Febi memusatkan perhatiannya pada pria yang duduk di atas ranjangnya. Dengan seenak jidat, pria itu tersenyum manis dan duduk anteng di atas ranjang Febi. Febi merengut kesal, kenapa orang-orang rumah ini membiarkan orang gila ini masuk ke dalam kamarnya.
Febi sudah damai beberapa hari ini tanpa kehadiran makhluk yang mengaku sebagai suaminya.
"Kau! Kenapa kau ada di kamarku?!" Febi menatap tajam dan ingin sekali melemparkan katana ke wajah pria itu.
Kellan tersenyum, walau ditatap tak suka oleh istri cantiknya, namun, pria itu tetap tersenyum dan bertekad, kalau Febi harus jatuh hati padanya. Tidak ada yang tidak mungkin. Kerikil batu saja bisa rapuh disirami oleh air setiap hari. Apalagi hati manusia, pasti akan melunak juga.
"Aku? Ya jelas aku menunggu istri cantikku pulang."
Febi mengeram, berjalan menuju walk in closet membuka blazer dan meletakkan sepatu sekaligus tasnya di tempat masing-masing. Lalu gadis itu kembali keluar, menatap tajam pada pria yang menyengir padanya.
Mau apa pria itu?
"Kau belum pergi juga? Pergilah! Aku mau mandi."
Kellan bukannya beranjak, malah rebahan di atas ranjang dan mengedipkan matanya pada sang istri. Istrinya ini, sangat imut sekali. Apalagi kalau lagi marah-marah. Kellan sangat suka istrinya marah-marah seperti itu. Tampak mengemaskan.
"Mandi saja. Atau mau aku mandikan?" tanya Kellan tersenyum m***m.
Febi mengepalkan tangannya, mengambil jubah mandinya dan berjalan menuju kamar mandi. Untung saja, kamar mandinya bisa terhubung dengan walk in closet tidak perlu keluar dan menemui lelaki berengsek itu lagi.
Febi menyudahi mandinya dan berjalan menuju pintu penghubung ke walk in closet, ia memakai pakaian rumahannya dan mengeringkan rambutnya, menggunakan handuk. Lalu Febi berjalan keluar, masih menemuka pria itu di ranjangnya.
Febi mendesah kasar. Dia sangat lelah hari ini, beberapa klien membuatnya emosi sekarang ditambah lagi dengan pria gila yang mengaku sebagai suaminya. Febi masih belum percaya kalau ia sudah menikah. Walau foto dan segala bukti membuktikan, tetap saja. Dirinya tidak percaya.
"Kau? Kau masih di sini!"
Kellan menoleh ke arah istrinya dan mengangguk, "memangnya aku harus ke mana? Ini kamarku juga. Kita sudah menikah."
"Kita belum menikah! Ingat itu!"
Kellan menggeleng, "kita sudah menikah. Kau sudah lihat sendiri surat nikahnya dan juga foto-foto pernikahan kita."
"Mana mungkin aku menikah sekecil itu! Kau menikahi anak bawah umur!"
"Hah, aku juga di bawah umur waktu itu. Ingatlah, aku itu suamimu. SUAMIMU!" Kellan menekankan kata suamimu diakhir katanya. Membuat Febi semakin kesal.
Febi mengepalkan tangannya, berjalan menuju pintu kamar dan keluar dari kamarnya. Melihat pria gila itu dalam kamarnya, membuatnya ikutan gila. Mana mungkin suaminya seperti itu. Paling tidak Febi pernah bermimpi menikah dengan pria waras dan tidak gila seperti itu.
Kellan yang melihat istrinya keluar dari kamar, langsung bangkit dari ranjang dan menatap gadis itu bingung. Apakah ia membuat kesalahan?
"Kau mau ke mana?" tanya Kellan.
"Aku mau tidur di kamar tamu!" Febi tak memedulikan Kellan lagi, langsung menuruni tangga dan masuk ke dalam kamar tamu yang berada di lantai satu.
Kellan mendesah melihat Febi masih tidak mau menerima dirinya. Seharusnya ia tidak menunggu Febi di kamar gadis itu, dan Febi bisa beristirahat di kamarnya sendiri. Kellan membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju kamar Febri.
***
Febri yang sedang teleponan dengan kekasihnya, menoleh ke arah Kellan yang terlihat lesu dan sedih. Kenapa lagi pria itu?
"Hei, kau kenapa? Gagal tidur dengan adikku?"
Kellan mengangguk dan membaringkan tubuhnya di samping Febri, pria itu menatap Febri lesu. Meyakinkan Febi tidaklah mudah. Gadis itu tidak percaya kalau Kellan sudah menikahi gadis itu. Tapi, siapa juga yang percaya, menikah diumur 10 tahun.
"Kau jangan gegabah. Ambil hatinya secara perlahan, lakukan apa yang disukai oleh Febi, misalkan kau cari tahu makanan kesukaannya, kau buatkan makanan kesukaannya."
Kellan menatap sahabat sekaligus kakak iparnya dengan senyuman mengembang. Selama ini, Kellan selalu mengikuti segala kegiatan istrinya dan ia tahu semua tentang istrinya itu.
"Makasih. Makasih. Kau memang sahabat terbaikku!"
Febri mengeram dan menjauh dari Kellan, pria itu sudah gila. Lebih baij Febri tidur di sofa daripada tidur bersama sahabatnya ini. "Kel, kau jangan tambah gila. Mana mau adikku bersama pria gila sepertimu!"
Kellan menyengir. "Aku pastikan, adikmu akan jatuh cinta padaku. Dia tidak akan bisa melupakanku dan memanggil namaku dalam desahannya." Kellan tersenyum m***m.
Febri pura-pura muntah dan beranjak dari atas ranjang, pria itu berjalan menuju balkon dan menatap bintang-bintang yang bersinar. Febri kembali berbicara dengan gadis yang mampu membuatnya jatuh hati. Rencananya Febri akan melamar kekasihnya akhir tahun ini.
Kellan memerhatikan Febri dan tersenyum, berharap gadis itu mampu membuat sahabatnya melupakan luka. Luka yang dibuat oleh orang masa lalu. Mendengar Febri jatuh cinta pada seorang gadis sederhana, disaat itu pula, Kellan mencari tahu latar belakang gadis itu. Jangan sampai kejadian yang dahulu terulang kembali.
Kellan memejamkan matanya, berharap besok pagi dirinya bisa merebut hati Febi. Istrinya itu, sangat mengemaskan. Kalau Febi sudah menerima dirinya, maka Kellan tak akan membiarkan istrinya itu bisa berjalan. Ia akan memberi pelajaran pada mulut tajam istrinya.
***
"Feb, aku buatin makanan kesukaan kamu." Kellan tersenyum melihat istrinya sudah rapi dengan baju kerja dan tas gadis itu.
Febi menatap makanan dan Kellan secara bergantian, perasaanya sedikit terharu melihat perjunagan pria itu yang ingin membahagiakan dirinya. Febi tersenyum dan menghampiri meja makan, lalu duduk di kursi dan mencicipi makanan buatan Kellan.
Kellan ketar-ketir menanti reaksi istrinya. Apakah masakannya enak atau biasa saja.
"Bagaimana?"
Febi mengangguk, "lumayan."
Kellan senang mendengarnya. Tak sia-sia dirinya bangun jam 5 subuh untuk memasaka makanan kesukaaan istrinya. Perjuangannya terbalaskan melihat gadis yang dicintainya makan dengan lahap.
Kellan rela masak setiap hari hanya melihat senyuman istrinya. Cinta memang buta. Seribu kali Febi menolak, maka seribu kali Kellan maju untuk mendapatkan hati gadis itu. Kellan tidak akan menyerah mendapatkan hati istrinya.
"Aku akan mengantarmu," ucap Kellan membawa piring kotor Febi ke dapur.
Febi hanya diam dan tidak membalas ucapan pria itu. Lagian, ia sangat lelah untuk berdebat sekarang, atau dirinya yang mengajak Kellan berdebat. Pasalnya, pria itu selalu tersenyum dan berbicara manis padanya. Febi tersenyum melihat dengan cekatan Kellan mencuci piring kotornya.
Febri yang melihat adiknya tersenyum ke arah Kellan, ikut tersenyum. Mudahan adiknya mau membuka hati untuk Kellan. Kellan adalah pria yang sangat baik. Pria itu pantas mendampingi Febi.
"Hem, Kellan, aku pergi dulu. Jangan lupa antarkan Febi!"
Kellan mengangkat jempolnya pada Febri dan melanjutkan kembali acara mencuci piringnya.
Febi menatap kepergian kakaknya dalam diam. Ia tidak tahu harus berbuata apa, menolak tawaran Kellan bukanlah hal yang tepat sekarang. Febi sedang malas menyetir sendiri.
"Kau mau aku antarkan, 'kan?" tanya Kellan memastikan.
Febi mengangguk, "cepatlah, aku ada meeting pagi ini."
Kellan tersenyum senang dan mengeringkan tangannya, lalu mengambil kunci mobilnya di atas meja makan dan mengikuti langkah Febi dari belakang. Perlahan tapi pasti.
Ia pasti mendapatkan hati istrinya.