Bab 10

2006 Words
Febi menatap pada Kellan yang memakai setelan kerjanya. Pria itu begitu tampan. Mereka belum kembali ke Indonesia. Febi juga ingin menemani Kellan di sini. Ahh, kemana dirinya selama ini? Tidak pernah sadar dengan ketampanan Kellan. Dasar bodoh! Dirinya sungguh tidak bisa melihat wajah tampan dan gagah milik suaminya. Suami? Kata itu seakan mampu membuatnya tersipu malu. Sialan! Febi berdeham pelan, berjalan mendekati Kellan. Melihat dasi pria itu terpasang miring. "Aku akan memperbaikinya. Seorang atasan tidak mungkin datang dengan dasi tidak rapi seperti ini!" Kata Febi menepuk pundak Kellan. Kellan yang mendengar ucapan istrinya mengulum senyumnya. Dia begitu senang, Febi yang sudah mulai menerima dirinya sebagai suami gadis itu. "Aku pergi dulu. Kalau kau butuh sesuatu, kau bisa meneleponku," kata Kellan, mencium kening Febi lembut. Febi yang mendengar apa yang dikatakan oleh Kellan mengangguk. Febi berjalan menuju dapur dalam aprtemen Kellan, mencari bahan makanan yang bisa diolahnya untuk dibuat makan siang. Tadi dirinya dan Kellan sudah sarapan roti bakar bersama. Namun, perutnya tidak akan cukup memakan itu. Untung saja. Walau Febi terlahir dari keluarga kaya dan statusnya sebagai CEO. Namun, dirinya sudah bisa memasak semenjak umur delapan belas tahun. Ketika dirinya tinggal berpisah dari orangtuanya beberapa bulan. Mau tidak mau. Febi harus pandai memasak. Mengingat dirinya orang paling malas keluar. Memesan makananpun dia enggan. "Hanya ada ini saja?" Febi menatap horor pada tomat dan kentang. Hanya ada dua macam ini saja dalam kulkas Kellan. Febi berdecak. Suaminya itu sungguh membuat Febi tidak bisa diandalkan! Pasti pria itu selalu memesan makanan. Febi dengan malas mengambil ponselnya, dan memesan makanan melalui ponselnya. Untuk keluar dari dalam apartemen ini pun dirinya merasa enggan. Lebih baik memesan saja. Febi kembali menyimpan ponselnya, duduk di sofa dan menghidupkan televisi. Bukan dirinya yang suka bersantai seperti ini. Febi selalu bekerja dan memiliki kegiatan yang menghasilkan uang. Febi menghela napasnya. Ketika televisi di depannya ini tidak menarik. Febi menguap, dan melihat ke arah pintu apartemen. Bel apartemen berbunyi. Febi berdiri dari tempat duduk dan membuka pintu itu. Febi tersenyum pada pangantar makanan dan mengucapkan kata terima kasih. Febi berjalan kembali menuju dapur, dan meletakkan bungkusan makanan itu terlebih dahulu di atas meja. Febi tersenyum, ketika menuangkan makanan itu ke piring. Harum makanan itu membuat perutnya merasa lapar. "Selamat makan," ucap Febi pada dirinya sendiri. Setelah makan nanti, dia memang harus membeli bahan makanan. Tidak mungkin mereka memesan makanan terus. Bukan karena uang! Tapi, Febi termasuk orang yang tidak suka memesan makanan terus. Lebih suka membuatnya sendiri. Lebih higienis katanya. Febi melihat ponselnya yang berbunyi. Febi mengambil, dan melihat kiriman sebuah pekerjaan dari sekretarisnya. Febi membukanya dan berdecak mendapati beberapa pekerjaan penting yang harus dengan kehadiran dirinya. Bagaimana dia bisa pulang ke Indonesia sekarang? Kellan di sini dan tidak mungkin Febi meninggalkannya begitu saja. Febi berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan memasuki kamarnya dengan Kellan. Febi mengganti pakaiannya, tidak lupa dirinya menghubungi supir Kellan untuk mengantarkan dirinya ke perusahaan Kellan yang berada di sini. Febi keluar dari dalam apartemen. Berjalan menuju lift dan menekan tombol lift menuju lantai bawah. Febi hanya menatap datar orang-orang yang tidak peduli dengan urusan orang lain di negara ini. Beda dengan negaranya. Salah berpakaian sedikit saja, mendapatkan banyak komentar sinis dan ditatap seperti seseorang pembunuh. Febi masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke perusahaan milik Kellan. Febi menatap jalanan menuju perusahaan Kella. Dia sebenarnya tidak mau pulang sekarang, kalau saja hal penting ini tidak membutuhkan dirinya. Febi mengecek pekerjaannya dan kembali mendesah kasar, melihat beberapa pekerjaan yang memang membuatnya akan lembur nanti. Febi merasa mobil berhenti. Febi keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki perusahaan. Febi menatap resepsionis. Berjalan mendekati resepsionis. "Permisi..." Febi berkata sopan. Resepsionis itu melihat ke arah Febi dengan tatapan menyelidiknya. Dia tidak pernah melihat gadis ini. Dan lihat gadis ini, sepertinya masih di bawah delapan belas tahun. "Adik mau apa ke sini?" Tanya resepsionis agak sopan. Walau tatapan resepsionis itu dari tadi menilai dan sedikit tersenyum sinis pada Febi. Febi yang mendengar panggilan adik. Langsung berdecak kesal. Dia tahu, wanita didepannya lebih tua dibanding dirinya. Tapi, ini bukan Asia. "Saya ingin bertemu dengan Mr. Azzandra," jawab Febi, berusaha untuk tetap sopan dan sebisa mungkin menjaga namanya di sini. Orang-orang di sini tidak tahu dirinya. Seorang CEO muda dan bisa mengurus pekerjaan hanya dengan waktu sebentar saja. Resepsionis yang mendengar ucapan Febi, langsung menaikkan sebelah alisnya. Menemui atasan mereka? Untuk apa? Minta sumbangan? Bukan di sini tempatnya! "Ada keperluan apa? Dan apakah anda sudah memiliki janji dengannya?" Febi menghela napasnya. Dia tahu tentang peraturan di perusahaan. Karena perusahaannya juga seperti ini. Tapi, dia sungguh ingin menemui suaminya sekarang! "Saya belum memiliki janji. Anda bisa menelepon Mr. Azzandra, dan mengatakan seorang perempuan bernama Febianti ingin menemuinya," kata Febi, menyuruh wanita itu untuk menelepon Kellan. Dia tidak punya banyak waktu meladeni hal seperti ini. Dia harus kembali ke Indonesia. Perusahaan membutuhkan dirinya. Dan Febi tidak mau pergi begitu saja, mengingat dia sudah mulai menerima suaminya itu. Resepsionis itu mengangguk, dan mencoba menelepon ke ruangan atasannya. Tidak diangkat. Resepsionis itu mencoba menelepon ke sekretaris atasannya. Dan dia mengangguk mendengar jawaban di seberang sana yang mengatakan kalau Mr. Azzandra sedang ada pertemuan penting sekarang dan tidak bisa diganggu! "Maaf, Mr. Azzandra sedang ada pertemuan penting dan tidak bisa diganggu," kata resepsionis itu. Febi mendengarnya berdecak. Dia tahu kalau perusahaan Kellan ini sedang ada masalah. Makanya pria itu ke sini. Tapi, Febi ingin menemuinya sekarang juga! "Saya akan menemuinya sendiri!" Kata Febi berjalan menuju lift. Saat dirinya akan membuka lift, tangannya dicekal oleh satpam di sana. Febi membalikkan tubuhnya. Terkejut dengan apa yang dilakukan oleh satpam dan resepsionis tadi yang bersedekap d**a padanya. "Apa yang kalian lakukan?!" Tanya Febi menghempaskan tangannya dari satpam itu. Febi tidak suka disentuh sembarangan orang! Selama ini orang-orang menghormati dirinya. Kalau sampai mereka berbuat macam-macam padanya, dia tidak akan tinggal diam. Febi hanya ingin menemui Kellan dan mengatakan dia akan pulang sekarang. Tidak akan lama. Setelah mengatakan itu dirinya akan pergi, dan Kellan bisa melanjutkan pekerjaannya. "Anda tidak bisa pergi ke ruangan Mr. Azzandra. Kami tidak akan mengizinkan anda." Mata Febi bertemu dengan resepsionis itu. Febi mendesah kasar, melihat pergelangan tangannya yang memerah akibat ulah dari satpam tadi. Febi menarik napasnya perlahan dan melepaskannya secara perlahan. Febi harus meredakan rasa marahnya. Tidak boleh tersulut akibat ulah mereka semua. "Kalian akan menyesal melakukan ini!" Desis Febi menatap satu persatu orang-orang di sana. Orang-orang di sana hanya tersenyum mencemooh pada Febi. Untuk apa mereka menyesal? Paling nanti gaji mereka akan bertambah, karena mereka bekerja dengan baik. Satpam itu kembali menarik tangan Febi, dan menyeret Febi untuk keluar dari dalam perusahaan. Bocah kecil seperti ini tidak pantas masuk ke sini. "Lepaskan! Saya tidak mau ditarik!" Ucap Febi meronta minta dilepaskan. Satpam itu tidak peduli. Resepsionis tadi tersenyum sinis. "Seret dia keluar! Saya yakin, dia ke sini hanya minta uang sumbangan! Saya heran, di negara yang mau seperti ini, masih saja ada orang yang minta sumbangan dan tidak tahu malu!" Hina resepsionis itu pada Febi. Febi mendengarnya sangat terkejut. Minta sumbangan?! Uangnya sudah sangat banyak. Sampai-sampai dia bingung untuk menghabiskan uangnya kemana. Dengan seenaknya mereka mengatakan ia minta sumbangan keterlaluan sekali! "SIALAN LEPASKAN AKU! AKU TIDAK AKAN TINGGAL DIAM DIPERLAKUKAN SEPERTI INI!!" Teriak Febi menambah keributan di lobi perusahaan. Orang-orang di sana mengatakan Febi gadis gila dan miskin. Tidak tahu malu membuat keributan di sini. Febi menatap nyalang semuanya. "Ada apa ini?" Semua orang langsung melihat ke arah pria yang datang dengan tatapan tajamnya. Dan melihat tangan satpam menarik tangan seorang gadis. Pria itu melihat ke arah gadis yang ditarik oleh satpam itu. Pria itu langsung mengepalkan tangannya dan menghempaskan tangan satpam itu kasar. "Apa yang kalian lakukan pada kekasih saya?" Tanya Kellan, membuat mereka semua langsung terdiam. Kellan bukannya tidak mau mengakui Febi sebagai istri. Tapi, dia tidak mau Febi dicap buruk, yang tiba-tiba saja menikah dengannya. Tanpa banyak orang yang tahu. Resepsionis tadi langsung pucat bersama satpam yang menarik Febi. Febi menyeringai melihat mereka yang pucat dan seperti orang terkena serangan jantung. "Aku mau mengatakan, kalau aku akan pulang ke Indonesia. Perusahaanku ada masalah!" Kata Febi pada Kellan langsung tanpa basa basi. Dirinya ingin semua ini cepat selesai, agar dia bisa pergi sekarang dan tidak berurusan dengan orang-orang di sini. Kellan yang mendengar itu menatap Febi sendu. "Kau akan meninggalkanku?" Febi memutar bola matanya. "Siapa juga yang meninggalkanmu. Aku hanya kembali ke Indonesia, dan kau bisa menyusul nanti kalau semua urusan di sini selesai," kata Febi lembut mengusap pipi Kellan. Kellan mendengarnya, mengenggam tangan Febi. "Aku akan menyelesaikan semua masalah di sini cepat. Dan bisa menyusulmu," kata Kellan mencium kening Febi lembut. Semua orang yang melihat itu terkejut atas perlakuan atasan mereka pada gadis yang mereka pandang sebelah tadi. Resepsionis itu mundur perlahan, dan ingin kembali ke mejanya. Namun, langsung diurungkan niatnya itu, melihat tatapan Kellan padanya. "Kalian berdua saya pecat! Saya tidak suka orang yang menghina kekasih saya!" Kata Kellan lantang, membuat semua orang di situ menunduk dan perlahan mereka membubarkan diri. Kedua orang yang barusan dipecat menggeleng dan sudah menangis. Mencari pekerjaan di zaman sekarang sangatlah sulit. Mereka tidak mau dipecat. "Mr. Jangan pecat kami. Kami mohon maaf. Kami tidak tahu kalau Nona ini adalah kekasih anda," mohon satpam dan memegang kaki Kellan. Febi yang masih di situ merasa iba. Dirinya tidak tega dengan seseorang yang memohon seperti itu. Apalagi memikirkan mencari pekerjaan baru itu sangat susah dan tidak mudah. "Saya juga minta maaf. Saya tidak akan mengulanginya. Saya sungguh tidak tahu, kalau Nona kecil ini kekasih anda," kata resepsionis memohon maaf. Dia sudah menangis, dan tidak malu dengan dirinya yang meminta maaf sekarang. Biarlah dia tahan rasa malu. Yang terpenting tidak kehilangan pekerjaannya. Febi kembali merasa iba. Febi mengenggam tangan Kellan. "Maafkan mereka. Dan jangan pecat mereka. Aku juga salah di sini, aku tiba-tiba ingin menemuimu. Kau tahu sendiri peraturan perusahaan seperti apa," kata Febi mengusap lengan Kellan lembut. Kellan melihat pada Febi dan mendesah kasar. Dia tidak bisa membantah ucapan istrinya. Apa yang dikatakan oleh Febi memang benar, kalah sudah peraturan perusahaan. Tapi, mereka sudah keterlaluan menarik tangan Febi secara kasar dan menyebabkan tangan Febi lecet. "Tapi-" "Tidak ada tapi-tapi. Jangan pecat mereka! Kau bisa kembali bekerja, aku akan ke Bandara sekarang juga!" Kata Febi datar. Kellan yang mendengarnya langsung merengut tidak suka. Istrinya berbicara datar padanya, dan berpamitan tidak ada romantisnya. "Kau seperti itu berpamitan denganku?" Tanya Kellan cemberut. Tidak peduli dengan harga dirinya yang sekarang dilihat oleh banyak karyawan. Febi mengulum senyumannya. Dan menarik tengkuk Kellan, melumat bibir pria itu. Membuat Kellan terkejut, namun Kellan langsung membalas lumatan dari Febi. Oh Tuhan! Bisakah hentikan waktu sekarang? Kellan tidak ingin mengakhiri ini semua. Dia ingin terus merasakan bibir manis Febi. Febi melepaskan ciumannya dengan Kellan dan mengedipkan sebelah matanya, membuat Kellan yang melihat itu tersenyum dan rasanya ingin menarik Febi ke kamar hotel terdekat di sini sekarang juga. "Aku pergi dulu! Jangan pecat mereka!" Kata Febi berjalan keluar dari dalam perusahaan. Kellan yang menatap kepergian Febi tersenyum. Mata Kellan kini bertemu dengan satpam dan resepsionis yang sudah membuat kurang ajar pada istrinya. "Kalian beruntung, kekasihku melarang untuk memecat kalian! Aku sangat ingin sekali memecat kalian berdua!" Kata Kellan menatap datar keduanya. Kedua orang itu, menyesal tidak mengucapkan terima kasih pada kekasih atasan mereka. Kalau gadis itu kembali lagi nanti ke sini, mereka akan mengucapak terima kasih. Kalau perlu mereka bersujud di depan gadis itu. Dia penyelamat pekerjaan mereka. "Terima kasih Mr. Azzandra," ucap keduanya menangis haru. Kellan mengibaskan tangannya, dan berjalan menuju lift. Tadi dia ke lobi karena mendengar dari beberapa karyawan kalau ada keributan di sini. Dengan rasa penasarannya yang tinggi, akhirnya Kellan turun ke bawah dan tidak menyangka, kalau yang dia temukan pada istrinya yang diseret oleh satpam dan mendapatkan tatapan sinis dari satpam dan resepsionis perusahaan. Awas saja mereka, kalau mereka mengulangi kesalahan yang sama. Kellan tidak akan segan-segan memecat mereka. Dan tidak peduli mereka mendapatkan pekerjaan setelah ini atau tidak. Yang terpenting Kellan sudah puas memecat orang-orang seperti itu. Hah! Febi kembali pulang. Dan dia sudah merindukan istrinya itu. Dia harus menyelesaikan ini secepat mungkin! Febi tidak akan mau menunda pekerjaannya. Yang membuat semuanya semakin rumit dan menambah pekerjaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD