Bab 18

2032 Words
Febi dan Kellan membawa Lerdin dan Rima untuk duduk di ruang tengah. Mereka ingin mengatakan tujuan mereka, dan mudahan keluarga mereka merima apa yang akan menjadi keputusan mereka. Apalagi Febi. Dia bukan menolak Kellan. Tapi, dirinya hanya ingin hubungan ini lebih terikat lagi. "Ada yang mau kalian bicarakan?" Tanya Lerdin menatap keduanya. Febi mengangguk dan melihat pada Kellan yang menyilakan Febi untuk mengatakannya pada kedua orangtua gadis itu. "Febi mau menikah ulang dengan Kellan," ucap Febi membuat kedua orangtua Febi terkejut mendengarnya. Menikah ulang? Tapi, kenapa? Bukankah putrinya sudah menikah dengan Kellan. Untuk apa menikah lagi? Lebih baik Febi langsung memiliki anak saja dengan Kellan, tanpa menikah ulang. "Nikah ulang? Untuk apa?" Tanya Rima. Febi mendengarnya tersenyum. "Febi hanya ingin mengsahkan hubungan ini. Lagian Febi tak ingat kapan kami menikah. Aku tidak mau hal ini menjadi pembicaraan orang-orang, kalau aku tidak menikah dengan Kellan dan tak ada buktinya. Kalian mau memperlihatkan foto pernikahan saat umurku sekecil itu?" Tanya Febi membuat kedua orangtua Febi terdiam mendengarnya. "Tak akan ada yang percaya! Malahan orang-orang nanti mengatakan aku gila! Menikah diusia yang muda!" Decak Febi dan diangguki oleh kedua orangtua gadis itu dan juga Kellan. Febi yang melihat kedua orangtuanya mengangguk tersenyum manis. "Jadi, aku ingin menikah ulang." Kata Febi menjelaskan niatnya itu. "Jadi, kapan kalian akan menikah ulang?" Tanya Rima, yang tidak ingin menundanya terlalu lama lagi. Rima ingin Febi ada kegiatan lain selain dengan berkas-berkas itu. Putrinya terlalu mencintai berkas-berkas itu dan tidak tahu tentang dunia luar dan cintaan sam sekali. Rima sampai ingin membuang semua berkas-berkas itu. Memiliki dua anak dan suami yang ketiganya selalu menomor satukan pekerjaan dan sering ke luar negeri untuk mengurus pekerjaan mereka. Febi menatap pada Kellan meminta Kellan untuk menjawab. "Mungkin satu bulan lagi Ma. Kami harus menyiapkan semuanya. Kellan tak mau pernikahan ini biasa saja. Kellan ingin membuat pernikahannya meriah dan banyak tamu yang datang," jawab Kellan. Rima mendengarnya mengerutkan kening. "Terlalu lama. Nggak bisa minggu depan? Kita akan mengurus semuanya dengan cepat! Kalau ada uang semua bisa di lakukan!" Kata Rima, tidak mau satu bulan lagi. Baginya itu terlalu lama. Rima tak suka menunda niat baik. Apalagi tentang putrinya yang akan menikah. Rima ingin pernikahan ini cepat dilangsungkan, agar dia bisa dengan cepat percaya kalau ada seseorang menjaga putrinya. Rima tak mau putrinya selalu bekerja. Bekerja. Dan bekerja. Kellan dan Febi menggeleng mendengar pertanyaan Rima. Kellan ingin minggu depan, tapi, sesuai permintaan Febi minta dilamar. Ya. Dirinya menargetkan bulan depan. Kellan sekarang sedang mencari cara bagaimana caranya untuk melamar Febi. Dan Febri sedang tidak di sini sekarang. Padahal Kellan ingin konsultasi pada sahabatnya itu. "Kellan dan Febi akan menikah ulang sebulan lagi Mama. Dan untuk semuanya sudah Kellan persiapkan. Kellan juga akan menbawa orangtus Kellan ke sini membicarakan pernikahan ulang kami. Dan melamar Febi secara formal," ucap Kellan, membuat Lerdin dan Rima mendengarnya terkejut. Melamar? Mereka kira hanya menikah ulang saja dan tidak ada acara lamar melamar seperti yang Kellan katakan. Dulu orangtua Kellan sudah melamar Febi. Untuk apa datang melamar lagi? "Lamar? Untuk apa? Orangtuamu dulu sudah melamar Febi. Dan