Febi memasak untuk makan malamnya dengan Kellan. Febi menatap masakannya dengan sebuah senyuman manis. Dirinya menyusun makanan itu di atas meja makan.
Febi mengambil air minum dan meletakkannya di atas meja. Febi merasa dirinya sudah menjadi istri yang sangat berbakti sekarang ini, dengan memasak makanan untuk Kellan dan juga mencari tahu makanan kesukaan pria itu pada Febri.
Untung saja ada Febri yang dekat dengan Kellan. Sehingga Febi dengan mudah memasakkan makanan kesukaan Kellan. Mudahan saja pria itu suka dengan makanan yang dibuat olehnya. Kini Febi tinggal memanggil Kellan di ruangan kerja pria itu.
Tadi Kellan berpamit pada Febi untuk ke ruangan kerja, mengerjakan beberapa pekerjaan yang dikirim oleh sekretarisnya.
Febi berjalan menuju ruangan kerja Kellan, dan mengetuk pintu ruangan kerja Kellan. Membuat Kellan dari dalam menyahut dan berjalan mendekati pintu ruangan kerjanya.
Febi tersenyum, ketika melihat wajah Kellan yang menyembul dari dalam ruangan kerja.
"Ya?"
Febi menatap ke dalam ruangan kerja Kellan, banyak berkas di atas meja pria itu.
"Kau butuh bantuan?" Tanya Febi, yang ingin membantu Kellan untuk menyelesai pekerjaan pria itu.
Kellan menggeleng. "Tidak usah. Aku bisa menyelesaikannya. Aku tidak mau kau kerepotan," tolak Kellan.
Febi menggeleng. "Aku tidak akan kerepotan. Ayo, kita makan malam dulu. Dan setelah itu aku ingin membantumu untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu." Kata Febi, menarik tangan Kellan untuk keluar dari dalam ruangan kerja pria itu.
Febi mendudukkan Kellan di kursi meja makan, dan menyiapkan makanan untuk Kellan. Kellan yang melihat itu mengulum senyumnya. Apa yang dilakukan oleh Febi sekarang membuat Kellan senang. Dirinya memang tampak seperti pria beristri sekarang.
"Ini semua kamu yang masak?" Tanya Kellan tampak ragu.
Febi mengangguk. "Iya, aku yang masak. Semoga kau suka dengan masakanku," ucap Febi duduk di depan Kellan.
Kellan memakan masakan buatan Febi. Rasanya sangat enak. Kellan tidak menyangka kalau Febi pintar memasak seperti ini. Kellan ingin terus dimasaki oleh istrinya.
"Enak sekali!" Ucap Kellan memuji masakan Febi yang sangat enak.
Febi yang mendengar pujian dari suaminya, mengulum senyumnya. Dan merasa senang, kalau Kellan suka dengan masakannya. Padahal tadi Febi sangat khawatir kalau Kellan tidak suka dengan masakannya.
"Kau menyukainya?" Tanya Febi melebarkan senyumannya.
Kellan mengangguk. "Aku sangat menyukainya. Aku ingin menambah terus!" Ucap Kellan, dan kembali menambah nasinya dan lauk pauk yang disukai olehnya.
Febi yang melihatnya senang, dan ingin memasakkan Kellan terus. Walau mereka belum menikah ulang. Febi rencananya juga ingin membuatkan makan siang untuk Kellan nanti, dan mengantarkan ke kantor pria itu.
"Makan yang banyak. Biasanya aku memasak di rumah, selalu Bang Febri yang menghabiskan. Dia tidak menyisakannya dan malah memakannya sampai habis. Sampai-sampai Mama dan Papa merengut melihat itu," ucap Febi tertawa kecil.
Kellan ikut tertawa mendengarnya. "Kau belajar masak dari mana?" Tanya Kellan penasaran. Di mana istrinya ini belajar memasak, sehingga masakan istrinya sangat enak dan Kellan ingin menambah terus.
"Aku dulu belajar kursus memasak. Aku walaupun seorang pemimpin perusahaan. Tapi, aku tidak mau menjadi perempuan yang hanya pandai memimpin perusahaan saja. Dulu aku memikirkan tentang pria yang menjadi pendamping hidupku. Dan aku harus membuatkan makanan untuk suamiku," ucap Febi menceritakannya.
Kellan yang mendengar itu mengangguk. "Apa yang kau katakan benar. Laki-laki juga ingin mencicipi masakan istrinya. Walau tidak sering. Tapi, sekali saja. Pasti suami akan bangga," kata Kellan terus memakan masakan Febi.
Febi mendengar itu merasakan pipinya bersemu merah. Ya Tuhan! Jantungnya sekarang berdetak sangat kencang sekali. Ini jantungnya murahan sekali. Febi berusaha menetralkan jantungnya, agar tidak terlalu berdetak dengan kencang yang bisa didengar oleh Kellan nantinya.
Kellan melihat pada Febi, dan melihat pipi gadis itu bersemu merah. Kellan tahu, kalau Febi sedang salah tingkah. Kellan merasa gemas dengan apa yang dilakukan oleh istrinya sekarang. Ingin sekali Kellan merengkuh Febi dan mencium pipi gadis itu gemas.
Namun, lagi dan lagi harus ditahan olehnya. Ntah sampai kapan dirinya harus menahan, untuk tidak mencium Febi dan memberikan kecupan di bibir gadis itu.
"Febi, tentang rencana pernikahan ulang kita. Bagaimana sebulan lagi?" Tanya Kellan, berharap Febi tidak menolak ini.
Febi yang mendengar itu menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum. "Aku lupa mengatakan. Kalau aku ingin dilamar bukan langsung dinikahi!" Kata Febi membawa piring dan gelas kotor ke wastafel.
Kellan yang mendengar itu terkejut. Apa maksud dari istrinya ini? Febi minta dilamar seperti perempuan lain begitu? Dengan pemilihan tempat romantis. Cincin. Bunga. Lilin. Dan segala macam t***k bengeknya.
Kellan menelan salivanya secara kasar. Bagaimana cara dirinya untuk melamar Febi? Kellan tidak punya pengalaman! Selama ini Kellan hanya terus menunggu waktu yang tepat untuk menemui Febi. Dan dia tidak pernah terpikirkan untuk melamar Febi.
"Melamar? Maksudmu melamar dengan makan malam romantis dan membawa cincin?" Tanya Kellan tak beranjak dari kursi meja makan.
Febi yang mendengar itu berbalik. "Aku tidak meminta makan malam romantis. Aku hanya meminta kau melamarku, dan pikirkan caranya sendiri!" Kata Febi menyusun piring dan gela ketempatnya.
Kellan mendengar itu meneguk salivanya kasar. Dia harus bertanya pada Febri tentang ini. Karena Febri ini lebih tahu banyak tentang masalah ini dibanding dirinya.
"Aku akan memikirkan caranya. Jadi, setelah aku melamarmu. Kita akan menikah ulang?" Tanya Kellan.
Febi mendengar pertanyaan Kellan, tersenyum jenaka dan memiliki ide yang sangat bagus sekali. Tapi, pasti ini tidak akan disetujui oleh Kellan sama sekali dan akan membuat Kellan frustrasi.
"Bagaimana kalau kita bertunangan dulu? Bertunangan selama dua bulan dan setelahnya kita baru menikah." Ucap Febi semangat.
Kellan yang mendengarnya ingin menjatuhkan rahangnya sekarang juga. Dia tidak salah mendengar bukan? Febi yang ingin bertunangan dulu dan baru menikah setelahnya. Berapa lagi dirinya harus menunggu?
Kellan tak bisa menunggu lama. Demi Tuan Krab yang sangat menggilai uang! Kellan itu sangat menggilai Febi, dan tidak mau berlama-lama dengan status tak jelas seperti itu. Mereka sudah menikah.
Baiklah, Kellan menerima usulan Febi untuk menikah ulang. Karena memang benar pernikahan mereka sepuluh tahun lalu tak akan sah. Tapi, untuk bertunangan? Kellan akan menolaknya. Padahal Kellan sudah cukup sabar untuk mengundur pernikahan ulang mereka selama sebulan. Rencananya Kellan akan melakukannya seminggu lagi atau kalau perlu tiga hari lagi. Ini malah ada acara bertunangan segala! Keburu karatan milik Kellan yang akan menghamili Febi! Kellan, 'kan ingin memasukkan miliknya ke dalam milik Febi secepatnya dan membuat kehadiran Febi atau Kellan junior di dalam pernikahan mereka.
