"Apa yang ingin kamu lakukan ?! Panik melihat wanita tersebut sedang membuka resleting celanaku. "Diam dan nikmati saja !" Perlahan dia mengeluarkan batangku dan melakukan hand job beberapa saat.
"Ini terlihat sangat enak..."
Lalu dia turun dari pangkuanku, dan memberikan blow job kepada batangku yang terasa sudah sangat keras. Rasanya sangat aneh, tapi terasa hangat. "Sudah, cukup... Hentikan, aku mohon !" Dia menggeram karena merasa kegelian berkat aksi wanita tersebut.
Lalu dia menyedot batangku dan menekannya, sehingga membuatku terasa ingin meledak. "T-Tolloong... Hentikan, rasanya aku ingin meledak !!" Dan terjadilah ledakan itu, aku terasa mengeluarkan cairan dengan begitu banyaknya. Hingga memenuhi mulut wanita tersebut, serta terlihat dia meminum cairanku.
"Maafkan aku !"
Mengela nafas lega dan mencoba mengatur nafas dengan baik. Wanita itu kembali duduk disofa dan meminum segelas wine miliknya lagi.
"Ini adalah syarat kedua, dan masih ada syarat-syarat lain yang harus kamu penuhi" Sahut wanita itu, dia kemudian mengenakan pakain miliknya.
Serta mataku kembali ditutup dengan kain hitam olehnya. Tidak lama kemudian, aku dibawa lagi kesuatu tempat. "Mau dibawa kemana lagi aku ?" Sahut aku bertanya.
"Sudah diam !" Jawab salah satu pria itu lagi dengan garangnya. Kami memasuki sebuah ruangan lain. Disana mereka membuka penutup mataku, dan terlihat sebuah kamar yang sangat rapi.
"Kamu akan tinggal disini, dan ini adalah kamarmu !" Mereka berdua kemudian keluar meninggalkan aku sendirian dikamar tersebut.
Sekarang lelaki itu tinggal disana, dan yang membuatnya jadi kepikiran adalah bagaimana dengan barang-barang miliknya diapartemen lama.
Suara bel berbunyi, kemudian dia membuka pintu kamar itu. Berdiri dihadapannya seorang wanita cantik lain, rambutnya digulung rapi dan dengan warna coklat kemerahan membuatnya terlihat sangat mempesona.
"Perkenalkan namaku Tivani, aku kesini atas perintah pimpinan" Sahut Tivani dan memberikan sebuah koper kepada lelaki itu.
"Apa ini ?!" Lelaki itu bertanya.
"Di dalam ada baju yang harus kamu pakai, dan juga beberapa peralatan untuk kamu gunakan" Jawab si wanita tersebut dengan nada dingin.
Dia pergi begitu saja, bahkan tanpa kata permisi keluar dari mulutnya. Lelaki tersebut kembali masuk kedalam kamar, dan mengunci pintu dari dalam.
"Sebenarnya apa yang ingin dilakukan wanita itu, dan siapa dia sebenarnya ?!" Bergumam dalam hati memikirkan wanita yang telah berbaik hati memberi sebuah kenikmatan itu. Kemudian aku buka koper tersebut sontak aku kaget melihat isinya.
Didalam memang berisikan pakaian, sebuah tuxedo berwarna hitam lengkap dengan celana dan sepatunya. Namun berserta sebuah pistol silver dan satu magazine penuh berisikan peluru siap untuk dipakai.
"Astaga, apa maksudnya ini ?!"
Terlihat sebuah surat diselipkan dalam saku baju tersebut. Aku mengambilnya, berharap ada sebuah petunjuk dari semua barang ini.
Pakailah, dan Jangan sampai ada peralatan yang tertinggal satu pun. Salam Elise ❤
"Si wanita itu ternyata bernama Elise !" Sahut lelaki itu sembari membaca surat dari wanita berambut kuning sebelumnya.
Tiba-tiba terdengar suara telfon seluler berbunyi, aku mencari kedalam koper tersebut. Terlihat sebuah pengingat sedang berlangsung, padahal waktu masih menunjukan pukul 02.40 dini hari.
"Apa lagi ini !?" Kemudian membaca sebuah memo dari telfon seluler tersebut.
Datanglah ke lantai B4 dengan pakaian yang sudah aku siapkan ! Kamu hanya memiliki waktu 20 menit setelah melihat pesan ini. Atau tidak ada lagi masa depan untukmu !
"Astaga, apa-apaan ini...!?"
Segera mungkin dia langsung membersihakan diri dan memakai semua peralatan yang diminta meski ada rasa kesal terselip dibenaknya. Dia mengenakan tuxedo tersebut, kemudian keluar menuju elevator yang ada diujung lorong.
Dengan cepat dia menekan tombol B4 yang telah tersedia. Tidak lama kemudian lift elevator datang, lelaki itu memasukinya dan menekan tombol tutup. Lantai elevator bergerak cepat kebawah menuju lantai B4.