tak perlu melamarnya lagi!" Ucap Lerdin diangguki oleh Rima. Kellan mendengarnya tertawa pelan. "Dulu itu Febi tak ingat semuanya. Kellan ingin sekarang Febi ingat semuanya. Mulai acara melamar, persiapan, dan pernikahan." Kata Kellan mengedipkan sebelah matanya pada Febi. Febi yang melihat itu berdecih. Kedipan mata Kellan padanya tak akan mampu membuatnya tersipu. Febi memang gadis berbeda. Ketika teman-teman sebaya Febi sedang dimabuk asmara. Maka Febi dimabuk berkas yang dicintai olehnya. Demi kelangsungan hidup enaknya. Kalau ingin beli ini itu. Harus berjuang. Jangan mau santai saja dan setelah itu hidup enak. Tidak seperti itu. Mencari uang itu tidak mudah. Coba kalian semuanya mencari uang jatuh nominal seribu saja di jalan. Pasti tidak akan ketemu. Rima yang melihat anaknya berdecih, menatap tajam pada anaknya. Dan melototkan matanya. Anaknya ini tak bisa malu-malu kambing apa?! "Febi memang begitu. Walaupun Justin Bieber yang menggoda dirinya sekarang! Dia tidak akan malu-malu kambing! Malahan dia akan menatap sinis! Dia nonton film saja hanya menatapnya datar. Mama heran, dia masih doyan nonton film! Padahal ekspresi dia tidak ada sama sekali." Kata Rima berdecak dan menggelengkan kepalanya. Febi mendengarnya memutar bola matanya malas. Ibunya berlebihan sekali. Padahal Febi tidak seperti itu. Saat adegan sedih dalam film dia tetap sedih dan ingin menangis. "Jangan lebay!" Ucap Febi santai. Rima mendengarnya sungguh akan melemparkan putrinya menggunakan gelas di atas meja. Lerdin yang melihat itu langsung menggeleng pelan. "Kalian jangan berdebat terus!" Ucap Lerdin tak mau melihat anak dan istrinya berdebat terus. Mereka seharusnya akur. Bukan malah berdebat terus. Febi dan Rima diam dan tidak melihat satu sama lain. Febi kesal pada ibunya yang terus berbicara berlebihan tentang dirinya dan menjelekkan dirinya. Padahal Febi tak sejelek itu. Sudahlah. Kalau punya ibu seperti ini harus banya sabar. Suka memuji anak orang lain. Membandingkan anak orang lain dengan anaknya. Padahal dia tidak tahu seperti tingkah anak orang lain itu dibanding anaknya sendiri. Febi mengambil satu kue di atas meja dan memakannya. "Kapan kau akan ajak keluargamu ke sini Kellan? Kalian menikah ulang lebih cepat lebih baik," ucap Rima lembut pada Kellan. Kellan yang ditanya seperti itu tersenyum. "Sepertinya seminggu lagi Ma. Kellan ingin mengatakan ini dulu pada orangtua Kellan. Mereka tak tahu mengenai ini," kata Kellan. Rima mendengarnya mengangguk. "Padahal tak perlu menikah ulang. Febi saja yang berlagak ingin menikah ulang!" Cibir Rima. Febi mendengarnya mengelus dadanya. Sabar. Jangan dilawan. Febi tak mau berdebat lagi dengan ibunya ini. Yang lama-lama tak sehat untuk jantungnya. Febi akan menjadi anak baik. Ayo! Jadi anak baik. "Apa yang dikatakan oleh Febi memang benar Ma. Kami harus menikah ulang. Bukannya apa, tapi, kita tinggal di negara yang tak menerima pernikahan anak di bawah umur seperti itu. Dan Kellan belum mengurus pernikahan itu ke negara, karena tak akan memenuhi syarat. Jadi, dengan ini pasti lebih memudahkan. Pas pernikahan ulang nanti, Kellan akan mengatakan kalau kami berdua menikah saat Febi umur tujuh belas tahun dan aku umur dua puluh tahun. Agar tak ada curiga," kata Kellan. Rima dan Lerdin mendengarnya hanya dapat mengangguk. Menuruti apa yang diinginkan oleh anak dan menantu mereka. Lagian itu masih dalam hal normal dan tidak menyimpang sama sekali. Mereka akan merestui dan mendukungnya. "Baiklah. Kami