Bab 03

1007 Words
Febi memasuki rumah orangtuanya dengan langkah kasar. Mengingat siang tadi dirinya bertemu dengan orang gila yang mengaku sebagai suaminya. Heh, memangnya ia akan percaya pada pria gila dan tidak punya otak itu. Memang pria itu tampan dan lebih kaya dari keluarganya, namun dengan segala pemikiran dirinya menganggap kalau pria itu benar-benar gila. Dirinya baru 20 tahun dan tidak pernah menikah dengan pria manapun. Jangankan menikah, berpacaran saja dirinya tidak pernah. Kekasihnya adalah kertas-kertas yang selalu dibelainya tiap hari. "Ma! Pa!" teriak Febi memanggil orangtuanya. Pasalnya saat ia memasuki rumah ini, belum ada tanda-tanda kemunculan dari orangtuanya. Febi terus menelusuri rumahnya yang lumayan besar, dengan nada kesal sekali lagi dirinya memanggil orangtuanya. Tapi, tanda-tanda orangtuanya juga belum muncul. Ke mana mereka? Febi terus bertanya dalam hatinya, tapi, tak menyerah untuk mencari dua orang yang tahu segalanya. Febrikakaknya juga tidak nampak batang hidungnya. Oikh! Febi lupa kalau Febri sedang pergi ke Jepang, bertemu dengan beberapa klien di Jepang. "Ma! Pa!" suara Febi sudah habis memanggil dua orang yang tidak muncul-muncul ini. Katakanlah dirinya hiperbola, tapi, memang begitu kenyataannya. "Sayang, kau berteriak seolah rumah ini adalah hutan," Rima menatap putrinya dengan tatapan tanda tanya. Febi menoleh ke arah mamanya dan menghampiri wanita paruh baya itu. Ia menatap Rima dengan tatapan kesalnya. "Ma, tadi ada seorang pria ngaku-ngaku sebagai suami Febi, apakah itu benar suami Febi atau bukan?" Rima yang ditanya seperti itu mengangguk dan menggeleng. Anaknya ini, tidak bisa bertanya dengan benar dan baik. Kalau anaknya bertanya dengan baik, maka ia akan menjawab dengan baik pula. "Jadi, dia suami aku atau bukan?!" Febi merasa kesal pada mamanya. Bukannya menjawab malah, menggeleng dan mengangguk. Lerdin menatap putri dan istrinya, lalu mendesah kasar. Lerdin sudah mendengar dari Kellan, kalau pria itu datang ke kantor Febi tadi siang dan mengatakan semuanya pada Febi. Tapi, Kellan mengatakan kalau Kellan tak mengatakan umur berapa Febi menikah dengan Kellan. "Kau memang istri Kellan," ucap Lerdin ikut menimbrung dan mengambil duduk di kursi ruang tengah. Febi menoleh ke arah ayahnya, lalu gadis itu menggeleng. Ayahnya pasti sedang bercanda dan tak serius mengatakan kalau dirinya sudah menikah dengan pria m***m itu. Baru berjumpa saja dirinya sudah mendengar kata v****r dari pria itu. "Ayolah, Papa pasti bercanda, 'kan?" haranya agar ayahnya mengatakan kalau sedang bercanda mengatakan itu semua. Namun, sayangnya. Lerdin malah menggeleng. "Itu serius. Kau sudah menikah dengan Kellan," jawab Lerdin santai. Febi menatap ada ibunya dan kembali dirinya melihat anggukan dari ibunya. Kenapa ibu dan ayahnya mengatakan kalau dirinya menikah. Dan kapan dirinya menikah? "Kau menikah dengan Kellan saat umurmu sepuluh tahun," ucap Rima. Febi menatap shock pada ibunya. Kenapa juga dirinya dinikahkan diumur segitu kecilnya? Seharusnya umur segitu dirinya masih bermain boneka dan tidak menikah. "Mama bercanda?" Febi tertawa pelan. "Aku tidak bercanda. Kau bisa melihat foto pernikahanmu dengan Kellan," ucap Rima mengambil album foto yang disimpannya di bawah meja yang terkunci oleh kode. Rima memberikan album itu pada Febi dan Febi langsung mengambilnya. Febi melihat beberapa foto dirinya memakai gaun pengantin dan juga ada tiga foto dengan anak kecil laki-laki. Apakah itu adalah Kellan? Febi menunjuk pada salah satu foto dirinya dengan anak kecil laki-laki itu. "Apakah itu Kellan?" tanya Febi, pada orangtuanya. Rima dan Lerdin mengangguk, memang benar itu adalah Kellan yang berumur 13 tahun. Kellan dan Febi berjarak 3 tahun. "Itu adalah dirimu dan Kellan, kau dan dirinya menikah saat umur kalian 10 tahun dan 13 tahun. Kau dan Kellan dulunya pernah terjebak di sebuah gudang, dan kami menemukan kalian. Kellan yang saat itu masih berumur 13 tahun, meminta ingin menikah denganmu." "Awalnya kami tidak ingin menikahkan kalian berdua. Namun, dengan segala keyakinan yang diucapkan oleh Kellan bagaikan orang dewasa, akhirnya kami menikahkan kalian berdua. Setelah menikah, Kellan pindah ke New York, dan menetap di sana selama 7 tahun. Kellan kembali lagi ke Indonesia, dan sudah 3 tahun ini Kellan mengawasimu dari jauh." jelas Lerdin pada putrinya. Febi yang mendengarkan penjelasan dari ayahnya, mendesah kasar dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia masih taj percaya dengan pernikahan ini. Apalagi umurnya saat menikah masih sepuluh tahun. "Aku tidak akan semudah ini menerima Kellan. Aku belum mengenal dia sepenuhnya," ucap Febi, beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lantai dua letak kamarnya. Rima dan Lerdin saling menatap dan mendesah. Mereka tahu kalau putri merek tak akan mudah menerima semua penjelasan ini. Bagaimanapun, umur Febi masih sangat muda sekali. "Aku berharap Kellan bisa meyakinkan Febi," ucap Rima diangguki oleh Lerdin. *** Febi membaringkan tubuhnya ke atas ranjang, setelah mendengar penjelasan dari orangtuanya yang sangat tidak masuk akal, membuat kepala Febi merasa pusing. Dirinya sudah menikah. Bahkan ia menikah sepuluh tahun yang lalu. OMG! Kenapa dirinya tak pernah sadar kalau dirinya sudah menikah? Dan orangtuanya tak pernah mengatakan apa pun padanya. Kecuali... Ya, setiap pria yang mendekati dirinya, mereka akan mundur teratur karena kakak dan orangtuanya melarang para pria itu mendekati dirinya. Dan sekarang Febi tahu alasan mengapa para pria itu tak mendekat dan malah pergi menghilang. Febi mendesah kasar membayangkan kalau dirinya sudah menikah. Walau pria yang mengaku sebagai suamunya adalah pria tampan dan mapan, tetap saja dirinya tak mau dengan pria itu. Mana mungkin dirinya yang baru bertemu dengan pria itu dan langsung menerima pria itu sebagai suaminya. Gila saja! "Aku harus apa?" tanya Febi pada dirinya sendiri. Dirinya harus berbuat apa? Ia tidak pernah terpikirkan akan mengalami hal seperti ini. Selama ia hidup dua puluh tahun ini, tak pernah pernah ia menyangka kalau dirinya akan menikah pada umur sepuluh tahun. Bayangkan, sepuluh tahun! Diumur segitu dirinya pasti main boneka, masak-masak, bukannya menikah. Dan pria yang menikahinya saat itu berumur tiga belas tahun. Terbuat dari pikiran pria itu saat berumur tiga belas tahun. Sudah memikirkan soal pemikiran dan berani menikahi dirinya. Dan, sampai sekarang pria itu selalu mengawasi dirinya dari jauh. Yang benar saja. Febi merasa ponselnya bergetar. Ia melihat siapa yang mengirimkan dirinya pesan. Kakaknya mengirimkan dirinya pesan, dan mengatakan kalau Kellan memang suaminya. Febi melemparkan ponselnya sembarang arah. Ia tidak peduli, mau pria itu suaminya atau tidak. Yang pasti dirinya tak akan menerima pria itu dengan mudah. Ia menganggap pria itu hanya orang asing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD