Bab 19

1872 Words
Kellan menatap serius pada ponselnya, mencari tahu tentang bagaimana untuk melamar seorang gadis. Pria itu sudah menyiapkan segalanya, dan terus mencari yang terbaik. Dirinya juga sudah membeli cincin untuk melamar Febi. Mudahan Febi menyukainya nanti, dab tidak menolak dirinya. "Ini memang seperti inikah?" Gumam Kellan, ketika melihat cara kalau Kellan harus menyiapkan makan malam romantis, bertabur bunga, dan nanti masukkan cincinnya dalam kue, lalu bilang 'Maukah Kau Menikah Denganku?'. Kellan menggeleng pelan. Dirinya tM mau melakukan cara ini. Kellan berusaha untuk mencari cara lain, agar Febi mau menerima dirinya. Heh! Febi tetap akan mau menerima dirinya. Kan mereka ulang sebulan lagi, mana ada Febi menolak dirinya. Namun, Kellan ingin menjadi moment ini. Moment yang berharga untuk istrinya. Dia tidak boleh menyiakannya. Kellan mencari cara lain, dan tampak berpikir apa yang disukai oleh Febi dan apa yang tidak disukai oleh gadis itu. Kellan melebarkan senyumannya, ketika memikirkan satu cara. Tapi, ini dirinya harus meminta tolong pada Sonya. Ya. Dia akan menghubungi gadis itu. Tapi, bagaimana caranya? Kellan tak punya nomor Sonya. Kellan berusaha mencari kontak Febri, dan kembali menghubungi Febri. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Ke mana pria itu? "Ck! Saat aku menbutuhkannya dia tidak ada di sini!" Decak Kellan. Kellan beranjak dari atas ranjangnya, dan berjalan keluar dari dalam kamarnya. Kellan memikirkan, bagaimana cara mendapatkan nomor Sonya. Kellan menghela napasnya. Masa dia harus meminta pada istrinya sendiri. Nanti malah Febi curiga pada dirinya. "Itu bukan ide yang bagus. Aku harus mendapatkannya sendiri!" Kata Kellan. Ya. Dia harus mendapatkannya sendiri. Jangan meminta pada Febi. Itu bukanlah ide yang bagus, malahan nanti dirinya menambah masalah. Mana tahu Febi nanti curiga pada Kellan, dan mengatakan kalau Kellan ingin berselingkuh darinya. Kellan tak mau bertengkar. Kellan melihat ponselnya kembali. Dan tersenyum. Betapa bodohnya dia. Seharusnya dia melakukan ini dari tadi. Dia bisa meminta tolong pada orangnya untuk mencari nomor Sonya, dan dalam waktu satu jam ke depan dia sudah mendapatkan nomor Sonya. Kellan mulai menelepon orang suruhannya, dan meminta dirinya untuk mencari nomor Sonya. Dan dia menyanggupi menyuruh Kellan untuk menunggu saja. Kellan menunggu dengan sabar. Dia harus cepat menikah ulang dengan Febi. Agar dirinya bisa tidur memeluk Febi. Hanya butuh waktu sepuluh menit, nomor Sonya sudah ada di ponsel Kellan. Kellan melihat itu melebarkan senyumannya. "Mereka memang bisa diandalkan!" Ucap Kellan tersenyum puas. Kellan mulai menelepon Sonya. "Halo! Dengan Sonya?" Kellan tak mau basa basi. Dirinya mau langsung ke inti pembicaraan mereka sekarang. 'Iya. Anda siapa?' Kellan tersenyum mendengar pertanyaan gadis itu. Oke. Sonya bertanya sopan. Dan dia harus cepat mengatakan ini pada Sonya. "Saya Kellan. Saya ingin meminta bantuanmu, apakah kau bisa?" Kellan bertanya, sambil gelisah kalau Sonya menolak bantuan dirinya. Kellan mendengar Sonya di seberang sana terkejut. Dan pasti Sonya tak menyangka, kalau Kellan yang menghubungi gadis itu. 'Ha?! Anda ingin minta bantuan? Bantuan apa?' Kellan tersenyum. "Saya ingin minta bantuan, untuk melamar istri saya. Dan saya ingin kau membantuku," kata Kellan, masih mendengar di sana, kalau Sonya lagi dan lagi terkejut mendengarnya. 'Melamar? Bukankah anda dan Ibu Febi sudah menikah? Untuk apa melamar lagi?' Kellan tertawa kecil mendengar pertanyaan Sonya. Ya. Mereka memang sudah menikah. Tapi, pernikahan yang tak diingat oleh Febi. Kali ini Febi harus mengingat pernikahan mereka. "Iya. Saya dan dirinya memang sudah menikah. Tapi, saya dan dia ingin menikah ulang. Agar semua orang tahu, kalau dia milik saya. Dan saya adalah miliknya." 'Baik. Saya akan membantu anda. Anda bilang saja, apa yang perlu saya bantu' Kellan tersenyum mendengar penuturan dari gadis itu. Febi beruntung mendapatkan sekretaris yang sopan dan tidak pernah macam-macam. Kellan juga tahu, kalau Sonya dan Febi sahabat. Dan Febi selalu peringati Sonya kalau gadis itu bekerja terlalu berlebihan. "Terima kasih Sonya. Nanti saya akan bilang apa saja yang perlu kamu bantu," kata Kellan dan menutup sambungan teleponnya dengan Sonya. Kellan melempar ponselnya, dan menatap pada cincin lamaran yang sudah Kellan sediakan untuk Febi. Untuk cincin pernikahan, Kellan sudah memesannya dan akan siap dua minggu lagi. Kellan mengusap cincin itu dan tersenyum. Memang dirinya dan Febi masih muda untuk menjalani ini. Tapi, Kellan tak bisa menunggu lebih lama lagi. Dulu orangtua Kellan menyarankan, agar Kellan datang ke Febi saat umur Kellan dua puluh lima tahu, dan umur Febi dua puluh dua tahun. Tapi, itu terlalu lama bagi Kellan. Jadilah dia datang sekarang, dan beruntungnya Febi mau menerima kehadiran dirinya, walau Kellan sempat ditolak oleh Febi. "Aku akan membahagiakan kamu Febi. Aku tidak akan pernah menyakitimu," kata Kellan bersungguh. Dirinya tak akan pernah nenyakiti Febi. Febi adalah cinta pertamanya dan akan selamanya menjadi perempuan yang dicintai olehnya. Kellan tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya. Kellan yang akan masuk ke dalam kamar, namun diurungkan olehnya. Ketika mendengar bel apartement-nya berbunyi. Kellan berjalan menuju pintu apartement-nya dan membuka pintu apartement. Kellan menatap ibunya yang datang dengan senyuman terpatri di bibir ibunya. "Mama? Kenapa Mama ke sini?" Tanya Kellan. Dena mendengar pertanyaan anaknya langsung berdecak. Apa-apaan pertanyaan itu? Kenapa sampai bertanya kenapa Dena di sini? Dena tanpa segan memukul kepala anaknya, membuat Kellan meringis merasakannya. Kellan masuk ke dalam apartement. Membiarkan ibunya duduk di sofa, dan menatap sekeliling dalam apartement milik putranya. Tak terlalu buruk sama sekali. Dena datang ke sini, karena putranya ini jarang sekali pulang ke rumah. Dena juga ingin putranya untuk mengajak Febi datang ke rumah, sampai sekarang Kellan belum membawa Febi ke rumah. "Kau sendirian? Bukannya kata Rima kemarin, Febi ada di sini?" Tanya Dena menatap kecewa pada putranya. Padahal Dena berharap bertemu dengan Febi. Malahan dirinya tak bertemu dengan gadis itu. Huft! Dirinya memang selalu tak beruntung kalau menyangkut ini. Kellan tersenyum. "Kemarin dia memang di sini. Tapi, sekarang dia di rumah orangtuanya," jawab Kellan. Dena mendengarnya