akan mendukung apa pun yang kalian putuskan," kata Rima dan Lerdin tersenyum. Keduanya tersenyum. Febi merasa senang tentang keinginannya ini diturutin. Febi berdiri dari tempat duduknya. "Febi akan ke atas dulu," kata Febi ingin tidur. Kellan dan kedua orangtua Febi. Melihat pada Febi. Mereka mengerutkan kening mereka. Melihat Febi yang berjalan menuju tangga. Rima yang melihat Kellan hanya duduk saja langsung menyuruh untuk menyusul Febi dan mengatakan kalau Kellan bisa menginap malam ini di sini. Kellan berdiri dan menyusul Febi. Febi merasa ada orang mengikuti dirinya, menoleh ke belakang dan mengerutkan keningnya melihat Kellan yang tersenyum tipis. "Kau mau apa?" Tanya Febi. Kellan tertawa pelan. "Tentu saja aku mau menemani istriku. Aku tidak akan macam-macam. Aku sudah mengatakannya kemarin bukan?" Ucap Kellan berbisik. Febi memutar bola matanya. Mengabaikan Kellan, memilih untuk terus berjalan dan tidak peduli pada Kellan lagi. Kellan yang melihatnya mengikuti Febi terus. Kellan meletakkan tangannya di pingang Febi, dan Febi hanya diam dan tak menepis sama sekali. Febi membuka pintu kamarnya, meletakkan tasnya sembarang dan berjalan menuju ranjang setelah Kellan melepaskan tangannya di pingang dirinya. Febi berbaring di atas ranjang, melihat Kellan yang tersenyum padanya. "Kau sudah memikirkan cara melamar diriku?" Tanya Febi tengkurap dan menopang dagunya. Kellan mendengarnya tertawa kecil. "Aku masih memikirkan caranya. Apa yang kau suka?" Tanya Kellan. Febi mendengar pertanyaan pria itu memutar bola matanya. "Kau harus mencarinya sendiri. Dan tidak boleh bertanya padaku!" Kata Febi. Kellan mendengar itu mengangguk. "Baiklah. Aku tak akan bertanya padamu. Aku akan mencari tahunya sendiri, apa yang kau suka dan tak kau suka," kata Kellan. Febi mengacungkan jempolnya. "Bagus! Aku ingin bertanya padamu," kata Febi menatap Kellan serius. Kellan mendengar itu menegakkan badannya. Menunggu apa yang akan dikatakan oleh Febi pada dirinya sekarang. "Kau tak akan melarangku bekerja setelah kita menikah bukan?" Tanya Febi, yang tak mau dilarang bekerja setelah mereka menikah. Kellan mendengarnya tersenyum. "Aku tidak akan melarangmu bekerja. Bukankah kau sangat mencintai pekerjaanmu?" Tanya Kellan tersenyum manis pada Febi. Febi mengangguk. "Ya. Aku sangat mencintainya. Walau aku sering kelelahan. Tapi, aku sangat menikmati pekerjaanku ini," jawab Febi tersenyum. Kellan mengangguk mengerti. Dia juga tak akan melarang Febi. Asalkan nanti Febi tak mengabaikan waktu. Dan keduanya masih memiliki waktu bersama. "Aku mengerti. Aku akan berpesan satu hal. Pas akhir pekan kita berdua tidak ada yang boleh bekerja. Dan kau harus menjaga kesehatanmu," kata Kellan. Febi tertawa pelan. "Aku selama akhir pekan memang tak bekerja. Itu adalah suatu hal yang aku tanam dari dulu. Akhir pekan waktunya aku istirahat," kata Febi. Kellan tersenyum berjalan mendekati Febi dan berbaring di samping Febi. Kellan membawa Febi ke dalam pelukannya. Febi yang merasakan pelukan dari Kellan semakin mengelamkan wajahnya di d**a bidang Kellan. Rasanya sangat nyaman sekali. "Aku masih memikirkan bagaimana cara melamar dirimu. Aku tidak mengerti cara melamar perempuan," kata Kellan menghela napasnya. Selama ini dirinya selalu saja terfokus pada pekerjaan dan Febi. Yang dia yakini sebelumnya tak ada acara lamar melamar pada gadis itu. Ternyata dirinya salah. Malahan ada acara lamar melamar sekarang. Kellan harus membeli cicin setelah dari sini. Dia tidak akan menginap di rumah Febi, walaupun kedua orangtua gadis itu mengizinkan dirinya untuk menginap. Tapi, dirinya ingin pulang ke apartement miliknya mencari cara untuk melamar Febi. Kellan ingin segera ini selesai dan dia bisa segera menikah ulang dengan Febi. "Kau pasti mengerti. Coba kau cari di internet dan melihat caranya di situ," kata Febi menjauhkan tubuhnya sedikit dari Kellan. Kellan yang mendengar perkataan Febi menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum. Kellan mengangguk, dan menatap Febi yang turun dari atas ranjang dan berjalan menuju lemari. Kellan yakin kalau istrinya itu akan mengganti pakaian, melihat Febi membawa pakaian santai rumahan ke dalam kamar mandi. Kellan meletakkan tangannya di atas keningnya. Menatap pada langit kamar Febi. Dan setelahnya dia mengembuskan napas kasar. Kellan mengambil ponselnya, mencari kontak Febri. Mencoba menghubungi pria itu. Namun, tak dibalas sama sekali. Mungkin Febri sudah tidur sekarang. "Kau menelepon siapa?" Tanya Febi sudah mengganti pakaiannya. Mata Kellan melihat pada Febi dan tersenyum. "Aku menelepon kakakmu. Aku akan pulang dan tidak menginap di sini," kata Kellan menberitahu Febi. Febi mendengarnya mengangguk. "Kau katakan pada Mama dan Papa. Kedua orang itu yang berharap kau untuk menginap di sini," ucap Febi. Kellan tersenyum. "Nanti aku bilang saat mau pulang. Febi!" Panggil Kellan. Febi melihat pada Kellan menaikkan sebelah alisnya. "Apa?" Tanya Febi penasaran. "Kalau kita menikah ulang dan tinggal serumah. Setelahnya punya anak. Kita akan menjadi Papa dan Mama muda. Mengingat umur kita masih sangat muda sekali. Kau baru dua puluh tahun dan aku dua puluh tiga tahun," ucapnya tertawa kecil membayangkan mereka punya anak. "Memang apa salahnya? Lagian banyak anak umur tujuh belas atau delapan belas tahun memiliki anak. Aku tidak akan menunda kehamilan, karena menunda kehamilan tak baik!" Kata Febi. Febi pernah belajar dari saudara jauhnya. Dia menikah dan menunda kehamilan. Setelah itu dia susah mendapatkan anak. Mungkin Tuhan sedikit marah padanya, karena menunda pada awalnya. Jadilah, Febi tidak akan menunda kehamilan. Kapan pun diberi dia akan menerimanya. Kellan mendengarnya menatap tak percaya pada Febi. "Kau sungguh tak akan menunda kehamilan?" Tanya Kellan. Febi mengangguk. "Iya. Aku tidak akan menundanya. Lagian mempunyai anak tak ada masalahnya. Aku senang pada anak kecil, walau sedikit merepotkan nanti," kata Febi tersenyum. "Aku senang kau tak menundanya. Aku mencintaimu," ucap Kellan melayangkan ciumannya di udara. Febi melihatnya hanya mencibir. Febi menatap pada alat make-up nya dan membersihkan make-up yang masih tersisa di wajahnya. Kalau di rumah dirinya tak suka berdandan sama sekali. Kellab melihat Febi mencibir mengelus dadanya. Sabar. Febi bukan wanita yang mudah dibujuk dan dinyatakan perasaan cinta. Kellan turun dari atas ranjang. Berjalan mendekati Febi. Kellan memeluk Febi dari belakang dan mencium puncak kepala Febi. "Aku akan pulang sekarang," kata Kellan. Febi mengangguk. "Hati-hati di jalan. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah," ucap Febi. Kellan mengangguk. "Aku akan mengabarimu. Sampai jumpa lagi," kata Kellan keluar dari dalam kamar Febi. Febi tersenyum menatap kepergian Kellan. Febi juga mencintai pria itu. Febi tak akan pernah melepaskan Kellan. Ya. Sekali dirinya tak mau Kellan pergi dari dalam hidupnya. Kellan akan selalu bersama dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD