Bab 01
Febi mematut dirinya depan cermin. Sekali lagi gadis berusia dua puluh tahun itu tersenyum, melihat penampilannya yang terlihat sempurna menggunakan gaun berwarna merah dan membelah pada kakinya.
Ia malam ini akan menghadiri pesta ulang tahun temannya, yang diadakan di salah satu klub malam ternama di ibu kota Jakarta. Sebenarnya ia tidak ingin pergi ke pesta yang dilaksanakan di tempat yang penuh dosa dan membuatnya harus menahan berisik, bau minuman, dan juga tak jarang orang-orang di sana akan b******u mesra di manapun berada.
Febi tak menyukai pergi ke klub malam, walau beberapa kali dirinya menginjakkan kaki ke tempat laknat itu. Namun, dirinya hanya ingin berjumpa dengan kedua sahabatnya.
Febi berjalan menuju pintu kamar, membuka dan menutupnya kembali. Sebelum menuruni tangga rumah ia melihat jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Seharusnya ia sedang bergelung dalam selimut sekarang, setelseharian bekerja dan malamnya melepas penat.
Namun, demi sopan santun pad teman semasa kuliah, dirinya harus menahan kantuk dan pergi ke pesta yang baginya tak bermutu sama sekali.
***
Satu jam menempuh perjalanan, akhirnya Febi sampai di klub malam, yang man sudah banyak orang-orang datang dengan menggunakan baju seksi, menggandeng pasangan, dan tak jarang beberapa mobil di dekatnya ini bergoyang-goyang. Ia tidak akan bertanya kenapa mobil-mobil itu bergoyang, ia bukan gadis polos tidak tahu apa itu seks?
Ia seringkali mendengar cerita temannya akan pengalaman seks mereka. Namun, ia tidak tertarik untuk melakukan seks sebelum menikah. Katakanlah dirinya kuno dan segala macamnya. Tapi, menjaga kehormatan dan direnggut oleh suami sendiri, ada kebangaan tersendiri bagi Febi.
"Febi, aku kira kamu nggak bakalan datang." Lalisa-temannya yang sedang berulang tahun menyambut Febi dengan senyuman. Senyuman manis yang kerap kali gadis itu tunjukkan.
Febi tersenyum tipis. "Aku pasti datang Lisa, kau lihat sendiri bukan?" Febi menyerahkan kadonya pada Lisa, setelah mengucapkan selamat ulang tahun pada gadis itu.
Lisa menerimanya. Dan mengucapkan terima kasih. "Silakan menikmati pestanya Feb, aku mau pergi ke tempat teman lainnya," Febi hanya mengangguk, menyebarkan bola matanya mencari dua sahabatnya yang pasti diundang oleh Lalisa.
"Hei! Kami kira kau tidak akan datang!" Febi membalikkan tubuhnya setelah mendengar suara dari sahabatnya.
Ia menatap datar dua wanita berpakaian seksi dan memegang gelas minuman di tangan mereka. "Aku hanya merasa sungkan pada Lisa. Padahal aku lebib memilih tidur di rumah daripada menghadiri pesta ini."
Mona dan Kelin tertawa mendengar ucapan dari Febi. Sang ibu CEO yang lebih suka berkutat dengan berkas-berkas daripada harus menghadiri pesta ulang tahun.
"Ayolah, kau sekali-kali harus merasakan kesenangan. Bukannya berkutat dengan pekerjaanmu. Umurmu baru dua puluh tahun." komentar Mona, pasalnya sahabatnya ini masih sangat muda sekali, namun sudah menanggung beban mengelola perusahaan milik orangtua gadis itu.
"Lah, siapa bilang aku sudah tua? Aku hanya tidak suka ke sini. Kalian tahu sendiri, tempat ini tidak aman untuk anak dibawah umur sepertiku," Febi terkekeh pelan melihat wajah merengut dari dua sahabatnya.
"Kami tau kau masih muda! Bahkan kami berdua lebih tua dua tahun darimu!" Kelin merasa gemas dengan Febi, gadis yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, mampu mendapatkan gelar sarjana hanya menempuh waktu satu tahun setengah.
Mereka berdua masih menunggu sidang dan setelah itu wisuda. Sedangkan Febi, beberapa bulan yang lalu sudah menjabat sebagai CEO di perusahaan milik keluarganya.
"Lupakan tentang umurku. Kalian kapan akan sidang? Aku sudah tidak sabar merekomendasikan kalian di perusahaanku, aku tahu dengan kemapuan yang kalian punya." Febi berjalan menuju kursi depan bar, lalu memesan satu jus jeruk pada barista.
Selama ia menginjakkan kaki dan mengenal dunia malam, ia tidak pernah mabuk. Ia hanya akan memesan minuman non alkohol.
Mona dan Kelin mengambil duduk di sisi kanan dan kiri Febi. "Minggu depan. Kau harus berlaku adil. Kami akan tetap mengikuti prosedur memasuki perusahaanmu," ucap Kelin, tak mau langsung masuk. Ia ingin mengikuti prosedur dan tanpa dibantu oleh Febi.
Febi mengangguk, "Aku juga tidak akan langsung menerima kalian. Aku akan menyarankan nama kalian pada HRD dan kalian bisa mengikuti tes-nya nanti."
"Aku tidak akan masuk ke perusahaamu, kau tau sendiri. Kalau Mamaku pasti menyuruhku untuk mengelola butiknya, ia tidak suka aku melamar kerja di tempat lain." Mona mendesah kasar, mengingat ibunya tak suka ia bekerja di tempat lain.
"Aku memahami dirimu. Cukup Kelin saja yang bekerja di tempatku, menjadi sekretarisku." lanjut Febi enteng.
Kelin yang mendengar kata sekretaris bola matanya bersinar. "Kenapa kau tidak menjadikanku sebagai sekretaris wakil direktur saja?"
Febi mendelik, mendengar pertanyaan dari Kelin barusan. Ia tahu betul kenapa sahabatnya ini mau menjadi sekretaris wakil direktur. "Bilang saja, kau ingin mendekati Abangku!" tuduhannya sangat benar.
Febi pasti ingin mendekati abangnya. Pria yang terkenal playboy dan sering gonta-ganti pasangan tidur. Abangnya tidak takut pada penyakit kelamin yang ditularkan oleh para w************n itu.
Kelin menyengir. "Mana tahu aku menjadi jodoh Bang Febri," ucapnya.
"Aku bukan tidak setuju kau dengannya, tapi aku tidak suka bila kau sakit hati oleh Febri. Dia bukan lelaki yang baik untukmu," Febi tak mau Kelin merasakan sakit hati, bila mengejar Febri yang seringkali mempermainkan hati perempuan.
Kelin menggeleng, "Aku tidak akan sakit hati." ucapnya mantap.
Febi mendesah kasar. "Nanti aku akan merekomendasikanmu pada Febri, dan aku akan menyuruh sekretaris Febri menjadi sekretarisku."
Mendengar ucapan dari Febi, Kelin langsung memeluk sahabatnya itu. Ia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Febi.
"Makasih, doain aku menjadi kakak iparmu ya!" Febi hanya memutar bola matanya, malas untuk berkomentar dengan gadis yang sedang jatuh cinta pada playboy.
***
"Hei, wajahmu murung sekali? Adikku tidak akan lama berada di klub malam. Dia akan pulang sebentar lagi." Febri menatap pria di depannya dengan terkekeh kecil.
Kellan Azzandra, pria yang sedang diejek oleh Febri, menatap tajam pada Febri seakan ingin membunuh Febri detik ini juga.
"Kau bisa diam? Aku sedang khawatir dengan istriku!" ia sedang mengkhawatirkan gadis berstatus sebagai istrinya. Gadis yang dinikahinya saat gadis itu berusia sepuluh tahun, sedangkan dirinya berusia tiga belas tahun.
Sampai sekarang gadis itu tidak pernah tahu kalau dia sudah menikah. Gadis itu merasa dia masih lajang dan bebas ke mana-mana.
"Ayolah, Kellan. Febi selama ini tidak pernah macam-macam. Setiap pria mendekati Febi, kau akan mengusir mereka atau membuat hidup mereka hancur." Febri tak habis pikir dengan sahabatnya ini sekaligus adik iparnya. Yang terlalu mengkhawatirkan kondisi dari Febi, padahal Febi baik-baik saja.
Bukan satu atau dua kali Febi ke klub malam. Adiknya itu sering ke klub malam menemui dua perempuan yang menjadi sahabat adiknya. Salah satu sahabat adiknya, pernah mengatakan suka padanya beberapa bulan yang lalu. Tapi, Febri menolaknya tak mau menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan.
Ia hanya ingin perempuan sebagai penghangat ranjangnya.
"Aku tidak akan membuat hidup mereka hancur, kalau saja mereka tidak menyentuh apa yang aku miliki!"
"Mereka tidak tahu kalau Febi sudah menikah. Kau seharusnya menemui Febi dan mengatakan semuanya, bukan malah merecoki hidup pria-pria yang mendekati Febi,"
"Aku belum siap menemui dia. Mungkin beberapa bulan lagi aku akan menemui dia."
"Beberapa bulan lagi, kau menunggu saat Febi sudah diambil orang lain? Febi itu adalah CEO. Banyak CEO-CEO muda ingin mendekati Febi." Febri memanas-manasi Kellan agar sahabatnya itu segera menemui adiknya dan mengatakan semuanya.
Kellan mengepalkan tangannya. Ia tidak akan membiarkan Febi dimiliki oleh siapa pun. Febi adalah istrinya, gadisnya, pujaan hatinya, dan hanya Febi yang mampu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
"Aku akan menemuinya besok pagi. Mungkin sudah saatnya ia mengetahui aku sebagai suaminya. Sudah sepuluh tahun aku mengawasi dirinya dari jauh, sekarang aku akan datang padanya."
Febri mengangguk. "Bagus kalau begitu. Aku tidak perlu menjaga Febi lagi." selama sepuluh tahun ini, ia selalu menjaga adiknya dari pria-pria yang berusaha mendekati adiknya.
Ada juga beberapa pria melamar Febi pada ayahnya dan jug padanya. Tentunya mereka langsung menolak dan mengatakan Febi sudah mereka jodohkan. Tidak ada yang tahu Febi sudah menikah termasuk Febi sendiri. Yang mengetahui hanya orangtua Febi, orangtua Kellan, kakak Kelllan, dan Febri.
"Kau sudah bosan menolak pria-pria melamar Adikmu? Kenapa kau tidak mengatakan kalau Febi sudah menikah pada mereka?"
Febri berdecak mendengarkan pertanyaan bodoh dari Kellan. "Kau bodoh atau apa? Mereka tidak akan percaya bila Febi sudah menikah. Apalagi menikah pada usia sepuluh tahun!"
"Benar juga. Tapi, sebentar lagi aku akan mengumumkan pernikahan kami. Pernikahan mewah dan megah." ucap Kellan sombong dan tidak sabar mengatakan pada Febi, kalau dirinya adalah suami gadis itu.
"Sebelum kau mengatakan kau adalah suaminya. Kau h
arus bisa meyakinkan Febi terlebih dahulu."
"Ya, dan itu adalah PR bagiku untuk meyakinkannya."