mengangkat sebelah alis. "Kau dan Febi belum tinggal bersama?" Tanya Dena. Kellan menggeleng. "Belum Ma! Kellan dan Febi masih belum tinggal serumah," jawab Kellan, membuat Febi terkejut mendengarnya. "Kau tidak tinggal bersamanya?" Tanya Dena, mengira kalau putra dan menantunya sudah tinggal bersama. Ternyata belum. Kellan tertawa mendengarnya. "Belum Ma. Kellan ingin mengatakan sesuatu pada Mama dan Papa, kalau Kellan akan menikahi Febi secara ulang. Seharusnya besok pagi Kellan ke rumah, tapi, Mama sudah di sini. Ya sudah, Kellan katakan saja sekarang," ucap Kellan. Dena mendengarnya mengangguk. "Mama juga ingin mengatakan itu. Mama ingin kalian menikah ulang, dan jangan langsung tinggal bersama. Pernikahan kalian dulu tidak sah bagi Mama. Dan Mama juga ingin membuat pesta," kata Dena tersenyum. Kellan yang mendengar terkejut. Apa yang dikatakan oleh ibunya sama seperti apa yang dikatakan oleh Febi. Karena pernikahan dulu emang tidak sah, mereka hanya asal menikah sepertinya dulu. "Apa yang Mama katakan sama seperti yang Febi katakan. Febi juga mengatakan itu, makanya Kellan setuju untuk menikah ulang dengan Febi," ucap Kellan dengan senyumannya. Dena mengangguk. "Kapan pernikahannya?" Tanya Dena, agar dirinya bisa membantu juga nantinya. "Sebulan lagi Ma. Tapi, Mama dan Papa harus datang melamar Febi secara sah dulu ke hadapan orangtua Febi. Agar semuanya lebih terlihat seperti pernikahan normal," kata Kellan. Dena mengangguk. "Mama dan Papa akan datang ke sana. Tapi, kau bawa dulu Febi ke rumah. Dia harus mengenal kami. Dia mungkin sudah lupa dengan kami," kata Dena, meminta Kellan untuk membawa Febi ke rumah. Jeno mengangguk. Dia akan membawa Febi ke rumah orangtuanya. Mengenalkan Febi pada orangtuanya. "Siap Ma. Mama mampir ke sini hanya untuk menanyakan tentang Febi saja?" Tanya Kellan. Dena mendengarnya tertawa kecil. "Mama ke sini juga mengunjungi dirimu. Kau sudah tidak pulang beberapa hari. Kau tidak mengingat jalan ke rumah lagi?!" Tanya Dena. Kellan mengaruk pelipisnya yang tak gatal sama sekali. Kellan ingat jalan ke rumah orangtuanya. Tapi, bukankah dirinya juga sibuk di perusahaan? "Kellan ingat Ma! Ini Kellan besok pagi mau pulang ke rumah," kata Kellan berusaha untuk tidak kesal pada ibunya yang selalu saja berlebihan. "Bawa Febi besok pagi ke rumah. Mama ingin bertemu dengan menantu Mama itu," kata Dena menyuruh putranya untuk membawa Febi ke rumah. Kellan mendengarnya tampak bingung. Bagaimana cara dirinya membawa Febi ke rumah orangtuanya? Bukannya apa, tapi, Febi pasti tidak akan mau datang ke rumah orangtuanya sekarang. "Ma! Lain kali Kellan akan membawa Febi, tidak esok pagi. Febi masih butuh waktu. Febi tak ingat pernah menikah dengan Kellan. Febi menerima Kellan juga baru-baru ini," kata Kellan, berusaha memberi pengertian pada ibunya. Dena yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya. Padahal dia sangat berharap bertemu dengan Febi, dan mengajak menantunya itu untuk berbicara banyak dan juga belanja. "Kau coba tanya dulu pada Febi. Kalau dia tidak mau. Tidak masalah. Yang penting kau sudah bertanya pada Febi," kata Dena, masih berharap Febi mau ikut ke rumahnya. Kellan menghela napasnya dan mengangguk. Mau tak