Febi dan Kellan bersiap untuk pergi ke rumah orangtua Febi. Orangtua Febi dari kemarin menghubungi Febi terus untuk membawa Kellan ke rumah.
Ibu Febi sudah datang ke apartement Febi. Namun tidak menemukan Febi di sana. Dan ibu Febi langsung menelepon Febi menanyakan di mana anaknya itu berada. Mau tak mau Febi menjawab kalau dirinya bersama Kellan dan menginap di apartement pria itu.
Ibu Febi sangat senang mendengarnya. Dan dia memaksa Febi untuk membawa Kellan ke rumah hari ini. Jadilah Febi harus menuruti keinginan ibunya itu. Walau sangat malas sekali. Febi tak suka dengan ibunya yang cerewet dan mengatakan ini itu.
"Kau sudah siap?" Tanya Kellan menatap pada Febi.
Febi mengangguk. Ini pakaian baru yang dibelikan oleh Kellan lewat online dan diantar tadi malam. Pria itu sangat perhatian padanya. Hal sekecil ini dipedulikan oleh Kellan. Padahal kalau Kellan tak membelikannya baju. Febi akan menelepon Sonya untuk mengantarkan pakaian untuknya.
Namun, ternyata Kellan lebih dulu memesan pakaian untuknya. Febi berjalan mendekati pria itu dan merapikan kemeja Kellan yang sedikit berantakan. Suaminya ini sungguh tidak bisa rapi.
"Kita berangkat sekarang? Kita tidak sarapan dulu?" Tanya Febi.
Kellan yang mendengar pertanyaan istrinya langsung mengerjapkan matanya beberapa kali.
Hal itu membuat Febi merasa gemas dengan tingkah suaminya ini. Febi mencium pipi Kellan sekilas dan berjalan keluar dari dalam kamar. Febi menuju dapur dan mengambil beberapa potong roti dan mengoleskan dengan selai.
"Kita menganjal perut dulu. Dan nanti saat perjalanan menunu rumah orangtuaku, kita berhenti untuk sarapan sebentar," ucap Febi mengulurkan sepotong roti pada Kean mengambilnya dan langsung memakan.
Kellan dan Febi selesai memakan roti mereka. Berjalan keluar dari dalam apartement. Febi yang merasakan ponselnya berbunyi, mengambil ponsel dari dalam tasnya, melihat siapa yang menelepon dirinya.
Febi mengerutkan keningnya. Sonya yang menelepon dirinya. Padahal Febi sudah mengatakan dia tidak akan ke perusahaan hari ini. Febi mengangkat panggilan telepon dari Sonya.
"Ada apa Sonya?"
Kellan menatap pada Febi yang menelepon dengan Sonya. Kellan menekan tombol lift menuju lantai bawah.
"Aku tidak ke perusahaan hari ini. Semalam aku sudah mengatakannya," ucap Febi dan mengerutkan keningnya. Mendengar apa yang dikatakan oleh Sonya.
"Kenapa mereka ke perusahaan? Aku tidak punya urusan dengan mereka lagi!" Ucap Febi kesal.
Febi mengepalkan tangannya. Dan ingin menghajar orang yang mengganggu waktunya yang tenang ini. Febi menatap pada Kellan yang menaikkan sebelah alisnya.
Febi menghela napasnya dan mengangguk. Mendengar apa yang dikatakan oleh Sonya padanya. Kalau orang itu tidak mau pergi dan terus berteriak memanggil nama Febi.
"Kita ke perusahaanku sebentar ya," ucap Febi lembut diangguki oleh Kellan.
Keduanya keluar dari dalam lift. Kellan mengandeng tangan Febi dan membukakan pintu mobil untuk Febi. Febi masuk ke dalam mobil dan memainkan ponselnya mengirim pesan pada Sonya untuk menghandle orang yang telah membuat keributan di perusahaan miliknya.
"Ada masalah di perusahaanmu? Kau tidak mau memanggil Febri untuk membantumu mengatasi ini?" Tanya Kellan.
Febi menggeleng. Dia tidak mau meminta tolong pada kakaknya itu, dia tahu Febri pasti pusing dengan masalah perusahaannya sendiri.
"Aku tidak akan meminta tolong. Aku sendiri yang mengurusnya," jawab Febi.
Kellan mengangguk. Kellan merasa Febi sangat kompeten dalam bekerja. Padahal istrinya itu bisa menikmati hidup dengan menghamburkan uang orangtuanya. Namun, Febi memilih untuk bekerja dan memegang perusahaan.
Kellan menghentikan mobil di depan perusahaan Febi. Febi langsung keluar dan menatap nyalang pada gedung tinggi itu. Dengan langkah cepat Febi masuk ke dalam perusahaan, dan menatap dua orang pria muda yang berdiri di tengah lobi perusahaan menatap semua karyawan di sini dengan tatapan nyalang.
"Mana atasan kalian?! Kalian tidak memanggilnya?!"
"Saya tidak mau menunggu lebih lama lagi! Kalau atasan kalian tidak datang, saya akan membakar perusahaan ini!"
Febi yang berdiri di belakang dua pria itu berdecak pelan.
"Anda berani sekali membakar perusahaan saya. Anda mau saya penjarakan?" Tanya Febi bersedekap d**a.
Dua orang pria itu berbalik dan menatap Febi dengan tatapan penuh kebencian miliknya.
"Kau sengaja libur hari ini? Agar kau bisa menghindar?" Tanya salah satu pria itu dan menatap Febi sinis.
Febi tertawa pelan. "Tuan Rafael. Saya tidak sengaja libur dan menghindar. Saya memiliki urusan saya sendiri. Anda marah pada saya? Karena saya memenangkan tender kemarin?" Tanya Febi mengangkat sebelah alisnya.
Orang yang dipanggil Rafael oleh Febi mengepalkan tangannya. "Saya tidak terima kalah oleh seorang perempuan! Kau itu hanya perempuan tak tahu malu! Kau pasti menggoda investor untuk memilih perusahaanmu bukan?!" Tuduhnya.
Febi mendengarnya tertawa kecil. "Saya tidak pernah menggoda siapa pun. Saya menang karena itu kemampuan saya. Kalau anda tidak memenangkannya, anda koreksi di mana kemampuan anda!" Ucap Febi sinis.
Rafael yang mendengar itu mengepalkan tangannya. Ingin menampar dan menghajar Febi sekarang juga. Perempuan kecil ini mempermalukan dirinya. Padahal Rafael sangat ingin memenangkan tender itu. Untuk memperbaiki keuangan perusahaannya.
Namun, karena ulah Febi. Membuat perusahaan Rafael semakin tidak terkendali dan hampir bangkrut sekarang juga. Rafael tidak tahu ke mana dirinya akan bekerja sama membuat perusahaannya bertahan.
Febi menatap kegelisahan dalam mata Rafael. Menghela napasnya. Febi tahu tentang perusahaan Rafael yang akan mengalami kebangkrutan. Dia kemarin tidak mau memenangkan tender ini. Tapi, investor malah memilih dirinya.
"Kita bisa bicara di ruanganku," ucap Febi berjalan menuju lift.
Rafael dan sekretaris pria itu saling menatap dan mengangguk. Kellan telah lebih dulu menyusul Febi dengan Sonya di belakangnya. Kemudian Rafael dan sekretaris pria itu.
Sonya menekan tombol lift menuju lantai ruangan Febi. Kelima orang itu keluar dari dalam lift dan berjalan menuju ruangan Febi.
Febi menyambut kedua tamunya dengan senyuman lebih ramah dan tidak seperti tadi. Tadi Febi hanya kesal saja, waktu liburnya diganggu. Padahal dia ingin ke rumah orangtuanya sekarang dan membicarakan tentang pernikahan ulangnya dengan Kellan.
"Sonya suruh OB buatkan minum dab antarkan makanan ringan," kata Febi diangguki oleh Sonya.
Febi berjalan menuju mejanya dan mengambil satu berkas. Febi sudah menduga ini akan terjadi. Dia jujur saja sudah menyiapkan semuanya.
"Saya minta maaf. Saya tidak bermaksud memenangkan tender itu. Tapi, sekarang saya ingin menawarkan kerja sama antara perusahaan saya dan perusahaan anda," ucap Febi memberikan berkas itu pada Rafael.
Kellan yang mendengarnya terkejut. Istrinya memang sungguh akan bekerja sama dengan perusahaan hampir bangkrut? Kellan sudah menyelidiki kedua pria di depannya ini saat dirinya di bawah ini. Karena Febi memenangkan tender pria itu langsung mengamuk dan tidak terima.
Rafael mengambil berkas dari tangan Febi dan membacanya. Rafael terkejut. Dan menatap tidak percaya pada Febi.
"Kau sungguh akan melakukannya? Perusahaanku diambang kebangkrutan. Aku tidak tahu harus mengembalikannya seperti apa," ucap Rafael mengusap wajahnya kasar.
Febi tersenyum. "Aku serius. Aku yakin perusahaanmu akan kembali lagi. Dan kita akan mendapatkan keuntungan besar. Aku sudah mempertimbangkan semuanya. Kemarin aku ingin meninjau lokasinya sendirian. Tapi, suamiku buru-buru datang, dan aku tidak jadi melakukannya," ucap Febi tersenyum sopan.
Rafael yang mendengar itu terkejut. Suami? Bukankah Febi selama ini belum menikah? Dan kapan wanita itu menikah? Dia tidak pernah mendengarnya sama sekali.
"Suami? Kau sudah menikah? Siapa suamimu?" Tanya Rafael.
Febi menunjuk pada Kellan yang sedari tadi diam. Rafael melihat pada Kellan dan terkejut. Dia tentu tahu siapa Kellan. Seorang pengusaha muda terkaya dan sukses. Dari tadi dirinya ke mana saja? Tidak melihat Kellan sama sekali.
"Kellan Azzandra? Kapan kalian menikah? Aku tidak pernah mendengarnya!" Ucap Rafael terkejut.
Febi mendengarnya tertawa pelan. "Kami menikah saat umur belasan. Nikah sirih. Dan sekarang kami ingin menikah secara sah dan diketahui oleh orang banyak," jawab Febi membuat Rafael mengangguk mendengarnya.
"Aku tidak menyangka, kalau kau dan Tuan Kellan sudah menikah."
"Lupakan itu. Bagaimana? Kau menerima kerja sama ini? Aku hanya menawarkan sekali. Kalau kau menolaknya, aku tidak akan menawarkan lagi. Dan waktuku tidak banyak. Aku harus pulang ke rumah orangtuaku sekarang," ucap Febi melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Febi meringis. Dirinya hanya memakan satu potong roti dan segelas s**u tadi. Dan tidak sempar makan. Tadi dirinya berencana akan makan dulu sebelum ke rumah orangtuanya. Berhenti di sebuah kafe. Ternyata rencananya gagal.
Rafael mendengarnya menimbang. Apakah dirinya akan menerima ini? Tapi, kalau dia tidak menerima, maka perusahaannya akan bangkrut.
"Aku menerimanya. Aku minta maaf karena membuat keributan di perusahaanmu. Dan membuat waktumu terbuang meladeniku," ucap Rafael sungguh minta maaf.
Apalagi dirinya ingin membakar perusahaan Febi tadi. Sungguh dirinya sangat merasa bersalah. Rafael ingin meminta maaf terus pada Febi, tapi gadis itu mengangkat tangannya dan mengatakan tidak apa-apa.
OB mengantarkan minuman dan makanan. Sonya mengikuti dari belakang dan tersenyum sopan pada Rafael dan berdiri di belakang Febi. Febi yang melihatnya berdecak. Padahal Febi sudah seringkali mengatakan pada Sonya untuk duduk di sampingnya saja. Namun, Sonya tidak mau dan selalu berdiri di belakang Febi.
"Semuanya akan diurus oleh sekretaris saya. Dan kita bisa membicarakan semuanya saat pertemuan selanjutnya," ucap Febi berdiri dari tempat duduknya.
Febi mengulurkan tangannya pada Rafael. Menyalami pria itu. Rafael membalas salam Febi dan juga menyalami Kellan. Dia tidak menyangka, hari ini dia akan bertemu dengan Kellan pengusaha yang banyak dibicarakan dalam dunia bisnis.
"Saya permisi dulu. Saya harus ke rumah orangtua saya sekarang," ucap Febi berpamitan pada Rafael dan sekretaris pria itu.
Rafael mengangguk dan menatap kepergian Febi dan suami perempuan itu. Mata Rafael menatap pada sekretaris Febi yang tersenyum sopan padanya. Sonya mempersilakan Rafael untuk duduk dan mulai menjelaskan beberapa tentang kerja sama antara perusahaan Febi dan Rafael.
Rafael mendengarnya serius. Kerja sama ini akan menyelamatkan perusahaannya.
***
Febi masuk ke dalam mobil dan melihat Kellan yang menghidupkan mesin mobil. Febi kembali melihat jam tangannya, ini akan sedikit telat makan siang kalau dia sampai di rumah orangtuanya. Perut Febi sudah keroncongan dan ingin makan sekarang juga.
"Kita makan dulu. Kita makan sedikit saja, dan saat sampai di rumah orangtuaku baru kita makan yang banyak," ucap Febi diangguki oleh Kellan.
"Kau kenapa memilih kerja sama dengan perusahaannya? Bukankah perusahaan Rafael Kan bangkrut?" Tanya Kellan penasaran.
Febi yang ditanyai seperti itu tertawa pelan. "Aku ingin perusahaannya kembali. Banyak karyawan yang mencari uang di perusahaan Kellan. Aku juga salah di sini. Seharusnya aku tidak ikut tender itu. Agar perusahaan Rafael yang menang. Aku tidak mencari info tentang Rafael lebih dulu kemarin," kata Febi menghela napasnya.
Sebelum mengajukan tender. Febi mencari tahu tentang saingannya lebih dulu. Ternyata perusahaan saingannya mengalami masalah keuangan yang membuat perusahaan mereka akan mengalami kebangkrutan.
"Kau merasa bersalah padanya? Makanya kau mau mengajukan kerja sama itu dengan Rafael?" Tanya Kellan.
"Hum. Aku ingin meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Aku berharap perusahaan Rafael kembali seperti semula dan tidak ada masalah lagi nantinya," ucap Febi berharap perusahaan Kellan akan membaik setelah bekerja sama dengan perusahaannya.
"Mudahan saja. Aku sangat yakin, kalau perusahaanmu akan membantu perusahaan Rafael," ucap Kellan mengusap rambut Febi lembut.
Febi yang diusap rambutnya oleh Kellan tersenyum. Febi menggenggam tangan Kellan dan mencium pungung tangan pria itu. Febi sungguh sudah menjatuhkan hatinya pada Kellan.
"Terima kasih telah hadir dalam hidupku," ucap Febi tulus. Dia memang berterima kasih pada Kellan yang telah hadir dalam hidupnya.
Selama ini hidup Febi penuh dengan jalan datar saja. Tapi, semenjak ada Kellan dalam hidupnya Febi merasakan hal lain dan lebih sedikit berwarna dalam hidupnya.
"Kita sudah sampai," kata Kellan menghentikan mobilnya di pakiran kafe.
Febi yang melihat keluar mengangguk dan langsung keluar dari dalam mobil. Febi dan Kellan bergandengan tangan memasuki kafe dan menatap suasana kafe lumayan ramai.
Meja di pojok sudah terisi penuh oleh muda mudi. Febi dengan malas berjalan menuju meja yang berada di tengah kafe.
"Kita duduk di sini saja. Meja di pojok sudah penuh," kata Febi cemberut.
Kellan melihatnya tertawa pelan. "Jangan cemberut. Duduk di sini juga menyenangkan. Kita ini masih muda. Kalau kita sekolah normal, kita pasti masih kuliah sekarang dan tidak memimpin perusahaan," ucap Kellan tertawa kecil.
Febi yang mendengarnya mengangguk. Febi baru dua puluh tahun. Dan Kellan baru dua puluh tiga tahun. Seusia mereka masih banyak yang kuliah dan menikmati masa muda mereka. Tapi, mereka berdua malah mengejar untuk menjadi pemimpin perusahaan.
Febi yang suka dengan segala pembelajaran dan tidak nangung-nangung dirinya hanya menjalani kuliahnya selama dua tahun. Dan langsung masuk ke dalam perusahaan.
"Iya, kau benar. Aku tidak menyangka kalau aku bisa memimpin perusahaan usia semuda ini," kata Febi.
"Febri juga memimpin perusahaan di usia muda. Bahkan di umur sembilan belas tahun dia sudah menjadi CEO." Kata Kellan memuji kakak iparnya itu.
"Hem. Kau benar. Kau mau pesan apa? Aku cukup roti bakar dan jus tomat saja," ucap Febi melihat menu.
"Aku mau roti bakar juga dan minumannya aku mau americano," kata Kellan.
Keduanya memulai obrolan ringan diantara mereka. Agar diantara keduanya semakin dekat dan semakin mengenal satu sama lain.