Juan terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya jika kali ini dirinya dituduh seorang penguntit, setelah sebelumnya wanita itu menuduhnya seorang penculik.
“Lo itu bener-bener hobi nething ya?” dahi Kalea berkerut dengan mulutnya yang sedikit terbuka. “Tadi gue dituduh penculik, sekarang lo nuduh gue penguntit,” lanjutnya dengan senyum yang seolah meremehkan wanita itu.
“Gue begini karena....”
Belum sempat Kalea menyelesaikan kalimatnya pria itu sudah lebih dulu berjalan melewatinya, lalu Juan masuk ke salah satu unit apartemen yang berada tepat di sebelah apartemen miliknya.
“Astaga, lagi-lagi gue udah salah paham sama dia,” gumam Kalea sambil menutupi wajahnya ketika pria itu sudah masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun lagi.
Wanita itu benar-benar menyesal karena sudah berpikir buruk pada Juan, padahal sampai saat ini saja ia belum menyampaikan rasa terima kasihnya karena sudah diberikan tumpangan.
“Kenapa gue jadi sejahat ini sih? Bahkan, gue belom bilang terima kasih sama dia,” monolognya lagi sambil menatap pintu apartemen Juan ketika sedang melewatinya.
Kakinya sempat terhenti dan ingin menekan bel tapi diurungkan olehnya. Kalea memutuskan untuk masuk ke apartemennya lebih dulu sambil memikirkan cara untuk minta maaf kepada Juan.
“Lo bodoh banget sih, Kal!,” ucapnya frustasi.
***
“Akhirnya kamu pulang, Sayang.”
Wajah Wilo terlihat berbinar kala melihat putra semata wayangnya akhirnya pulang ke rumah. Wanita paruh baya itu bangkit sambil merentangkan kedua tangannya ketika Genta berjalan ke arahnya.
“Gimana kabar Mama?” tanya Genta sambil menatap wajah cantik sang mama walau usianya kini sudah menginjak hampir 50 tahun.
“Kabar Mama baik setelah bertemu denganmu, Sayang,” jawab Wilo sambil merengkuh wajah putranya serta mendaratkan sebuah kecupan penuh kasih sayang.
“Syukurlah kalau begitu, sekarang aku pamit ke kamarku dulu ya Ma.”
Wilo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Malam ini kita makan di luar ya karena Mama tidak tahu kalau kamu mau pulang jadi Mama tidak masak.”
“Boleh Ma, nanti aku minta Sena untuk memesankan restorannya ya, Mama lagi mau makan apa?”
“Tidak usah Sayang nanti biar Mama saja yang pesankan nanti, sekarang kamu mandi dan bersiap-siap saja ya,” jawab Wilo yang dijawab anggukan kepala.
Genta pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai atas. Padahal niatnya pria itu pulang hanya untuk ganti baju dan langsung pergi menemui Kalea tapi Genta tidak bisa menolak ajakan dari sang mama.
Sejak papanya meninggal enam bulan yang lalu, tugas Genta bertambah tidak hanya mengurus perusahaan saja melainkan harus menjaga serta membahagiakan mamanya.
Tapi tepat satu minggu ini, sang mama terasa menyebalkan karena terus memaksanya untuk bertemu serta bertunangan dengan wanita dari putri sahabatnya. Padahal hatinya sudah terpatri nama Kalea seorang.
“Genta, kenalkan ini Andini, dan Andini kenalkan ini Genta anak saya,” kata Wilo yang berusaha memperkenalkan putri dari sahabatnya yang memang sengaja ia undang untuk ikut makan malam bersama putranya.
“Genta.”
“Andini.”
Keduanya saling bersalaman tapi Genta benar-benar tidak tertarik dengan wanita yang tak kalah cantik dengan Kalea tersebut. Bahkan, sepanjang makan malam bersama pria itu hanya bicara seperlunya, jika ditanya saja serta senyum yang menghiasi wajahnya hanya sebatas untuk menghormati.
“Ma, aku ambil mobil dulu ya soalnya tadi lupa kasih kunci ke valet,” pamit Genta yang dijawab anggukan kepala oleh sang mama.