mau. Dirinya harus mengatakan ini pada Febi, agar mau ke rumah orangtuanya. Kellan tak akan memaksa istrinya nanti, kalau dia tak mau pergi. "Kellan akan bicara pada Febi nanti," kata Kellan. Dena mendengarnya sangat senang sekali. "Kalau begitu Mama pulang dulu. Jangan lupa tanyakan ini pada Febi. Oh iya, Mama akan bicarakan ini pada Papa. Dan Mama akan membeli seserahan saat melamar Febi," kata Dena semangat berdiri dari tempat duduknya. Kellan yang menatap ibunya berjalan keluar dari dalam apartement Kellan. Kellan mendesah kasar, dan memijat pelipisnya. Dia tidak tahu bagaimana cara untuk membujuk Febi agar mau datang ke rumah orangtuanya. Kellan menatap ponselnya yang berbunyi. Nama Febri terpampang jelas di sana. Kellan mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari Febri. "Halo! Kau ke mana saja?" Tanya Kellan sinis. Kellan mendengkus ketika mendengar Febri yang tertawa di seberang sana. 'Kenapa? Kau merindukanku? Bukankah kau sudah memiliki adikku? Untuk apa kau masih merindukan diriku?' Kellan mendengarnya berdecak. Febri sungguh menyebalkan! Dari dulu sampai sekarang, pria itu tak pernah berubah sama sekali. Selalu menyebalkan bagi Kellan. Memangnya kenapa kalau Kellan sudah berbaikan dengan Febi? Lagian Febri adalah sahabatnya. "Kau tidak bisa diam?" Tanya Kellan mendesis. Febi tertawa mendengarnya. 'Ya. Aku tak bisa diam. Bagaimana? Kau dan adikku sudah tinggal serumah?' "Belum. Kau harus membantuku. Bagaimana cara melamar Febi!" Kata Kellan membuat Febri kembali tertawa mendengarnya. 'Ya, lamar saja! Apa susahnya hah?! Aku ngantuk dan aku mau tidur dulu!' Kellan menatap sambungan teleponnya dimatikan. Memang dasar tak punya otak sahabatnya ini. Dengan beraninya mematikan sambungan telepon, saat Kellan meminta pendapat pada Febri. Kellan melemparkan ponselnya itu, dan membaringkan tubuhnya di atas sofa. Kellan memijat pelipisnya perlahan dan menguap merasakan kantuk yang datang. Kellan memejamkan matanya, dan tanpa sadar dirinya sudah menuju ke alam mimpi. Berharap rencananya ini nanti tak akan memalukan sama sekali. Kellan sudah menyiapkan segalanya, dan tinggal nanti saat dirinya melamar Febi. Walau tetap akan diterima, tetap saja Kellan merasa gugup dengan apa yang dirasakan olehnya saat ini. Ini pertama kalinya dia melamar gadis. Dan pertama kalinya dia mau repot-repot berpikir seperti ini, seperti orang yang sedang dimabuk kasmaran. Bukankah dirinya memang sedang mabuk kasmaran? Kellan terkekeh kecil membayangkan itu. Kellan dan cinta pertamanya. Memang serumit ini ternyata. Febri pasti sekarang berdecak dan menertawakan Kellan yang tampak bodoh hanya karena adik pria itu. Tapi, dia memang bodoh. Dari dulu sampai sekarang dirinya hanya melihat Febi dan tak melihat ke siapa pun. Cinta itu memang buta. Dan cinta itu juga membuat kesakitan dan kebahagiaan dalam bersama. Semoga Kellan dan Febi akan selalu bahagia bersama dan tak ada kesakitan yang dirasakan oleh mereka. Yang dirasakan oleh mereka hanya kebahagiaan tiada tara. Semoga saja. Karena Kellan percaya, kalau Tuhan punya rencana yang baik untuk dirinya dan Febi. Rencana yang akan mendatangkan kebahagiaan tanpa luka tentunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD