Bab 07

1033 Words
Kellan tertawa sendiri melihat foto istrinya. Secara diam-diam Kellan mengambil foto gadis itu, walau Kellan sudah menikah senjak lama dengan Febi tetap saja dirinya masih perjaka. Ahh, kapan dirinya bisa b******a dengan istri tercintanya? Kellan berharap sekali bisa b******a dengan Febi dan tidur bersama dengan gadis itu, namun, apa yang bisa dikatakan. Kalau istri tercintanya itu tidak mau Kellan dekati dan tidak mau menerima pernikahan ini. Febri yang baru memasuki ruangan kerja Kellan, menatap bingung pada sahabat sekaligus adik iparnya. Febri berjalan mendekati Kellan, mengintip pada ponsel pria itu. Febri menggeleng, ternyata yang membuat pria itu seperti orang gila adalah menatap foto Febi. Febri heran, sihir apa yang diberikan oleh adiknya pada Kellan. Sehingga Kellan mau menikahi Febi saat kecil dan sampai sekarang Kellan masih seorang perjaka dan menunggu Febi. Seharusnya Febi bersyukur, mendapatkan suami yang mencintai gadis itu dengan tulus dan betapa besarnya cinta Kellan pada Febi. Sampai-sampai banyak wanita menggoda dibuat mati kutu oleh Kellan, saat pria itu menolak mentah-mentah wanita yang mendekatinya. Febi masih tidak mau menerima Kellan, padahal sudah berjalan dua bulan Kellan meyakinkan Febi kalau gadis itu adalah istri Kellan. Tapi, selalu menolak dan membantah kalau gadis itu belum pernah menikah sama sekali. "Hei, daripada kau menatap foto adikku, lebih baik kau sekarang berjuang mendapatkan hatinya lagi." Kellan tersentak mendengar suara Febri. Kellan menoleh ke arah belakang dan mendengkus melihat sahabatnya, pria itu menyimpan kembali ponselnya dalam saku celana dan fokus pada Febri sepenuhnya. "Hem, aku takut pergi ke perusahaanmu Febri, kau tahu sendiri Febi sangat membenciku kalau aku sering menemuinya." Febri mendelik, bagaimana Kellan mau mendapatkan isi hati Febi, kalau pria itu pengecut seperti sekarang. Seharusnya Kellan lebih gencar lagi mendekati Febi dan meyakini Febi. "Kau seharusnya harus berusaha lebih giat lagi mendekati istrimu! Jangan takut-takut nanti kau tidak akan pernah bisa mendapatkan Febi!" Kellan tampak berpikir dan mengangguk, seharusnya ia sekarang sedang berusaha meyakini istrinya dan tidak seharusnya ia berada di sini sekarang. Lagian Kellan tidak ada hal penting ya dia lakukan. "Baiklah, aku pergi dulu. Kau seharusnya pergi menemui kekasihmu!" Kellan mengambil kunci mobil dan dompetnya, lalu keluar dari ruangannya. Febri tertawa mendengar ucapan dari Kellan, padahal Febri ke sini ingin menghilangkan rasa suntuk. Tapi, dia tidak tega melihat sahabatnya hanya mampu melihat foto adiknya. Febri berdoa agar adiknya bisa menerima Kellan secepat mungkin. *** Kellan tersenyum melihat kantong yang berada di sebelah tangan kanannya, sebuah makanan dari restoran ternama yang sengaja dibelinya untuk Febi. Agar dirinya dan Febi makan bersama. Ahh, Kellan sudah tidak sabar melihat wajah istrinya. Kellan memasuki perusahaan Febi dengan senyuman merekah di bibirnya. Ia ingin melihat senyuman atau wajah kesal istrinya. Gadis itu terlihat kesal saja sudah terlihat sangat cantik, apalagi gadis itu tersenyum. Kellan memasuki lift dan menekan lantai tempat ruangan Febi berada. Kellan terus mengembangkan senyumannya, berharap dengan perhatian darinya Febi akan merasa senang dan mulai menerima Kellan. Setelah sampai di lantai tempat ruangan Febi berada, Kellan tidak menemui sekretaris sekaligus sahabat Febi. Mungkin gadis itu sedang membuat kopi atau membeli makanan. Kellan langsung saja membuka pintu ruangan Febi, senyuman pria itu lenyap ketika melihat pemandangan di depan matanya. Febi terlihat sedang berpelukan dengan seorang pria. Kellan meremas dadanya, ternyata sesakit ini melihat orang yang dicintai memeluk pria lain. "Hem, maaf mengganggu. Saya hanya ingin memberikan ini." Febi yang sedang memeluk seorang pria yang sangat disukainya, langsung melepaskan pelukan pria itu dan menatap pada Kellan. Ntah kenapa, hati Febi sakit melihat Kellan menatapnya sendu dan terluka. Febi tidak mungkin mencintai atau mulai menyukai pria gila itu. "Siapa dia Febi?" Febi menatap pada Dendra-pria yang beberapa menit lalu datang ke kantornya dan memeluk Febi penuh rindu. Kellan yang masih berada dalam ruangan itu memerhatikan Febi, berharap gadis itu akan mengatakan siapa Kellan sebenarnya. "Dia teman Febri. Mungkin dia ke sini karena disuruh Febri mengantarkan makanan itu." Jawaban dari Febi mampu membuat hati Kellan terasa diremas dan ditikam oleh sebuah pedang. Pria itu tidak menyangka, kalau Febi masih tidak mau menerima dirinya padahal Kellan sudah memberikan semua bukti pada Febi. Kellan mengangguk menahan tangisannya. Tidak etis rasanya ia menangis di depan pria yang memeluk istrinya tadi. "Maaf, saya mengganggu kalian." Kellan menatap pada Febi dengan tatapan terlukanya. "Saya akan mengatakan pada Febri, kalau makanan untuk adiknya sudah saya berikan." Kellan keluar dari ruangan Febi dengan membawa luka dihatinya. Febi terus menatap kepergian Kellan dan merasa bersalah. Walau bagaimanapun, semua orang mengatakan kalau Kellan adalah suaminya dan bukti-bukti tersebut sudah ditunjukkan oleh keluarganya dan Kellan. Febi ingin mengejar Kellan, tapi, menahannya. Ia tidak mungkin meninggalkan Dendra, pria yang disukai olehnya. Dendra kembali menatap Febi dan tersenyum pada gadis itu, Dendra sengaja menemui Febi ingin mengatakan sesuatu pada gadis itu. "Febi, aku akan menikah seminggu lagi. Kau datang ya?" Febi tertegun mendengar ucapan dari Dendra. Pria itu akan menikah? Febi merasa sangat sedih, padahal dirinya sudah berharap banyak kalau Dendra akan menikahinya dan membebaskan dirinya dari pernikahan dirinya yang tidak jelas ini. "Ka-u akan menikah?" tanya Febi terbata. Dendra mengangguk, dirinya akan menikah dengan gadis yang dicintai olehnya. Dendra ingin berbagi pada teman atau lebih bisa dibilang sahabatnya, Dendra sangat menyayangi Febi tapi hanya sebatas sayang kepada adik. "Kau harus datang! Aku tidak ingin kau banyak alasan, dan ini undangannya!" Febi menerima undangan itu dan tersenyum miris, padahal dirinya sudah berharap kalau kehadiran Dendra akan mengatakan cinta padanya, dan lihatlah sekarang, Dendra hanya mengantarkan undangan. "Baik, aku akan datang." Febi berusaha tersenyum, Dendra balik tersenyum pada gadis itu. Dendra sekali lagi memeluk Febi dan keluar dari ruangan Febi setelah pamit dengan gadis itu. Febi mendesah kasar, seharusnya dia tidak boleh berharap seperti ini pada Dendra. Dendra akan menikah. Febi seakan lupa kalau dirinya telah menyakiti hati pria yang sangat mencintai dirinya. Seharusnya Febi menatap pada Kellan bukan pada pria lain. *** Kellan menyetir mobilnya dengan air mata terus berlinang di pelupuk matanya. Seharusnya ia tidak menangis, dirinya adalah lekaki pasti kuat. Sekuat apapun lekaki, pasti akan menangis juga ujung-ujungnya. Apalagi Kellan menatap dengan mata kepalanya sendiri, Febi berpelukan dengan pria lain. Dan sakitnya lagi, Febi tidak mengakui Kellan kalau Kellan adalah suami Febi. Kellan tertawa miris. Kellan selalu berharap Febi akan menerimanya, tapi, gadis itu seakan enggan menerima Kellan dan menganggap Kellan gila. "Ternyata sakit hati itu tidak menyenangkan," ucap Kellan lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD