Volume 1 - Prolog
Malam ini terasa sangat dingin, terlihat lelaki berambut hitam kecoklatan yang memakai jaket putih tebal menuju sebuah minimarket dikota. Waktu menunjukan pukul 21.45 dan dia masuk kedalam minimarket untuk membeli beberapa camilan; termasuk mie cup instan serta beberapa keripik kentang kegemarannya.
Karena malam yang terlalu dingin, dan rasa lapar yang sangat mengganggu maka dia putuskan untuk menyeduh mie tersebut serta memakannya sembari duduk didepan toko itu. Rasa kari yang sangat pedas membuat dirinya ketagihan, dan langsung memakannya hingga habis tak tersisa.
Setelah merasa kenyang, serta dia masih memiliki beberapa camilan yang siap untuk dimakan nanti. Lelaki itu beranjak pergi dari bangku toko tersebut, kemudian berjalan menuju apartemennya.
Diperjalanan melewati sebuah kios jam antik. Waktu menunjukkan pukul 22.15 terlihat dari sebuah jam besar antik didalam jendela kaca kios tersebut. Secara tidak sengaja lelaki itu melihat beberapa orang didalam kios. Salah satunya seorang wanita berparas cantik dengan setelan rapi ditemani dua pria bertubuh kekar.
Mereka nampak membicarakan sesuatu dengan si pemilik kios yang seorang pria tua. Dan karena suatu hal mereka terlihat sedang mengadu argumen dengan cukup panas.
Tiba-tiba terjadilah sebuah insiden itu, si wanita tersebut dengan mudahnya melancarkan sebuah tembakan kepada si pemilik kios jam.
"Dooorr !"
Sontak lelaki berambut hitam terdiam melihat kejadian itu, dia hanya bisa melongo melihat perbuatan wanita tersebut.
Tanpa dia sadari, mereka juga melihat kearahnya. Dan nampak wanita tersebut menyuruh kedua pria besar itu untuk segera keluar.
Ya, untuk menangkapku. Aku dengan cepat segera meninggalkan tempat itu, didalam pikirannya yang kacau. Dia berlari menuju pos polisi terdekat.
Namun, dari belakang, dengan cepat kedua pria itu terus mengejarnya. Dia berlari memasuki gang kecil disamping gedung untuk mengecoh kedua pria itu, dia pun semakin menjauh dari kejaran mereka. Hingga akhirnya sampai didepan pos polisi, tetapi dia harus menyeberang jalan terlebih dahulu untuk sampai kesana.
Sialnya, sebelum lelaki itu melangkahkan kaki. Dari arah belakang kedua pria itu menangkapnya.
"Lepaskan aku..." Mereka membukam mulutku dengan tangan. Dia terlihat tidak dapat bergerak sama sekali. "Saksi sudah kami tangkap boss..." Terlihat salah satu dari pria itu sedang menghubungi wanita tadi.
Perasaanku mulai tidak enak, dan benar saja. Si wanita tadi datang membawa mobil yang sangat mewah, yaitu limousine luxury berwarna hitam. Seketika aku dimasukkan kedalam mobil tersebut, serta nampak dia tidak dapat berbuat apapun. Dan lelaki itu menjatuhkan sisa belanjaannya dijalanan begitu saja.
Dan mobil itu mulai berjalan, aku yang telah berpasrah diri hanya bisa diam tertunduk merasa ketakutan. "Hey kamu... Sedang apa kamu disana ?" Tanya wanita itu.
Intonasinya cukup terdengar santai namun terasa begitu mengancam. "Hanya lewat saja..." Jawab lelaki yang masih merasa ketakutan itu.
"Dan apa yang kamu lihat tadi ?" Wanita itu bertanya sekali lagi. "Aku tidak melihat apa pun...!" Aku menjawab dengan gugup, serta aku merasakan keringat menetes dikepalaku.
Seketika dia meluarkan sebuah pistol dari laci disalah satu kursi didalam mobil tersebut. "Kamu tahu ini ?!" Dia semakin menekanku, meski nadanya tidak menunjukan dia marah atau tidak. Tetap saja dia sedang membawa sebuah pistol yang siap dia gunakan kapan saja.
Hal itu membuat aku semakin panik, bahkan aku sama sekali tidak berani menatap kearah wanita itu. "Aku tanya sekali lagi, apa yang kamu lihat disana tadi !?" Sembari wanita itu mengacungkan pistol kearah kepalaku dan terlihat siap untuk menekan pelatuknya. "Baiklah, maafkan aku... Aku tidak sengaja melihatnya. Aku melihat kamu membunuh pria tua itu" Jawabnya dengan nada memohon ampun didepan wanita berpakaian elegan itu.
"Sekali lagi maafkan aku, aku mohon ampuni aku, dan biarkan aku pergi !" Dia memohon ampun didepan wanita tersebut. "Aku mohon, dan aku tidak akan melaporkan kejadian yang aku lihat tadi kepada polisi !" Dia masih merunduk didepan wanita itu.
"Hmmm... Bagaimana ya ?" Pikirnya sembari melihat kearahku, dan masih menodongkan pistolnya. "Aku benar-benar minta maaf !" Sahut lelaki yang masih menunggu jawaban dari wanita tersebut.
"Baiklah, tapi ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi. Jika gagal maka hidupmu taruhannya !" Balas wanita itu mengancam. "Apa pun akan aku lakukan..." Lelaki itu mengangkat kepala menatap haru kearah wanita tersebut. "...Terima kasih banyak !"
"Syarat yang pertama, jilatlah kaki ku..." Ucap wanita itu tanpa memikirkan perasaan orang lain terlebih dahulu. Dia menjulurkan kakinya yang sudah tidak memakai alas kaki ke hadapanku. Kulitnya yang sangat mulus dan putih terlihat dari punggung kakinya yang nampak begitu terawat. Tanpa pikir panjang aku menjilat punggung kaki wanita tersebut.
Bukan hal bagus menurutku, tapi hanya inilah jalan satu-satu demi kelangsungan hidupku. Liur dari mulutku terlihat membasahi seluruh bagian kaki wanita tersebut, dan dia memintaku untuk memakaikan sepatu miliknya lagi.
"Tapi kamu tidak akan bisa kemana-mana, apalagi keluar dari kota ini. Hal itu juga akan berakibat fatal bagi hidupmu !" Sahut wanita itu mengancam. Aku mengangguk, pikirku yang tidak bisa berbuat apa-apa terpaksa menerimanya meski dengan berat hati.
Tiba-tiba mobil berhenti dan pengelihatan ku ditutup dengan menggunakan kain hitam. Aku seperti dibawa kedalam sebuah ruangan, terus berjalan dengan digandeng oleh kedua pria tersebut.
Lalu kami seperti sedang berada didalam sebuah lift elevator, bergerak menuju lantai atas. Entah sudah berapa lantai telah dilewati, akhirnya pintu elevator tersebut terbuka dan kemudian kami melangkah keluar dari dalamnya.
Berjalan meninggalkan elevator, beberapa langkah maju dan aku seperti dibawa masuk kedalam ruangan lainnya. Aku duduk disebuah kursi, dan kedua pria itu nampaknya telah meninggalkan aku sendirian diruangan tersebut.
Seketika suasana menjadi hening, aku ingin sekali melepas penutup mata ini. Namun aku tidak bisa melakukannya dikarenakan kedua tanganku telah terikat dibelakang.
"Apa ada orang disekitar sini ?"
"Hallo..."
Ruangan itu benar-benar sepi, dan mungkin mereka meninggalkan aku disebuah gudang atau loteng dari bangunan ini.
Kemudian seseorang membukakan penutup mata ini. Sontak aku kaget melihatnya, ternyata aku berada disebuah kamar. Kamar yang terlihat sangat luas, didepanku ada sebuah sofa panjang dan meja kecil dihadapanku.
Terlihat dibelakang sofa itu sebuah ranjang berukuran besar yang sangat mewah. Seketika dalam pikiranku menebak, apakah kamar ini milik si wanita tersebut ?
"Selamat datang dikamarku tuan tampan !" Ucap wanita tersebut, dia duduk diatas sofa di depanku. Wanita itu hanya memakai gaun tipis yang menampakkan seluruh lekuk tubuhnya. Seketika aku berpaling untuk tidak menatapnya. "Kenapa kamu berpaling ?" Tanya wanita tersebut.
"Tidak sopan nona, melihat anda yang seperti itu..." Dia menjawab dan sebisa mungkin tidak menyakiti perasaannya.
"Kamu lucu sekali !" Ucap wanita itu yang terlihat sedang menuang sebuah wine ke gelas kaca miliknya yang telah tersedia diatas meja sebelumnya. "Kamu suka minum-minum ?" Dia bertanya.
"Maafkan aku sebelumnya, bisakah kamu pakai baju yang lebih baik daripada itu ?" Sahut aku menyela, dan menjawab. "...Aku tidak suka minum-minum"
"Apa kamu tidak suka aku mengenakan ini ?" Dia kembali bertanya, sembari meminun segelas wine yang ada ditangannya.
"Maksudku, bukan seperti itu !" Sontak aku menjawab. Dan melihat kearahnya serta dia sedang melepaskan pakaian yang dia kenakan. "A-Apa yang akan kamu lakukan ?!" Kemudian aku menutup kembali mataku.
Wanita itu mendekatiku, tiba-tiba dia meraih kepalaku dan melumat bibirku ini dengan b*******h. Seketika lidah kami saling mengulum, dan dia seakan memimpin permainan ini.
Dan ini merupakan pertama kalinya aku melakukan hal semacam ini, ditambah lagi melakukannya bersama wanita yang tidak aku kenal.
Tangan masih terikat, aku hanya bisa pasrah, lidahnya terasa memenuhi mulutku. Hingga aku menelan sedikit cairan dari dalam mulutnya. Seketika dia menghentikan aksinya itu dan bertanya, "Apa kamu juga tidak suka hal semacam ini ?"
"Aku tidak tau, ini pertama kalinya aku melakukan hal seperti ini !"
Sontak wanita itu tersenyum dihadapanku. Wanita yang telah menanggalkan semua pakaian dibadannya itu, duduk diatas pahaku. "Beruntung sekali, kamu, baru pertama kali kan ? ...Maka akan aku beri yang spesial !" Sahut wanita tersebut.