Pintu elevator terbuka dengan sendirinya, lelaki itu keluar dan disana sudah menunggu si wanita bernama Elise, duduk dikursi kantor di belakang sebuah meja mewahnya yang besar.
Didalam ruangan itu telihat dua pria yang tidak aku kenal, serta si wanita bernama Tivani yang datang ke kamarku tadi.
"Selamat datang, waktumu 18 menit 57 detik, sungguh tidak terduga...!" Wanita bernama Elise itu berkata. "Sudah aku bilang, apapun itu, sebisa mungkin akan aku lakukan !" Aku menjawabnya dengan lantang.
"Aku kagum denganmu, percayalah" Ucap Elise memuji. "Eh ?! T-Terima kasih..." Sahut lelaki itu.
"Langsung saja, kali ini, aku ingin kamu menjalankan sebuah tugas rahasia" Sahut Elise. Terlihat dinding dibelakang Elise terbuka, perlahan muncullah sebuah layar monitor berukuran besar.
"Tugas !?" Bertanya aku kepadanya. "Tivani, tolong kamu jelaskan kepadanya, tugas apa yang harus dia jalankan !" Ucap si wanita yang dari tadi hanya duduk manis dikursinya itu.
"Jadi seperti ini, anda harus masuk kedalam museum negara, dan mengambil batu permata delima ini !"
Dia singkat menjelaskan dan memperlihatkan gambar dilayar monitor, sebuah batu permata berwarna merah. "Apa maksudmu dengan mengambil ini ? Bukankah, sama halnya dengan mencuri !?" Protes aku kepada Elise, dan menunjuk kearah gambar permata tersebut.
"Jika kamu tidak mau, akan aku pastikan masa depanmu cukup sampai disini saja !" Sahut dia mengancam.
"B-Baiklah, aku akan melakukannya !" Balas aku berkata meski terasa sedikit mengganjal didalam hati. "Tapi aku tidak bisa jika harus melakukannya sendirian..."
"Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir" Wanita itu berbicara seakan tidak memiliki sebuah beban apapun.
"Kamu akan dibantu oleh Hideki, dan Gerald. Mereka profesional dalam bidang ini" Dia menunjuk kearah dua pria yang tidak aku kenal itu. "Jadi, kamu tidak perlu takut lagi !"
Elise memberikan detail peta biru bangunan museum tersebut dari layar monitor. Waktu menunjukan pukul 03.45 dan kami segera berangkatkan menuju museum negara.
Tidak lama kemudian, kami sampai ditempat yang telah ditentukan. Gerald memarkir kendaraan kami tidak jauh dari museum. Aku turun dari mobil, dan berjalan kearah museum.
Aku masuk kedalam gedung tersebut dari pintu samping museum. Sedangkan Hideki memantau aksiku dari monitor didalam mobil.
Didalam museum masih banyak benda-benda koleksi lainnya. Aku mengikuti arahan dari Hideki, semua kamera CCTV terlihat mati secara tiba-tiba.
Aku melanjutkan pencarianku, tidak lama setelah menyusuri koridor demi koridor. Akhirnya aku menemukan sebuah lorong yang diujungnya terdapat sebuah pintu brankas berukuran kecil.
Tidak semudah itu, ternyata disetiap dinding telah dilengkapi dengan sinar laser keamanan.
Jika salah satu bagaian tubuh kita menyentuh laser tersebut, maka dapat dipastikan tidak akan bisa keluar dari museum dengan selamat. Berpacu dengan waktu, Hideki yang cekatan langsung meretas sistem keamanan laser tersebut.
Tidak perlu waktu yang lama, kemudian, Hideki berhasil menerobos semua sistem keamanannya. Dan ketika laser berhasil dimatikan, aku berjalan menuju brankas tersebut.
Kemudian aku membuka brankas itu, terlihat sebuah permata merah didalamnya.
Sesuai rencana awal, aku hanya perlu mengambil permata tersebut. Kini tugas telah berhasil aku laksanakan, namun ketika aku mengangkat permata itu dari dalam kotak brankas. Berbunyilah tanda peringatan yang menggema dilorong-lorong museum.
"Teett... Teett !"
"Sial, aku kira akan mudah !" Bergumam dalam hati. Dan berlari secepat mungkin untuk keluar dari dalam museum. Agar tidak tertangkap oleh para penjaga museum. Aku keluar menggunakan pintu yang sama, dan menuju kearah mobil.
Dengan bangga aku menunjukkan pada dua pria itu, sebuah permata merah yang dibilang sangat mahal harganya, serta berhasil aku dapatkan. "Terima kasih... Tuan Gerald, dan anda tuan Hideki, kalian telah banyak membantuku kali ini" Sahut aku kepada dua pria itu.
Kami kembali ke rumah, karena sudah berhasil menjalankan tugas dengan baik. Waktu menunjukkan pukul 04.35 dikediaman Elise
Kami langsung menuju ke lantai B4 untuk menemui Elise. Dia nampak sedang menunggu kedatangan kami, sembari menikmati segelas wine lagi. "Bagaimana hasilnya ?" Dia bertanya kepadaku.