Sudah seminggu lebih Kellan tak berjumpa dengan istrinya. Malam ini dirinya datang berkunjung ke rumah mertuanya sekaligus tempat istrinya tinggal. Kellan membunyikan bel beberapa kali, pertama kali yang terlihat adalah wajah salah satu pelayan yang menyambutnya dengan senyuman.
"Tuan Kellan, anda mencari Tuan Lerdin dan Tuan Febri?" tanya pelayan itu mempersilakan Kellan untuk masuk.
Kellan hanya diam dan tak menjawab pertanyaan pelayan itu. Dia mengambil duduk di ruang keluarga, menatap seluruh isi rumah yang terlihat sepi.
Ke mana semua orang? Tanyanya dalam hati. Tak biasanya rumah ini sepi baru pukul delapan malam.
"Hei, ke mana semua orang?" tanya Kellan pada salah satu pelayan.
Pelayan itu menoleh ke arah Kellan dan menunduk. "Semuanya ada di ruang kerja Tuan Lerdin, biar saya panggilkan," jawan pelayan tersebut.
Kellan menggeleng. "Tidak usah. Biar aku ke ruang kerja Papa sendiri," ucap Kellan melangkah menuju lantai dua tempat ruang kerja Lerdin.
Ia berhenti di depan pintu yang terbuka sedikit. Mendengarkan perdebatan di dalam sana. Ia mendesah kasar ketika mendengar ucapan istrinya yang tidak percaya dengan pernikahan konyol ini. Siapa juga yang percaya dengan pernikahan konyol ini?
"Febi nggak percaya kalau dia adalah suami Febi!"
"Febi, kau sudah menikah dengan Kellan. Kellan pria yang baik. Kau sangat beruntung mempunyai suami sebaik Kellan."
"Aku tidak mencintainya. Aku tidak mau mengakui dia sebagai suamiku."
"Cinta bisa datang kalau kau terbiasa dengannya."
Kellan hanya diam dan tak berniat untuk masuk. Ia segera berbalik dan berjalan menuruni tangga. Kalau dirinya ikut nimbrung maka, Kellan tak yakin kalau Febi akan baik-baik saja. Wanita manapun tak akan percaya dengan pernikahan konyol ini.
"Buatkan aku kopi," ucap Kellan pada pelayan yang melintas di depannya.
Pelayan itu hanya mengangguk dan berjalan menuju dapur. Mereka sudah mengetahui kalau Kellan adalah suami nona muda mereka. Dan nona muda mereka baru mengetahui tentang pernikahannya dengan Kellan seminggu yang lalu.
Beberapa pelayan iri pada Febi yang mendapatkan suami setampan dan sekaya Kellan. Mereka semua punya mimpi mempunyai suami setampan dan sekaya Kellan.
"Tuan ini kopinya." Kellan hanya mengangguk dan menghidupkan televisi.
Sembari menunggu dirinya menonton acara bisnis dan beberapa kasus pembinis yang terbunuh. Dunia bisnis memang kejam. Tak sedikit pembisnis terbunuh atau bunuh diri akibat bangkrut.
"Kellan kapan kau datang nak?"
Kellan melihat ke arah Lerdin dan Rima, ia tersenyum pada mertuanya itu. "Barusan Ma, Pa," jawabnya.
Febi yang melihat pria itu berada di rumahnya, langsung menatap tak suka. "Kenapa kau berada di sini?!" tanyanya dengan nada tajam.
Seluruh orang menatap pada Febi. Lerdin dan Rima menatap Febi tajam, mereka tak suka mendengar ucapan anak mereka. Kellan itu adalah suami Febi, wajar saja Kellan berada di sini.
Febi yang mendapatkan tatapan tajam, hanya mampi terdiam dan tidak mengatakan apa pun lagi. Apa istimewanya pria yang mengaku sebagai suamimya ini. Pria itu hanya mengandalkan hartanya saja. Febi tak suka dengan pria seperti itu.
"Febi, kau duduklah di samping Kellan," suruh Febri menatap tajam adiknya itu.
Febi menggeleng kuat. Dia tak akan mau duduk di samping pria itu. Buat apa dirinya duduk di samping pria yang dianggapnya orang asing. Kellan Azzandra, hanya seorang pria yang mengaku sebagai suaminya. Febi tak akan pernah mengakui Kellan sebagai suaminya.
"Aku tidak mau duduk di samping pria itu!"
Febri berdiri dari duduknya. Baru saja ia mengambil duduk di seberang Kellan, sekarang dirinya sudah berdiri dan menatap tajam adiknya. Mulut Febi sangat berbisa, tak bisa menjaga perasaan Kellan. Kellan itu suami Febi.
"Kau jangan berbicara seperti itu. Kau sangat beruntung menikah dengan Kellan, kalau saja kau tahu betapa cintanya Kellan padamu."
Febi bersungut. "Aku tak mau tahu! Dan tak akan pernah mengakui pria itu sebagai suamiku. Dia hanya orang asing. ORANG ASING!" teriaknya dengan suara lantang.
Semuanya menatap Febi tajam. Mereka tak pernah mengajarkan Febi berkata kasar seperti itu.
"Febi, kau seharusnya malu dengan ucapanmu. Bagaimanapun kau mengelak, Kellan tetap suamimu. Kau tak bisa mengelak," ucap Lerdin.
"Benar apa kata Papamu, kau itu adalah istrinya Kellan. Seharusnya kau menghormati Kellan," sambung Rima.
Febi mengepalkan tangannya, semakin menaruh benci pada pria yang mengaku sebagai suaminya. Pria yang tak akan pernah dianggap suami olehnya. Pria itu hanya orang asing.
"Kalian tak pernah marah padaku, kenapa sekarang kalian memarahiku hanya karena pria sialan itu?!"
Sekali lagi Febi berkata kasar. Febri ingin menghampiri adiknya, namun, Kellan menghalangi. Kellan tak akan membiarkan satu orangpun menyakiti istrinya. Menyebut nama istri saja, sudah membuat perasaan Kellan berbunga-bunga.
"Febri, kau tak perlu menyakiti Febi. Aku bisa maklum kalau dia masih tak terima dengan ini semua." Kellan tersenyum pada Febi. Walau Febi membalasnya dengan tatapan kebencian.
"Lihat, kau sudah menyia-nyiakan pria sebaik Kellan. Kalau saja aku wanita, pasti aku jatuh cinta pada Kellan," ucap Febri menunjuk Kellan.
Febi berdecih. "Kenapa kau tak berpacaran saja dengannya. Tak usah membuatku semakin kesal." Febi berlalu, dan berjalan menuju tangga. Ia sudah tak tahan dengan keluarganya yang selalu memuji Kellan.
Sumpah serapah selalu keluar dari mulut Febi. Febi tak akan pernah bersikap baik dengan pria itu. Pria yang sudah membuat kehidupan nyamannya terusik. Febi akan membenci Kellan selamanya. Selamanya.
Setelah kepergian Febi. Lerdin, Febri, dan Rima memohon maaf pada Kellan. Mereka sangat merasa melihat perilaku Febi pada Kellan. Seharusnya Febi bisa menghormati Kellan bukannya menentang hubungan yang sudah sah semenjak sepulub tahun yang lalu.
"Nak, maafkan Febi. Dia masih tak terima dengan pernikahan ini," ucap Rima sangat merasa bersalah.
Kellan tersenyum pada Rima. "Mama tidak perlu merasa bersalah. Aku maklum dengan Febi yang masih tak terima, kita tak boleh memaksa Febi," ucap Kellan pada ibu mertuanya.
Lerdin dan Rima sangat beruntung mempunyai menantu seperti Kellan. Mereka tak akan pernah menyesal menikahkan Febi dengan pria sebaik Kellan. Kellan adalah pria yang sangat pas dengan Febi.
"Kau sangat baik. Aku tidak akan pernah menyesal melepas putriku denganmu," ucap Lerdin merangkul Kellan.
Kellan tersenyum senang mendenga ucapan Papa mertuanya. Ia juga sangat senang masuk ke dalam keluarga ini. Tinggal mengambil hati Febi dan meyakinkan Febi. Kellan akan berusaha membawa istrinya untuk membina rumah tangga sepenuhnya.
"Aku juga sangat beruntung. Aku menyayangi kalian semua dan aku sangat mencintai Febi."
Febri tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Menyerahkan adiknya pada Kellan bukanlah keputusan yang salah. Febi harus segera sadar, kalau Kellan adalah pria terbaik untuk Febi.
"Kau sudah makan? Kalau belum, kau bisa makan," ucap Rima pada menantunya itu.
"Makasih Mama, tapi, aku sudah makan. Aku hanya ingin istirahat." Kellan ingin menemui istrinya, namun, harus tertunda akibat gadis itu tak mau melihatnya.
"Kau bisa tidur di kamar Febi, nak," saran Lerdin, tapi, ditolak oleh Kellan.
"Tidak usah Papa. Aku akan tidur di kamar Febri saja, kau tahu sendiri, putrimu masih tak mau melihat wajah tampanku ini," bercanda Kellan membuat yang lainnya tergelak.
"Ya sudah, ayo, aku antarkan kau ke kamar," ajak Febri diangguki oleh Kellan.
Perlahan namun pasti. Nantinya Febi akan jatuh hati padanya. Kellan tak akan menyerah merebut hati istrinya itu. Gadis yang mampu membuatnya jatuh cinta.