisel bagaimana dia bisa mengumpulkan uang untuk kesembuhan adiknya.
Dia mengatur napasnya kembali, dia sedikit gemetaran. Rasa takut dan cemas mendominasi hati Grisel malam ini, hidupnya benar akan berakhir tidak virgin lagi. Fezya, Kakek, Nenek , tolong maafkan Grisel ya, jika memang Grisel melakukannya. Kalian tenang saja, aku akan berusaha untuk bernegosiasi untuk membatalkan kencan ini, semua ini terpaksa Grisel lakukan. Tapi kini Grisel menyesal sudah mengiyakan penawaran dari Cindy.
Grisel mengambil napasnya.
‘Tok.. tok…!’
“Hm, sebentar…”
Pria asing, sangat tampan muncul di sebalik pintu, dia membuka kan pintu untuk Grisel.
Grisel sangat bersyukur bukan Om-Om yang berada di kamar ini menyambutnya.
Duh, bisa dirasakan jantungnya berasa mau copot ritme nya tiba-tiba kacau begini. Ini merupakan bagian hidup yang tidak pernah Grisel duga.
Grisel menatap pria ini, Dia seorang pria dewasa yang sangat ganteng.
Grisel dipersilahkan masuk tiba-tiba bau alkohol meruak dari mulut pria asing ini.
Dia langsung menutup pintunya segera.
"Kenapa kamu terlambat Nona Grisella ?" Dia mengikuti pria ini dari belakang.
"M—maaf..!"
"Tidak mungkin kamu nyasar kan ? "Ucap Raihan kesal. Dia tidak suka sama orang yang tidak tepat waktu tapi untuk Nona ini Raihan memaafkan nya. Dia duduk di sofa bed menatap wajah Grisel.
"A—aku kesulitan mencari kamarnya. Maaf.. !" ucap Grisel berbohong. Dia sudah melakukan kebohongan pertama tadi dan malah keterusan berbohong lagi, ini tidak untuk dicontohkan.
"Kenapa kamu berdiri disana seperti orang penagih hutang saja, ayo mendekat ke sini ?" Raihan menepuk sofa bed disebelahnya.
" Atau jangan-jangan kamu akan melakukan dengan berdiri terlebih dahulu ? " Ucap Raihan dengan menyeringai.
Mata Grisel melotot kaget kearah Raihan.
"Aku-aku minta maaf..!" A—aku aku.. Suara Grisel terdengar gugup dia tidak tahu mau ngomong apa.
“Pakaianmu sangat seksi sekali, apakah baju ini sengaja kamu gunakan untuk menggoda ku ?". Sudut bibir Raihan tertarik.
"Ayo, Buka baju mu Nona Grisella aku suka kamu tanpa pakai baju ?”
Dia sudah mengetahui nama wanita di depannya ini dari agen yang mengurus semua ini. Tidak sia-sia 10 miliar dia keluarkan malam ini untuk gadis yang cantik dan seksi ini.
"Hah..? B—buka baju ku? " ucap Grisel gemetaran lagi.
"Haha..." Raihan tertawa ke arah Grisel, terdengar seperti ketawa mengejek.
"Hei, gadis kecil bukankah kamu yang melempar dirimu kepada ku untuk memuaskan nafsuku malam ini.. ? " Ucap Raihan dengan tegas.
"Aku terpaksa, tapi aku berubah pikiran lagi." Balas Grisel dengan tegas kembali.
Kenapa harus langsung buka baju, bukannya kita harus berkenalan dulu dan cerita ini itu. Sepertinya orang ini tidak sabaran. Batin Grisel. Dia masih sempatnya untuk protes pada dirinya, padahal nyawa nya sudah di ujung tanduk.
"Haha.. Jangan aneh. "
"Tapi.. Tapi.. Aaku—,"
tiba-tiba ucapan Grisel terhenti saat Raihan menarik Grisel untuk mendekat dan Grisel sudah berakhir di pangkuannya Raihan di sofa bed.
"Tuan jangan lancang begini."
"Jangan panggil aku Tuan nama ku Raihan."
"Apakah kamu masih Perawan ?"
Grisel mengangguk.
"Berarti ini pertama kali kamu akan melakukan hubungan s*x ?"
Grisel kembali mengangguk.
"Jangan pernah berbohong kepada ku, aku akan membunuhmu kalau sampai kamu berbohong. Aku tidak mau kamu menularkan penyakit kepada ku."
"A—aku tidak berbohong tuan."
"Jangan panggil aku Tuan, Baiklah aku akan membuktikan nanti kamu masih perawan atau tidak ." Tiba-tiba Raihan menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya Grisel akibat tarikan Raihan tadi.
"Kamu sangat cantik." Raihan tiba-tiba mengusap pipi Grisel dengan lembut dan itu berhasil membuat Grisel merinding.
"Awas aku mau duduk." Grisel mendorong d**a Raihan pelan, bau alkohol dari mulut Raihan ini mengganggu nya. Grisel pun duduk di samping sebelah Raihan, Dia benar ketakutan.
" Grisel, Aku belum pernah melakukannya kemarin aku tiba-tiba di tawarkan oleh teman ku untuk melakukan ide gilanya ini." Ucap Raihan jujur.
"Aku juga, sejujurnya aku terpaksa mengiyakan penawaran sahabat ku, karena aku sangat membutuhkan uang untuk pengobatan Adik ku yang sedang sakit."
"Berarti kamu mengorbankan dirimu sendiri ?"
Grisel mengangguk.
"Apakah tidak ada cara lain ?"
"Aku sudah berkerja beberapa pekerjaan selama ini. Aku mengambil Job dimana pun, tapi aku masih kesulitan untuk mengumpulkan uang."
"Uhm, ayo kita habiskan malam ini dengan ngobrol dan menemani aku minum aku butuh teman ngobrol dan besok mungkin aku harus kembali ke kota ku."
"Jadi tuan bukan dari kota ini."
Raihan menggeleng.
Grisel mengiyakan saja menemani Raihan ini untuk ngobrol dia sangat bersyukur Raihan bukan dari Surabaya dan dia mau berkerja sama dengan ku malam ini dengan tidak melakukan s*x.
Grisel sudah berubah pikiran 10 miliar tidak penting lagi, dia tidak ingin melakukan s*x bersama Raihan dia akan pikirkan nanti mencari uang untuk pengobatan adiknya.
Malam pun semakin larut obralan mereka berdua semakin intens.
"Aaarghh.. sakhiit.. !"