Sejak tadi Wilo merasa tidak enak kepada putri sahabatnya atas sikap putranya yang datar dan terkesan dingin. “Tante minta maaf ya Andini karena sikap Genta,” bisiknya.
“Enggak apa-apa kok Tante mungkin karena ini pertama kalinya kita ketemu jadi masih agak canggung,” balas Andini yang memaklumi sikap pria itu tapi justru hal itulah yang membuatnya semakin penasaran dan juga tertantang untuk mengenal lebih dekat dengan sosok Genta.
“Syukurlah kalau kamu mengerti keadaan Genta tapi apa mungkin kamu masih mau bertemu lagi dengannya agar kalian bisa saling mengenal?”
Tanpa ragu Andini menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, ia merasa seakan semesta mendukungnya untuk bersatu dengan pria itu.
“Baiklah, mungkin lain kali akan Tante carikan waktu yang pas agar kalian bisa bertemu tapi kali ini hanya berdua biar kalian bisa lebih leluasa,” kata Wilo yang lagi-lagi dijawab anggukan kepala oleh wanita itu.
Bersamaan dengan itu muncul sosok Genta yang mengendarai mobilnya ketika keduanya sudah berada di lobi. Wilo sempat menawarkan wanita itu untuk ikut dengan mereka dan hendak mengantarkannya tapi Andini menolak karena ia membawa kendaraan.
“Mama kecewa sama sikap kamu malam ini ke Andini,” kata Wilo mengungkapkan isi hatinya ketika sudah berada di dalam mobil.
Genta melirik ke arah kaca spion kecil yang ada di atas dan menampakkan sosok Wilo dengan wajahnya yang memerah serta rahangnya yang mengetat.
“Mama sendiri, kenapa ajak dia? Bukannya kita hanya akan makan malam berdua?”
Wanita paruh baya itu mengepalkan tangannya sambil membuang napas kesal serta mengalihkan pandangannya ke luar jendela. “Mungkin memang sebaiknya Mama segera menyusul mendiang Papamu agar kamu bisa hidup bebas.”
Telinga Genta yang mendengar hal itu memanas sehingga menghentikan laju mobilnya secara mendadak dan berhasil membuat sang mama tersentak kaget, bahkan jantungnya ingin lompat keluar dari tempatnya.
“Heh Mas gila ya!” umpat seseorang dari mobil belakang yang juga sempat menekan klakson hingaa memengkingkan telinga banyak orang.
Namun hal itu tidak dipedulikan oleh Genta yang marah karena mamanya mengatakan hal tersebut. “Jika Mama mengatakan hal itu lagi, aku tidak segan-segan membawa kita menemui mediang Papa lebih cepat,” ancam Genta.
Mendengar hal itu apalagi merasakan sendiri apa yang sudah dilakukan olehnya membuat Wilo menganggukkan dengan wajahnya yang terlihat sedikit memucat.
***
Sementara itu, Kalea baru saja selesai mandi dan buru-buru melangkahkan kakinya menuju pintu utama karena sebelumnya ia mendapatkan telepon kalau makanan pesanannya sudah tiba.
“Atas nama Mbak Kalea?”
“Iya saya sendiri Mas,” jawab Kalea sambil meraih kantung yang disodorkan kepadanya. Tak lupa wanita itu menyelipkan beberapa lembar uang untuk orang itu sebagai tip karena makanan yang dipesannya sudah lewat aplikasi.
“Terima kasih, Mbak.”
Setelah orang itu pergi Kalea melirik ke pintu sebelah di mana Juan berada, jantungnya berdebar bersamaan dengan niatnya yang ingin memberikan makanan yang sengaja dipesan dua porsi sebagai tanda permintaan maaf.
“Masa bodo deh mau diterima apa enggak tapi aku hanya ingin berusaha minta maaf karena selalu berpikir buruk kepadanya,” gumam Kalea yang kembali masuk ke dalam untuk meletakkan handuk serta menyisir rambutnya seadanya.
Setelah itu barulah wanita itu melangkahkan kakinya keluar, lalu menekan bel apartemen milik Juan. Entahlah, apakah pria itu akan membukakan pintu untuknya atau tidak?