Kellan memperbaiki letak jasnya dengan gaya bossy-nya berjalan memasuki perusahaan tempat istrinya bekerja. Ia menyeringai, membayangkan wajah terkejut dari istrinya.
Membayangkan wajah Febi saja, sudah membuat dirinya ingin mencium kasar bibir dari gadis mungil itu. Ia tertawa, dengan bayangannya.
"Permisi, saya ingin berjumpa dengan Nona Febi," ucap Kellan pada sekretaris Febi.
Sonya tersenyum dan mengangguk. "Apakah Anda sudah ada janji dengan Nona Febi?" tanya Sonya, melihat gelagat yang diberikan oleh pria tampan ini.
Kellan menggeleng. Buat apa dirinya buat janji dengan istrinya sendiri? Ia bisa masuk sesuka hati di ruangan Febi mulai saat ini. Tanpa ada kata, ada janji atau segalanya. Ia adalah suami Febi.
"Saya belum ada janji," ucap Kellan.
"Maaf, Anda tidak bisa menemui Nona Febi, lebih baik Anda besok kembali lagi, setelah membuat janji dengan Nona Febi," ucap Sonya sesopan mungkin. Sonya tak ingin kena marah oleh Febi.
Febi adalah tipe atasannya yang sangat tegas dan galak. Febi tak ingin ada kesalahan pada bawahannya, dan sekarang Pria di depannya ini ngotot ingin bertemu dengan Febi.
"Saya tidak perlu membuat janji!" Kellan melangkah menuju pintu ruangan Febi. Namun, perempuan yang menjadi sekretaris istrinya ini malah menghadangnya.
"Maaf, Anda silakan pergi! Anda tidak boleh menemui Nona kalau tidak ada janji dengannya."
Kellan mendesis, kenapa menemui istri sendiri susahnya minta ampun. Saat dirinys sudah go publik tentang hubungannya dengan Febi, maka yang dilakukan Kellan pertama kali adalah, melempar sekretaris kurang ajar ini ke jalanan.
"Minggir," ucap Kellan dingin, mendorong tubuh Sonya ke samping agar tak menghalangi dirinya menemui istrinya.
Sonya terlempar ke samping dan ingin menangis ketika pria itu sudah masuk ke dalam ruangan Febi. Matilah dia. Febi tak akan memaafkan dirinya. Sonya berlari masuk ke dalam ruangan Febi.
"Maaf, saya sudah mencoba menghalau dia, Nona," ucap Sonya menarik perhatian Febi dan Kellan.
Kellan mendengus. Ingatkan dia untuk memberi pelajaran pada wanita itu.
Febi mengangguk, mengibaskan tangannya. Menyuruh Sonya untuk pergi. Sonya mengangguk, dan kembali ke mejanya.
Febi menatap tajam pada pria yang mengganggu dirinya. Dengan lancangnya, pria itu memanggil dirinya sayang.
Febi yang sedang serius memeriksa laporan keuangan dikagetkan dengan pintu ruangan terbuka secara kasar. Febi menatap pada pria tampan yang tersenyum manis padanya.
"Sayang, aku merindukanmu," ucap pria itu padanya.
Febi mendesah kasar. Menarik napasnya perlahan dan mengeluarkannya secara perlahan. "Kau, kenapa kau berada di sini?" tanya Febi dingin, mengeluarkan suara pertamanya setelah dia beberapa waktu.
Kellan tersenyum, duduk di depan meja kerja Febi.
"Aku ingin menjemputmu, kau itu istriku," ucap Kellan dengan senyuman manisnya.
Febi tersenyum mengejek. "Apakah orang gila semakin bertambah? Sehingga kau mengaku-ngaku sebagai suamiku?" tanya Febi tak akan percaya dengan apa yang diucapkan orang gila depannya ini.
Kellan bukannya marah, malah tertawa. Kellan tahu kalau istri cantiknya ini tak akan mudah percaya. Kalau Kellan berada di posisi Febi, maka Kellan akan mengatakan hal yang sama.
Febi menaikkan sebelah alisnya, menonton tawa pria asing nan tampan di depannya ini. Ia tahu pria ini, pria yang sukses menduduki posisi teratas sebagai pengusaja terkaya di dunia. Dan, sekarang pria itu mengaku sebagai suaminya. Lucu sekali.
"Anda sudah selesai tertawanya? Sebaiknya Anda keluar dan periksakan diri Anda ke Dokter," Febi menunjuk pintu keluar ruangannya.
Kellan mendengus, mendengar ucapan pengusiran dari Febi. "Tega sekali kau! Sebaiknya kau tanyakan pada Ayah dan Ibumu, kalau aku adalah suamimu."
Febi terhenyak mendengar ucapan dari Kellan. Kapan Kellan menikahi dirinya? Selama ini, tak ada satupun keluarga Livian mengucapkan kata nikah padanya. Ia hanya datang ke pernikahan sepupunya bukan ke pernikahan dirinya.
"Untuk apa aku tanya mereka? Mereka tak pernah membahas masalah pernikahan padaku, lebih baik kau keluar!" sekali lagi, Febi menunjuk pintu keluar. Namun disayangkan, pria gila ini tak mau keluar.
"Kau tidak perlu mengusirku, sayang, kau akan kubawa ke mansionku dan kita b******a seharian nantinya," seringai Kellan.
Shit! Membayangkan tubuh telanjang Febi di bawahnya, sudah membuat Kellan tegang dan ingin memasuki Febi detik ini juga. Ia tak sabat menunggu waktu itu tiba.
Kellan mengusap juniornya yang pasti tidak dapat dilihat oleh Febi. Sabar. Kellan mengumamkan kata sabar pada juniornya. Nanti juniornya akan merasakan lubang sempit Febi. Oh ... Kellan sudah tak sabar.
"Kalau kau semakin gila, sebaiknya kau segera periksa diri ke Dokter. Mana tahu, Dokter dengan suka relanya merantai tanganmu dan memasukkanmu ke ruangan yang gelap."
"Kau ingin menakut-nakuti diriku? Aku tidak akan takut. Malahan kau yang akan aku seret ke ruangan gelap, memadu kasih sampai pagi," Kellan memerhatikan wajah tegang dari istrinya. Lucu sekali. Sepertinys rumah tangganya akan menyenangkan nantinya.
"Tak usah bermimpi! Aku tidak pernah menikah denganmu atau dengan siapa pun!" Febi mulai emosi berhadapan dengan pengusaha gila di depannya ini.
Febi tak menyangka, saat semua orang memuji Kellan Azzandra pria yang pintar dan cerdas. Tapi, mereka tida tahu, kalau sebenarnya pria yang dipuji mereka adalah pria gila. Mana ada pria yang datang dengan tiba-tiba lalu mengatakan 'Kau istriku'.
"Kau memang tidak menikah dengan siapa pun, tapi kau menikah denganku," ucap Kellan meminum kopi yang tersedia di depan Febi.
Kellan menatap kopi yang masih tersisa sedikit, berarti Febi sudah meminumnya sedikit tadi. Berciuman melalui benda tidak masalah, nanti dirinya akan mencium bibir Febi dengan ganas sehingga bibir Febi menjadi bengkak.
"Kau tidak sanggup membeli kopi lagi? Sehingga kau meminum kopiku!" Febi mengepalkan tangannya, pria ini semakin bertingkah saja. Febi khawatir, kalau dirinya akan naik darah menghadapi pria kurang ajar ini.
Kellan menyeringai. "Aku meminum kopi istriku, apa salahnya?" tanya Kellan lebih terdengar mengejek.
"Salahnya banyak. Aku bukan istrimu. Ini kantorku. Ini ruanganku. Dan kau... hanya pria asing yang kurang waras mengaku aku adalah istrimu!" tunjuk Febi pada Kellan.
"Kau memang istriku, kau mau aku tunjukkan buku nikah atau foto pernikahan kita? Kau sudah tidak ingat menikahi seorang pria yang begitu tampan dan rupawan." Kellan menyugar rambutnya ke belakang dan tertawa.
Dirinya bagaikana seorang pria yang sedang sengketa tanah saja. Seharusnya tadi, Kellan membawa buku nikah dan bukti-bukti lainnya.
"Kau pasti memalsukan itu semua. Aku tidak percaya." Febi tetap tak akan percaya pada seorang Kellan Azzandra, pengusaha yang bisa menipu seseorang.
Dan sekarang, pengusaha kurang ajar ini, sedang ingin menipu dirinya. Memangnya Febi wanita bodoh. Febi tak akan pernah percaya pada Kellan. Walau nantinya Kellan terbukti sebagai suaminya. Tapi, itu tak akan terjadi.
"Istriku yang cantik dan seksi, mulutmu sangat berbisa. Aku ingin sekali menghisap bisa mulutmu itu sampai habis," bisik Kellan s*****l.
"Aku bukan istrimu!"
"Kau istriku dan aku suamimu!"
"Tuan Kellan Azzandra, jangan mengaku-ngaku sebagai suamiku!"
"Aku tidak mengaku-ngaku. Kau memang istriku, Nona!" Kellan harus diuji kesabarannya, menghadapi istri cantiknya ini.
"Sebaiknya kau pergi!" Febi kembali mengusir Kellan.
Kellan mengangguk, Kellan teringat dengan meeting penting yang harus dihadirinya tiga puluh menit lagi. Kalau saja tak ada meeting, Kellan tak akan beranjak dari hadapan istrinya ini.
"Baiklah, aku pergi. Tapi, aku akan datang lagi dan menemui dirimu," ucap Kellan beranjak dari duduknya.
Febi menghempaskan tubuhnya ke kursi dan memijat keningnya. Hari-harinya yang tenang akan terusik oleh pria asing yang mengaku sebagai suaminya.