Bab 05

1113 Words
Febi berjalan keluar dari kamarnya, dengan setelan kantor seperti biasanya gadis itu kenakan. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat pria yang sangat dibenci olehnya sedang bersenda gurau dengan keluarganya. "Kenapa dia ada di sini?" tanya Febi menatap tak suka pada Kellan. Kellan berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menghampiri istrinya. Ia tersenyum dan ingin menyentuh istrinya, namun, tangan Kellan segera ditepis oleh Febi. Febi tak akan sudi disentuh oleh pria itu. Pria yang sangat dibenci olehmya, namun, sangat disayang oleh anggota keluarganya. Apa istimewanya Kellan? Hanya pria yang mengaku sebagai suami Febi. Cih, Febi tak akan percaya. "Febi! Kau tidak boleh seperti itu. Kellan adalah suamimu!" Febi memutar langkahnya dan langsung keluar dari rumah. Semua orang di rumah ini sangat menyebalkan. Lebih baik dirinya segera pergi bekerja daripada di rumah terus. Namun, baru beberapa langkah, Febi menghentikan langkahnya mendengar teriakan dari Papanya. "Febi! Kau duduk dan makan!" ucapan tanpa mau dibantah dari Papanya membuat Febi kembali berjalan menuju meja makan dan terpaksa duduk di samping Kellan. Febi mengambil makananya dengan cepat, tanpa mau memedulikan pria di sampingnya yang terus menatap dirinya dengan pandangan yang m***m. Febi memyuapkan makanannya dengan cepat, tanpa mau repot-repot untuk makan dengan anggun. Untuk apa dirinya berlama-lama di sini, kalau melihat pria yang sangat dibenci olehnya. "Febi sudah siap. Febi harus ke kantor secepat mungkin, terima kasih." Febi langsung berdiri dan mengambil tasnya, ia berjalan cepat keluar dari rumah tanpa menghiraukan lagi panggilan dari keluarganya. Febi tak ingin menatap wajah pria sialan itu lebih lama lagi. Lebih baik dirinya segera pergi. *** Febi mendesah kasar, mendapati pria itu menyusulnya ke kantor. Dan sekarang pria itu sedang duduk santai di sofa dalam ruangannya, dengan tenangnya pria itu membaca koran dan sekali-kali akan meminum kopi. Beberapa gelas kopi juga sudah habis di atas meja, yang sudah banyak habis. Febi berharap pria itu akan sakit perut dan tidak dalam ruangannya lagi. Tapi, doanya tidak akan terkabul, melihat bagaimana pria itu malah dengan tenangny duduk dan menatap dirinya sekali-kali. "Kau tidak ada kerja?! Seharusnya sebagai CEO kau tidak di sini dan malah memerhatikan pekerjaan orang lain!" Kellan melihat pada Febi, lalu meletakkan korannya. Ia menatap istrinya beberapa menit dalam diam, lalu tertawa. Kellan sangat menyukai Febi yang sedang marah padanya. Katakan dirinya gila. Menyukai istrinya marah padanya, dan malah menganggap itu lucu. "Aku lebih suka menunggu istriku kerja. Kau tenang saja, walau aku di sini berjam-jam aku tidak akan bangkrut. Kita masih bisa keliling dunia dan berbulan madu." Febi mengepalkan tangannya, tanpa memedulikan Kellan lagi, dirinya kembali fokus pada pekerjaannya. Febi berdoa kalau pria itu benar-benar bangkrut. "Kau jangan mendoakan aku bangkrut sayang. Nanti aku tidak bisa membawamu bulan madu dan keliling dunia. Tapi, harta dan gajimu banyak ya? Tidak masalah juga aku bangkrut," oceh Kellan. Kellan memerhatikan istrinya dengan senyumannya. Ia sangat suka saat Febi menatapnya tajam dan ingin membunuhnya. Oh, bagaimana rasanya dia dan Febi di atas ranjang berperang menjemput kenikmatan. Pasti istrinya sangat hebat. Apalagi gadis itu sering mengumpat dan memarahi dirinya. Kellan tidak sabar menunggu hari itu tiba. "Sebaiknya kau pergi dari sini. Daripada kau melihatku dengan tatapan mesummu itu!" ucap Febi ingin melempar gelas air putihnya ke wajah Kellan. Kellan tertawa pelan, "apa salahnya aku melihatmu dengan tatapan m***m. Kau istriku." "Aku tidak pernah menikah denganmu. Kau saja yang bermimpi mengatakan aku istrimu!" "Aku tidak bermimpi. Kau memanb istriku, seharusnya waktu dulu aku membawamu sekalian dan tinggal bersamaku." Febi tertawa miris. Hidupnya tidak akan setenang dulu lagi. Seluruh keluarganya juga berpihak pada Kellan, foto Kellan dan dirinya waktu itu membuktikan dirinya istri pria itu. Tapi, Febi masih tidak percaya. Bisa saja ia dan Kellan dahulu main pengantin dan berfoto layaknya pengantin sungguhan. "Sebaiknya kau dokter. Periksa kejiwaanmu, aku rasa kau sudah gila. Mana mungkin aku menikah denganmu, saat umurku 10 tahun. Lucu sekali." Febi tertawa mengejek pada Kellan. Kellan tidak tersinggung dan malah berdiri dan menghampiri meja istrinya. Ia menunduk dan menatap bola mata gadis itu. "Kau mau aku ke rumah sakit jiwa? Lebih baik kau ikut denganku dulu, ke rumahku. Kau akan melihat video pernikahan kita di sana." Febi menahan napasnya. Sialan. Wajah tampan Kellan yang berjarak dekat dengan wajahnya, membuat dirinya tidak berpikir jernih dan malah terpesona oleh wajah tampan pria itu. "Ka-u sebaiknya menyingkir!" Febi mendorong wajah Kellan dengan telapak tangannya, lalu mengatur detak jantungnya. Kellan menyeringai melihat Febi yang berusaha mengatur napas, dan ia sangat senang melihat istrinya ith u gugup ketika wajahnya dekat dengan gadis itu. "Kau kenapa?" tanya Kellan pura-pura tidak tahu. Febi menggeleng, "aku tidak apa-apa. Kau sebaiknya pergi dari sini!" usir Febi untuk kesekian kalinya. Namun, bukannya pergi malah Kellan duduk di depan meja Febi dan memerhatikan gadis itu dengan seksama. Kellan sedang malas ke kantor, ia lebih suka menunggu istrinya seharian. "Kenapa kau mengusirku terus?" tanya Kellan menatap sendu pada Febi. Febi merasa bersalah melihat tatapan sendu Kellan, dirinya tidak tahu kenapa mengusir pria itu terus. Padahal Kellan tidak mengganggunya. Dari tadi Kellan hanya duduk, membaca koran, dan meminum kopi. Kenapa tega dirinya mengusir pria itu. Tanpa menjawab pertanyaan Kellan, Febi kembali memeriksa beberapa berkas yang diberikan oleh Kelin. Oh, persoalan sahabatnya itu, Kelin sudah bekerja selama seminggu dengannya. "Kelin, kau bawa kontrak kerja dengan Tuan Arionz," ucap Febi disambungan telepon yang langsung disahuti oleh Kelin. Beberapa menit kemudian Kelin masuk ke dalam ruangan Febi, menatap Febi dan Kellan bergantian. Kelin juga sudah mendengar cerita dari Febi di grup chat mereka bertiga. "Feb ini berkasnya," Kelin mengulurkan berkas tersebut pada Febi, dan Febi langsung menerima. "Terima kasih," ucap Febi. Kelin mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan Febi. Sebelum ia keluar, ia menatap pada Kellan yang menatap Febi penuh cinta. Febi sangat beruntung mendapatkan Kellan. "Ohya, kau besok pagi boleh mengambil cuti. Ibumu sedang sakit, 'kan? Aku dan Mona akan menjenguk Ibumu nanti," ucap Febi tersenyum pada Kelin, ia sangat menyayangi Mona dan Kelin, efek dirinya tidak mempunyai saudara perempuan. Kelin menoleh ke arah Febi dan tersenyum. "Mama juga merindukanmu dan Mona." "Aku akan membawakan makanan kesukaan Mama nanti," ujar Febi. "Terima kasih," Kelin benar-benar keluar dari ruangan Febi. Kellan sedari tadi hanya menjadi pengamat tanpa ikut campur urusan dua gadis itu. Ia membuka ponselnya dan memerika pekerjaannya melalui email dari ponselnya. Helaan napas keluar dari bibir pria itu, mendapatkan pesan dari sekretarisnya kalau ada pertemuan penting harus dihadiri. "Febi, aku harus pergi. Nanti aku akan menjemputmu untuk pulang bersama. Kau tidak boleh pulang duluan!" Febi melihat pada Kellan dan mengangguk. Untuk saat ini dirinya sangat malas berdebat. Kellan tersenyum dan berjalan menghampiri istrinya itu. Ia mengecup kening Febi cukup lama dan tersenyum pada gadis itu, lalu dengan berat hati ia melangkah keluar dari ruangan Febi. Febi mengusap keningnya, dan ntah mengapa dirinya tersenyum. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD