Kellan terbangun dari tidurnya, menatap ke sampingnya melihat gadis yang selama ini dicintainya, sedang tertidur dengan meletakkan kepalanya di atas d**a Kellan.
Kellan tersenyum, tidak menyangka kalau Febi akan menerima dirinya dan mau memulai semuanya dari awal. Kecuali janji suci pernikahan, karena mereka sudah menikah dan sudah didaftarkan di negara.
Kellan menggeser kepala Febi dan meletakkannya secara perlahan. Dirinya berdiri menuju balkon kamarnya, dan menatap pemandangan kota dari atas apartemennya. Ia tersenyum, kebahagiaannya cukup dengan Febi bersama dengannya dan mau menerimanya.
Pria itu mendengar nada pesan dari ponselnya, berjalan memasuki kamarnya kembali memeriksa pesan yang masuk dari ponselnya. Kellan mendapatkan sebuah pesan dari kakak ipar sekaligus sahabatnya.
[Bagaimana adikku? Dia sudah meminta maaf padamu?]
[Apakah kalian menghabidkan malam bersama?]
[Sialan! Kau benar menghabiskan malam pertama dengan adikku? Akan kubunuh kau! Telah merawani adikku!]
[Sialan! Kenapa kau tidak membalas pesanku?!]
Kellan tertawa pelan membaca pesan dari Febri, yang rata-rata semua isinya adalah u*****n untuk dirinya. Kellan membalas pesan dari Febri, pria itu tertawa pelan membaca pesannya yang akan dikirim pada Febri.
Kau perjaka cerewet sekali! Febi istriku, sewajarnya aku menghabiskan malam dengannya!
Kellan mematikan ponselnya setelah membalas pesan dari Febri, pria itu berjalan keluar kamar dan menuju dapur untuk menghilangkan rasa hausnya. Setelah itu Kellan melihat bahan-bahan mentah yang berada di dalam kulkasnya, untuk membuat Febi dan dirinya sarapan.
Kellan mengambil beberapa butir telur dan membawanya, ia ingin memasak omlet dan menyiapkan beberapa kue ringan, yang masih berada dalam kulkas untuk Febi.
15 menit kemudian, masakan Kellan sudah siap dan sudah diletakkan di atas meja. Pria itu tersenyum, lalu kembali ke dalam kamar melihat keadaan istrinya, apakah sudah bangun atau belum?
Febi mengeliatkan badannya, merasa silau oleh sinar matahari, membelakangi gorden dan memegang kepalanya yang kesadarannya masih belum penuh. Ia mendengar pintu kamar dibuka dan melihat pada pria yang sudah diakui suami olehnya, sedang berjalan ke arahnya. Febi tersenyum tipis dan mengusap matanya melihat pada Kellan.
Pria itu sangat tampan. Apalagi saat ini Kellan bertelanjang d**a, membuat Febi menelan salivanya secara kasar. Bagaimana mungkin, dirinya tidak tergoda oleh d**a bidang dan kotak-kotak itu.
Perut kotak-kotak Kellan, seakan menarik dirinya untuk membelai dan menjilati. Ya Tuhan, ternyata menerima pria itu sebagai suaminya membuat cobaan baru. Karena sekarang Febi seolah menjadi gadis m***m, berharap mendapatkan belaian.
Sial! Febi duduk di atas ranjang, membenarkan rambutnya yang keriting, pasti sekarang terlihat seperti seekor singa. Febi merasa malu, karena Kellan pagi ini terlihat tampan, sedangkan dirinya, terlihat seperti gembel.
Tidak bisa dibiarkan. Dirinya harus membenahi rambutnya, semenjak menerima pernikahan dengan Kellan, semenjak itu Febi harus waspada pada wanita luaran sana. Yang suka rebut suami orang.
Kellan tersenyum manis pada istrinya, berjalan menghampiri gsdis itu dan mengusap rambut Febi dengan lembut. Gadisnya begitu cantik. Saat sedang baeu bangun tidur ini, Febi masih sangat kelihatan cantik. Kellan merasa beruntung memiliki Febi.
"Kau sudah bangun? Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Kau bisa mandi terlebih dahulu, aku akan mandi di kamar tamu," ucap Kellan.
Di dalam apartemennya ini, Kellan mempunyai dua kamar dan satu ruang kerja. Walau dirinya jarang menempati apartemen ini, tapi, ia ingin apartemennya di sini sangat nyaman dan tidak menyulitkan bila temannya ingin menginap di sini.
"Kenapa kita mandi bersama saja?" Febi menutup mulutnya. Sialan. Pertanyaan yang sebenarnya terlihat seperti ajakan terlontar dari bibirnya. Betapa malunya Febi.
Kellan terkejut mendengar ucapan dari istrinya, ia tidak menyangka kalau Febi termasuk perempuan agresif. Kellan menatap pada Febi yang menutup wajahnya dengab selinut, pasti gadis itu sedang malu sekarang.
Kellan mengulum senyumannya, melihat istrinya salah tingkah dan sangat malu, Kellan menarik selimut Febi dan mengusap pipi gadis itu dengan lembut.
"Aku tidak mau kita melakukannya di kamar mandi. Demi apapun, aku masih ada kerjaan dan akan pergi sebentar," ucap Kellan dengan nada frustrasi.
Pekerjaannya di sini harus cepat diselesaikan, agar dirinya segera pulang bersama Febi. Karena istrinya itu masih memiliki tanggung jawab pada perusahaan keluarganya.
Febi malu mendengarnya. Gara-gara mulut sialannya, tidak bisa melihat perut kotak-kotak sedikit saja. Langsung dirinya menjadi dewi jalang minta dibelai seperti ini.
"Maaf, aku tadi tidak sengaja mengatakannya," ucap Febi tersenyum paksa.
Kellan terkekeh mendengarnya, walaupun gadis itu tidak terpaksa mengatakannya. Kellan juga sangat senang, berarti Febi benar-benar menerima dirinya. Kellan juga ingin mandi bersama dengan Febi, namun, untuk sekarang tidak bisa.
Pekerjaannya sedang menanti. Kellan tidak bisa mengabaikan perusahaannya begitu saja, dirinya tetap harus bekerja dan meninggalkan istrinya sebentar di dalam apartemennya. Atau kalau mau, Febi bisa keluar jalan-jalan melihat barang-barang terbaru.
"Jangan meminta maaf. Kalau tidak ada urusan genting, aku tidak akan menolak ajakanmu. Kau tahu sendiri, aku sudah menahannya sangat lama," bisik Kellan di telinga Febi dan menjilat kuping gadis itu perlahan.
Febi memejamkan matanya, suara desahan menjijikan keluar dari mulutnya. Selama ini, dirinya belum pernah mendesah dihadapan pria. Walau memang dirinya selama ini tidak pernah menjalin kasih dengan seorang pria pun.
Kellan tersenyum puas dan meninggalkan Febi sendirian dalam kamar. Pria itu harus segera mandi dan menidurkan yang berada di bawah perutnya, melihat Febi saja adiknya sudah bangun.
Kellan mendesah kasar. Pengaruh Febi begitu besar terhadap dirinya, apalagi saat mendengar ajakan mandi bersama dengan gadis itu. Betapa dirinya ingin menarik tangan Febi untuk ke kamar mandi, dan menyabuni seluruh tubuh gadis itu.
Sialan! Dirinya benar-benar b*******h sekarang. Kellan harus secepatnya membuang pikiran kotornya ini.
***
Febri yang mendapatkan balasan pesan dari adik ipar sekaligus sahabatnya, berdecak kesal. Pria sialan itu seolah mengejek dirinya. Apalagi Febri dan gebetan barunya sekarang tidak bisa lanjut ke jenjang berikutnya, karena wanita itu sudah menikah beberapa hari yang lalu.
Nasib Febri memang selalu sial kalau masalah percintaan. Setiap dirinya akan mendekati seorang gadis, selalu berujung gadis itu meninggalkan dirinya. Memangnya ia kurang tampan?
Padahal dirinya adalah pria tampan dan kaya raya. Masih saja terus ditolak oleh banyak gadis, novel-novel yang dibuat oleh khayalan tinggi seorang penulis, yang mengatakan CEO yang tampan dan kata selalu laku dan laris manis.
Mana buktinya?
Febri masih sendiri. Dirinya ingin secepatnya menikah dan memiliki anak, cita-citanya dari dahulu menikah muda dan memiliki anak yang tampan dan cantik. Mencari calon istri ini sangat susah.
Kalau untuk diajak tidur, wanita luaran sana banyak. Tapi, mereka tidak mau hamil dan hanya mau harta dan kenikmatan di atas ranjang. Untuk apa dirinya menikah kalau begitu?
"Ya Tuhan, turunkanlah bidadari untukku," doanya sekian kali dan kembali memejamkan matanya. Lebih baik dirinya bermimpi mempunyai anak dan istri di alam mimpi. Lebih enak dan tidak membuatnya patah hati.