Kellan menatap pada gedung perusahaan yang berada di depannya. Dia sudah menyiapkan semuanya. Mental, hati, dan keyakinan teguhnya untuk melamar sang pujaan hati hari ini. Dua hari yang lalu, dirinya sudah meminta tolong pada Sonya, dan gadis itu begitu semangat menolong dirinya.
Beruntung Kellan masih ada yang mau menolongnya. Tidak seperti Febri yang tak mau menolongnya, dan mengatakan kalau Kellan harus berjuang jangan meminta bantuan orang lain! Memang sahabat laknat!
Kellan mengambil ponselnya, dan mulai menghubungi Sonya. Untung diangkat oleh gadis itu, dan mengatakan beberapa menit lagi, Sonya akan membawa Febi turun ke lantai bawah. Ya Tuhan! Kuatkan dirinya. Jangan sampai ini menjadi kejadian memalukan! Mau ditaruh di mana wajah tampannya nanti?
Kellan yang merasakan ponselnya mendapatkan notifikasi pesan. Langsung membukanya. Kellan terbelalak, Sonya yang mengirim pesan katanya dia dan Febi sudah dalam lift dan dua menit lagi sampai.
Kellan segera berdiri di tengah lobi perusahaan. Membuat semua karyawan melihat kearahnya. Tentu mereka tahu siapa Kellan— pria yang mengaku sebagai suami atasan mereka.
Dan kini pria itu membawa bunga mawar satu batang dan berjalan depan lift dan menunggu di sana.
Febi dan Sonya yang baru saja keluar membuat Kellan merekahkan senyumannya. Febi mengangkat sebelah alisnya, dan menatap pada bunga yang berada di tangan Kellan.
Kellan berdeham pelan berusaha untuk tak gugup sama sekali.
"Febi..." panggilnya pelan.
"Ya?"
"Kau memintaku untuk melamar bukan? Aku bukan pria romantis. Aku bukan pria yang pandai berkata-kata. Aku bukan pria yang bisa mengatakan hal romantis setiap saat. Aku hanya seorang pria yang selalu mencintai dirimu dari dulu sampai selamanya. Aku hari ini hanya memberikan dirimu satu batang mawar," Kellan menghentikan ucapannya, berusaha untuk baik-baik saja dan tidak gugup sama sekali.
"Satu batang mawar. Bukan karena aku tak bisa membeli lebih. Tapi, karena aku hanya ingin memberikan satu untukmu. Karena kau akan menjadi satu-satunya dalam hidupku," ucap Kellan dan mulai bertekuk lutut di depan Febi.
Kellan mengeluarkan kotak cincin dari dalam saku jasnya. Dan membuka kotak cincin itu dan mengulurkan di depan Febi sekaligus satu batang mawar.
"Maukah kau menikah lagi denganku? Hidup bersama diriku selamanya. Dan tidak akan saling meninggalkan. Sampai maut memisahkan kita," ucap Kellan menatap Febi penuh harapan.
Sonya yang melihat itu tersenyum. Sonya kira saat Kellan menghubungi dirinya, Kellan akan membuat perusahaan heboh dengan menghiasnya. Ternyata hanya menyuruh Febi ke bawah. Tadi Sonya berusaha untuk membujuk Febi agar ke bawah dengan memberi alasan, kalau ada yang membuat ribut di bawah.
Febi melihat ke arah Sonya yang senyum-senyum. Febi tahu kalau suami dan sekretarisnya ini bekerja sama. Febi mengulurkan tangannya meminta Kellan untuk memasangkan cicin itu.
Kellan yang melihatnya tersenyum dan memasang cincin ke jari manis Febi. Febi mengambil bunga dari Kellan. Bunganya harum.
"Terima kasih. Walaupun ini tidak ada makan malam dan lainnya. Tapi, ini romantis untukku," ucap Febi memeluk Kellan dan mencium bibir Kellan sekilas.
Kellan menahan tengkuk Febi dan melumat bibir gadis itu. Febi terbuai dan membalas lumatan Kellan. Kellan yang merasakan Febi sudah mehabisan napas, melepaskan ciumannya dengan Febi.
Kellan mencium kening Febi dan tersenyum. "Aku mencintaimu," gumam Kellan.
Febi mendengarnya mengangguk. "Aku juga mencintaimu," kata Febi.
Karyawan yang di sana langsung meleleh. Mereka tak menyangka, akan mendapatkan tontonan seperti ini sekarang. Ya Tuhan! Mereka ingin punya suami seperti Kellan! Para karyawan wanita semakin mengagumi sosok Kellan, yang bagi mereka patut dijadikan seorang suami.
"Kau mau ke rumah orangtuaku?" Tanya Kellan.
Febi mendengarnya mengerutkan keningnya. "Sekarang?" Tanya Febi, tak yakin kalau Kellan akan mengajaknya ke sana sekarang.
Kellan mendengarnya tertawa pelan. "Nanti siang atau nanti malam. Kemarin Mama datang ke apartement, dan dia ingin aku mengajakmu ke rumah. Kau pasti sudah lupa pada mereka," kata Kellan mengelus pipi Febi lembut.
Febi mendengarnya mengangguk. Memang dirinya sudah lupa pada orangtua Kellan. Febi juga merasa gugup kalau bertemu dengan orangtua Kellan. Apakah mereka tak marah kalau Febi mengatakan akan menikah ulang dengan putra mereka?
"Aku tidak ingat pada mereka. Mereka tak apa aku datang hari ini? Bukankah kemarin mereka suruh? Kenapa kau tak bilang padaku?" Tanya Febi, masuk kembali ke dalam lift dan diikuti oleh Kellan dari belakang.
Kellan menekan tombol lift menuju ruangan Febi. Febi melihat pada Kellan yang berdiri di sampingnya dengan senyuman manis pria itu. Kellan memeluk pundak Febi dan memberikan sebuah ciuman singkat di rambut Febi.
Kellan sangat mencintai Febi. Dirinya tak akan bisa membayangkan, kalau Febi meninggalkan dirinya dan malah memilih pria lain.
"Aku tidak bilang kemarin. Karena aku menyiapkan lamaran untukmu. Aku ingin kau datang menemui mereka, setelah aku melamar dirimu." Kata Kellan tersenyum.
Febi mendengarnya mengangguk. Dan berjalan keluar ketika lift sudah terbuka, Febi berjalan menuju ruangannya dan membuka pintu ruangannya.