"Aku tidak setuju dengan bertunangan! Bertunangan itu akan membuang waktu saja! Kalau kau minta dilamar seperti gadis-gadis lainnya aku tidak masalah. Aku akan melamar dirimu dan mencari cara untuk melamarmu secara romantis," ucap Kellan berdiri dari tempat duduknya, dan mengambil sekaleng bir dalam kulkas.
Febi mendengar ucapan Kellan tertawa pelan. Dirinya sudah tahu Kellan akan berkata seperti itu. Mana mungkin Kellan akan mau untuk bertunangan selama dua bulan dan setelahnya baru mereka menikah.
"Aku hanya bercanda saja. Tidak perlu cemberut seperti itu," ucap Febi sangat ingin sekali mencubit pipi Kellan gemas.
Kellan menoleh ke arah Febi dan mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kau sungguh hanya bercanda? Tapi, kenapa aku tidak melihat dirimu bercanda sama sekali?" Tanya Kellan yang menganggap ucapan Febi tadi serius dan tidak bercanda.
Febi mendengar itu tertawa pelan. "Aku hanya bercanda Kellan. Mana mungkin aku memintamu untuk bertunangan selama dua bulan. Aku tidak sesabar itu juga," ucap Febi merasakan pipinya bersemu merah.
Kellan menaikkan sebelah alisnya. "Tidak sesabar itu? Jangan bilang kau juga ingin melakukannya denganku?" Tanya Kellan menaik turunkan alisnya.
Febi mendengar pertanyaan pria itu menelan salivanya kasar. "Jangan banyak bicara! Aku sudah selesai cuci piring. Ayo, lihat pekerjaanmu! Agar kau cepat selesai!" Febi berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Dan jangan membahas hal itu lagi..
Kellan yang tahu Febi mengalihkan pembicaraan tertawa pelan. Kellan ingin mencubit pipi Febi.
"Baiklah. Ayo, kita kerjakan. Aku gemas melihat tingkahmu ini," ucap Kellan berjalan di belakang Febi.
Febi yang mendengar itu mengangkat sebelah alisnya dan berbalik menatap Kellan.
"Gemas? Aku bukan anak kecil!" Kata Febi mengentakkan kakinya.
Kellan tertawa pelan. "Aku tahu kau bukan anak kecil sayang. Yang bilang kau anak kecil siapa?" Tanya Kellan membuka pintu ruangan kerjanya, dan mencubit hidung Febi gemas.
Febi menepis tangan Kellan dari hidungnya. Dia tidak mau dicubit bagaikan anak kecil seperti itu.
"Jangan cubit-cubit. Aku tidak mau dicubit!" Kata Febi kesal.
Kellan mengangguk. "Baiklah, aku tidak akan mencubitmu," ujar Kellan berjalan menuju kursi kebesarannya, dan melihat beberapa berkas yang masih harus dikerjakan olehnya.
Kellan memijit keningnya. Kapan hidupnya akan tenang tanpa berkas-berkas ini?
"Sini aku bantu," ucap Febi mengambil satu berkas dan melihatnya.
Febi meneliti berkas itu dan mengangguk. "Ini tidak balance? Kau mengalami masalah keuangan di perusahaanmu di sini?" Tanya Febi menunjukkan berkas itu pada Kellan.
Kellan mengambilnya dan tersenyum. "Tidak. Itu berkas memang salah. Sekretarisku sudah mengkonfirmasinya dan dia akan mengantarkan besok pagi ke ruanganku berkas yang sudah benar," jawab Kellan menyingkirkan berkas itu.
Febi mengangguk mengerti. Febi menatap Kellan yang memeriksa beberapa berkas dengan teliti. Tidak lupa pria itu memakai kacamatanya. Membuat ketampanan Kellan berkali lipat di mata Febi.
Febi meneguk salivanya kasar, dan memilih untuk berjalan menuju sofa dalam ruangan kerja Kellan. Febi tahu, kalau dirinya sekarang ingin sekali memeluk tubuh Kellan dan mengatakan pada pria itu kalau dirinya mencintai pria itu.
"Kau kalau bosan bisa menunggu dalam kamar saja," kata Kellan menyuruh istrinya untuk ke kamar saja.
Febi mengerutkan keningnya. Ucapan Kellan tampak ambigu sekali. Seperti menyuruh Febi untuk menunggu dalam kamar dan setelah itu mereka akan melakukan sesuatu. Febi mendengkus.
"Jangan bilang kau tetap ingin melakukan itu?!" Tanya Febi tak suka.
Kellan mendengarnya terkejut. "Aku tidak mengatakannya. Aku hanya menyuruhmu ke dalam kamar. Kau tenang saja, aku tidak akan tidur di ranjang yang sama denganmu, agar aku tidak hilang kendali. Aku akan tidur di sofa depan tivi nanti," kata Kellan harus banyak menahan tingkah dari istrinya ini.
Febi mendengar itu merasa malu. Ini kenapa dirinya main menuduh seperti ini? Tidak seharusnya Febi menuduh Kellan seperti ini.
"Maaf, aku telah menuduhmu. Aku tidak akan ke kamar. Aku ingin di sini dulu," ucap Febi.
Kellan menghela napasnya dan mengangguk. "Baiklah. Kalau kau sudah bosan kau bisa ke kamar nanti. Aku tidak mau membuatmu kelelahan," kata Kellan lembut.
Febi yang mendengar itu mengangguk. Febi memikirkan topik pembicaraan mereka, agar tidak terlalu sunyi di sini.
"Kellan..." panggil Febi lembut.
"Hm?" Jawab Kellan berdeham dan tidak melihat ke arah Febi sama sekali.
Febi mendapatkan respon seperti itu berdecak.
"Aku mau bertanya," kata Febi.
"Tanya saja. Aku akan menjawabnya," balas Kellan.
"Kau pernah punya kekasih sebelumnya?" Tanya Febi, berharap kalau Kellan tak memiliki kekasih sebelumnya.
Kellan melihat pada Febi dan tertawa pelan. "Aku tidak pernah memiliki kekasih. Aku sudah menikah denganmu, dan selama ini aku selalu setia dan tidak pernah melirik pada wanita yang hanya bisa merusak segalanya," jawab Kellan dan melanjutkan kembali memeriksa berkasnya.
Febi yang mendengarnya mengangguk. "Jadi kau tidak memiliki kekasih? Kau setia sekali." Ucap Febi terdengar seperti ejekan di telinga Kellan.
Kellan yang mendengar itu kembali menatap pada Febi. "Aku memang harus setia. Karena aku hanya ingin dirimu berada di sampingku tidak wanita lain. Kalau aku tidak setia, maka aku sudah dari lama menjalin hubungan dengan wanita-wanita yang berusaha mendekatiku dan para kolega bisnis yang menawarkan anaknya padaku," ucap Kellan.
Febi terdiam mendengarnya. Berarti benar apa yang dikatakan oleh Febri. Kalau banyak kolega bisnis yang menjodohkan anak mereka dengan Kellan. Febi cemberut membayangkan para kolega bisnis itu tak tahu malu. Padahal Kellan sudah menikah!
Tapi, mereka tidak tahu kalau Kellan sudah menikah bukan? Mereka hanya tahu kalau Kellan masih sendiri dan menjadi pengusaha sukses dan masih muda tentunya.
"Kau pernah terayu dengan kolega bisnismu yang menawarkan anaknya untuk dijodohkan denganmu?" Tanya Febi.
Kellan tertawa kecil melihat wajah Febi seperti marah. Kellan tahu, kalau Febi sekarang pasti cemburu. Kellan tak pernah terayu oleh anak-anak kolega bisnisnya.
Dia hanya terus memerhatikan Febi. Walaupun melalui perantara Febri. Kellan selalu mendapatkan foto terbaru Febi dari Febri. Dan itu sangat membuat Kellan senang.
"Aku tidak pernah terayu sama sekali. Aku hanya terayu pada dirimu. Kau tahu, aku selalu mendapatkan fotomu yang terbaru dari Febri," ucap Kellan mengedipkan sebelah matanya.
Febi mendengar itu terkejut. "Kau punya banyak koleksi fotoku?"
"Iya. Aku punya banyak. Dari dirimu berjalan, makan, marah, tertawa, dan lainnya. Aku mempunyai. Kecuali saat kau mandi dan telanjang. Aku tidak punya," Kellan berusaha untuk tidak tertawa sekarang melihat wajah Febi yang merengut.
"Dasar menyebalkan! Aku ke kamar saja! Aku bosan!" Kata Febi berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan keluar dari dalam ruangan kerja Kellan.
Kellan yang menatap kepergian Febi tertawa pelan. Tahu kalau Febi semakin salah tingkah sekarang. Sungguh mengemaskan sekali.