Mendekati meja Elise, dan tersenyum serta menunjukkan sebuah permata merah delima kepadanya. "Ini pesananmu !" Menaruh batu permata tersebut diatas meja depan Elise.
"Waah... Selamat kamu berhasil !" Elise langsung mengambil batu permata tersebut. Dan kemudian memeriksanya, lalu Tivani datang membawa sebuah koper untuk menempatkan batu permata tersebut.
"Aku tidak bisa melakukannya sendirian, terima kasih juga atas bantuannya" Meski aku sangat berberat hati saat mengambil batu permata tersebut. Tapi dikarenakan sebuah ancaman yang melibatkan kehidupanku, aku terpaksa melakukannya. Pikir lelaki itu didalam benaknya.
"Oh iya tuan tampan, jika boleh aku ingin tau... Siapa nama aslimu ?" Sahut wanita tersebut yang memang belum sekali pun menanyakan nama dari diriku.
"Oh... B-Baiklah, perkenalkan, namaku Lucien Ainsworth, aku bekerja sebagai kurir pengantar barang yang berada dikota A" Jawab lelaki itu dengan sopan.
Sontak semua orang yang berada didalam ruangan itu sejenak terdiam. "Waah... Nama yang cukup tidak asing rupanya !" Sahut Elise dengan ekspresinya yang sedikit memaksa.
Kemudian dia mempersilahkan aku untuk beristirahat. "Kau boleh pergi kekamarmu, sekarang beristirahatlah !" Ucap Elise. Serta kedua pria yang telah membantuku juga telah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dan Tivani yang membawa koper tersebut juga pergi menuju pintu yang berbeda.
Seketika sebelum aku menekan tombol tutup, "Tunggu tampan..." Si wanita bernama Elise itu kembali menghampiriku. "I-Iya, ada apa lagi ?" Tanya aku kepadanya serta sedikit kaget.
"Tunggu aku dikamarmu..." Dia meraih kepalaku dan melancarkan sebuah kecupan tepat kearah bibirku, aku sangat kaget dengan kelakuan wanita ini.
Kemudian eskalator bergerak menuju lantai 3 dan aku kembali ke kamarku. Waktu menunjukkan 05.24 dan matahari sudah terlihat memunculkan sinarnya.
"Aku lelah sekali !" Merebahkan diri diranjang, menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba bel berbunyi, dan aku membukakan pintu kamar. "Ternyata kamu benar-benar kesini..." Ucap lelaki itu kepada wanita tersebut.
"Aku sudah berjanji, dan tidak mungkin akan aku ingkari !" Jawabnya dengan santai, dan memaksa masuk kedalam kamarku.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku ?" Bertanya kepada Elise, yang sedang memandang keluar lewat jendela kamarku.
Dia menghela nafas dan berbalik menatapku. "Sebenarnya, aku sangat menginginkan..." Wanita tersebut mendorongku hingga aku terjatuh diranjang. "Tunggu, jangan lakukan hal semacam itu..." Sontak aku langsung mencoba untuk bangun.
Namun wanita tersebut langsung menindih badanku dengan tubuhnya. Dan masih memakai kemeja yang terlihat sangat ketat ditubuhnya, nampak belahan dadanya yang begitu mulus.
"Nona Elise, kita baru saja kenal beberapa jam yang lalu, apa kamu tidak takut jika kita sampai kecolongan ?!" Aku mencoba membuat wanita tersebut untuk mengurungkan niatnya.
"Karena itulah yang sebenarnya aku inginkan, darimu, tampan !" Ucapannya terdengar meyakinkan, terlihat juga dari raut wajahnya yang serius. "Apa maksudmu sebenarnya ?!"
Dia langsung mencium bibirku dan mengulum lidah kami berdua, hingga aku menelan banyak cairan dari mulutnya. Sementara itu, tangan kirinya memainkan batangku yang sudah terlanjur mengeras.
Dengan reflek aku ikut dalam permainannya, kedua tanganku seakan bergerak dengan sendirinya. Meremas kedua balon yang besar itu, dengan sangat b*******h kami berdua larut dalam kenikmatan tersebut.
Tanpa sadar kami saling membuka pakaian masing-masing, dan baju telah berserakan dilantai. Elise menaiki pinggulku, dan melakukan aksi woman on top. Terlihat dia sangat menikmatinya, rambutnya yang terurai panjang berwarna kuning membuatku semakin b*******h.
Ditambah pergerakan kedua balon miliknya yang memantul mengikuti irama semakin membuat ku bersemangat. "Aku sudah tidak tahan lagi..." Menahan rasa yang ingin segera keluar.
"Jangan dulu, aku tidak akan biarkan itu keluar..." Dia mendekatkan tubuhnya dan balon miliknya menempel tepat diatas dadaku. Hal itu sedikit membuatku merasa lega, sesaat rasa itu menghilang.
Dia terlihat memainkan pinggulnya. Ditempat batangku tertancap, terasa sangat becek, seperti telah disiram oleh cairan dan membasahi seluruh batangku.
Rambutnya mengenai penciumanku, bau wangi tercium berasal dari rambutnya. Harumnya sangat nyaman, membuatku serasa ingin meleleh. Dengan sadar aku memutar balik posisi kami, sontak dia kaget dengan aksiku itu.
"Apa yang kamu lakukan ?!" Bertanya dia kepadaku. Aku langsung menusukkan batangku didalam lubang miliknya. Dan cairan bening terlihat mengucur dari dalam lubang tersebut.
Hal ini membuat semakin licin untuk memompa terus batangku kedalam lubang miliknya. "A-Aahh, T-Tolong... Pelan-pelan saja !" Dia mendesis karena aksiku yang cepat. Tapi rasa ini sudah semakin dekat, batangku serasa berdenyut tidak karuan didalam lubang tersebut.
"Aku tidak dapat menahannya lagi..."
"Aargghh..."
Aku meledak didalam lubang milik Elise. Cairan putih itu keluar melewati sela-sela lubang, terlihat begitu banyak cairan yang keluar dan membasahi ranjang.
"Maafkan aku, ini tidak seperti dugaanku" Lemas dan menjatuhkan diri diatas Elise. Balonnya terasa sangat empuk seperti bantal tidur yang nyaman.
"Tidak apa, kerjamu sangat memuaskan hari ini. Kau pantas mendapatkannya" Elise memuji dan mengelus kepala lelaki itu. Tanpa sadar, kemudian dia telah terlelap dalam tidurnya.
Waktu menunjukan pukul 10.37 dan aku terbangun dengan keadaan tanpa busana. Tapi wanita bernama Elise itu telah pergi dari dalam kamar. Ada sebuah surat tergeletak diatas meja disamping tempat tidur.
Hari ini temui aku ditaman! Lokasi dibelakang rumah, turun ke lantai 1 dan carilah pintu menuju ke halaman belakang. Aku menunggumu ! Elise ❤
"Apa yang dia inginkan kali ini..." Bergumam dalam hati, dan segera mungkin aku membersihkan diri. Setelah selesai mandi aku mengenakan tuxedo yang aku pakai semalam.
Aku menuju eskalator dan menekan tombol menuju ke lantai 1, kemudian lantai eskalator bergerak turun menuju lantai 1 bangunan tersebut. Disana terlihat ramai sekali orang, mulai dari para cleaning service yang sedang melakukan pembersihan, para pegawai lainnya, serta beberapa penjaga yang sedang bertugas, hingga Tivani yang sedang mengobrol dengan tamunya.
Aku bergegas menuju halaman belakang, dan keluar melewati pintu berukuran cukup besar tersebut. Disana telihat sebuah taman yang luas serta sangat rapi, dan terawat dengan baik. Terlihat juga beberapa pengurus taman yang sedang melaksanakan tugasnya.
Bunga-bunga bermekaran dengan indah, nampak kupu-kupu berterbangan disekitarnya. Harum semerbak bunga dimana-mana, aku berjalan menelusuri taman menuju ke sebuah pondok kecil ditengah taman tersebut.
Disana sudah menunggu Elise dengan gaun yang terlihat sangat cantik. Berwarna hitam dengan memperlihatkan belahan dadanya. Rambutnya terlilit rapi kebelakang. Mataku seolah tidak dapat berpaling darinya. "Hay, Nona Elise..." Aku mendekatinya dari belakang.
"Hey... Kamu sudah datang ?" Tanya dia dengan sedikit kaget lalu menengok kebelakang. "Sedang apa kamu ?" Sahut aku bertanya. "Tentu saja menunggumu..." Jawab dia, yang sembari melihat kearah ponselnya. Dan terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ada apa sebenarnya, kenapa kamu ingin aku kesini ?" Lucien bertanya.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja, apa kamu tidak penasaran kenapa kamu aku bawa kesini ?" Ucap wanita itu berbalik bertanya kepadaku. "Kurasa aku sedikit penasaran, tapi yang jelas aku disini karena ancamanmu soal kehidupanku" Jawab aku dengan polos.
"Baguslah jika hal itu menjadi motivasimu" Balas dia dengan sedikit tersenyum. "Dan yang ingin aku tanyakan kepadamu adalah, siapa sebenarnya kalian ini ?" Tanya Lucien yang masih penasaran dengan kediaman Elise.
"Aku, adalah Elisia Reinford, aku sering dipanggil Elise, pewaris dari keluarga kelompok mafia terbesar dikota A, kelompok Reinford" Jawab wanita berparas cantik tersebut, yang semalaman telah melakukan hal itu bersamanya.
"A-Apa...?!" Sontak aku terkejut dibuatnya.