6. Tawaran 10 miliar ?

1233 Words
Dua Tahun berlalu Bostan dan Surabaya sudah sangat jauh sekali untuk Grisel gapai. Kini jejak keberadaan orang tua sella tidak terdengar lagi apa mereka masih hidup atau sudah mati ? Apakah Grisel rindu ? Tentu saja tidak lagi, Untuk apa lagi rindu semuanya sudah usai, dia sudah mengikhlaskan semua takdir Tuhan yang diberikan kepadanya. Dia tidak benci, tapi setiap kali dia teringat hal menyakitinya di Amerika itu air matanya jatuh lagi. Ini sudah dua tahun berlalu ternyata lukanya tidak benar pulih, hanya saja dia berusaha selalu mengabaikan rasa sakit itu. Grisel mendongak, menatap langit siang yang terbentang luas di atasnya. Biru cerah tanpa awan, seolah tak ada beban di dunia. Namun, mirisnya keceriaan langit itu tak sejalan dengan isi hatinya. Ada awan mendung yang bergelayut di sana, begitu pekat dan kelabu. Langit yang dulu ia pandang dengan penuh harap, kini terasa hampa. Indahnya tak lagi sama, seolah semua warna telah luntur, menyisakan kehampaan yang menganga. Di pagi ini saja, Grisel terbangun dengan perasaan yang berbeda. Terlihat juga beberapa kabut yang berlomba-lomba untuk memeluk kota ini. Embun pun jatuh di jendela kamarnya pagi ini seolah mengabarkan rindu kepadanya. Ini bukan perasaan jatuh cinta yang Grisel rasakan ataupun sedang patah hati. Tapi rasa ikhlas yang luas dalam menerima takdir hidupnya. Tidak punya Mommy dan Daddy disampingnya untuk bergantung hidup lagi, semuanya pergi meninggalkan jejak luka di hati Grisel. Dia dan Adiknya di antar ke Indonesia, di tinggalkan begitu saja, memutuskan komunikasi tanpa ada kabar sama sekali. Dia tidak menyangka takdir Tuhan begitu hebat menghantam hidupnya. Memiliki rumah mewah di Amerika tapi rumah paling banyak menghadirkan luka untuk Grisel dan Fezya nyatanya keluarganya sendiri menjadi pelaku utamanya. Kini Mommy dan Daddy nya sudah memiliki keluarga masing-masing. Tega sekali mereka. Kini Grisel dan Fezya benar telah kehilangan arti keluarga di kehidupannya. “Grisel... !” Cindy menghampiri Grisel. "Hei, Lo melamun apa ? panjang amat lamunan mu !” "Lho La, kamu habis nangis, apakah kamu lagi ada Masalah ?" Grisel cepat-cepat mengusap matanya. "Hah, nggak kok tadi aku cuma kelilipan debu aja ini bekas usapan saja." elaknya, suaranya sedikit bergetar. Kenyataannya, tiap kali dia ingat tentang Mommy dan Daddy nya emosi itu selalu saja meluap. Ada ganjalan besar di hatinya, bercampur aduk dan terlalu perih untuk dibicarakan masalahnya kepada orang lain. "Kamu yakin ?" “Hm, Kamu udah lama nyampe Cin ?” Tanya Grisel kepada Cindy. Dia sahabatnya Grisel semenjak Grisel sekolah di Surabaya cuma dia yang baik sama Grisel. “Baru kok, maaf ya kamu menunggu ku lama.” “Nggak papa kok. Siang ini lagi free aja pekerjaan ku nanti sore." Grisel dan Cindy kini berada di cafe, Cindy mengajak Grisel untuk bertemu ada yang harus Cindy omongkan kepada Grisel soal informasi yang menarik. Cindy sengaja meminta Grisel memilih meja yang jauh dari orang lain biar pembicaraan ini tidak dikonsumsi oleh banyak orang. “Gimana Grisel, soal w******p aku kemarin ? ini kesempatan kamu untuk mendapatkan uang banyak. Wanita seperti kita ini tidak ada yang melirik atau pun menikahi kita nanti.” “Aku sepertinya tidak bisa Cindy, mendengarnya aja membuat aku merinding.” “Kamu tahu sendiri kita ini cuma gadis miskin, lihat saja dirimu banting tulang untuk biaya pengobatan adik mu. Begitu juga dengan ku mengobati ibu ku yang sakit-sakitan.” “Ayolah ikut aku saja malam ini Grisel, aku sudah mendapatkan uang banyak kamu lihat kan aku pakai pakaian mewah, bisa beli apapun dari hasil ku ini dan ibu juga rutin kontrol sekarang aku pengen ibu ku sembuh walaupun aku harus mendapatkan uang dengan cara yang berbeda dari orang lain.” “CINDY.. !” Grisel melotot kaget apa yang Cindy omongkan kepada Grisel ini dia memaksa ku untuk seperti diri nya. Walaupun aku tinggal di luar negeri tidak segampang itu aku merelakan keperawananku kepada orang lain. Grisel menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak. Godaan itu nyata. Kebutuhan akan uang, keinginan untuk membuktikan diri, kadang terasa begitu mendesak. Tapi, apakah ini jalannya? Apakah nilai dirinya memang hanya sebatas uang yang bisa ia dapatkan, bukan dari integritas atau harga diri? “Grisel, Aku cuma berani bilang sama kamu, mungkin ini cara yang salah tapi aku tidak tahu lagi pekerjaan apa yang menghasilkan uang banyak kalau bukan seperti ini.” “Astaga gila kamu ya Cin , aku berjuang untuk bisa kuliah dengan jalur prestasi untuk melanjutkan kuliah ku, bagaimana kamu mengajak aku dengan melakukan pekerjaan itu dengan cara berkencan satu malam sama orang asing ?.” “Cuma itu yang bisa aku pikirkan caranya. Hidup di Surabaya keras Grisel, kalau kita tidak berusaha dan berkerja kita tidak akan dapat makan. Maafkan aku Grisel, cuma itu yang bisa aku pikirkan caranya kalau mau dapat uang banyak. Apalagi kamu harus merantau ke luar kota untuk melanjutkan kuliah mu nanti ?." Cindy memberikan jeda, agar Grisel mencerna apa yang Cindy bicarakan. "Grisel, apakah kamu kira nggak pakai uang untuk hidup dikota dan di sana lebih parah lagi. Aku tahu kamu dari luar negeri dan mungkin kamu anak orang kaya, tapi kamu harus garis bawahi kata ku ini Mommy mu meninggalkan mu di kota ini dan tak pernah kembali lagi.” Betul yang di omongin Cindy Mommy dan Daddy nya tidak menginginkan ke hadirannya di dunia ini. Grisel memijit pelipisnya yang tidak sakit dia tidak tahu lagi mau dapat uang yang halal dari cara seperti apa lagi, tiga pekerjaan yang dia lakukan sehari pun cuma cukup untuk kebutuhan sehari-hari mereka. “Ttapi, nggak harus jual diri juga Cindy aku tidak mau..!” “Terus kamu harus dapat uang dari mana Grisel ? kamu berkerja selama ini apakah bisa terkumpul uang jutaan, atau miliaran ?" Grisel menggeleng kepalanya. "Seharusnya usia kita ini sedang asyik-asyiknya berjuang untuk pendidikan, tapi nyatanya kita cuma memikirkan isi perut kita untuk makan hari ini apa, besok apa lagi.. !” Ucap Cindy tegas kepada Grisel. Grisel terdiam membisu mendengarkan tutur kata Cindy. “Kalau kamu masih perawan harga tubuhmu akan mendapatkan keuntungan miliaran aku pertama kali mendapatkannya 10 miliar untuk satu malam. " Cindy terus mendesak Grisel. "APA 10 MILIAR… ?? "Grisel tentunya kaget mendengarnya. Dia sampai menutup mulutnya saking kagetnya dia. Angka yang begitu fantastis menurut Grisel, angka yang bisa mengubah segalanya. Sepuluh miliar, hanya untuk satu malam. Wow Sebuah penyerahan diri yang diukur dengan nilai yang melampaui imajinasi. "Iya Grisel, aku jual masa depan aku Lho, untuk pria yang tidak aku kenal wajar dong harganya miliaran dan aku juga virgin 10 miliar itu sangat pantas. Tapi Grisel, dengan uang itu akhirnya ibu ku bisa operasi dan adik-adik ku bisa sekolah kembali. Sebagai anak yang terlahir tidak berkecukupan aku bisa apa ? karena kerja serabutan tidak akan terkumpul uang sebanyak itu untuk operasi ibu ku Grisel. Kamu tahu sendirikan aku selama ini seperti orang gila mencari uang.” Grisel menghela napasnya. Dia pun sama kehidupannya dengan Cindy. Kehidupannya Cuma bergantung sama Nenek dan kakeknya hanya pekerjaan seorang petani. Itu pun hasilnya hanya sedikit membantu untuk kebutuhan sehari-hari. Dia harus mengumpulkan uang setiap bulannya untuk pengobatan adiknya dengan berkerja di cafe dan di tokoh lain kadang sampai malam dia harus berkerja untuk tambahan uang pengobatan adiknya. Apa yang harus aku lakukan ? batin Grisel Seminggu lagi adiknya harus kontrol lagi dan dia juga harus ke kota untuk melanjutkan study nya. Grisel sudah bertekad ingin kuliah dan ingin berkerja di perusahan di kota agar dia bisa membantu perekonomian keluarganya. Aku harus gimana Tuhan, apakah aku menerima saja tawaran dari Cindy.. ? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD